1.
Dan ini
bermula…?
Kadang
seorang penulis harus menghadapi masa-masa sulitnya sendiri, ketika dia tidak memiliki ide atau
memiliki ide tapi tidak tahu harus memulai dari mana, apa sesuai abjad A-Z atau
tulisan itu bisa saja terbalik menjadi Z-A, tapi untukku memiliki ide yang
melimpah saat ini adalah masa kejayaanku, hanya berawal dari coretan di blog,
di baca oleh ribuan orang, mendapatkan like yang memuaskan, komentar dan bahkan
mendapatkan penggemar di dunia maya. dan saat itu juga aku aktif menulis cerpen
dan novel di blog dan selama tiga tahun itu juga sebuah perusaahan penerbit
tertarik dengan tulisanku dan ingin menerbitkannya. Tidak pernah aku bayangkan
cerita yang berbentuk novel misteri itu begitu di minati oleh banyak orang,
novel yang awalnya hanya di buat sebanyak 25 copi kini di tambah hingga ratusan
copi. Itulah awal kesuksesanku di umur belasan ini. Ribuan tepuk tangan
menyambut langkahku dan ucapan selamat menyapaku, kiriman bunga yang begitu
indah.
Tapi…………………………………………………???
“oiiii……senyum-senyum
sendiri?” pukulan kecil di bahu membuyarkan lamunanku.
“aku
belum selesai, perutku masih kosong” aku menarik tangan Gea duduk di sampingku.
“Han,
malam ini nginap di rumah kamu yah?” Gea melingkarkan tangannya padaku, dengan
wajah manja, begitu manis, menurutku dia adalah sahabat dan satu-satunya siswa
di sekolah ini yang paling cantik.
“
bagaimana kalau kita tinggal bersama, barang-barangmu, semuanya bawa saja
kerumahku, nanti akan ku beritahu tante Maya kalau anaknya ini akan pindah
bersamaku”
“hmmmm….benarkah?
aku mau..” Gea berdiri menarik tanganku menuju kelas.
Masa
sekolah adalah masa yang paling menyenangkan bagi usia remaja sepertiku,
sekarang aku duduk di kelas dua SMA, seperti siswa-siswa yang lainnya yang
ingin belajar, menikmati kebersamaan bersama teman-teman, dan merasakan yang
namanya jatuh cinta, tapi bagiku semua itu hanya khalayan, aku hanya memiliki
beberapa teman yang sama dengan hobiku, gila belajar, jika yang lain sedang
nongkrong di kantin, aku menghabiskan jam istirahatku di perpustakaan, jika itu
di lapangan menonton dan menyoraki para pemain basket, aku juga ada di sana,
tetapi dengan jarak 15 meter, aku duduk di bawa pohon mendengarkan musik dan
mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya aku kerjakan di rumah, tidak seperti
sebagian teman-temannya, sepulang sekolah mereka bisa tidur, jalan-jalan,
bermain game, bercanda ria dengan kedua orang tuanya, itu tidak bagiku, waktu
yang aku habiskan hanya bekerja. Aku cukup berbangga diri, meski kurang bergaul
di sekolah setidaknya aku memiliki banyak teman di tempat kerjaku.
Bekerja
di usia seperti ini adalah hal yang harus aku lakukan, karena aku adalah
seorang anak yatim piatu, tidak satupun teman-temanku yang tahu, ayah yang menjagaku
saat usiaku berumur 8 tahun meninggal karena gagal ginjal, sedangkan ibuku
pergi meninggalkan aku di saat berumur enam tahun dan Fatan saat itu berumur
lima tahun. Ibuku pergi karena ia tidak tahan dan menyesal menikah dengan
ayahku, saat itu ibu masih cukup muda baru berumur 18 tahun saat menikah dan
selama tiga tahun menikah, aku dan Fatan terlahir dan ibu yang kelelahan
menjaga kami disela-sela kuliahnya, akhirnya tidak tahan dan pergi. Hanya
Ayahku yang menjaga kami sampai berumur delapan tahun, di situlah aku dan Fatan
menjadi yatim piatu, Ayah pergi meninggalkan warisan rumah kecil miliknya
kepada kami berdua.
aku dan adikku akhirnya tinggal bersama dengan
keluarga Gea yang sangat baik kepada kami berdua, tante Maya menjual rumah
kami, waktu itu aku belum mengerti apa-apa dan hanya ikut dengan tante Maya
meskipun mereka bukan keluarga kandung, tetapi Tante Maya adalah teman ayah
sejak kecil, Tante Maya juga hidup dengan penghasilan yang cukup karena Tante
Maya bekerja sebagai pegawai negeri dan ia hidup berdua dengan Gea tanpa Ayah,
dan itulah yang membuat kami begitu dekat. Di sekolah Tante Maya sebagai wali
sahku dan siswa lainnya menganggap aku dan Gea saudara.
Aku
begitu beruntung di usia 16 tahun aku mulai menulis dan novelku diterbitkan dan
mendapatkan penghasilan yang lumayan yang kugunakan untuk menyewa rumah
berukuran kecil cukup untuk aku dan Fatan adikku, awalnya tante Maya tidak
ingin aku pindah dan tetap tinggal dengan mereka tetapi aku tetap bersikeras
dan berbagai alasan untuk belajar hidup sendiri, dan saat itu juga tante Maya
tidak bisa mencegahku dan mengusulkanku untuk tidak mencari tempat sewa, tetapi
dia membawaku melihat rumah yang ternyata sudah menjadi milikku, tante Maya
beberapa hari ini memang terlihat sibuk mencari sebuah rumah yang dibelinya
dari hasil penjualaan rumah Ayah yang di simpannya untukku.
Saat
usiaku 17 tahun aku bekerja sebagai copy editor di perusahaan penerbit, dan
asisten senior editor yang membantu pekerjaan kak Dian, aku kenal dengan kak
Dian saat dia yang pertama kali menawari novelku di terbitkan, karena sering
bertemu dengan kak Dian aku banyak belajar darinya tentang menulis, karena
usiaku yang masih sekolah akhirnya aku di ajak bekerja bersamanya saat pulang
sekolah saja. Kak Dian seperti kakak bagiku, dia sangat baik, dan cantik.
Selain senior editor kak Dian juga
seorang penulis naskah film, sudah banyak karya-karyanya mendapatkan
penghargaan di ajang perfilman Indonesia. Itu membawa keberuntungan bagiku,
karena aku bisa bertemu dengan aktor dan aktris tanpa harus mengantri, dan
berdesakan. Jika ada pertemuan pembacaan script film aku pasti akan di ajak
oleh kak Dian sebagai asistennya. Sangat menyenangkan bagiku saat melakukan ini
semuanya.
Tapi
di sekolah aku hanyalah seorang gadis pendiam, gila belajar dan suka
menyendiri, yah hampir 90 % tidak ada yang mengenalku di sekolah ini, di
kelasku sendiri hanya beberapa orang saja, tidak ada satupun yang tertarik dengan
kehidupanku, maka dari itu aku sangat suka dengan sekolah ini, kecuali kamu
adalah siswa yang berbeda, maksudku siswa yang sering terlihat di ruang BK,
siswa yang cukup popular, cantik dan ganteng, dan siswa yang mendapatkan
peringkat pertama di antara semua siswa di sekolah, sedangkan aku saja yang
sudah bersahabat dengan buku, belum mampu menyamakan kepintaran si peringkat
pertama dia adalah Zen, cowok Indonesia- Cina, ada Tatiana cewek popular yang
orang tuanya adalah keluarga pejabat , dan Rian cowok yang bahkan sama sekali
tidak pernah tertarik dengan pelajaran, kebiasaannya suka membuat masalah,
bolos sekolah dan setahun harus mengulang karena ia pernah cuti sekolah, bagi
Rian sekolah adalah taman bermain baginya, bahkan guru-guru sudah menyerah menghadapinya,
karena Rian adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini, dia bisa bertindak
seenaknya.
Ketika
aku menceritakan semua itu, aku harap mereka semua tidak ada hubungannya
denganku, yang aku lakukan hanya ingin belajar, agar bisa lulus dan melanjutkan
kuliahku di luar negeri, itulah ada impian terbesarku. hari ini adalah hari
yang paling aku tunggu, karena Fatan sudah akan kembali dari Korea Selatan,
sekolah kami setiap tahun mengadakan pertukaran pelajar selama dua bulan, dan
Fatan yang terpilih, mewakili sekolah kami karena kemampuannya yang di bidang
sains, tidak bisa di pungkiri Fatan lebih pintar dariku, karena hanya ada kami
berdua aku dan Fatan saling menyayangi, aku dan Fatan beda setahun dan dia
duduk di kelas 1 SMA, dan kami selalu bersama. Selain pintar, Fatan cukup
popular di sekolah, mungkin karena dia mirip dengan Ayah, jadi kegantengannya
melekat pada Fatan.
Jam
istirahat tiba, Fatan yang tidak sempat bertemu denganku saat tiba tadi malam,
menghampiriku, membawakan vitamin yang sering kali membuatku lupa meminumnya.
“kamu
kok gendutan sih?” Tanya Fatan menghampiriku.”selama aku nggak ada, kamu pasti
makan saat mau tidur yah?”. Ujarnya memberikan vitaminnya dan memaksakan masuk
ke mulutku. “Korea lagi musim dingin yah, wajahmu berubah seputih ini”.
Menyentuh pipi Fatan adalah kebiasaan wajib yang aku lakukan.” Kalau aku punya
uang banyak, aku akan membeli rumah di sana dan menetap” kataku begitu yakin,
Fatan hanya mengelengkan kepala melihatku.
“gimana
pekerjaan kakak? Apa sebaiknya kakak berhenti aja, lagi pula tabungan kakak
pasti udah cukup kok, lagi pula kita berdua juga dapat beasiswa, kita juga udah
hidup terpisah dari Tante Maya jadi kakak jaga kesehatan, liat deh muka kamu
udah tua sebelum waktunya “ ucapnya sembari mengejekku, Fatan selalu mengatakan
hal ini kepadaku untuk berhenti atau mencari pekerjaan lain, seperti Fatan ia
juga bekerja di sebuah café sebagai pelayan.
“hidup
ini mahal Fat, kamu liat deh mereka” kataku menunjuk siswa-siswa yang sedang
bermain dan bercanda.” Hidup mereka nggak sama dengan kita, mereka punya orang
tua yang membiayai sedangkan kita sejak kecil harus belajar untuk hidup, dan
sudah cukup bagi kita membuat tante Maya kesusahan, sekarang ini Tante lagi
sakit jadi nggak mungkin kita berdua bergantung dengan mereka” jelasku, Fatan
cukup bisa mengerti dengan kata-kataku, setidaknya dia adalah keluarga
satu-satunya yang aku miliki. Tiba-tiba dari belakang Gea mengagetkan kami
berdua.
“kalian
lagi ngomongin apa sih?” tanyanya duduk ditengah-tengah “kamu kapan baliknya?”
lanjutnya menjitak kepala Fatan, cukup keras hingga membuat Fatan membalasnya
dengan cubikan di lengannya. “ngomongin kamu….” Tambah Fatan. “oleh-oleh aku
mana?”. “nggak ada oleh-oleh buat kamu”, ujarnya meninggalkan kami berdua
“Ge,
Tante Maya udah sehat? Maafin aku yah! Akhir-akhir ini kak Dian ngasih Jobnya
banyak banget, jadi nggak sempat nengokin mama kamu” ucapku.
“mama
udah baik kok, dia juga ngerti, malah kemarin dia maksa nggak kasih tahu ke
kamu, kalau di sakit”jelas Gea “sepulang sekolah kamu ngapain?”.
“hari
ini nggak sibuk banget, Cuma mau ngantarin naskah ke kak Dian, hari ini sama
besok aku di suruh libur, nemenin Fatan ke toko buku, terus besok aku mau ke taman
hiburan sama Fatan!! Kamu ikut yah?” ajakku.
“Nggak
bisa, besok mama mau ke Manado, dan aku harus nemenin mama kesana” ujarnya
sedikit kecewa karena baru kali ini kami bertiga tidak bersama-sama.
“Nah,
lihat deh Han, Guru Matematika baru di sekolah kita, masih muda, dan tampan”
tunjuk Gea, sekilas aku melihatnya tapi itu tidak membuatku tertarik sama
sekali, karena matematika adalah satu-satunya pelajaran yang paling kubenci.
Membaca berulang kali bahkan sampai mataku seperti panda, rumus geometri, penalaran,
himpunan, pencacahan dan bangun ruang, itu adalah kata-kata yang bisa membuat
otakku mengalami penuruan drastis.
“Terus,
Pak Kiwil yang biasa ngajar kita kemana?” tanyaku memperhatikan kerumunan siswa
yang mencoba untuk melihat lebih dekat guru itu, harus aku dia memang guru
tampan, dengan perawakan yang tegas, tubuh yang sempurna tidak heran,
cewek-cewek di sekolah ini heboh membicarakannya. “kamu dengar nggak sih Ge,
aku lagi nanya” ujarku menjewer kuping Gea.
“Pak
Kiwil lagi keluar kota, nyelesain gelar Doktornya, untuk sementara dia yang
akan ngajar kita, dan jadi wali kelas kita, hebat nggak tuh Han, sekali lempar
dua burung yang kena” ucapnya ngawur.
“Nunjuk
guru pengganti kok kayak dia, kamu dan siswa yang lain nggak konsen belajarnya”
ucapku, kurang senang dengan kehadiran guru baru, Pak Kiwil saja sering
membuatku harus mengulang beberapa kali dan kali ini, dunia seperti neraka
bagiku.
“Mau
gimana lagi, katanya dia keponakannya Pak Kiwil, mahasiswa semester tujuh dan
memiliki banyak prestasi….” Potongnya setelah aku membereskan buku-bukuku
meninggalkan Gea yang kesal kemudian, karena aku tidak mendengarkannya.
2.
Matematika go to
Hell
Hari
minggu, inikah rasanya libur di hari minggu, rasanya letihku menghilang begitu
saja, meski hanya taman hiburan yang tidak terlalu jauh dari rumah, aku tetap
senang bisa merasakan liburan sehariku ini, setelah puas bermain-main dengan
berbagai wahana, sambil berjalan mengandeng tangan Fatan, menikmati es kream di
hari yang panas ini cukup pas bagi kami. Untung saja Gea tidak ada, jika dia
ada pasti akan membuatku berkeliling tanpa lelah, dan dia akan melepaskan
tanganku dari Fatan, kebiasaanku mengandeng tangan Fatan adalah hal yang tidak
di sukai oleh Gea, menurutnya itu terlalu lucu jika seusia kami melakukannya
sebagai saudara, bahkan ketika aku ketakutan saat tidur Fatan akan menemaniku,
hampir setiap malam aku merasa ketakutan akan mimpiku.
“Fat,
aku dengar dari Gea, kemarin kamu di tembak sama cewek yah?” tanyaku penasaran.
“iya…”
singkatnya.
“kamu
terima?” ucapku
“nggak
lah, aku nggak mau pacaran dulu sebelum kakak juga punya pacar”ucapnya
“yah....nggak
usah alasan pake aku deh, karena sibuk kerja !! rasain jatuh cinta itu
sindromnya gimana?” ujarku sambil memikirkan sesuatu. “eitss mikirin pacaran di
usia gini, belajar dulu” tegasku.
“Habis
ini kita nonton yah, aku yang traktir ada film baru di bioskop, aku udah beli
tiketnya” usul Fatan, meski awalnya aku tidak ingin, tetapi karena Fatan sudah
terlanjur membeli tiketnya, mau tidak mau aku harus ikut masuk ke gedung
bioskop. Begitu masuk ternyata film yang ingin di tonton Fatan adalah film
misteri, aku juga tidak terlalu suka hal yang seperti ini, sepanjang film di
putar aku hanya menutup mataku, tidak sabar menunggu filmnya selesai,
“Fatan,
kamu kok nggak bilang kalau filmnya kayak gini ?” ucapku kesal setelah keluar
dari bioskop.
“aku
juga nggak tahu kalau filmnya bisa seseram ini,” bantahnya menahan sakit
pukulanku.”Iya maaf, nanti malam aku temani kamu tidur…dasar penakut “ ujarnya
sambil berjalan menuju ke tempat parkir. Menikmati udara malam sambil
mengendarai motor adalah sesuatu yang sangat menyenangkan karena aku bisa
teriak semauku.
Hari
senin, adalah hari yang harus membuat semua siswa bangun lebih cepat, karena
jika terlambat satu menit saja maka siswa yang melanggar untuk ikut ucapara
bendera akan di hukum di barisan siswa pelanggar, dan untung saja aku belum pernah
merasakan hal seperti itu.di tambah lagi hari ini , matematika di jam terakhir
benar-benar membuatku ngantuk. Tetapi tidak dengan teman-temanku, mereka begitu
semangat menyambut Guru penganti Pak Kiwil.
“selamat
siang…” sapanya sambil masuk ke kelas. Seketika siswa-siswa yang tadinya
berisik menjadi tenang sembari berbisik mengagumi. “kalian sudah pasti dengar,
tentang saya yang sementara ini akan mengambil mata pelajaran Pak Kiwil, jadi
perkenalkan kembali, saya Rendi, karena ini sekolah baiknya,! kalian semua
panggi Pak yah,” ucapnya begitu jelas. “jadi di luar sekolah bisa manggil Kak
Rendi ?” sahut Isha, salah satu cewek paling centil di kelas. Selama dua jam
berhadapan dengan pelajaran ini, membuatku sedikit berusaha, meski hanya
mengerti sedikit dan coretan-coretan yang tidak di jelas di buku catatanku,
tetapi setidaknya aku sudah berusaha untuk mendengarkan dengan baik. Usai
pelajaran selesai dan waktu pulang sekolah sambil menunggu Fatan keluar dari
kelasnya, aku masih berdiam di kelas, melingkari pelajaran yang tidak aku
mengerti, akan menjadi tugas Fatan untuk mengajariku pelajaran ini.
“kamu
kok belum pulang?” ujar Pak Rendi sejak tadi masih di kelas, mencocokkan
pelajaran akan di ajarkannya besok.
“lagi
nunggu teman Pak” ujarku memasukkan semua buku kedalam tas, kemudian pergi,
tidak lama setelah itu Fatan sudah keluar kelas. “kamu kok lama?” tanyaku.
“tadi ulangan, oh iya kamu mau langsung pulang atau ke tempat kerja?”. “ke
tempat kerja sih, hari ini aku di suruh Kak Dian temuin dia di kampus”.
Lanjutku mengeluarkan beberapa pakaian
dalam tas.
“kok
kampus?”.
“Kak
Dian di undang untuk jadi pembicara di sana…kamu tunggu di sini bentar yah, aku
ke wc dulu ganti pakaian” ucapku berlari kembali masuk ke sekolah.
Sebuah
kebanggan bagiku bisa melangkahkan kaki ke kampus yang cukup terkenal hebat,
UGM memiliki kampus yang sangat luas, dan itu membuatku harus bertanya ke sana
kemari mencari aula seminar tempat kak Dian menunggu, begitu semangatnya bisa
melihat mahasiswa yang mencari ilmu di sini, terkadang aku juga berkhayal untuk
cepat-cepat lulus sekolah dan masuk kuliah merasakan seperti mereka. Karena
sudah cukup terlambat, aku berlari menaiki tangga, dan tanpa sengaja menabrak
seseorang, “Maaf…Maaf yah” kataku mengambil beberapa kertas yang terjatuh di
lantai tangga, “aku lagi buru-buru, jadi nggak hati-hati, sekali lagi maaf”
ucapku lagi memberikan kertas miliknya dan pergi, sementara itu Kak Dian sudah
menunggu sejak tadi.
“kamu
kenapa lama?? Laptopnya kamu bawa?” Tanya kak Dian tanpa menjawab pertanyaannya,
aku sudah menyiapkan materi seminarnya dan dia tinggal menyajikannya di depan
ribuan mahasiswa yang hadir hanya untuk mengikuti kuliah umum yang akan di
bawakan oleh seorang penulis terkenal, berbakat dan cantik seperti kak Dian.
Usai seminar sambil menunggu kak Dian memberikan tanda tangan kepada para
mahasiswa, aku hanya duduk menyaksikan kerumunan mahasiswa yang berebut tanda
tangan, membayangkan suatu saat aku juga akan menjadi seperti kak Dian suatu
hari nanti.
“kamu
ngapain di sini?” ucapnya membuyarkan lamunanku, memperhatikan seseorang tidak
begitu aku kenal dan menyapaku tiba-tiba.” Ah…yang tadi nabrak di tangga””
ucapku meski tidak jelas melihat wajahnya saat itu, tetapi aku ingat dengan
pakaian dan kacamata yang di pakainya, yang membuatku lebih terkejut lagi
adalah ketika dia membuka kacamatanya.
“Pak
Rendi…?” ujarku langsung berdiri. “Oh jadi Bapak kuliah di sini yah?” kataku
meminta maaf atas kejadian tadi. “Ini lagi ikut….?” Belum sempat melanjutkan
ucapakanku, Kak Dian sudah selesai dan menghampiriku. “Han, kita balik ke
kantor dulu, setelah itu kamu ikut aku ke lokasi syuting” perintah Kak Dian.
“aku pergi dulu yak Pak, sampai ketemu besok di sekolah!!” ujarku setelah pamit
dengan Pak Rendi yang terlihat bingung.
“pacar
kamu yah?” Tanya kak Dian.
“Nggak
Kak, dia itu guru pengganti di sekolah aku” jawabku singkat.
“kamu
udah buka email? Kemarin ada dua naskah novel yang di kirim, kamu bisa
ngerjainnya dua bulan ini?”. Tanyanya, sambil menungguku berpikir. “kalau kamu
banyak tugas sekolah, kamu kerjain satu dulu” lanjutnya.
“Bisa
kok kak, “ kataku menerima dengan semangat pekerjaan yang diberikan kak Dian
padaku, semakin banyak novel yang aku harus editing, semakin besar juga
penghasilan yang akan aku terima.
“beneran
nggak apa-apa? Tahu nggak, selama kamu ada, pekerjaan aku jadi ringan semuanya.
Kamu masih muda dengan semangat tinggi loh Han “ pujinya, kata-kata itu seakan
membuatku lebih semangat lagi.
Pukul
sembilan malam, setelah menemani kak Dian, dan mampir ke kantor dengan wajah
lelah dan mengantuk aku segera pulang di antar oleh mobil perusahaan. Meski
belum terlalu larut bahkan ketika aku pulang lebih lama dari biasanya, Fatan
dengan buku-bukunya sudah selalu menungguku. “kamu udah makan?” tanyaku
meletakkan beberapa makanan yang aku beli saat perjalanan pulang. “udah” masih
sibuk dengan coretannya. “mie nggak bikin kenyang tau, kita makan bareng yah”
paksaku sambil menyuapinya.
Keesokannya
di sekolah masih dengan suasana yang sama, meski dengan cerita yang berbeda, dan
di tambah lagi hari ini ujian dadakan yang di berikan Pak Rendi, membuatku
ingin mati rasa, selama ini Gea yang selalu membantuku mengerjakan
soal-soalnya, tetapi hari ini karena soal yang diberikan berbeda dan secara
acak membuat semua siswa mengeluh., selama satu jam lebih soal-soal ini terus
mengejekku, sisa waktunya 30 menit lagi dan bahkan aku belum menjawab soal
satupun, dengan terpaksa aku menjawab seadanya, aku tahu kali ini nilaiku pasti
lebih buruk, saat seperti ini aku merindukan Pak Kiwil, ketika kami ulangan
seperti ini, dia hanya duduk diam di kursinya sekali-kali mengejar tatapan para
siswa yang curang dan aku pasti mendapatkan nilai standar.
“Gimana
ulangannya, pasti hancur bangetkan?” ujar Gea menghampiri.
“hmm…kali
ini parah banget Ge…!” ucapku, Gea hanya menepuk bahuku.
“bisa
nggak sih matematika di hilangin aja dari dunia ini” tuturku menghentikan
jari-jariku yang sedang dan menghilangkan fokusku memperhatikan kata perkata
novel yang sedang ku editing.
“kali
ini kamu ngerjain novelnya siapa sih”. Gea mengeser laptopku ke hadapannya.
“ini
kan novel yang di tulis oleh Mbak Asma Tatia, penulis yang karya-karyanya
banyak di filmkan itu” ujar Gea begitu senang, aku langsung menutup laptopku
menjaga kerahasian karya seorang penulis sebelum di terbitkan adalah hal yang
paling utama oleh seorang editor, setidaknya itu adalah hal paling aku ingat
saat kak Dian menyuruhku menjadi asisten paruh waktunya. Proses editing yang
sering di lakukan oleh editor adalah hal yang paling penting, jeli melihat kata
perkata yang di tulis oleh penulis, dan ketika ada kata-kata yang kurang atau
yang tidak pantas maka aku melaporkannya kepada kak Dian, setelah proses
editing kak Dian selalu memeriksa pekerjaanku, dan namaku akan di tulis di
bagian halaman sampul novel, aku tidak begitu ingat sudah berapa banyak namaku
berada di buku-buku, yang aku ingat adalah kesenanganku saat mengerjakannya.
Karena waktu yang aku punya hanya untuk ini, maka dari itu aku sudah jarang
menulis, terakhir novel yang di terbitkan satu tahun yang lalu cukup membuatku
mengenal dunia menulis, mengenal kak Dian dan bisa bekerja paruh waktu
dengannya.
“Han..kamu
di panggil Pak Rendi ke kantor, cepetan” teriak Gino
“pasti
nilai kamu deh” tebak Gea, mungkin yang dikatakannya benar, sebelum masuk ke
ruang guru, aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu, Pak Rendi sudah
menungguku di mejanya yang penuh dengan hasil ulangan matematika, seperti yang
aku pikirkan, kertasku berada di tempat yang istimewa, di tangan Pak Rendi dan
angka dua terlihat begitu jelas di kertasku.
“aku
dengar dari pak Kiwil, kamu satu-satunya siswa yang tidak begitu tertarik
dengan Matematika” tutur Pak Rendi menyerahkan hasil ulanganku. “apa matematika
sesulit itu?” tanyanya menatapku. Wajahnya begitu serius, dan dia sangat
berbeda saat tanpa sengaja bertemu di kampusnya, terlihat alami layaknya
seperti mahasiswa umumnya, menggunakan kacamata dengan rambut agak berantakan,
menggunakan kaos yang dipadukan dengan kemeja mungkin karena di ingin terlihat
seperti guru yang ingin di hormati makanya penampilan benar-benar berubah saat
di sekolah.
“kenapa
diam? Dari semua mata pelajaran nilai kamu baik-baik saja, “ ucapnya dan aku
tidak tahu harus menjawab apa selain diam dan mendengarkan. “mulai besok kamu
ikut kelas tambahan”. Ujarnya membuatku terkejut.
“kelas
tambahan itu jadwalnya pulang sekolah kan pak?”.
“iya..kenapa?”.
“kalau
pulang sekolah aku nggak bisa pak…!”.
“kenapa
nggak bisa? siswa yang lain juga nggak protes, lagi pula ini hanya tiga jam,
ini kesepakatan dari semua guru”. Tutur Pak Rendi. “kamu kembali ke kelas”
menyuruhku pergi. Aku tidak harus berbuat apa, kelas tambahan ? kenapa juga ada
kelas tambahan. Dengan langkah yang terus mengerutu aku masuk ke kelas.
“Terus
gimana dong, kalau kamu bolos bisa-bisa kamu dapat teguran “ ujar Gea setelah
mendengar keluh kesahku. Aku hanya bisa memegangi kepalaku, di saat seperti ini
aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak mungkin aku berhenti kerja hanya
mengikuti kelas tambahan itu, sedangkan aku bekerja dengan kak Dian enam jam
sehari, belum lagi aku harus menyelesaikan naskah-naskah novel itu.
Pulang
sekolah aku memutuskan untuk menunggu pak Rendi meminta sedikit keringanan
padanya, dan tidak lama Pak Rendi melangkah menuju ke mobilnya, aku berlari
menghampirinya dan Fatan menungguku tidak jauh.
“Pak...Pak…”
panggilku sembari mengatur nafasku.
“Untuk
kelas tambahannya, aku nggak bisa ikut pak!” tuturku membuat Pak Rendi menutup
kembali mobilnya, menatapku dengan tatapan penuh tanya. Melihat ekspresinya
yang tidak begitu senang. “ sejam aja pak, ah setengah jam maksudku” kataku
terus menyakinkan.
“siapa
dia?” tunjukknya melihat Fatan yang memperhatikan kami dari kejauhan
“
Dia Fatan Pak…!!”.
“kalian
tinggal bersama?” tanyanya.
“Iya
pak…kami tinggal bersama !! gimana pak? “ lanjutku menunggu pendapat yang aku
tawarkan kepada Pak Rendi.
“Nggak…nilai
kamu harus di perbaiki Hana, bukan hanya kamu kok, banyak siswa yang juga ikut
kelas tambahan ini, pokoknya saya nggak terima alasan apapun dan juga…kamu itu
masih sekolah Hana jangan menyiakan sekolahmu yang bisa merusak depanmu “
ujarnya menasehatiku sebelum pergi, tak ada yang bisa aku katakan lagi dan
hanya bisa melihat Pak Rendi pergi.
“Tuhkan
!! kamu sebaiknya berhenti kerja deh” ujar Fatan melihatku begitu kesal dan
terus mengomel.
“Nggak
mungkin, mending aku berhenti sekolah daripada ninggalin kerjaan ini”tuturku.
Sesampainya
di kantor aku masih terus memikirkan kelas tambahan itu, membuat waktuku
terbuang sia-sia, kerjaan yang seharusnya bisa kulakukan lebih banyak berkurang
gara-gara tidak fokus mengerjakan editing.
“kamu
sakit Han…?” tanya Bu Ratna dia adalah ketua chief editor.
“jangan-jangan
Dian ngasih kamu kerjaan yang sulit yah, !” lanjut Bu Ratna menghampiriku.
“Nggak
kok Bu…!!” bantahku, karena semua itu tidak ada hubungannya.
“kalau
kamu sakit, kamu pulang aja Han…” sahut kak Dian yang tiba-tiba muncul
membawakanku secangkir kopi.
“Nggak
kok, sumpah..!! tapi benar nih aku bisa pulang lebih cepat, soalnya aku mau
ketemu sama guru matematika aku” jelasku berdiri dan senang saat kak Dian
memperbolehkan aku pulang lebih cepat.
Meski
sudah malam dan waktu menunjukkan pukul tujuh tidak membuat tekadku untuk
mencari alamat pak Rendi yang aku dapatkan dari usahaku menghubungi Pak Kiwil
dan menanyakan alamat Pak Rendi dengan alasan aku ingin bertemu dengannya
karena ingin belajar, hanya beberapa menit saja aku mendapatkan sms alamat Pak
Rendi, dan beruntungnya taksi yang aku tumpangi sangat kenal dengan alamat itu,
karena ia juga tinggal di daerah sana, hanya butuh waktu 20 menit aku sudah
berdiri di hadapan rumah Pak Rendi. Rumah yang cukup mewah, tidak begitu besar
maupun kecil, terlihat sederhana tetapi juga terlihat mewah, bukan waktunya
untuk menilai rumah orang. Setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya dari
kejauhan seseorang membuka pintu, menghampiriku yang berdiri di depan gerbang.
“cari
siapa Nak” tanyanya, membukakan gerbang, bapak itu kelihatan sangat baik dan
ramah, dia pasti ayahnya Pak Rendi. “siapa yang datang sih” teriak seseorang
lagi, seorang wanita paruh baya dan saya bisa menebak mereka berdua pasti orang
tuanya.
“Pak
Rendinya ada Om!?” kataku berusaha sopan, dan mengikutinya masuk ke dalam.
“kamu
bukan temannya Refan??”
“bukan
Tante, aku siswanya Pak Rendi”jelasku singkat, mereka berdua saling bertatapan
kemudian ibu itu memanggil Pak Rendi di kamarnya yang berada di lantai dua.
“kamu
kelas berapa?”.tanyanya, setelah berkenalan dengan ayah Pak Rendi kami
mengobrol sambil menunggu pak Rendi turun.
“kelas
dua Om!” singkatku.
“adik
Rendi…Refan juga kelas dua” ujarnya, aku hanya mengangguk mendengarkan Ayah Pak
Rendi yang sangat baik, jadi aku tidak begitu canggung untuk berbicara
kepadanya.
Tidak
lama kemudian Pak Rendi turun, sepertinya dia baru saja mandi, rambutnya masih
basah. Kedua orang tua Pak Rendi meninggalkan kami berdua di ruang tamu.
“sejak
kapan, seorang siswa datang kerumah gurunya apalagi malam-malam begini”
tegasnya
“saya
mohon pak, beri keringanan waktu untuk ikut mengikuti les tambahan” kataku
kembali memohon.
“kamu
datang, Cuma mau bilang itu!!” ujar pak Rendi.
“kalau
begitu begini saja pak, gimana kalau aku les di luar aja, jadi aku tidak usah
ikut kelas tambahan ini…” kataku kembali masih berusaha sebisa mungkin
memberikan solusi.
“alasannya
apa coba?, kamu nggak mau ikut kelas ini karena bisa menganggu aktifitas
kamu??”.ucapnya begitu mempertahankan ketegasannya.
“Iya
Pak…” kataku sambil menunduk.
“orang
tua kamu sibuk? Terus kamu bebas ngapain aja,!! Han..asal kamu tahu yah,
kemarin di bioskop kamu jalan sama siswa kelas satu yang bernama Fatan, dan aku
ngeliat kamu dan mendengarkan pembicaraan kalian, dan setiap pulang sekolah
kalian berdua selalu sama-sama” tutur Pak Rendi, mendengarnya ucapannya
membuatku sulit untuk menjelaskan, sekarang aku mengerti maksud pak Rendi, dia
mengira aku sibuk dengan dunia remajaku, berpacaran dan bersenang-senang.
“kayaknya
bapak salah paham deh, bukan alasan itu Pak tapi…..” ujarku berhenti setelah
Pak Rendi menyuruhku pergi sehingga aku tidak bisa menjelaskan kesalahpahaman
seperti yang dipikirkan Pak Rendi.
Setiba
di rumah, aku langsung melempar tasku kemudian tubuhku di tempat tidur, Fatan
yang begitu terkejut melihatku pertama kali kesal dan marah-marah setiba
dirumah, dia menghampiriku.
“kamu
kenapa sih? Tumben pulangnya secepat ini?? Jangan-jangan kamu udah berhenti
kerja !!”. ujar Fatan.
“kamu
tahu pak Rendi guru pengganti sekaligus menjadi wali sementara di kelasku, dia
nyebelin banget tahu nggak, dia mengira aku dan kamu pacaran dan cewek nggak
baik-baik…di bioskop kemarin..dia….ahhhhhh” teriakku menarik selimut menutupi
seluruh badanku, Fatan membiarkanku sendiri dengan kekesalanku.
Menunggu
hari esok, adalah waktu yang ingin aku percepat, besok aku harus menemui Pak
Rendi dan menjelaskan semua yang tidak di ketahuinya. Seandainya saja dia bukan
guru pengganti, mungkin saja aku sudah memarahinya habis-habisan.
Esoknya
pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke sekolah, tidak sabar rasanya ingin
menemuinya dan menjelaskan apa yang terjadi, tetapi hari ini dia tidak datang
ke sekolah, aku lupa hari ini tidak ada pelajaran matematika, dan setelah
memastikan jadwal kelas tambahan yang juga hari ini dia juga tidak datang,
untuk itu aku memutuskan untuk mendatanginya langsung di kampus. Baru melangkah
masuk saja, kakiku sudah gemetaran, karena tidak berpikir panjang sebelum
bertindak, inilah kebodohanku karena tidak sabaran. Bagaimana aku bisa
menemukan dia di kampus sebesar ini, sekolah sama dunia kampus itu beda jauh.
Selama beberapa jam mencari ruang informasi, dan bertanya terus menerus aku
belum bisa menemukan orang yang bernama Rendi. Aku begitu lelah hari ini,
menghabiskan waktu untuk mencari Pak Rendi, berpikir untuk mendatangi rumahnya ,
mungkin tidak lagi.
Dan
hari ini aku harus izin kerja dari Kak Dian hanya untuk mencarinya, tetapi
tetap saja hasilnya nihil, aku melangkah dengan penuh kekecewaan, kakiku terasa
berat dan sakit setelah berjalan ke sana kemari. Akhirnya kakiku berhenti
mengayun, tercium bau makanan yang membuatku ingat, perutku belum pernah di
berikan makanan seharian ini. Tanpa berpikir apa-apa aku masuk keruangan itu,
dan ternyata di sini sungguh luar biasa, kampus sebesar ini dengan tempat makan
seluas ini dan bisa memilih sesuai yang kita sukai, karena tidak ada yang
mengenaliku di sini, aku bisa kemana saja mengelilingi kampus ini, kekesalanku
sejenak hilang dengan mencium dan melepaskan rasa laparku dengan menikmati
makananku dengan santai.
dari
kejauhan, mataku yang sejak tadi menerawang akhrinya berhenti setelah melihat
seseorang yang begitu mirip dengan Pak Rendi, aku memperhatikan terus menerus
memastikan apakah dia benar orang yang aku cari, setelah yakin karena begitu
senangnya, tanpa sadar aku naik kemeja makan sambil berteriak memanggilnya.
“dia
siapa sih?” sahut seseorang yang lewat berhenti memperhatikanku.
“kamu
gila yah!!” tambah seseorang lagi, aku langsung turun, setelah melihat
orang-orang ini pandangannya teralihkan kepadaku, begitu Pak Rendi melihatku.
“Dia
siapa sih Ren…??”. Tanya seseorang yang duduk dekat dengan Pak Rendi, yang
kemudian menghampiriku.
“kamu
ngapain sih di sini,? Ayo kita bicara di luar” ajak Pak Rendi kesal, aku hanya
mengikuti langkahnya, menuju ke tempat parkir dan menyuruhku masuk ke mobil.
‘kamu
itu punya malu nggak sih, teriak kayak tadi bikin malu, di lihat sama
teman-teman aku”. Bentak Pak Rendi, melaju keluar kampus dan entah kemana dia
akan membawaku pergi.
“aku
mau jelasin sesuatu Pak, aku mau jelasin tentang kata-kata Bapak yang
kemarin malam itu.” ujarku, tetapi Pak
Rendi hanya diam berusaha menahan kemarahannya. Beberapa menit menyuruhku untuk
diam dan Pak Rendi menghentikan mobilnya di dekat taman.
“oke
kamu jelasin apa?” Pak Rendi kemudian turun dari mobilnya, dan aku berlari
mengikutinya mencari tempat duduk .
“kemarin
itu di bioskop, Bapak salah paham” kataku sedikit bingung ingin menjelaskannya
seperti apa.
“Salah
paham?? Hana kalian itu masih SMA, mendengar kalian mengatakan kalau ingin
tidur bersama, itu anehkan, Han, kamu ini siswa saya, meski hanya sementara
tapi kamu jadi tanggung jawab saya setelah orang tua kamu “ jelasnya.
“aku
nggak punya orang tua pak, aku yatim piatu sejak umur delapan tahun” ujarku
menunduk, berdiri tepat di hadapannya, mendengar itu pak Rendi diam beberapa
saat.
“maaf
Han, saya…”. “Fatan itu adikku, keluarga satu-satunya yang kumiliki, kami
memang begitu dekat karena sejak kecil kami tidak menerima kasih sayang orang
tua, kami saling mengharapkan, tidak ingin berpisah dan saling bergantung, dan
alasanku tidak ingin mengikuti kelas tambahan karena sepulang sekolah aku harus
bekerja “. Jelasku pelan, terasa sesak di dada menceritakan kisahku kepada
orang lain, bercampur sedih dan berubah menjadi air mata. Hari itu entah kenapa
aku menceritakan semuanya, dan seperti ada beban yang berjatuhan di pundakku,
semuanya terasa berbeda setelah membiarkan orang lain tahu tentang kehidupanku,
sedikit lega dan terasa ringan.
“tapi
kalau memang ini jalan satu-satunya, mau tidak mau aku harus berhenti sekolah
atau pindah ke sekolah lain” ucapku menambahkan, kali ini ceritaku merubah
wajah pak Rendi.
“Nanti
aku bicarakan dengan kepala sekolah” ucapnya membuatku sedikit lega, setelah
itu pak Rendi mengantarku kembali ke rumah, karena sudah hampir malam dan baru
melihat hpku sejak tadi berbunyi, panggilan dari Fatan yang aku hiraukan dan
dia sudah berdiri di depan pintu saat mendengar suara mobil berhenti. “kamu
darimana sih? Menghilang begitu saja, hp nggak di jawab juga” ujar Fatan marah.
“selamat malam Pak Rendi, aku adiknya Kak Hana, bukan pacarnya” ucapnya, pak
Rendi menghampiri kami berdua dan meminta maaf kembali, dan pamit pulang.
“Bagaimana?”
tanya Fatan penasaran.
“Pak
Rendi akan bicara sama pak kepala sekolah dulu” kataku masuk ke rumah.
Esoknya
di sekolah, aku sudah mendapat panggilan langsung dari kepala sekolah,
untungnya pak Kepala Sekolah menerima alasanku untuk tidak ikut kelas tambahan
mata pelajaran yang lain, karena nilaiku di setiap pelajaran cukup bagus,
kecuali matematika, Pak Kepala Sekolah menyarankan Pak Rendi untuk mengajariku
langsung di luar sekolah, jadi aku harus datang ke rumah pak Rendi setiap hari
minggu selama lima minggu berturut-turut, belajar selama lima jam menghadapi
makhluk asing yang bernama matematika.
“Ingat
!! jam tujuh pagi, lewat dari itu, kamu pulang saja”. Tegas Pak Rendi masuk ke
ruang guru dan aku kembali masuk ke kelas. Masalah terpecahkan dan aku
seharusnya senang karena aku bisa kembali kerja tanpa harus ikut kelas
tambahan, tetapi tetap saja aku harus jadwal yang sudah ditentukan, untuk
datang langsung kerumahnya pada hari minggu, hari yang bisa aku habiskan
bersantai dan jalan-jalan, dan sangat begitu pagi. Tidak ada jalan lain selain
harus mengikuti jalan yang mudah padaku, hanya lima jam, sampai siang hari dan
aku bisa pulang ke rumah mengerjakan proses editing naskah.
“gimana??”
sahut Gea duduk di sampingku, aku menceritakan kembali apa yang baru saja aku
dapatkan.
“bagus
dong kalau gitu, kamu juga bisa datang bertemu langsung dengan Pak Rendi, tahu
nggak semua cewek-cewek di sekolah ini, lagi heboh naksir sama Pak Rendi” ujar
Gea.
“benarkan…??
Guru muda secakep itu datang ke sekolah, bisa-bisa merusak kosentrasi belajar
siswa “ kataku menimpali.
“dia
kan juga guru pengganti sementara di sini, nggak akan lama, lagipula dia juga
sudah punya pacar!!” timpal Gea sedikit
kecewa. “Oh iya Han,,,besok sekolah kita mengadakan lomba menulis bebas, gimana
kalau kamu aja yang ikut mewakili kelas kita”katanya menawariku ikut
perlombaan.
“lombanya
kan sampe sore, aku nggak bisa” tegasku.
“kalau
nggak salah dengar, sekolah kita mengundang juri dari luar deh namanya Diana
Febrianti, Kak Dian kan!!” Tegas Gea.
“Hummm…tetap
saja aku harus ke kantor, banyak banget yang aku harus selesaikan”. Jelasku.
3. Mengerti !!!
Hari
ini di sekolah seperti biasa saat jam istirahat, mungkin aku satu-satunya siswa
yang selalu membawa serta laptop dan buku-buku, menuju ke perpustakaan. Hari
ini agak sepi, hanya beberapa siswa yang terlihat di perpustakaan, datang untuk
tidur atau untuk menyendiri. Semuanya sibuk mengikuti perlombaan sekolah jelang
perayaan agustus. Aku tidak tertarik sama sekali, mungkin karena aku harus
menyelesaikan naskah-naskah ini, jadi tidak ada waktu bagiku untuk mengikuti
bahkan ikut bersorak jadi penonton, lagi-lagi aku membuang kesenangan yang
semestinya tidak aku sia-siakan. Usai mengerjakan tugas-tugas sekolah, aku
membuka laptopku dan jari-jariku siap meluncur, hanya tinggal beberapa halaman
lagi agar aku bisa menyelesaikannya dan melanjutkannya dengan naskah yang
kedua, naskah novel yang kedua ini bagiku cukup sulit, karena penulisnya adalah
Ahmad William seorang penulis Inggris yang menulis ceritanya menggunakan Bahasa
Indonesia. Sebuah tantangan bagiku agar namaku bisa di cetak bersama penulis
terkenal.
Sementara
jari-jari dan mataku sibuk membaca, tiba-tiba tanpa kusadari Pak Rendi berada
di belakangku.
“cerita
kamu bagus!!” sahutnya, melangkah meletakkan buku-buku dan duduk di hadapanku.
“kamu di sini sementara teman-temanmu di luar bersenang-senang” ujarnya,
membuka buku yang berhubungan dengan matematika.”nggak tertarik aja, terus
Bapak kenapa di sini, bukannya di ruang guru, bukannya di sana Bapak juga bisa
membaca ini” tunjukku pada tumpukan buku yang memusingkan itu.
“di
sini lebih tenang…!!” ujarnya kembali melanjutkan bacaannya.
Selama
dua jam di perpustakaan dan Pak Rendi masih asyik dengan bacaannya, karena
berhubung waktunya jam pulang sekolah, aku membereskan barang-barangku dan
keluar perpustakaan meluncur ke tempat parkir, Fatan sejak tadi menghubungiku
untuk mengantarku ke tempat kerja sebelum ia kembali ke sekolah lagi.
“Han…!”panggil
kak Dian yang baru-baru saja tiba, dia terlihat terburu menghampiriku, sudah
hampir sore sepertinya ia baru kembali dari sekolahku. Ia meletakkan map di
meja yang bertuliskan nama sekolahku, bisa ku tebak isinya pasti tulisan siswa
yang mengikuti lomba hari ini.
“ada
apa kak?” tanyaku penasaran.
“malam
ini, saya harus berangkat ke Malaysia, pembacaan naskahnya di percepat dari
dugaanku, besok pukul Sembilan aku sudah harus ada di sana” jelas kak Dian
menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.”aku sudah membaca semua tulisan
ini, dan menandainya, jadi kamu yang ambil alih, dan hari minggu jam empat sore
kita bertemu di café biasa…oke!”tutur kak Dian menatapku sambil menyerahkan
amplop yang berisi gajiku sebulan ini.
“gaji
kamu beserta bonusnya…!!”. Lanjutnya, tanganku langsung mengambilnya bersamaan
map yang di serahkannya kepadaku. Kak Dian langsung pergi setelah berterima
kasih kepadaku, selain amplop di baliknya juga ada dua tiket konser musik, yang
akan ku tonton bersama Fatan. Meskipun sedikit lelah, sudah menjadi hal biasa
bagiku, demi mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk masa depanku dengan
Fatan.
Hari
mingguku yang biasanya aku awali dengan kegiatan masak, sekarang aku awali
dengan bangun lebih cepat dan setelah shalat biasanya aku kembali tidur tapi
tidak di pagi ini. Usai memasukkan semua buku, laptop dan map yang akan aku
berikan kepada kak Dian sore ini, aku bergegas pergi belum sempat sarapan pagi
hanya segelas susu yang diberikan Fatan kepadaku setelah itu dengan menggunakan
sepeda motor aku di antar Fatan. Kurang lima menit aku sudah berdiri di depan
pintu, dan sebelum menekan bel, seseorang sudah membukakan pintu.
“Hay…!”
sapanya menyuruhku masuk. “aku Efan adiknya Rendi” tuturnya memperkenal
dirinya. “kamu pasti belum sarapan, gimana kalau sarapan bareng!”ajaknya.
“aku
udah sarapan kok!!”kataku berbohong, tidak lama menunggu Pak Rendi keluar dan
menyuruhku mengikutinya ke halaman belakang rumahnya. Langkahku langsung
terhenti, terperangah dengan halaman belakang rumah pak Rendi yang begitu
indah, semua rumput hijau tumbuh subur dan bunga bermekaran dengan berbagai
warna, kelinci-kelinci kecil yang berlari-lari dan kicauan burung di dalam sangkar
dan dua ekor anjing berjenis Alaskan Malamute, anjing yang berasal dari Amerika
dan yang satunya berjenis Shiba Inu, berasal dari jepang. Mereka begitu lucu,
rasanya aku ingin berlari menghampiri anjing-anjing itu, tetapi pak Rendi
menyuruhku segera duduk.
“kamu
suka…??karena anak tante semuanya laki-laki, jadi kalau di rumah tante sibuk
ngerjain ini” sahutnya, sambil membawakan beberapa kue dan minuman untukku lalu
pergi. Baru sejam mendengarkan penjelasan pak Rendi, serasa sudah berjam-jam,
aku masih pura-pura mengerti yang dijelaskannnya, setelah menjelaskan satu
rumus maka dia akan langsung memberikanku soal untuk di jawab dan begitu
seterusnya, karena cara mengajarnya juga sabar menghadapiku, akhirnya aku mulai
mengerti dan soal terakhir yang diberikannya aku jawab dengan benar. Rasa
bangga kepada diriku sendiri membuatku mulai bersemangat.
“kamu
belajar sendiri yah, aku mau mandi dulu “ katanya pergi meninggalkan aku
sendirian, dan aku meraih kue yang disediakan ibu Pak Rendi dan memakannya.
Perutku sejak tadi sudah menahan rasa lapar dan haus. Tak lama adik pak Rendi
menghampiriku, meski baru kenal aku dan Efan mulai akrab dengan obrolan kami,
yang punya banyak kesamaan, selain umur kami sama dia juga kelas dua SMA sama
denganku, sehingga kami bisa membicarakan banyak hal.
“kamu
suka baca novel itu?” tanyaku menunjuk novel yang di bawa Efan, novel yang
tidak asing bagiku, tentu saja novel ciptaanku sendiri, di minati banyak
kalangan mahasiswa itu dua tahun lalu.
“Tentu
saja !! aku hampir selesai membacanya, tahu nggak? Cerita bagus banget, tentang
seorang gadis yang selalu bermimpi dan ketika dia terbangun mimpinya akan
benar-benar terjadi…Fantasinya keren Han” jelasnya, membuatku tersenyum
mendapatkan pujian dari pembacaku secara langsung. aku menaruh pulpenku,
mengangkat badanku mendekat pada Efan.
“tahu
nggak siapa penulisnya?” tanyaku berbisik, wajahnya langsung berubah menaruh
kedua tangannya di dagunya.
“Hana
N.S…”ujarnya terlihat bingung masih mencoba membaca raut wajahku. Dia
melepaskan tangan dari dagunya meraih kembali novel membuka halaman terakhir.
“Nggak
mungkin, kamu pasti bercanda deh!!” ucapnya lagi menutupnya meletakkan tepat di
depanku. Aku belum mengatakan apa-apa, terlihat jelas dari wajah Efan yang
tidak percaya padaku.
“kamu
serius??” lanjutnya setelah melayangkan beberapa pertanyaan padaku. Memintaku
untuk memperlihatkan tanda tanganku sendiri dan mencocokkannya di halaman
terakhir novel.
“apa
coba alasannya aku bohong?” kataku berhasil membuat Efan berdiri melototiku.
Tiba-tiba pak Rendi datang.
“Fan,
kamu jangan ganggu dia”tegurnya menghampiri kami dan duduk di samping Efan yang
masih berdiri melototiku, mengambil novelnya dari tanganku memberikannya kepada
pak Rendi.
“Kak…novel
ini…dia penulisnya” ujarnya langsung menunjukku.
“jangan
bercanda…” ucap pak Rendi juga tidak percaya dengan ucapan Efan.
“Yah
Han…kak Rendi sangat suka dengan novel ini…”tambahnya lagi memperlihatkan tanda
tanganku sama dengan ada yang di novel.
“bukankah
hari kamu mau latihan basket!! Pergi sana!!”ujarnya mengusir Efan pergi, pak
Rendi menatapku penasaran.
“kamu
nggak bohongkan” katanya, aku hanya mengelengkan kepalaku.
“jadi
waktu seminar yang lalu kamu beneran datang sama Dian Febrianti?” tanyanya.
“iya,
sepulang sekolah aku harus bekerja sebagai asisten copy editor paruh waktu kak
Dian selama lima jam sehari.” Jelasku.
“kamu
editor ? tapi kan kamu masih SMA perusahaan penerbitan seperti itu nggak
mungkin merekrut karyawan yang masih sekolah” ujarnya.
“aku
nggak di gaji sama perusahaan, tetapi kak Dian, perusahaan yang menerbitkan
novelku memberikan gaji saat novelku beredar di toko buku, tapi karena novel
ini sudah dua tahun lamanya jadi aku tidak lagi mendapatkannya” jelasku membuat
pak Rendi sedikit lupa untuk mengajariku hari ini, dan dia begitu tertarik
dengan ceritaku.
“wah…ternyata
kamu penulis novel ini, kamu ternyata punya bakat juga, dan itu mengapa kamu
tidak suka dengan pelajaran ini!!” tutur pak Rendi memujiku. “ jadi selama ini,
kamu selalu ikut dengan Dian Febrianti, kalau begitu kamu pasti sudah bertemu
dengan banyak orang penting?” lanjutnya.
“tentu
saja” ucapku menceritakan tanpa terlupa sedikitpun, selesai menceritakannya,
pak Rendi menatapku lama, begitupun aku yang tidak bisa menghindari tatapannya,
entah kenapa ada perasaan aneh yang mengalir masuk ke jantungku. Perasaan ini
tiba-tiba saja datang, pak Rendi yang biasa kulihat layaknya seorang guru kini
berubah menjadi pak Rendi yang wajahnya seolah bersinar, seorang laki-laki
biasa yang membuatku kagum.
“jangan
bengong, kembalilah belajar!!” tuturnya, membuatku kembali sadar dan salah
tingkah, wajahku seolah terbakar gara-gara kepanasan, berusaha menyingkirkan
pikiran-pikiran aneh di otakku. Perutku sudah sejak tadi kelaparan, beberapa
menit pelajaran ini akan berakhir, di tambah lagi aku sejak tadi menahan buang
air kecil, dan meminta izin pak Rendi untuk menunjukkan kamar mandi di
rumahnya.
Karena
terlalu terburu-buru tanpa sengaja aku menjatuhkan barang-barangku, sehingga
laptop dan map yang akan aku antarkan ke kak Dian berjatuhan di lantai. Melihat
itu pak Rendi hanya geleng-gelang melihatku berlari ke kamar mandi, dan
memungut barang-barangku. Beberapa menit wajahku yang terlihat pucat gara-gara
sejak tadi menahan buang kecil kini kembali bersemangat.
“Jadi
kamu juga yang menyeleksi tulisan ini?” ujarnya menunjuk map yang sudah keluar
dari tasku. Aku hanya mengangguk membereskan barang-barangku dan memasukkannya
ke tas.
“kau
benar-benar membuatku takjub Han…” puji pak Rendi, sambil mengantarku ke depan
pintu.
“Oh
iya pak, pembicaraan kita tadi itu…!”.
“jangan
di ceritakan di sekolah? Tentu saja nggak, memang saya ini tukang gosip”.
Tegasnya. Memegang kepalaku.
“pulanglah…”
ucapnya menyuruhku pulang, tetapi sebelum menemui kak Dian aku harus mengisi
tenagaku dengan beberapa makanan, dan untuk itu aku ke café lebih cepat sambil
menunggu pesanan makanan, aku mengeluarkan laptopku melanjutkan pekerjaanku yang
tertunda hari ini. Tempat ini sudah tidak asing bagiku, karena ketika aku
bekerja di luar kantor, maka kak Dian pasti selalu menyarankan tempat ini
padaku.
Kekuatanku
serasa penuh hari ini, perut yang kenyang seakan mengisi penuh energiku, masih
bergelut dengan si pilsuk, nama yang aku berikan kepada pada laptopku, sambil
menunggu kedatangan kak Dian.
“Hana…”
panggilnya, aku segera berpaling mencari arah suara itu, yang berasal dari meja
di sebelahku. Aku langsung mengenalinya.
“pak
sutradara…!” ujarku berdiri dan menghampirinya yang sedang duduk sendirian, aku
segera memindahkan tas dan laptopku bergabung dengan pak Amir yang duduk
sendirian. Pak Amir adalah seorang aktor tahun 80an, karena usianya yang sudah
berumur 40 tahun, dia memutuskan untuk menjadi sutradara dan memiliki label
perusahaan sendiri, aku cukup kenal dengannya, karena pak Amir adalah partner
kerja kak Dian yang selalu menjadi penulis naskah filmnya.
“kamu
ngapain di sini?”tanyanya.
“nungguin
kak Dian, pak sutradara juga ada janji ketemu kak Dian?” tanyaku balik.
“iya…ada
beberapa skrip yang harus dibicarakan !!” katanya memperlihatkanku naskah film
yang akan di tayangkan tahun depan ini, setelah melihat sekilas isinya dan
membaca nama-nama pemeran yang akan main di film ini, aku langsung terkejut
senang saat melihat nama Azka Ahmad, seorang aktor berusia 29 tahun yang tinggal
di Australia, setelah lima tahun hengkang dari dunia perfilman, kini ia kembali
untuk film pertamanya, dan lawan mainnya seorang aktris yang berasal dari Jiran
Malaysia.
“aku
ingin sekali bertemu dengannya” kataku begitu senang, karena aku sudah menjadi
penggemarnya saat aku masih smp.
“Hana…!!”
sahut seseorang memegang pundakku, aku membalikkan tubuhku melihat seseorang
yang sudah berdiri di sampingku. Dia adalah pak Rendi yang duduk di samping
mejaku dan baru datang beberapa menit yang lalu, aku kembali bertemu dengannya
di tempat yang tak terduga, belum sempat mengatakan apa-apa tidak lama kemudian
kak Dian datang dengan beberapa kelompok editor, dan mengarahkan yang lain
untuk mengikutinya menuju lantai dua café. aku tidak sempat menyapa pak Rendi
dan pergi begitu saja.
“kamu
kenal dia?” tanya Vega, seorang gadis duduk bersama pak Rendi.
“iya..!
dia salah satu siswaku di sekolah” ujarnya kembali duduk setelah melihatku
menghilang dari balik pintu.
“dia
seorang siswa…?? Kenapa dia mengacuhkanmu?” tanya Vega “dia tidak terlihat
seperti siswa, aku kira di bekerja dengan orang-orang tadi” ujarnya kembali
menikmati makan siangnya, pak Rendi memang sedikit kecewa dengan sikapku yang
pergi begitu saja, tetapi dia juga mencoba mengerti dengan apa yang aku lakukan
tadi.
Sudah
hampir malam, akhirnya rapat hari ini di bubarkan, setelah kak Dian dan yang
lainnya pergi, aku masih berada di café menunggu waktu magrib, sambil menunggu
Fatan yang akan datang menjemputku. Karena begitu lelah, rencana yang aku buat
untuk nonton bersama Fatan di batalkan, dan langsung meluncur pulang,
merebahkan tubuhku yang seharian ini bekerja dan berpikir. Di tambah lagi besok
adalah hari senin, sepertinya tidak ada libur bagiku. Setelah shalat Isya aku
langsung ketempat tidur dan beberapa menit saja, aku tertidur begitu lelapnya.
“dia
bahkan belum mencuci kaki dan menyikat gigi, langsung molor aja…”ujar Fatan
menyelimutiku, menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Pagi
yang cerah, mataku tak sanggup aku buka karena silau matahari, aku
menyembunyikan wajahku di balik topi, upacara hari ini berjalan begitu lama
tidak seperti biasanya, karena upacara hari ini sekaligus pengumuman hasil
perlombaan menulis kemarin, dan juga pengumunan tentang perlombaan sekolah
selama seminggu ini yang akan di laksanakan dalam rangka menyambut 17 agustus,
semua siswa terlihat senang, karena mereka beberapa hari ini akan di jauhkan
dari namanya pelajaran. tentu saja itu juga berlaku untukku, karena aku harus
bergelut dengan naskah-naskah yang aku kerjakan dan aku bisa menyelesaikan
tepat pada waktunya, dan di sekolah adalah waktu yang sangat tepat dengan
memanfaatkan keadaan yang kosong selama seminggu ini.
4. ketika semuanya di mulai
Rasanya
aku tidak sanggup lagi berdiri, kaki-kakiku sejak tadi sudah tidak sabar untuk
segera pergi, karena aku berada di barisan paling depan, dan teman-temanku yang
lain menggunakan kesempatan berada di barisan akhir untuk berbisik dan
mengobrol. Kepala sekolah masih berpidato, guru-guru yang berada di bagian
belakang Kepala sekolah juga terlihat lelah berdiri, dan sekali-kali berbisik.
Aku mengangkat kepalaku, memperhatikan pidato Kepala Sekolah , lalu mataku
melihat satu persatu guru-guru, dan terakhir pandanganku berhenti ke pak Rendi.
Tanpa aku tahu sejak tadi pak Rendi sudah memperhatikanku dari kejauhan,
menyembunyikan senyumnya saat melihatku bertingkah bodoh dengan gerakan-gerakan
kakiku saat upacara berlangsung.
Tiba-tiba
perasaan aneh itu mengalir kembali, aku segera menjauhkan pandanganku menatap
ke arah yang lain dan untung saja Kepala sekolah sudah mengakhiri pidatonya,
aku segera berlari menuju kelas, meneguk botol minumanku melegakan tenggorokanku
yang sejak tadi kehausan akibat cahaya matahari yang menyerap cairan dalam
tubuhku. Tidak lama setelah itu pak Rendi masuk kelas dan mengarahkan siswa
yang akan ikut pertandingan, mau tidak mau aku harus berpartisipasi meski hanya
satu perlombaan saja. Perlombaan yang melibatkan banyak orang yaitu tarik
tambang, tradisi tarik menarik itu selalu menjadi hal yang sangat penting dan
tidak terlewatkan dalam sebuah perayaan kemerdekaan.
Tapi
hari ini kelas kami begitu mudah dikalahkan karena lawan kami adalah siswa
kelas tiga. Aku meninggalkan lapangan, menuju kelas mengganti pakaianku, karena
waktu itu kelas kosong dan hanya mengganti celana olahragaku dengan rok, aku
melihat sekelilingku sebelum menarik rokku dengan cepat dan menurunkan celanaku.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kelas membuatku terkejut dengan cekatan
bersembunyi di balik kursi masih merapikan rokku.
“seharusnya
kau mengganti pakaian di ruang ganti, bukan di kelas terbuka seperti ini !”
ujar pak Rendi, aku kembali berdiri setelah memastikan rokku dan celanaku sudah
tertukar.
“maaf
pak…!!”tuturku.
“kamu
juga harus minta maaf soal kemarin, di café kau pergi begitu saja tanpa
mengatakan apa-apa…!” ujarnya mengingatkan kejadian di café.
“maaf
pak, kemarin itu….!!”.
“tidak
apa-apa…aku tidak bisa memarahimu karena kau adalah penulis kesukaanku!”
ucapnya sambil tersenyum padaku.”
“apa
bapak mau keberi tanda tangan!!” ucapku sedikit bercanda.
“nanti
akan kuminta, tapi tidak sekarang!” tuturnya.
“kalau
nggak sekarang, kapan lagi pak! Gimana kalau suatu hari nanti aku terkenal dan
tidak sempat bertemu dengan bapak…!” kataku.
“yah...!”
memukul pelan kepalaku dengan penggaris.
“oh
iya..! aku mau ke perpustakaan dulu!” ujarku pergi.
Hari
ini terasa sangat berbeda bagiku, langkahku begitu semangat dan hatiku terasa
senang, akhir-akhir ini, aku belum menyadari yang terjadi padaku. saat masuk ke
perpustakaan seperti biasa sepi tak ada siapapun, aku mencari tempat duduk yang
paling nyaman buatku untuk bekerja dengan Pilsuk dan beberapa lembar naskah
yang akan ku sunting.
“kamu
di sini!” sahut Fatan menghampiriku dengan beberapa buku yang di bawanya.
“kamu
kok di sini, nggak ikut pertandingan!” ujarku.
“jadwalku
besok, bukan hari ini, terus..! kamu sendiri..?” tanyanya tanpa menjawabnya,
aku kembali meneruskan bacaanku, sesekali mengangguku agar aku kesal dan tidak
berkosentrasi, tapi yang kamu lakukan memang selalu seperti ini saling
menghibur satu sama lain.
Pulang
sekolah hari ini aku harus sendiri menuju ke tempat kerja, karena Fatan juga
harus datang lebih cepat ke tempat kerjanya, Gea juga sudah pulang dan aku
masih menunggu di kelas mendahulukan siswa-siswa lain keluar kelas, menunggu
sekolah sepi lalu mengganti pakaianku, dan sudah 15 menit aku berdiri menunggu
ojek atau taksi, dari sekian banyak kendaraan yang lewat tak satupun kendaraan
yang aku tunggu.
Tiba-tiba
sebuah mobil berhenti di hadapanku, aku menunduk sambil menunggu pintu kacanya
terbuka.
“Ayo
naik !!” ujarnya membuka pintu mobil, lagi-lagi pak Rendi, aku langsung naik
tanpa menolaknya, membutuhkan waktu jika aku harus menolak tumpangan gratis
yang diberikan pak Rendi, lagipula aku sudah terlambat ke kantor.
“terima
kasih pak!” ujarku turun dari mobil setelah tiba di tempat yang kutuju.
“kamu
pulang jam berapa…??” tanyanya.
“biasanya
sih jam 10 pak, emang kenapa?”.
“aku
akan menjemputmu…!!” ujarnya pergi, aku berdiri terpaku melihat punggul
mobilnya yang melesat jauh.
“menjemputku??”
pikirku dalam hati, pak Rendi benar-benar aneh, tiba-tiba ingin menjemput
siswanya, dan itu aku.
“mungkin
aku salah dengar” gumanku.
Tujuh
menit menuju jam 10, kata-kata pak Rendi masih terbayang samar di telingaku,
aku terus berguman dalam hatiku, menyakinkan diriku untuk tidak menunggu pak
Rendi, aku pasti salah dengar, kenapa juga hatiku seperti ini, sibuk dan
berisik sendiri.
Sepanjang
perjalanan, memeluk pinggang Fatan sambil menyandarkan kepalaku di punggungnya,
aku terus diam, kepalaku masih berseteru dan berandai-andai, jika memang benar
pak Rendi datang, apa coba alasannya dia ingin menjemputku, kalau dia tidak
datang aku bersyukur, itu berarti tidak ada yang bisa membuatku pusing karena
hanya ini.
Tiga
hari berlalu, sementara yang lain sibuk ikut lomba dan bersenang-senang, aku
sibuk dengan naskah-naskahku, dan lebih banyak menghabiskan waktu di
perpustakaan. Selama tiga hari ini juga aku tidak pernah bertemu dengan pak
Rendi, dia pasti sibuk menjalani kembali kehidupannya sebagai mahasiswa,
sebelum kembali ke sekolah menyibukkan diri menghadapi siswa-siswa. khususnya
siswa cewek yang sering sekali mendatangi pak Rendi dengan alasan bertanya
tentang matematika yang tidak di mengerti.
“hey…dari
tadi aku manggil-mangil kamu “ ujar Gea mengagetkanku, beberapa menit pikiranku
melayang sejenak.
“akhir-akhir
kamu kok aneh sih…lebih banyak diamnya !” ujar Gea duduk di sampingku,
membawakanku beberapa permen.
“Ge…aku
mau cerita sesuatu sama kamu…” ujarku menceritakan semua yang aku alami dan
perasaanku dan terutama pak Rendi kepada Gea. Setelah menceritakan semuanya,
aku menatap wajah yang begitu serius mendengarkanku, sembari menunggu
pendapatnya.
“kamu
gila yah? “ ujarnya menepuk kedua pipiku. “aku belum yakin sih
Han…jangan-jangan pak Rendi suka sama kamu ! tapi nggak mungkin deh, atau kamu
jangan bereaksi apa-apa dulu, mungkin karena dia sudah tahu kamu seorang
penulis dari novel yang di sukainya, jadi dia bertindak seperti itu” jelas Gea,
aku mengangguk tanda mengerti dengan semua maksud dan ucapannya. Aku
membenarkan kata-kata Gea, dan mulai hari ini akan aku singkirkan hal-hal aneh
yang mengangguku.
Sudah
hampir sore, aku masih berhadapan dengan naskah-naskah, yang lainnya juga
begitu sibuk dengan kerjaannya, kak Dian yang berada di sampingku juga sibuk
memeriksa naskah-naskah yang masuk di situs perusahaan penerbit.
“Hei
Han…gimana pekerjaan kamu? Dian nggak ngasih kamu pekerjaan yang sulitkan!”
ujar pak Bambang, dia adalah managing editor, wakil chief dari ketua tim
editor.
“nggak
kok pak” singkatku.
“besok
kamu dapat pekerjaan tambahan loh…” ujarnya menunjukku. “kamu belum kasih tahu
dia?” tanyanya kepada kak Dian yang
langsung menghentikan pekerjaannya.
“astaga,
hampir aja lupa…! Tadi siang ada email dari Universitas Ganesha Malang, dia
mengundangmu untuk mengikuti seminar bedah buku, dan salah satu buku yang
mereka seminarkan adalah novelmu” jelasnya.
“kok
tiba-tiba novelku bisa….”tuturku tak tahu harus mengatakan apa.
“Nggak
lama kok Han…kamu Cuma perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar novelmu
dari moderator dan dari peserta seminar” ujar kak Dian.
“aduh
kak…!! Gimana aku bisa sebagai narasumber, apalagi di depan mahasiswa, aku
nggak bisa kak !!” ujarku terus menolak, aku belum pernah berhadapan dengan
banyak orang, membayangkan saja aku tidak bisa, apalagi ketika mereka tahu
seorang penulisnya adalah seorang siswa SMA. Melihatku gugup kak Dian memegangi
kedua pundakku, menatapku dengan keyakinan sambil tersenyum.
“kamu
pasti bisa Han…kamu bisa menjadi sosok yang akan dikagumi semua orang, kamu
bisa memotivasi orang lain yang suka menulis agar tidak menyerah jika ia ingin
menjadi penulis sukses, kamu ingat Han…!! Saat kamu bilang ingin menjadi
sepertiku ! ini kesempatanmu dan kesempatan hanya datang sekali” jelas kak Dian
membuka pikiranku, anggota tim yang lain juga ikut memberikan semangat padaku,
itu sedikit membuatku percaya diri.
Sesampainya
di rumah, aku kembali menceritakannya kepada Fatan, dan ia juga ikut
mendukungku dan ia berjanji akan izin kerja hanya untuk menemaniku besok. malam
ini mataku sulit terpejam, memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Waktu
menunjukkan pukul delapan pagi, sejam lagi aku sudah harus berada di kampus,
setelah meminta izin sekolah, aku berangkat bersama Fatan dan setibanya di
kampus sambil berjalan menuju lokasi seminar, aku masih mengenggam kedua
tanganku yang begitu dingin dan basah. Setibanya di aula aku di sambut beberapa
mahasiswa yang menjadi penyelanggara seminar, lima menit sebelum acara di mulai,
aku duduk sambil menenangkan diri dan meminum air putih untuk menghilangkan
khawatir dan rasa gugupku.
“Hana
kan…?” sapanya memperkenalkan dirinya sebagai MC acara, lalu beberapa orang
datang kepadaku memperkenalkan dirinya, orang yang akan menjadi moderator dan
Prof. Irwan yang akan bertindak sebagai pembicara yang akan memberikan
pendapatnya mengenai novelku.
Suara
tepuk tangan memenuhi ruangan, sambutan MC yang mempersilakanku untuk naik,
duduk di tengah bersama dua penulis lainnya yang juga menjadi tamu di seminar
ini. Selama beberapa menit acara berlangung kini tiba giliranku untuk memegang
microfon. Aku menarik nafas dalam-dalam, melihat orang-orang yang berada di
bawah menungguku membicarakan novel dan kisahku kepada orang-orang yang hadir
hari ini, dan untuk kedua kalinya aku kembali menarik nafas memulai ucapanku
dengan salam dan perkenalan, awalnya tanganku bergetar dan suaraku menjadi
serak tetapi beberapa menit melihat reaksi orang-orang yang memperhatikanku
begitu antusias, apalagi setelah mereka tahu bahwa aku masih seorang siswa
pelajar SMA, peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa itu langsung
terperangah tidak percaya. Selama sejam berbicara dengan di depan orang banyak,
ketakutanku yang sejak malam menghantuiku kini sirna, hilang dan seolah-olah
aku berbicara dengan Gea atau Fatan, semua terasa nyaman bagiku. Selama dua jam
seminar berlangsung semuanya berjalan dengan lancar, di akhir acara aku di
kerumuni banyak mahasiswa yang ingin meminta tanda tangan dan foto bersamaku,
ada beberapa orang yang mencubit pipiku dan menanyakan sekolahku.
“terima
kasih kak…”ujarku menundukkan kepalaku kepada mereka, dan segera keluar dari
aula bersama Fatan.
“kakak
hebat…!”ujar Fatan memberikan dua jempol kepadaku, tiba-tiba dari belakang
seseorang memanggilku, tidak lain dia adalah pak Rendi, aku bahkan lupa
ternyata aku berada di kampusnya, dan dia pasti hadir dalam seminar tadi.
“aku
pulang dulu yah kak…!!” ujar Fatan tiba-tiba.
“kok
ninggalin aku…Fatan!!” teriakku, mengikutinya tetapi pak Rendi menarik tasku.
“sekarang
kamu mau pergi begitu saja, di café kau mengacuhkanku, kemarin malam aku
menyuruhmu untuk menunggu tetapi kenapa pergi? “ tatapnya, kini pak Rendi
bersikap seolah aku bukan seorang siswanya, tetapi seorang teman baginya.
“ayo
kita cari tempat untuk berbicara…”ajaknya menyuruhku mengikutinya ke mobil.
“tapi
aku harus kembali ke sekolah pak..”tegasku.
“aku
sudah ngasih tahu Fatan kok, dia yang akan mengizinkanmu di sekolah”.
“kalau
gitu, aku harus ke kantor, soalnya kak Dian menyuruhku membantunya menyusun
naskah” ujarku lagi.
“kamu
liat jam nggak sih? Ini baru jam berapa?” ujarnya.
“Tapi
kan bapak harus kuliah !!” ujarku kembali, kini raut wajah pak Rendi berubah
kesal.
“hari
ini aku nggak ada jadwal kuliah”.
“terus
kita mau ke…ma…na!!” tanyaku terkejut saat pak Rendi menginjak rem mobilnya dan
meminggirkannya secara mendadak, menatapku kesal.
“kamu
bisa diam nggak…??” bentaknya, aku hanya menunduk mengikuti perintahnya. Entah
beberapa menit berlalu, aku hanya melihat keluar jendela, mengetuk kaca dengan
jari-jariku, rasa bosan dan pengap, sesekali mengangguk menikmati musik yang
kudengar di eirphoneku, menyandarkan kepalaku di kursi mobil, menutup kedua
mataku, dan tak lama aku tertidur.
Udara
hari ini begitu panas, entah berapa lama aku tertidur, aku mulai sadar dan
membuka mataku, apakah ini mimpi karena sekarang pak Rendi ada di hadapanku
sambil menatapku begitu dekat, setelah sadar ini bukan mimpi, aku mendorong
tubuhku menjauh, dan kepalaku terbentur di langit-langit mobil, sontak aku
menjerit kesakitan sambil memegangi kepalaku, pak Rendi tertawa melihat
tingkahku, lalu membuka pintu mobil menyuruhku keluar.
“kita
mau kemana?” tanyaku masih memegangi kepalaku yang kesakitan.
“Gramedia…!”
singkatnya, dan aku hanya mengikutinya.
“tadi
bapak bilang kalau mau bicara denganku, kenapa kita ke gramedia!”.
“kita
bicaranya di gramedia”.
Tanpa
mengatakan apa-apa, berjalan memutari rak-rak buku hanya mengikutinya mencari
buku-buku yang berhubungan dengan mata kuliahnya yaitu matematika. Meskipun aku
tidak tahu apa yang di carinya, aku masih setia mengekor di belakangnya. kali
ini hatiku kembali berisik, dan memperhatikanya lebih teliti, punggung pak
Rendi yang terlihat begitu tinggi, rambutnya, caranya berjalan, keseriusannya
mencari dan membuka buku yang di lihatnya, mata sayu di balik kacamatanya,
wajahnya yang panjang, kulitnya yang putih, tangannya yang besar dan terlihat
kuat, dan lehernya cukup tinggi. Aku bisa menebak kalau tinggi badannya sekitar
189. Aku baru menyadari bahwa pak Rendi benar-benar seperti yang dikatakan
teman-temanku. Dia terlihat sempurna sebagai seorang laki-laki.
Dari
kejauhan, beberapa siswa yang kebetulan satu kelas denganku, Rani, Livia dan
Cesa menghampiriku dan menyapa pak Rendi, meski hanya menyapanya sebentar dan
pak Rendi yang bersikap dingin, mereka bertiga akhirnya pergi.
“ngapain
Hana sama pak Rendi!” bisiknya sambil sesekali melirikku dengan tatapan yang
tidak suka. Setelah mendapatkan buku yang di carinya, kami kembali ke mobil
mengajakku menemaninya makan siang sebelum mengantarku ke kantor.
5. Menghitung Kecepatan Detak Jantung
Masih
begitu pagi, aku sudah harus bergegas ke rumah pak Rendi, sambil menunggunya
turun dari kamarnya aku bermain dengan anjing-anjingnya.
“selamat
pagi…” sapa Efan, dia terlihat baru saja bangun dari tidurnya, membawa mangkuk
makanan anjingnya.
“kamu
nggak kepagian datangnya…!” ujar Efan,
“kepagian
sih, apa boleh buat ! “kataku.
“kamu
udah sarapan belum?”.
“sarapan
aja belum sempat…oh iya Fan,,,mama sama papa kamu mana?” tanyaku, belum melihat
mereka.
“ah…mereka
udah balik ke Australia…!”.
“jadi
mereka nggak tinggal di sini!”.
“Nggak
! papa kerja di Australia…minggu lalu papa datang untuk menjenguk kami dan mama
ikut dengan papa, soalnya kalau mama di sini, selalu sendiri di rumah”
jelasnya.
“ayo
kita sarapan bareng, kak Rendi juga sebentar lagi turun kok…!”.ajaknya, dengan
senang hati aku mengikuti Efan.
“wah..kamu
yang bikin ini semua…”tanyaku, nasi goreng dan roti bakar tersaji rapi di meja
makan, baunya membuat perutku semakin lapar.
“tentu
saja bukan…!! Semenjak nggak ada mama, kak Rendi yang selalu bangun pagi dan
buat sarapan”jelasnya. Tidak lama pak Rendi juga turun.
Setelah
menikmati sarapan enak buatan pak Rendi, kembali aku harus berhadapan dengan pelajaran
ini, setelah menjelaskan beberapa rumus dan contoh, dia akan terus memberikanku
soal sampai jawabanku benar.
“Han…kamu
tahu nggak! Dulu waktu masih SMP, aku juga benci sama pelajaran ini, tetapi
karena ada dia, aku bisa mempelajarinya dengan mudah” bisik Efan yang juga
sejak tadi berada di sampingku membaca novelnya. Sedangkan pak Rendi sembari
menungguku selesai menjawab soal, jari-jarinya terlihat sibuk membalas sms dari
seseorang, ketika hpnya berdering ia lalu menjauh untuk mengangkatnya.
“kenapa
harus sibuk belajar di hari minggu seperti ini!” kataku bisa mengeluh dengan
bebas karena pak Rendi tidak ada.
“iya
sih…pasti dia lagi bertengkar sama pacarnya” bisik Efan “ sepertinya mereka
akan putus…”ujar Efan aku mulai tertarik mendengar cerita Efan.
“kak
Rendi, orangnya loyalitas sama cewek, komitmen tinggi dan mereka sudah pacaran
sejak masih kelas tiga SMA sampai sekarang “ jelasnya membuatku terpaku dengan
ceritanya.
“wah
pak Rendi keren…”pujiku, sesekali memperhatikan punggung pak Rendi dari kejauhan.
“tapi
selama setahun ini, hubungan mereka mulai nggak membaik !”.
“emangnya
kenapa? “.
“kak
Vega selalu menghindar dan membuat alasan jika kak Rendi ingin bertemu, sampai
kak Rendi mendengar dari temannya bahwa ia pernah melihat kak Vega jalan dengan
laki-laki lain, mendengar cerita itu..! kak Rendi nggak percaya dan sampai saat
ini ia belum menanyakan hal itu langsung kepadanya, dan juga kak Rendi berusaha
mempertahankan hubungan mereka..!” jelasnya kembali melanjutkan bacaannya saat
pak Rendi sudah datang.
“kamu
belajar sama Efan yah, aku harus pergi””ujarnya pergi begitu saja.
“
Hari ini nggak usah belajar…!!gimana kalau kita main game” ajaknya segera
menyalakan tv, kenapa tidak bersenang-senang hari ini, kesempatan yang bagus
buatku tanpa harus di awasi langsung olehnya. Hari ini banyak sekali hal yang
menyenangkan yang aku lakukan bersama Efan, bermain game, memandikan Gara dan
Goro anjingnya, memberi makanan kelinci dan terakhir aku membantunya mencuci
motornya. Karena sudah semakin siang aku memutuskan untuk pergi ke rumah Gea
sekaligus mengunjunginya.
Hari
berlalu begitu cepat dan hari ini akan menjadi hari terakhir perlombaan, dan
beberapa hari ini juga aku sering sekali mendengar kabar dari Gea bahwa banyak
siswa yang mulutnya begitu sibuk membicarakanku dengan pak Rendi, pantas saja
beberapa hari ini sebagian dari banyaknya siswa perempuan di sekolah ini
melempar tatapan permusuhan padaku, meski sedikit terganggu tapi aku mencoba
untuk tidak begitu menghiraukannya, seperti saat ini saat aku berjalan menuju
ke lapangan untuk menonton pertandingan Fatan dan tim basketnya akan bertanding
di babak final melawan sekolah lain.
“Hanaaa….”
Teriak seseorang langsung menghampiriku dengan senyuman cerianya.
“Efan..!!”ujarku
terkejut melihatnya di sini.
“tim
dari sekolahku yang akan melawan kalian…”ujarnya menjawab rasa penasaranku.
“pak
Rendi tahu kamu di sini?”.
“iya…aku
baru saja bertemu dengannya, hmm kamu akan nonton kan !! lihat saja aku akan
mengalahkan mereka dan membuat semua gadis-gadis di sini menjerit” ujarnya
menyombongkan diri dan pergi.
“kamu
kok kenal sama dia?” tanya Gea baru saja menghampiriku saat Efan peri.
“dia
adiknya pak Rendi” ujarku, Gea terkejut menatapku.
“serius
Han…dia lebis manis dari pak Rendi” gumannya berlari ke lapangan seolah-olah ia
membawa kabar gembira.
“dia
cute banget…” ujar seseorang di sampingku.
“dia
siapa sih? Liat deh cowok yang bernomor punggung enam itu, ya ampun”.
Entah
berapa kali aku harus mendengar mereka terus memuji dan menyorakkan pemain
idola mereka, terutama Efan dan benar saja semua gadis yang melihatnya bisa
terpesona dengan Efan, memang buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya
seperti Efan dan pak Rendi, tetapi aku tetap memberikan dukunganku kepada Fatan
yang namanya masih terdengar begitu jelasnya dari sorakan penggemarnya.
Beberapa menit pertandingan berlangsung dan aku bisa mengetahui hasilnya, kali
ini tim Fatan kalah hanya selisih sedikit saja.
“tuhkan
aku menang”ujarnya begitu senang, melihat Efan menghampiriku, cewek-cewek yang
mengagumi Efan kembali berbisik sesuatu sambil melihatku sinis.
“sampai
jumpa minggu depan, aku harus kembali ke sekolah”katanya pergi melambaikan
tangannya padaku.
“kamu
kok bisa kenal sama dia?” tanya Rani menghampiriku bersama teman-temannya,
mereka dari kelas yang sama denganku dan mereka juga yang melihatku dengan pak
Rendi, pasti ulah mereka menyebarkan gosip mengenaiku.
“Han…dia
namanya siapa? Kamu punya nomornya nggak”tanya Livia.
“aku
kenal dia karena dia adiknya pak Rendi, namanya Efan dan aku nggak tahu
nomornya “ ujarku sedikit lega, karena kukira mereka ingin menerkamku karena
dekat kenal dengan Efan.
“adiknya
pak Rendi…oh iya Han…kemarin itu kamu jalan sama pak Rendi karena
ka..liaa…n…!!” menatapku curiga.
“nggak
lah, kalian juga tahu kalau nilai matematikaku buruk, dan aku tidak bisa ikut
kelas tambahan dan aku belajar dari pak Rendi” jelasku, mereka hanya
manggut-manggut mengerti.
“lain
kali kalian jangan nyebarin gosip yang nggak benar, gimana kalau nanti pak
Rendi berhenti lebih cepat karena gara-gara kalian, pihak sekolah akan
menyangka yang tidak-tidak tentangnya”ujarku meninggalkan mereka.
Hari
ini di kantor tim editor terlihat sibuk seperti biasanya, dan hanya aku yang
duduk manis menyelesaikan naskahku yang sedang tahap finishing, dan mereka
membiarkanku sendirian di ruangan ini sedangkan mereka sedang mengadakan rapat,
karena aku bukan karyawan tetap dan hanya bekerja dengan kak Dian, aku tidak punya
hak untuk ikut rapat resmi perusahaan.
Waktu
malam tinggal beberapa menit lagi, adzhan magrib juga berkumandang, hari ini
kak Dian menyuruhku pulang lebih cepat, aku menggunakan waktuku untuk berjalan
kaki menikmati lampu-lampu kota di malam hari dengan tiupan angin yang begitu
sejuk, jalanan yang masih basah akibat hujan yang turun hanya beberapa menit,
langit terlihat cerah dengan bintang-bintangnya yang bersinar, bulan sabit
bercahaya terang mendampingi bias cahaya sisa matahari yang terbenam, aku melangkahkan kakiku
sesekali memainkan genangan air yang ku injak. memperhatikan semua toko yang ku
lalui, toko kue, baju, sepatu, tas, dan berhenti di toko bunga menikmati sejenak warna-warnanya, merasakan harumnya dan
menyaksikan senyuman manis si penjual bunga, setelah puas aku kembali melangkah
menjelajahkan mataku dan terakhir berhenti di sebuah restoran Jepang, dari luar
saja aku bisa melihat keramaian pengunjungnya, tapi bukan karena aku ingin
masuk dan memesan tetapi aku datang karena menungu Fatan yang bekerja di tempat
ini, sebentar lagi dia akan selesai dan aku hanya perlu menunggunya setengah
jam lagi.
Waktu
memang berputar tanpa kita sadari, dan hari ini juga adalah hari minggu
terakhirku datang ke rumah pak Rendi, dan aku hanya mengerjakan soal-soal
matematika 15 nomor ini, sedangkan pak Rendi baru saja kedatangan seorang tamu,
dan hanya aku sendiri di meja ini tanpa seseorang yang bisa aku ajak mengobrol
karena Efan juga sudah pergi sejak tadi pagi, tidak begitu sepi, aku masih bisa
mendengar kicauan burung dan gemercik air, dan ditambah rasa penasaranku kepada
siapa yang menjadi tamu pak Rendi, sehingga ia cukup lama meninggalkan siswanya
belajar sendiri. Semakin langkahku mendekat semakin jelas pembicaraan mereka,
aku mengintip di balik jendela mengetahui siapa suara perempuan yang diajaknya
mengobrol. Dari apa yang aku lihat, pembicaraan mereka begitu serius dan
bermaksud untuk kembali ke soal-soalku, aku tidak mau jadi penguping
pembicaraan orang lain, tetapi langkahku terhenti saat kata-kata berpisah yang
aku dengar dari perempuan itu, aku kembali membelakangi dinding.
“aku
nggak bisa begini terus Ren…aku capek sama hubungan kita” ucapnya.
“aku
tahu semua pasangan akan bosan suatu saat nanti, tapi aku mohon kamu jangan
begini, kamu ingat nggak saat kita berdua berjanji, jika suatu saat nanti kita
merasa bosan satu sama lain, kita akan mengingat saat-saat kita bertemu dan
jatuh cinta…kamu hanya perlu melakukan itu Ve,!”.
“itu
dulu Ren…sekarang aku perlu untuk mengetahui isi hatiku yang sebenarnya,
bertemu dengan teman-teman baru dan melakukan banyak hal…dan sekarang aku sudah
dekat dengan laki-laki lain, aku tidak mengkhianatimu Ren, dari dulu aku sudah
mengatakan untuk putus, tapi kau sendiri tidak ingin membahasnya, jadi izinkan
aku untuk memilih jalanku sendiri” jelasnya, aku terlihat bodoh harus berdiri
di balik tembok mendengarkan pembicaraan orang lain tapi apa yang harus aku
lakukan, keinginanku lebih besar sehingga melawan pikiranku sendiri.
“baiklah
jika itu yang kamu mau, tapi jika suatu saat nanti kamu mulai menyadari dan
merasa bosan dengan mereka, aku akan tetap di sini, menunggumu dengan perasaan
yang sama, kembalilah jika kamu ingin kembali !!” ujarnya serak, suaranya
seakan di paksa untuk berucap.
“kamu
nguping yah…” bisik Efan yang tiba-tiba juga berada di sampingku, menarikku
pergi kembali ke ruangan tempatku meninggalkan soal-soalku.
“kamu
datang dari mana?” tanyaku penasaran dengan kemunculannya.
“dari
pintu belakang, karena melihat mereka begitu serius jadi aku tidak bermaksud menganggunya,
dan maka dari itu aku mencari jalan lain” jelasnya menyerahkan kembali
kertas-kertasku.
“sekarang
kamu harus pura-pura mengerjakan soal-soal ini, dan pura-pura tidak tahu apa
yang terjadi, oke..! aku harus kembali ke kamar membersihkan badanku” ujarnya
pergi, tidak lama pak Rendi datang dengan tatapan kosong dan wajahnya berusaha
menahan kesedihannya.
“kau
sudah selesai?” tanya datar.
“masih
ada beberapa nomor yan kurang aku pahami” ujarku, pak Rendi mengambil kertas
jawabanku memeriksanya, walau seperti memaksakan tubuhnya bergerak, dia masih
saja bisa menjelaskan pelajaran ini kepadaku meski beberapa kali harus menarik
nafas.
“oh
iya pak, hari ini aku izin cepat pulang, soalnya kak Dian nyuruh aku
mengantarkan naskah revisi ke lokasi syuting dan itu harus tepat waktu”
tuturku.
“aku
akan mengantarmu…”ucapnya berdiri.
“nggak
usah pak, tempatnya juga nggak jauh!” ujarku memaksa. Tetapi pak Rendi langsung
menarik lenganku, mendorongku masuk ke mobil.
Tidak
lama kemudian aku sudah sudah sampai, dan pergi sendiri membawakan naskah
revisi kak Dian kepada Sutradara, Karena lokasi syuting yang tidak memungkinkan
orang lain masuk, maka dari itu pak Rendi hanya menungguku di luar dan tidak
membutuhkan waktu yang lama, aku segera berlari menghampiri pak Rendi.
“bapak
nggak sibukkan? Gimana kalau hari ini saya ajak bapak jalan-jalan, tapi di mana
yah?” kataku sambil berpikir.
“terserah
kamu aja” ujarnya setuju dengan ajakanku.
“di
mana yah? Di pantai…??di museum..! hari minggu tutup, di taman hiburan…!? Di
kebun binatang…nggak bisa juga soalnya banyak orang..?? kalau ada teman-temanku
yang mengenali bapak dan aku gimana?”gumanku masih tak menemukan solusi yang
tepat.
“nggak
jadi deh, aku pulang aja” ujarku.
Saat
perjalanan pulang tiba-tiba pak Rendi terus melajukan mobilnya, hingga tempatku
terlewati
“kita
mau kemana?”
“ke
pantai…”singkatnya.
“tapi
kan pak, di sana pasti ramai” ujarku, pak Rendi hanya diam, dan aku hanya duduk tanpa mengatakan apa-apa.
Angin
laut sudah terasa saat kami hampir tiba, aku bisa melihat dengan jelas lautan
yang terbentang luas, kapal dan perahu nelayan yang sangat kecil dari jarak
seperti ini tetapi tempat ini bukanlah tempat wisata, tetapi sebuah
perkampungan kecil yang terletak di pinggir pantai, dan semuanya adalah nelayan,
pak Rendi menghentikan mobilnya dan turun, aku bahkan tidak sempat menanyakan
maksud dan tujuannya ke sini, hanya mengikutinya, dari apa yang aku lihat pak
Rendi pasti sering datang kemari, karena saat ia datang anak-anak di sini
berlarian memanggil dan menghampirinya, menyapa nelayan-nelayan yang baru saja
tiba melawan ombak dengan tangkapan ikannya, aku bahkan tidak mengira ada
tempat seperti ini, aku bisa melihat langsung ikan-ikan kecil di kotak
pendingin, nelayan yang berteriak, seorang ibu yang mengendong bayinya sedang
menunggu suaminya, dan anak-anak yang berlari membawa ember berlomba memunguti
ikan-ikan yang tidak di sempat di selamatkan oleh nelayan, tetapi mereka
membiarkan anak-anak itu mengambilnya, sepertinya mereka akan membawanya pulang
atau menjualnya untuk mendapatkan uang.
Aku
masih berdiri terpaku melihat pemandangan yang menurutku sangat luar biasa ini,
di mana aku bisa melihat langsung kehidupan orang lain, yang bagiku cukup
sulit, tetapi melihat senyuman mereka, pekerjaan ini tidak berarti apa-apa demi
untuk hidup, selama sejam aku berjalan sendirian tanpa di temani pak Rendi, aku
bahkan lupa ia pergi kemana bersama anak-anak yang tadi menyambutnya. Meski
panas matahari yang menyengat tidak membuat kakiku berhenti menelesuri pasir-pasir
ini, bahkan bau sedap tercium dari beberapa meter membuatku menghampiri sebuah
warung kecil.
“selamat
siang bu,” menghampiri seorang ibu yang sedang sibuk mengipasi bara apinya agar
tidak padam, lalu menaruh beberapa ikan di atasnya, bau ikan bakar ini yang
membuat perutku langsung lapar. Terlihat beberapa orang yang juga menikmati
makanannya, setelah membiarkan aku memilih ikan yang aku sukai, ibu itu
langsung memanggangnya di atas bara api, dan aku hanya perlu duduk menunggu
pesananku, meski terlihat sederhana tempat ini cukup nyaman, aku bisa langsung
duduk berhadapan dengan laut-laut ini. Dari kejauhan pak Rendi yang sejak tadi
mencariku datang menghampiriku.
“ngapain
kamu jalan sendiri…!!” tanyanya.
“soalnya
tadi juga bapak sibuk dengan anak-anak yang tadi, lagipula aku Cuma jalan-jalan
kok”.
“aku
ngajarin mereka, setiap sore aku selalu menyempatkan waktuku untuk mereka”
jelasnya.
Aku
hanya mangut, sambil menikmati makanan dan ikan bakar yang sangat enak ini.
“makanannya
enak banget pak” ujarku sambil duduk di samping perahu nelayan beralaskan
pasir, di sini tempat yang bagus untuk bisa duduk sangat dekat dengan bibir
pantai, meski matahari sangat terik, tetapi udara yang berhembus cukup sejuk.
“baru
kali ini, aku ngeliat orang makan selahap tadi” tuturnya mengejek.
“soalnya
serasa makan makanan rumah aja”. Ujarku.
“emang
kamu nggak pernah makan di rumah?”.
“jarang
sih, kecuali hari minggu aku dan Fatan ke pasar membeli sesuatu, dan hanya
bermodalkan buku resep makanan, terkadang rasanya nggak enak tapi daripada
membuang makanan, mau tidak mau aku dan Fatan harus memakannya, tante Maya juga
sering sakit, dulu sesekali dia datang dan membawakan kami makanan” tuturku
tersenyum. Meski beberapa kali aku mencoba untuk membuatnya tersenyum dan
melupakan apa yang terjadi padanya, tetapi tetap saja wajahnya terlihat begitu
sedih, untuk beberapa saat pak Rendi terdiam dan aku juga kehabisan kata-kata
untuk menghiburnya.
“bapak
kok sedih, emangnya ada sih?” tanyaku seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.
“hari
ini aku putus dengan seseorang yang aku sayangi..!” jawabnya jujur, aku tidak
terkejut meski harus tetap pura-pura terkejut, ia lalu menunduk memainkan
pasir-pasir di tangannya, lalu menceritakan semuanya padaku, seolah ingin
menumpahkan kesedihannya, walau tidak menangis tetapi suaranya yang begitu
berat menandakan kalau dia benar-benar menyukai wanita yang bernama Vega itu.
Aku
beberapa kali pernah membaca sebuah novel dan dari semua novel percintaan,
sekitar 60 % di mana seorang laki-laki hanya akan menangis pada wanita yang
benar-benar dicintainya, dan beberapa buku yang membahas tentang sebuah
hubungan juga mengatakan hal seperti itu, dari semua buku dan novel baik
sinetron, film bahkan drama korea juga sering menayangkan adegan pria tampan
dan berwibawa dan di puja-puja banyak wanita bahkan bisa terlihat menyedihkan
ketika menemukan cintanya dan harus berpisah.
Tapi
hari ini dia tidak terlihat seperti itu, mungkin karena ada aku di sampingnya,
dia tidak ingin terlihat menyedihkan, dan mungkin saja dia akan mengeluarkan
air matanya saat ia mandi. Itu salah satu hal bodoh yang terbayangkan di
pikiranku saat ini.
“Hmm…maaf
kalau nggak sopan! Tapi…??” Aku meraih tangan kanannya, mengerahkan kedua
tanganku untuk mengenggamnya, pak Rendi mengarahkan pandangannya padaku
menunggu apa yang ingin aku katakan.
“sewaktu
kecil, jika setiap malam aku ketakutan , menangis mencari ibuku, maka Ayah akan
mengenggam tanganku dan kesedihanku akan menghilang, ketika Ayah meninggal aku
selalu merasa takut maka tante Maya akan melakukan hal yang sama dengan yang
dilakukan Ayahku, ketika Fatan bangun setiap malam dan menangis mencari Ayah
dan Ibu maka aku yang akan mengenggam tangannya dan memeluknya dia akan kembali
tertidur dengan tenang, dan ketika aku dan Fatan mulai belajar hidup tanpa
orang lain, bekerja sepulang sekolah dan hampir setiap malam ketika aku
ketakutan, Fatan akan terjaga mengenggam tanganku sampai aku tertidur, jadi aku
tidak tahu apakah ini berhasil padamu pak..!! “ ujarku menepuk pundaknya
perlahan.
“apa
yang kamu takutkan?” bisiknya.
“banyak
sekali yang aku takutkan, jika suatu saat nanti aku berpisah dengan Fatan aku
tidak sanggup memikirkan apa yang akan aku lakukan tanpanya, aku takut jika
nanti tak ada yang mengenggamku, menjagaku memelukku saat aku bersedih, aku
takut jika suatu saat nanti dia sudah
mencintai orang lain, apakah aku masih berada di sampingnya, hal yang paling
mengerikan adalah hidup sendiri, cukup Ayahku dan ibuku yang pergi tanpa
kembali..”jelasku menahan air mataku dengan tersenyum melepaskan genggamanku.
“pasti
sulit untuk kalian berdua, dan bagaimana rencana masa depanmu nanti? Kalian
berdua pasti memiliki rencana yang berbeda?”.
“ng…aku
akan mengumpulkan uang yang banyak, menunggu Fatan lulus dan mendapatkan
beasiswa kuliahnya di Australia dan membeli rumah kecil di sana, memulai hidup
yang baru” jelasku.
“rencana
yang bagus!” tutur pak Rendi kembali tersenyum.
Seharian
itu kami menghabiskan waktu bercerita banyak hal, tertawa dan kami berdua sudah
tidak merasa sungkan satu sama lain, bersenang-senang bersama ombak yang
menari-nari, bermain dengan gulungan ombak yang berusaha mengejar langkah kami.
Ketika itu juga pak Rendi terus memperhatikanku tanpa aku sadari, dia
menghampiriku yang membelakanginya merasakan seseorang di belakangku aku
langsung berbalik, sontak aku terkejut melihat pak Rendi yang begitu dekat, berusaha
untuk mundur tetapi rasa terkejutku membuat tubuhku tidak tahu harus melakukan
apa ketika itu juga pak Rendi menarik kedua lenganku, aku sedikit lega karena
hampir saja aku tercebur di air dan harus pulang dengan pakaian basah, tapi
satu lagi masalah saat pak Rendi menarikku lebih dekat, tangannya masih
mengenggam lenganku jantungku berdetak tidak normal, hatiku berdebar aneh
seakan baru saja sesuatu yang begitu nyaman masuk ke dalam lubuk hatiku.
“ayo
kita pulang…”ujarnya tersenyum lucu melihatku dengan ekspresi bodoh, dia
melepaskan tangannya dan pergi.
Sepanjang
perjalanan pulang, aku hanya diam dan masih sedikit malu membekas di wajahku,
rasanya ingin menghapus kejadian tadi, bahkan aku tidak berani melihat pak
Rendi, sudah hampir malam dan aku tiba tepat di depan rumahku. Fatan dengan
wajah kesal menghampiriku.
“kamu
dari mana aja sih, nggak bilang-bilang dan aku di rumah seharian menunggumu “
ujarnya berteriak lalu masuk ke dalam rumah.
“masuklah…!
Sepertinya dia marah” ujarnya pergi.
“kamu
kok marah?”.
“jelaslah…!!soalnya
kamu nggak bilang kalau pulangnya lama!” bentaknya.
“maaf…!soalnya
pak Rendi menyuruhku menemaninya seharian ini”jelasku duduk di sampingnya menyandarkan
kepalaku di bahunya, dengan begini aku tahu pasti Fatan tidak akan marah lagi.
“hari
ini banyak hal aku pelajari…dan semuanya terasa menyenangkan”.
“sampai
lupa denganku??”.
“jangan
marah dong Fat…!”bujukku
“yah
udah, kamu mandi dan shalat dulu, lalu kita pikirkan malam ini mau makan apa,
aku lapar belum makan seharian ini “ jelasnya.
“oke…malam
ini kita keluar makan” ujarku berdiri berlari ke kamar.
6. sedekat ini
Hari
ini akan menjadi hari yang paling menyedihkan terkhusus siswa-siswa di kelasku,
karena hari ini menjadi hari terakhir pak Rendi mengajar, dan mulai besok pak
Kiwil akan mengambil alih kelas yang sudah ditinggalkannya beberapa bulan ini.
Bagiku semua akan menjadi sedikit berbeda tetapi perlahan keadaan akan kembali seperti biasanya,
perasaanku yang sempat kacau perlahan akan hilang dan aku tidak bisa lagi
bertemu dengan pak Rendi.
“muka
kamu kok murung gitu, kamu juga sedih yah ?” ejek Gea.
“nggak
kok!” ujarku.
“terus,
mukamu kenapa bisa jadi sejelek ini” ujar Gea.
“udah
deh Ge…hari ini lagi malas!” ujarku meninggalkan Gea yang menertawaiku.
Lets
go to work. Teriakku bersemangat saat sudah berada di kantor, dan hari ini
naskah yang aku kerjakan sudah selesai dan kak Dian juga sudah selesai merevisi
kerjaanku, dan selanjutnya novel itu masuk tahap proses penerbitan dan aku bisa
dengan tenang menunggu bayaran yang akan aku terima setelah ini. Hanya beberapa
pekerjaan kecil yang diberikan kak Dian beberapa hari ini kepadaku, jadi aku
tidak begitu mengejar waktu dan bisa pulang lebih awal.
“Hana….!!”panggil
seseorang, aku berbalik dan pak Rendi sudah berdiri tidak jauh dariku.
“bapak
ngapain di sini?”tanyaku.
“hanya
kebetulan lewat saja “ujarnya.
“jadi
bapak mau ke mana?”
“dan
kamu mau kemana?” tuturnya mengembalikan pertanyaanku.
“ke
tempat Fatan, kok bapak nanya balik sih” ujarku kesal.
“oke…ayo
kita pergi!” ujarnya berjalan lebih dulu, dan aku segera menyusulnya.
“bapak
nggak ada kerjaan yah?”.
“oh…”
menunjuk tepat di hadapanku.
“sekarang
aku bukan gurumu lagi dan kau bukan siswaku jadi, bisa kau hilangkan kata-kata
itu, orang-orang akan menganggap kalau aku sangat tua berjalan denganmu”
ujarnya melanjutkan langkahnya.
“Bapak
secakep ini nggak mungkin di bilangin tua. Dan lagian aneh aja pak” ujarku.
“kedengarannya
lebih aneh lagi tahu nggak,! Anggap aja kita teman, terserah panggil apa aja,
kecuali yang satu itu “ ujarnya.
“umur
bapak berapa? Aku dua bulan lalu udah 18 tahun !”.
“27
tahun !” singkatnya.
“Om…!!”ucapku
membuat candaan agar dia sedikit kesal, tetapi dia menunjukkan jarinya
mendorong kepalaku.
“Rendi
!! ahhh…mulutku terasa aneh menyebutnya”.
Tiba-tiba
pak Rendi berhenti, dari jarak yang tidak begitu jauh dia melihat seorang
wanita yang di kenalnya, berjalan sambil bergandengan tangan dengan laki-laki
lain, aku memperhatikan wajah pak Rendi yang langsung berubah, entah kenapa
melihat keadaan ini juga membawaku ikut terbawa suasana, dan terbersik ide
bodoh di kepalaku, aku membuka syal yang di leherku dan membentangkannya,
kemudian menutup kepala dan wajah pak Rendi, waktunya sangat tepat, wanita itu
sempat tersenyum dan untung saja ia tidak mengenalinya dan pak Rendi hanya diam
saat aku menutupi kepalanya
“kamu
Hana kan !!” sapanya tiba-tiba berbalik arah setelah mengenaliku.
“dia
kenapa?” ujar laki-laki yang bersamanya menunjuk pak Rendi.
“dia
malu, wajahnya sangat jelek “ ujarku berbohong, mendorong perlahan tubuh pak
Rendi.
“Iya
aku Hana...kok kenal?” tanyaku penasaran.
“aku
melihatmu di seminar kampus, penulis novel Dream Real” jelasnya.
“benarkah…wah
kamu hebat yah, kalau begitu ! bisa nggak aku minta tanda tangannya “
mengeluarkan kertas dan pulpen dan setelah itu mereka pergi. Aku menarik syalku
dari pak Rendi, wajahnya tampannya terlihat begitu aneh, mendingan saat aku
menutup wajahnya.
“ayo
pak, kita ke toko bunga yang berada di ujung sana” ujarku menariknya, meski
awalnya dia tidak semangat tetapi aku terus menceritakan hal lucu dan aneh
padanya, dan akhirnya dia kembali tersenyum meski terlihat memaksa, setidaknya
aku sudah berusaha menghiburnya.
“kenapa
kamu tiba-tiba menutup wajahku ?” tanyanya.
“hhmmm…hanya
iseng aja” ujarku gugup.
“jangan
bohong ! kamu pasti kenal dengan Vega”. Katanya meraih hp dari kantongnya.
“berikan
nomormu…!” katanya sambil mengetik digit yang kusebutkan.
Meski
kadang aku merasa bingung tetapi aku selalu berusaha untuk berpikir apa adanya,
apalagi di usiaku saat ini yang masih sekolah, sibuk mengumpulkan uang dan
tidak terpikirkan untuk merasakan yang namanya jatuh cinta, aku tidak ingin
mengalami hal-hal yang di alami orang-orang yang berpacaran, berjanji setia dan
akhirnya saling mengkhianati. Bagiku dunia orang dewasa cukup sulit di pahami
apalagi kalau mengenai sebuah hubungan. Aku juga tidak ingin seperti ibuku yang
rela meninggalkan kami demi keegoisannya dan menyesal karena telah melewatkan
masa mudanya menikah dan memiliki anak.
Waktu
berlalu di awali hari yang baru seiring pergantian tahun, dan sekarang aku
sudah berada di kelas tiga dan itu berarti masa smaku akan segera berakhir. Di
saat seperti ini juga banyak hal yang terjadi padaku dan semakin hari aku dan
pak Rendi semakin dekat, tetapi hanya sebatas teman, dan aku belum bisa
menghilangkan kebiasaanku memanggilnya bapak.
Sudah
dua hari semenjak libur sekolah dan aku hanya menghabiskan waktu di rumah dan
setiap jam dua aku sudah harus di kantor editor tapi minggu pagi ini meski
waktu baru menunjukkan pukul delapan tetapi matahari begitu cerah memancarkan
sinarnya, pagi yang sibuk karena aku harus membersihkan seisi rumah, mencuci
pakaian, membersihkan kaca jendela, mengepel lantai dan terakhir membersihkan
halaman depan dan belakang, menyirami tanaman, itu semua kulakukan sendiri
karena hari ini aku menyuruh Fatan membeli bahan makanan. Selesai mengerjakan
semuanya sambil menunggu Fatan aku menyibukkan diriku di depan televisi,
menghiraukan bau keringat yang melekat di tubuhku dan tak lama Fatan juga sudah
datang, tetapi ia tidak sendiri.
“Selamat
pagi Hana…!!” sapa Efan aku langsung berdiri melihat mereka, terkejut setelah
melihat pak Rendi dan Efan yang datang bersama Fatan sambil membawa beberapa
kantong belanja.
“kenapa
kalian bisa ada di sini?” tanyaku heran.
“aku
bertemu mereka di luar” jelas Fatan membawa semua belanjaannya masuk ke dapur
dan aku juga baru tahu kalau selama ini Fatan dan Efan berteman.
“kita
masak apa hari ini? Aku lapar” ujar Efan mengikuti Fatan masuk ke dapur.
“kamu
bau tahu nggak…!” ujarnya menyuruhku bergegas mandi.
“kalian
masak apa?” tanyaku menghampiri mereka bertiga di dapur, pak Rendi sendiri yang
terlihat sibuk memasak, sedangkan Efan dan Fatan menunggu di meja makan hanya
melihat seperti sebuah tayangan masak di televisi. Pak Rendi benar-benar
seperti koki yang jago masak dia seperti memamerkan keahliannya memotong dan
mencampur bahan makanan dengan bumbu-bumbu dan menghasilkan bau yang sedap,
membuat perutku lapar.
“
karena mama nggak punya anak perempuan yang diajaknya masak, makanya mama
sering memaksa kami berdua di dapur, dan hanya kak Rendi yang selalu membantu
mama dan aku tidak suka di dapur, maka dari itu dia mewarisi mama” jelas Efan,
sekali lagi aku dibuat kagum,
menurutku pak Rendi adalah
laki-laki yang sangat sempurna, sangat bodoh wanita itu yang menyia-nyiakan pak
Rendi, setidaknya itulah yang sempat berguman di hatiku.
Selesai
makan, Efan dan Fatan melanjutkan kegiatannya dengan bermain video game,
sedangkan aku dan pak Rendi hanya mengobrol di halaman belakang, di sana
terdapat pohon yang rindang dan di bawah pohon itu aku selalu bersantai dengan
laptop dan buku-bukuku.
“bapak
kok bisa datang nggak bilang-bilang dulu” ujarku baru sempat menanyakannya.
“aku
juga nggak tahu kalau Efan kenal dengan Fatan, motornya rusak dan ia ingin
meminjam mobil, nggak mungkin aku membiarkan menyetir sendiri. Katanya hari ini
dia ada janji dengan temannya dan ternyata itu adikmu“ jelasnya.
“kenapa
libur sekolah terasa begitu lama akhir-akhir ini” ujarku sambil merebahkan
tubuhku di kursi, sedangkan pak Rendi serius membaca buku.
“”bagaimana
pekerjaanmu?” tanyanya.
“semuanya
lancar, nggak terlalu sibuk soalnya kak Dian Cuma ngasih naskah pendek”.ujarku.
Efan
dan Fatan lalu datang menghampiri kami, mereka pasti sudah merasa bosan bermain
game berjam-jam.
“nggak
seru nih, gimana kalau kita keluar jalan-jalan” usul Efan, tidak berpikir
lama-lama aku langsung setuju dan pak Rendi hanya diam dan mengikuti kemauan
kami.
“kalian
mau kemana?” tanya pak Rendi hanya mengemudi, dan kami belum menentukan akan
kemana. “asal jangan outdoor, hari ini cuacanya panas”. Ujar pak Rendi.
“kalau
gitu, kita ke mall aja”tambah Efan, aku dan Fatan hanya mengangguk mengikuti
kemana mereka pergi.
Setelah
tiba di tempat tujuan, aku dan pak Rendi hanya berjalan berduaan sedangkan Efan
dan Fatan, mereka berdua juga punya rencana sendiri untuk dilakukan dan akan
bertemu di tempat parkir.
Sudah
sejam aku dan pak Rendi hanya berkeliling, hanya sepatu yang aku beli sedangkan
pak Rendi belum menemukan apa yang harus dibelinya. Dia kemudian mengajakku
untuk beristirahat sebentar dan mencari tempat yang bagus untuk membeli es
kream. Saat itu tanpa sengaja kami bertemu dengan Vega, mantan pak Rendi dan
berpapasan saat di pintu masuk stand yang menyediakan berbagai macam es cream.
“Rendi…!”
tegurnya
“Hei…”
ujar pak Rendi tersenyum, meski ia tersenyum seperti itu terlihat sangat
memaksakan, dan di tambah lagi mereka mengajak kami berdua duduk di satu meja.
Awalnya aku ingin menolak dan segera pergi tetapi pak Rendi menerima ajakan
Vega, dan dengan terpaksa aku harus menerima situasi yang tidak nyaman ini.
“kak
Vega kok sendiri!” tanyaku memulai pembicaraan.
“aku
baru sampai, dan berjanji bertemu dengan seseorang di sini” jelasnya, ia terlihat
cantik saat tersenyum pikirku. Aku benar-benar merasa tidak nyaman mereka duduk
di hadapan mereka berdua, dan harus mendengarkan obrolan kaku mereka.
“bagaimana
kabarmu?” tanya Vega menatap Rendi.
“aku
baik-baik saja, bagaimana denganmu?”
“seperti
yang kamu lihat, aku baik-baik saja!” ujarnya datar.
“aku
senang kamu baik-baik saja”. Ucap Vega tersenyum.
“bagaimana
hubunganmu dengannya?” tanyanya, membuat raut wajah Vega berubah.
“Ren…kami
hanya berteman ! jangan mulai deh” ujar Vega terlihat tidak begitu senang.
Rasanya
berada di antara mereka membuat telingaku muak, serasa ingin mengilang saja
dari tempat ini, untuk itu agar bisa membiarkan mereka berbicara dengan tenang
aku berpikir untuk pergi saja.
“aku
pergi sebentar yah…!” sahutku berdiri secara tiba-tiba membuat mereka terkejut
karena telah menyela pembicaraannya. Tapi saat itu juga pak Rendi menarik
lenganku dan mengenggamnya, aku sontak mengarahkan pandanganku pada pak Rendi.
Entah mengapa saat itu aku merasakan perasaan kuat dalam hatiku.
“aku
harus pergi...!!” ujarnya berdiri menarikku keluar menjauh dari tempat itu.
meski sudah menjauh dari pandangan Vega, pak Rendi masih mengenggam tanganku
cukup lama sampai kami tiba di mobilnya.
“bapak
nggak apa-apa?” tanyaku sambil berusaha melepaskan tangan pak Rendi, tetapi
bukan melepaskannya malah pak Rendi kembali menarikku, menatapku sejenak dan
tanpa mengatakan apa-apa ia tiba-tiba memelukku, hanya sekitar sepuluh detik ia
melepaskan pelukannya.
Aku
diam terpaku, tidak percaya apa yang baru saja terjadi, rasanya berdebar-debar
selama ini hanya Fatan yang mengenggam tanganku dan memelukku, tapi kali ini
semuanya terasa beda dan sangat menyentuh. Aku tidak tahu harus melakukan apa
selain masih berdiri, untung saja Fatan dan Efan sudah kembali dan selama
perjalanan hanya Efan dan Fatan yang terus mengobrol dan pak Rendi sesekali
suaranya terdengar, dan aku bersandar di bahu Fatan berpura-pura kelelahan dan
tertidur menghindari kecanggunganku pada pak Rendi.
Dari
sekian malam, baru kali ini aku merasakan malam yang begitu panjang, pak Rendi
terus saja berputar di pikiranku, hatiku pun sangat berisik. Berputar dan
berguling ke sana kemari di tempat tidur, menghitung ratusan kali, tetapi
mataku enggan terpejam. Malam semakin larut dan perlahan kelelahan
menyelimutiku, membuatku tertidur juga.
Hari
pertama sekolah di semester ini dan menjadi siswa senior, tapi di saat yang
lain terlihat begitu senang hanya aku terlihat tidak semangat, kepalaku sedikit
pusing dan gara-gara semalam tertidur hanya beberapa jam, kantung mataku terasa
berat, terus menguap selama pelajaran berlangsung bahkan saat istirahat aku
tidak keluar kelas sama sekali, hanya merebahkan kepalaku di meja, hpku dari
tadi berdering mengabaikan line yang masuk, saat melihat layar hpku ternyata
itu dari pak Rendi. Aku bahkan takut membuka dan membacanya.
“bodoh,
bodoh !!”gumanku sendiri mematikan hpku dan memasukkannya ke dalam tas.
“kamu
kenapa sih Hana? Akhir-akhir jadi aneh deh” tegur Gea menghampiriku.
“Gea...apa
yang harus aku lakukan?” ujarku lesuh.
“emang
kamu kenapa sih? Akh…jangan-jangan kamu di pecat yah?” ujar Gea mencoba menebak
kegalauanku.
“bukan…ini
tentang pak Rendi, kemarin dia menarikku tiba-tiba, mengenggam tanganku lalu
memelukku, hatiku tiba-tiba berdebar-debar Ge…!”jelasku menatap wajah Gea
serius, hanya dia tempatku mengeluarkan keluh kesahku, dan solusi serta
nasehatnya selalu membantuku menyelesaikan masalahku. Dia benar-benar mewarisi
sifat ibunya.
“kau
masih ingatkan ! saat aku bilang jangan terlalu berharap! Kamu pasti sudah
mulai menyukai pak Rendi karena kalian sering bersama jadi perasaan suka itu
ada padamu, tapi kau juga tahu kalau saat ini pak Rendi lagi patah hati
gara-gara di putuskan oleh wanita yang sangat di cintainya, dan itu secara
otomatis pak Rendi membutuhkan seseorang untuk bersandar, menghilangkan rasa
sedihnya dan…!!” tegas Gea menarik nafas sebelum melanjutkan ucapanya.
“secara
kebetulan kamu ada di sana, jadi dia spontan memelukmu” ujarnya, mendengar
penjelasan yang begitu panjang membuatku sadar, apa yang diucapkan Gea ada
benarnya.
“jadi
apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
“hanya
perlu menghindarinya saja, kalau kalian bertemu tanpa sengaja cobalah
membuatnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi kalau pak Rendi…” ujarnya
berpikir.
“kalau
apa…?” tuturku menunggu apa yang akan dikatakan Gea.
“ada
kemungkinan lain yang terpikirkan…!”
“apa
itu?”.
“bagaimana
kalau pak Rendi sedang menguji perasaannya !” ujar gea membuatku bingung dia
lalu menarik kursinya lebih dekat padaku, berusaha menjelaskan kebingunganku.”mungkin
saja dia juga suka sama kamu…!” tutur Gea, aku diam sejenak lalu tertawa
memukul bahunya.
“eiss…nggak
mungkin” sahutku.
“iya
sih, nggak mungkin ! pak Rendi tampan, tinggi dan sempurna sedangkan kamu cewek
jelek, gila kerja bahkan wajahmu mulai menua gara-gara sibuk mencari uang…!!”
ujar Gea tertawa mengejekku lalu berlari keluar kelas menghindari pukulanku.
Selama
beberapa hari ini aku benar-benar melakukan seperti yang di katakana Gea padaku,
menghiraukan semua chat dan panggilan pak Rendi, dan jika ia datang menemuiku
maka aku hanya perlu bersikap seperti biasanya.
Hari
ini sepulang sekolah setelah ke kantor editor, kak Dian memintaku datang ke
café menemui seseorang karena hari ini kak Dian tidak bisa menemuinya langsung,
maka dari itu ia menyuruhku membawa beberapa contoh buku yang akan di
perlihatkan kepada penulisnya, dan setelah setuju dengan edit sampul dan
picture maka buku itu akan siap diedarkan di toko buku.
Setelah
membuat janji sambil menunggu kedatangannya aku membuka laptopku mengetikkan
beberapa kata dan kalimat merangkainya menjadi wacana, akhir-akhir ini untuk
menambah kesibukanku aku mulai menulis lagi, itu semua karena komentar dari
pembaca di blogku yang terus menunggu karya-karyaku selanjutnya. Beberapa bulan
vakum dari dunia maya, membuat beranda di blogku penuh dengan komentar dan
permintaan pembaca, hanya sebagian dari mereka yang sempat aku balas dan ucapan
terima kasih selalu menjadi kata-kata terakhirku kepada mereka yang mencintai
tulisanku.
“selamat
sore…! Hana kan!!” sapanya memperkenalkan diri dan duduk, tidak membutuhkan
waktu yang begitu lama, aku sudah membereskan pekerjaan yang diberikan kak Dian
padaku, dan tak lama kemudian, seseorang kembali menyapaku, dia menghampiriku
setelah melihatku duduk sendiri.
“kak
Vega…!!”ujarku.
“sudah
dari tadi aku ingin menghampirimu, tapi tadi kamu terlihat sibuk jadi aku
urungkan niatku “ jelasnya tersenyum sambil duduk dan memesan beberapa makanan.
“kamu
udah makan?” tanyanya, aku hanya mengelengkan kepalaku.
“kak
Vega ngapain di sini?” tanyaku terlihat bodoh harus bertanya.
“ya
makanlah ! ngapain coba?” tuturnya. “hari ini aku juga ada janji dengan Rendi,
kebetulan sekali kita bertemu di sini”.
“tapi
aku harus balik ke kantor dulu”.
“kamu
makan aja dulu “ pintanya sedikit memohon.
“aku
bangga loh sama kamu, masih sekolah udah kerja, seorang penulis yang
menginspirasi banyak orang” ujarnya sedikit pujian yang dia lontarkan membuatku
sedikit salah tingkah.
“oh
iya Han…! Ada yang ingin aku tanyakan?” ujarnya membuatku sedikit khawatir, dia
tidak mungkin membahas masalah pak Rendi yang memegang tanganku.
“kamu
dan pak Rendi kayaknya dekat banget yah?” ujarnya, tebakanku benar dia
benar-benar menanyakannya.
“nggak
kok kak…kemarin itu Cuma kebetulan aja ketemu sama pak Rendi” jelasku.
“terus
kenapa dia memegang tanganmu?” tanyaku lagi, wanita ini benar-benar membuatku
seperti terpojok.
“mungkin
pak Rendi nggak sengaja aja !” tuturku lagi, kakiku seolah ingin pergi dari
sini secepatnya. “maaf kak, aku harus kembali ke kantor” ujarku pergi
terburu-buru saat itu juga pak Rendi masuk dan aku menabrak bahunya begitu
keras dan hanya pergi begitu saja.
Wanita
itu benar-benar aneh, meski wajahnya cantik dan terlihat baik, tetapi ada
sesuatu yang membuatku takut kepada tatapannya yang seolah-olah menyuruhku untuk
menjauh dari pak Rendi.
6. mengakui
Sejak
hari itu aku mulai hati-hati dengan perasaanku, aku benar-benar tidak ingin
terlibat dalam situasi yang sangat rumit. Sekarang aku memfokuskan diriku untuk
melanjutkan tulisan-tulisan yang sempat tertunda. Malam ini aku pulang lebih
cepat sehingga bisa meluangkan waktuku menyelesaikan tugas sekolah, bersantai
di depan televisi bersama Fatan dan Gea, yang beberapa hari ini menghinap di
rumahku, tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara seseorang mengetuk pintu
beberapa kali.
“siapa
sih malam-malam gini?” ujar Gea sambil melihatku.
“nggak
tahu…!”ujarku menunggu Fatan.
“pak
Rendi mencarimu…!” sahut Fatan.
“ngapain
dia malam-malam kesini?” tanyaku berdiri menghampiri Fatan. “kenapa nggak di
suruh masuk aja” ujarku.
“katanya
mau bicara di luar aja!” ujar Fatan menutupi badanku kain.
“suruh
masuk aja, nggak enak di liat tetangga tahu nggak !” seruku melangkah keluar
dan langsung menyuruh pak Rendi masuk.
“Hei
pak…” sapa Gea mempersilahkannya duduk bersama kami. Tapi pak Rendi sedikit
tidak nyaman saat itu.
“ada
yang ingin aku bicarakan, tidak di sini” bisiknya berdiri mengajakku ke teras
belakang.
“bapak
kok malam-malam datang kesini…”ujarku sedikit kesal.
“karena
kamu nggak ada waktu di siang hari, susah di hubungi, dan selalu mengabaikan semua pesanku”
bentaknya terlihat jengkel.
“Yah..!!”
seruku sedikit mengangkat wajahku. “kenapa bapak kesalnya sama aku? siapa juga
yang nyuruh bapak telpon dan sms” bentakkku kembali, kali ini rasa hormatku
padanya mulai tiada.
“apa
kamu bilang?” menatapku dengan kedua matanya yang tajam seolah ingin menelanku.
“bapak
nggak mengajar lagi di sekolah, aku sudah memenuhi kewajibanku belajar selama
lima minggu dan menuruti kemauan bapak, jadi nggak ada alasan lagi
sering-sering bertemu, bapak kembali ke kehidupan bapak sebagai mahasiswa dan
aku kembali ke duniaku yang penuh dengan tantangan dan tentu saja saya sangat
berterima kasih karena bapak yang membuat saya sedikit bisa merasakan banyak
pengalaman “ ujarku hanya dengan satu tarikan nafas, pak Rendi hanya diam
setelah mendengarku
“kurasa
aku mulai menyukaimu” tuturnya pelan.
“bapak
suka sama aku?” tanyaku tertawa, menjatuhkan pantatku di kursi menatap tepat di
matanya. “kenapa bapak bisa ngomong suka sama aku begitu mudah? Sedangkan bapak
masih mencintai orang yang sudah meninggalkan bapak.“ tuturku.
“sulit
membuatmu mengerti dengan kata-kata…” ujar pak Rendi.
“baiklah,
dengan cara apa agar aku bisa mengerti?” tegasku.
“itu
terserah padamu, bagaimana caramu memandangku dari segi yang kau sukai, kau
tahu? Aku menyukaimu secara tiba-tiba tak ada rumus yang bisa menjelaskan
kenapa aku bisa merasa nyaman denganmu, jadi jangan membuatku mundur sebelum
aku benar-benar tahu perasaanku” ujar pak Rendi.
“baik,
aku punya ide,! selama dua minggu ini kita habiskan waktu bersama dan setelah dua minggu berlalu, kita tidak akan
saling bertemu selama dua minggu juga, kita lihat bagaimana perasaan kita” tuturku,
ide yang aku jelaskan begitu mudah di pahami pak Rendi tanpa perlu menjelaskan
ulang.
“yah
! apa kamu bodoh? Bagaimana kita punya waktu bertemu kalau kamu juga kerja dan
pulang malam hari, sedangkan waktumu hanya ada sabtu dan minggu” tuturnya. “sebulan?
Kita coba selama sebulan, dan selama sebulan juga kita tidak akan bertemu.
Bagaimana?” lanjutnya, biarpun aku berpikir tetapi dia sudah memutuskan lebih
dulu.
“bisa
kupastikan, perasaanku sampai hari itu tetap sama, dan jika itu terjadi jangan
menemuiku lagi meski aku yang memintanya sekalipun” jelasku dengan keyakinan tinggi.
Pak Rendi kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa.
“kalian
berdua benar-benar aneh, sulit banget sih ! kenapa nggak langsung pacaran aja”
celetukr Gea mengikuti ke kamar. Aku hanya ingin cepat tidur malam ini, mengapa
juga ide itu tiba-tiba terlintas begitu saja, aku memasukkan diriku sendiri ke
dalam masalah.
Mataku
sama sekali enggan tertutup, bukan karena suara dengkur Gea yang sudah terlelap
di sampingku, tetapi apa yang akan aku lakukan selama sebulan ini bersama pak
Rendi, aku hanya khawatir jika aku akan benar-benar suka padanya. Aku beranjak
dari tempat tidur membuka pintu perlahan dan masuk ke kamar Fatan yang juga
tertidur lelap.
“Fat…!!”
bisikku, ia terbangun ketika mendengarku.
“hmmm…ada
apa?” ujarnya duduk, berusaha membuka matanya, dan menatapku.“kamu baik-baik
aja.?”
“baringlah…!”
bergeser ke samping dan menyuruhku berbaring di tempatnya.
“Seharusnya
kamu senang karena ada yang menyukaimu, bukannya khawatir dan takut” ujarnya
memegang tanganku dan kembali berbaring, meski tidak mengatakan apa-apa,
Fatanlah yang akan menjadi orang pertama mengerti perasaan dan semua
kekhawatiranku.
7. percobaan 1
Pagi
ini sedikit membuatku bertanya-tanya, apakah yang terjadi selama ini hanya
mimpi bagiku, seandainya waktu bisa ku ulang, aku tidak ingin bertemu
dengannya, siapa saja, asalkan bukan pak Rendi. Tetapi meskipun itu bukan dia
apakah ceritanya tetap akan sama.
Di
sekolah, hari ini aku hanya diam, bengong selama pelajaran berlangsung tanpa
ada sedikitpun semangat, jam istirahat, aku hanya duduk bermalasan di bangku
taman sekolah mendengarkan musik sambil memperhatikan siswa lainnya. Tanpa
kusadari Fatan sudah duduk di sampingku mematikan musik di hpku.
“pak
Rendi orangnya baik kok !! kenapa nggak di jalanin aja dulu “ sahut Fatan, tapi
aku masih diam menatapnya sejenak.
“kalau
kamu khawatir denganku, khawatir jika suatu saat aku akan cemburu karena ada
orang lain yang kamu sayang…! Aku percaya kok sama kak Hana, asalkan kita tetap
bersama,,,itu akan baik-baik saja “ ujar Fatan, aku menatapnya lagi,
kekhawatiran dan ketakutanku untuk membuka hatiku memang terletak di titik ini.
Aku takut jika suatu saat aku kehilangan
Fatan, meskipun dia pria yang bagiku sudah cukup dewasa, keren dan popular dan
dingin pada orang lain tetapi Fatan bagiku masih seorang adik yang
membutuhkanku.
“jadi
kamu nggak usah mikir macam-macam, kalau kamu bahagia, aku juga akan bahagia” ujar
Fatan menepuk pundakku.
“kapan
kalian mulai jalan?” lanjut Fatan tersenyum, mengalihkan kesedihanku.
“katanya,
sepulang sekolah dia akan menjemputku untuk makan siang lalu mengantarku ke
tempat kerja” ujarku.
“yah
udah, kamu hati-hati, telpon aku aja kalau ada masalah” ujar Fatan beranjak
pergi, dan tak lama aku menyusulnya setelah mendengar bel masuk kelas.
Baru
kali ini aku merasa canggung, aku tidak pernah berpikir ini akan terjadi
padaku, aku seperti seorang yang kehilangan kepercayaan diri, pak Rendi
seolah-olah mengeluarkan semua pesonanya hanya untukku dan membuat hatiku Up
Down, jungkir balik, tidak tenang dan bergejolak melawan diriku yang
sebenarnya.
Seminggu
hampir berlalu, dan siang ini dia menyuruhku datang ke cafe, ketika aku sudah
masuk, lagi-lagi aku melihat wanita itu bersama pak Rendi, mereka pasti bertemu
tanpa sengaja dan dengan senyum lebar aku menghampiri mereka.
“akhir-akhir
ini kalian sering bertemu yah!?” sahutnya tersenyum, tetapi terlihat jelas di
wajahnya ia tidak suka padaku.
“mungkin
karena aku merasa nyaman dengannya” ujar pak Rendi, lagi-lagi dia membuat
wajahku harus menyembunyikan cahaya merahnya, tetapi tidak dengan Vega,
wajahnya berubah kesal melihat pak Rendi yang mencoba merayuku.
“terlibat
cinta dengan siswa sendiri, apa itu nggak aneh Ren” ujar Vega menyeringai.
“nggak
aneh sama sekali, lagi pula pak Rendi masih muda, mahasiswa, keren, cakep,
perhatian dan…!!”
“hmm,,,jangan
memujiku berlebihan, belum seminggu kau sudah jauh cinta padaku” ejek pak Rendi
mengusap kepalaku sambil tersenyum.
“lagi
pula aku dan pak Rendi nggak pacaran kok, jadi kak Vega jangan mikir
aneh-aneh.” Ujarku. “ oh iya, aku ke toilet dulu”, ujarku terburu-buru.
“Ren,
kamu Cuma mainin dia kan, nggak serius” tanya Vega.
“kamu
janjian sama sih. Dari tadi kamu di sini, dia juga belum datang?” ujar Rendi
mengalihkan pembicaraan.
“Nggak
ketemu siapa-siapa kok, Cuma datang aja mau ketemu sama kamu, soalnya dulu kita
selalu ketempat ini, jadi ku pikir kalau selesai kuliah pasti mampir disini”.
“di
kampus, kita juga selalu ketemu, kenapa harus di sini.!” Ujar Rendi
“kamu
banyak berubah Ren…!” ujar Vega menatap Rendi.
“berubah,,??
Kayaknya sama aja” tutur Rendi.
“apa
karena aku?” ucap Vega. “jangan memaksakan diri, aku tahu hatimu masih untukku
dan kau mencoba untuk mencari kebahagian lain bersama Hana, dia masih kecil
Ren…!” ujarnya, tetapi aku datang di waktu yang sangat tepat, saat mendengar
Vega menyebutku anak kecil.
“aku
bukan anak kecil, umurku sudah 18 tahun” tambahku duduk menatapnya kesal.
“kalian
mau ke mana setelah ini?” tanya Vega, dia terlihat ahli mengalihkan
pembicaraan.
“kami
akan ke taman hiburan” ujarku
“sepertinya
menyenangkan, bagaimana kalau kita bertiga pergi bersama, nggak apa-apa kan?”
tanya Vega.
“hmmm…!”
pak Rendi menatapku, matanya mengisyaratkan meminta pendapatku.
“oke,
aku juga sudah menghubungi Fatan, Gea dan Efan, jadi kita semua bisa pergi
sama-sama” lanjutku.
Setibanya
di Taman Hiburan, Fatan, Gea dan Efan tiba lebih dulu dan sudah membelikan kami
tiket, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengantri, kami berenam
sudah masuk di antara kerumunan pengunjung yang padat. Akhir pekan seperti ini
memang selalu menjadi pilihan yang terbaik mengunjungi tempat ini, tempat yang
sangat strategis di jantung kota dan memiliki area yang sangat luas, beberapa
orang yang biasanya datang lebih banyak menghabiskan waktu di kolam renang
apalagi di cuaca panas seperti ini.
Untung
saja ideku untuk mengajak mereka bertiga tidaklah sia-sia, sudah sejam kami
berjalan pak Rendi dan Vega menghilang entah kemana, aku berusaha untuk tidak
peduli tetapi tetap saja wajahku tidak pandai berbohong, selama sejam itu pula
Efan dan Gea memutuskan untuk naik Rolecoster, sedangkan aku dan Fatan hanya
berdiri memperhatikan jeritan orang-orang yang menaiki wahana itu.
“pak
Rendi mana?” tanya Fatan
“entahlah,,,!
Dia lagi sama mantan pacarnya itu” ujarku sinis.
“kamu
cemburu yah?” ejek Fatan.
“nggak
lah..” ucapku singkat
Selama
setengah jam menunggu Efan dan Gea akhirnya selesai, Gea terlihat begitu pucat
saat ia turun sedangkan Efan memegangi sambil tertawa mengejeknya.
“kamu
nggak apa-apa?” tanyaku menghampirinya.
“dia
hanya ketakutan!” ujar Efan
“aku
nggak mau naik itu lagi,” ujar Gea mengelengkan kepalanya, dia membuat kami
semua tertawa waktu itu, tetapi meskipun begitu Gea dan Efan memiliki sifat
yang sama, ceria, semangat dan bisa membuat orang lain tertawa. Saat kami
memutuskan untuk pergi ke kolam renang, di saat itulah pak Rendi dan Vega
menghampiri kami.
“kalian
kemana aja sih?” tanya Efan
“ada
urusan, nggak penting banget kok, oh iya kalian mau kemana?” tanya pak Rendi
lalu mengikuti kami setelah tahu tempat yang akan kami datangi. Aku masih
bersama Fatan memegang lengannya, tidak tahu mengapa hari ini aku satu-satunya
yang terlihat bodoh yang harus berpura-pura senang.
“maaf…!”
sahutnya tiba-tiba sudah berjalan di sampingku.
“kenapa
harus minta maaf, emang kamu punya salah?” ujarku mempercepat langkahku.
“kamu
marah yah?” tanyanya lagi.
“siapa
juga sih yang marah, kenapa aku harus marah!” ujarku menjauh mengikuti Gea yang
sudah masuk ke kamar ganti, hanya beberapa menit Gea sudah menceburkan dirinya
ke kolam bersama Efan, sedangkan Fatan
tidak begitu suka dengan air, dan dia hanya melihat kami dari kejauhan. Aku
hanya duduk di pinggir kolam merendam kakiku, tak lama Vega juga keluar, dia
terlihat cantik dengan baju mininya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan
kulit putih mulusnya, membuat mata laki-laki yang berada di di sini seolah-olah
hanya melihatnya.
“apa
yang kamu lihat?” tanya pak Rendi sudah berada di sampingku, dia terlihat keren
dengan baju tanpa lengan yang di gunakannya memperlihatkan otot-ototnya.
“kamu
nggak berenang?” tanyanya sambil menceburkan dirinya, dia benar-benar membuatku
tidak bisa berpikir apa-apa ketika melihat pesonanya, kekesalanku yang tadi
seperti menghilang tiba-tiba.
“nggak,
aku Cuma mau duduk di sini aja” kataku. Tetapi dengan sekejap mata pak Rendi
sudah menarikku ke air, dan segera mengangkat tubuhku setelah melihatku
melambaikan tangan beberapa kali di air.
“dia
nggak tahu berenang “ bentak Fatan menghampiriku memastikan keadaanku.
“aku
nggak apa-apa kok” kataku masih berpegang di tepi kolam.
“lain
kali jangan ceroboh..”ujar Fatan lagi, lalu pamit pulang lebih dulu.
“aku
nggak tahu kalau kamu nggak bisa berenang” ujarnya menatapku, dia tersenyum dan
tangannya menyentuh pipiku menghapus tetesan air yang membasahi wajahku,
merapikan rambutku. Aku mendorongnya dan naik ke tepi kolam.
“aku
akan mengajarimu…!” ujarnya kembali menghampiriku.
“aku
nggak mau”.
“kamu
malu !!”.
“nggak,
siapa juga yang malu, aku nggak enak aja diliatin sama mereka” ujarku menunjuk
Gea dan Efan dari kejauhan sesekali mengambil gambar.
“ayo..!”
pak Rendi mengangkat kedua tangannya menatapku, membuat hatiku kembali kacau,
jika aku menolaknya akan menjadi kekalahanku sendiri dan hanya beberapa menit
aku segera naik dan mengajak Gea pulang.
“
kamu nggak apa-apa?” tanya pak Rendi melihat wajahku yang pucat.
“dia
emang gitu kalau udah berenang, tapi dia baik-baik aja kok” jelas Gea.
“oh
iya kalian berdua pulangnya di antar Efan yah” ujar pak Rendi menyuruhku masuk
ke mobil sementara Gea dan Vega pulang bersama Efan yang juga membawa mobil.
“kenapa
kita nggak pulang bareng-bareng aja sih” ujarku
“karena
aku masih ingin bersamamu “ ujarnya terdengar egois bagiku.
“yah..aku
masih punya tumpukan naskah yang harus aku kerjakan, hari ini aku mau pulang
aja”.
“baik
kita kerumahmu..!” ujarnya sambil memutar balik mobil kembali ke arah rumahku.
Setibanya
di rumah, aku melihat dua mobil yang terparkir di depan rumah, mobil milik Efan
dan yang satunya aku belum tahu, saat aku melangkah masuk tante Maya
menyambutku.
“kalian
curang yah, nggak ngajak-ngajak tante” ujar tante menyuruhku duduk di
sampingnya, dan Gea memperkenalkan Rendi dan Efan. Tapi seseorang yang berada
di samping tante Maya aku tidak tahu siapa dia, mungkin hanya teman kerjanya
yang kebetulan bersamanya.
Tetapi
entah mengapa dia sejak tadi memperhatikanku, seolah ada sesuatu yang
membuatnya penasaran. Gea dan tante Maya sejak tadi bertingkah aneh di
hadapanku saling bertatapan
“Fatan
mana?” tanyaku.
“Fatan
di kamar” jawab Gea menarik Efan dan pak Rendi bersamaan menuju ke halaman
belakang.
“kenapa?”
tanya Efan.
“sebaiknya
kita pulang aja” usul pak Rendi tetapi Gea mencegah.
“kalian
di sini aja dulu, Hana pasti akan butuh bapak nantinya” ujar Gea.
Sementara
itu di ruang tamu aku masih bingung dengan apa yang terjadi, tante Maya meraih
tanganku dan membawaku ke kamar dan Fatan wajahnya terlihat begitu lesuh.
“ada
apa sih tante, kok kalian berdua aneh banget, dan siapa wanita di luar itu.?”
tanyaku berulang-ulang, tetapi di balik wajah tante Maya dan lidahnya yang
terlihat sulit mengatakan sesuatu.
“ada
yang ingin aku katakan kepada kalian !” ujar tante Maya dengan nada melemah, ia
menarik nafas dalam-dalam.
“kalian
berdua sudah seperti anakku sendiri, ketika ayah kalian memohon dan menyuruhku
untuk menjaga kalian berdua, awalnya aku sempat berpikir, apakah aku bisa
merawat kalian berdua, apakah aku bisa membuat kalian tumbuh dengan layak,
apakah aku bisa menyayangi kalian, itulah kekhawatiranku tetapi seiring kalian
tumbuh, aku cukup bangga dengan prestasi kalian berdua…!” tante berhenti
sejenak menatap kami bergantian membelai kepala kami, air mataku di ujung
kelopak, aku tidak tahu apa maksud tante Maya menceritakan ini semua.
“Hana
menjadi seorang penulis muda yang karyanya menjadi best seller dan menghasilkan
uang, dan Fatan meraih prestasi dan beasiswa yang menjaminnya kuliah di luar
negeri dan pada akhirnya kalian memutuskan untuk hidup mandiri, tetapi bahkan
kalian tidak pernah bertanya mengapa aku menjual rumah tempat tinggal kalian
dulu!” seru tante Maya kembali melanjutkan ucapanya. “karena Ayah kalian
menyuruhku menjualnya dan menggunakannya untuk menyekolahkan kalian, tetapi aku
tetap menyimpannya untuk kalian berdua suatu saat nanti, dan saat kalian
sepakat menyewa rumah, di situlah aku mulai berpikir aku akan membelikan kalian
rumah dengan uang itu, dan alasan lainnya karena ayah kalian tidak ingin jika
suatu saat ibu yang meninggalkan kalian akan kembali mencari kalian berdua”
jelas tante Maya, penjelasanya membuat air mataku jatuh.
“jadi
apa alasan tante menceritakan semua ini pada kami” ujar Fatan.
“karena
tante juga seorang ibu, yang mengerti bagaimana perasaan seorang ibu jika
memohon ingin bertemu dengan anaknya meski resikonya anak itu mungkin tidak
ingin bertemu dan melihat ibunya lagi” ujar tante Maya.
“apa
yang sebenarnya terjadi? Kenapa tante ngomongin ibu?” timpalku.
“kami
tidak ingin dengar itu, kami bersyukur waktu itu masih kecil dan sewaktu dia
pergi, kami bahkan sudah lupa bagaimana wajahnya” kini Fatan yang menimpali,
meski kami belum tahu pasti mengapa tante baru membahas masalah ini.
“wanita
yang ada di luar adalah ibu kalian” ujar tante Maya, kini jawaban terakhir itu
seperti tamparan bagiku, kesedihanku berubah menjadi perasaan yang kesal dan
marah, Fatan hanya menutup matanya dan masuk ke kamar mandi setelah
mendengarnya.
“kamu
gadis yang pintar dan hebat Han,
temuilah dia, aku tahu Fatan tidak akan menerima ini semuanya, tapi setidaknya
kamu yang harus menjelaskannya padanya” ujar tante Maya keluar dari kamar
membiarkan kami berdua.
“aku
nggak bakalan ketemu sama dia” sahut Fatan menghampiriku, aku memeluknya, dia
sejak tadi menahan tangisnya dan kini di pelukanku ia baru bisa menangis tanpa
suara. Aku tahu bagaimana perasaannya, perasaan yang begitu kuat tertancap
dalam hatinya ketika ia setiap malam mencari ibu dan menangis lagi ketika dia
terbangun, itu saat yang begitu sulit bagiku, di usiaku aku harus belajar menjadi
kakak yang tegas bagi Fatan, menjadi ibu dan ayah baginya.
“ayo
kita temui dia…” ucapku pelan menarik tangan Fatan, dia mau menurutiku setelah
apa yang aku katakan padanya, dia tidak perlu mengatakan apa-apa saat di
depannya nanti, jangan menatapnya, hanya aku yang akan bicara padanya.
“Nak…!!”
panggil wanita itu, aku kemudian duduk tepat di hadapannya mengenggam tangan
Fatan yang gemetaran, meski aku juga merasakan tanganku keringat dingin, tetapi
aku sudah menahannya sejak tadi.
‘aku
senang kalian bisa tumbuh dengan baik” ujarnya sambil menahan air matanya
Aku
mengangkat kepalaku, memperhatikan wajah itu, wajah ibu kandungku sendiri, tak
ada satupun kenangan yang bisa mengingatkan aku padanya, hanya wajah Ayah saat
ia terbungkus kain kafan yang begitu jelas di benakku. Wanita itu memang cukup
cantik dan terlihat begitu muda, dengan make up ringan di wajahnya menutupi
keriput di bagian matanya, dia terlihat baik-baik saja dan sehat, di pikiranku
saat ini ia pasti sudah memiliki keluarga lain yang bisa membuatnya bahagia dan
hidup dengan tenang, terlihat jelas dengan penampilannya yang cukup modis.
“apa
kalian baik-baik saja?” tanyanya lagu meraih tanganku, dan dia mengenggam erat
tanganku, terasa aneh dan tidak terasa apa-apa, semuannya begitu hampa bagiku,
tetapi tetap saja ada sesuatu yang membuat pikiranku saat ini ingin berteriak.
Seharusnya tangan seorang ibu begitu hangat dan nyaman, tetapi tak ada yang
mengalahkan tangan Fatan, ini karena aku merasa seperti bermimpi, sosok seorang
ibu yang seharusnya kami rindukan, entah mengapa berubah menjadi sesuatu yang
sangat kami tidak sukai.
“kami
baik-baik saja!” jawabku setelah lama diam memikirkan kata-kata yang untuk aku
keluarkan.
“ini
sudah hampir malam, kalian bisa pulang!” ujarku melepas tangan Fatan yang sejak
tadi ingin meninggalkan tempat itu, tetapi aku terus mengenggam kuat tangannya
untuk menahannya.
“aku
minta maaf…!” ujarku berusaha sesopan mungkin kepadanya, tante Maya juga
mengerti dengan keadaan kami dan memintanya untuk datang lain waktu, aku
menghampiri Fatan ia terlihat begitu menderita menahan perasaan di hatinya yang
bergejolak untuk berusaha menerima dan menolak.
“pak,
mungkin aku nggak bisa nemenin Hana malam ini, aku minta tolong sama kalian
berdua untuk nemenin mereka, Hana nggak punya siapa-siapa di sisinya kecuali
Fatan, dan dia saat ini begitu syok melebihi Hana!” jelas Gea pamit pergi
setelah tante Maya menyuruhnya ikut pulang.
Perasaan
yang menyakitkan ini seperti menyedot seluruh energiku, tubuhku begitu mati
rasa tidak mampu bergerak, dari tadi aku menahan perasaan bergejolak ini, aku
tidak bisa melakukan apa-apa, dan hanya berdiri melihat punggung Fatan kedua
tanganku begitu dingin dan berkeringat, tetapi saat seperti ini aku tidak bisa
mendekatinya, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya sedangkan aku sendiri
dengan keadaan seperti ini, menangis dengan nafas yang begitu sesak, Ayah,
hanya kata-kata itu yang bisa aku ucapkan, dalam hati aku berdoa agar Tuhan menurunkan
Ayahku meski sebentar, aku ingin memeluknya tetapi jika tidak bisa aku hanya
ingin melihatnya sejenak. Aku ingin melihat wajahnya yang tersenyum, andaikan
itu bisa? Andaikan itu bisa menyembuhkan sakit yang tertahankan dalam dadaku.
Tiba-tiba
tangan yang begitu hangat memegang pundakku, menarikku dalam pelukannya,
sepertinya Tuhan benar-benar mengabulkan doaku, pelukan ini terasa begitu
hangat, rasanya Ayah benar-benar turun dari langit dengan sosok yang begitu
nyata. Aku menghempaskan semua kesedihanku dan tangisku di dadanya.
Aku
sudah tidak ingat, kapan terakhir kalinya aku menangis seperti ini, mungkin
saja sejak Ayah meninggal, itu kali terakhir aku menangis, dan berapa jam yang
aku habiskan malam ini hanya untuk menangis dan itu semua membuatku begitu
lelah dan tertidur.
Seperti
pagi ini, yang begitu cerah, rasanya begitu berat menggerakkan badanku, aku
menatap wajahku di cermin, kedua mataku bengkak gara-gara menangis semalam dan
aku menutupinya dengan kacamata, rambutku terlihat begitu berantakan dan aku
mengikat seadanya lalu keluar kamar. Aku tidak begitu terkejut saat melihat pak
Rendi sudah berada di dapur menyiapkan sarapan. Aku tidak bisa memarahinya
dengan keadaanku seperti ini, apalagi dia meminjam dada dan pelukannya yang
sedikit bisa mengobati rasa rinduku kepada Ayah dan mengurangi kesedihanku.
“duduklah…!!”
ujarnya menghampiriku, merapikan rambutku yang berantakan dan mengikatnya
kembali
“Fatan
sama Efan mana?”
“meraka
masih tidur” ujarnya menungguku menghabiskan sarapan dan setelah Efan bangun
mereka pamit pulang.
“kamu
baik-baik aja kan?” tanyaku menghampiri Fatan sambil membawakannya makanan.
“aku
baik-baik aja” ujarnya tersenyum menerima beberapa suap makanan dariku.
“semua
akan baik-baik saja kok, jadi kita hadapi ini dan kejadian tadi malam itu sudah
berakhir, kau tahukan, aku tidak suka harus melihatmu seperti tadi malam”
tuturku sambil merapikan rambutnya.
“kakak
sendiri bagaimana? Kau menangis semalaman, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa
dan hanya pak Rendi bisa membuatmu perlahan tenang” tutur Fatan.
“aku
sudah memikirkannya semalaman, meski kita membencinya tetapi dia tetaplah
seorang ibu yang sudah melahirkan kita dan pernah membesarkan kita walau hanya
enam tahun”. Tuturku.
“jadi
apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.
“kita
temui dia lagi, dan dengar apa yang ingin dia katakan!”.
Setelah
memikirkanya, aku dan Fatan sepakat untuk bertemu dengannya lagi dan kali ini
aku meminta pak Rendi menemaniku, dan mengantarku ke alamat yang ditujukan
tante Maya padaku, karena hari ini dia tidak bisa menemaniku.
Setelah
mengecek ulang alamatnya akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang cukup mewah
sambil berdiri menunggu seseorang membukakan pintu. Aku begitu gugup, tetapi
pak Rendi terus menyakinkanku dan tetap kuat apapun yang terjadi, begitupun
dengan Fatan ia banyak mendapatkan banyak kepercayaan diri dari pak Rendi. Aku
sudah berjanji pada diriku untuk tidak merasakan kesedihan saat bertemu
dengannya, berusaha untuk bersikap biasa dan berbicara baik-baik, aku dan Fatan
harus pandai-pandai menaklukan amarah itu dan menganggap masa lalu hanyalah
sebuah mimpi yang menyakitkan.
Tidak
lama kemudian, aku masuk dan meninggalkan pak Rendi sendirian di mobil, dia
akan tetap menunggu kami. Aku berusaha untuk tenang saat kakiku melangkah masuk
ke rumah itu, Fatan langsung mengenggam tanganku sambil mengikuti seorang
pembantu yang menunjukkan jalan pada kami, saat melangkah pertama kali
pemandangan yang cukup mewah menyambut kedua mataku, harum penyegar ruangan dan
lantai yang mengkilap dengan peralatan rumah yang begitu mewah, sepertinya
ibuku benar-benar beruntung dan bersyukur saat meninggalkan kami waktu itu,
bisa aku bayangkan jika dia tetap bersama kami, mungkin saja kehidupan mewah
ini tidak akan di dapatkannya. Aku berhenti sejenak memperhatikan sebuah foto
yang tergantung di dinding, sebuah foto keluarga yang sedikit membuatku
tersenyum pahit, dia memiliki suami yang terlihat baik, tetapi Ayahku lah yang
paling hebat di dunia ini, tepat di sampingnya berdiri dua laki dan satu
perempuan yang usianya masih masih sangat muda, pemandangan itu membuat Fatan
membalikkan tubuhnya.
“ayo
kita pergi saja” sahut Fatan, tetapi aku berusaha membuanya yakin dan bertahan
sebentar saja.
“Hana,,Fatan,,ayo
nak kemari” panggilnya menyuruh kami duduk di antara orang asing ini.
“Hana…!!
“ sahut seorang laki-laki yang langsung menunjukku lalu menghampiriku, aku
terkejut saat dia memperhatikanku memastikan sesuatu, aku bahkan belum
mengenalnya dan dia langsung menyebut namaku. Di lihat dari umurnya bisa
kupastikan kalau dua laki yang kulihat di foto tadi adalah anak tiri dari
ibuku, sedangkan gadis kecil yang hanya diam duduk manis di samping ibunya itu
pastilah saudara tiriku.
“kamu
kenal dia?” sahut seorang laki-laki yang duduk di kursi kepala keluarga dan
suami dari ibuku.
“iyah,
dia pernah hadir di seminar kampus sebagai Narasumber” jelasnya lalu
memperkenalkan diri, Ahmad ternyata mengenalku karena dia salah satu peserta
seminar yang hadir sekaligus mahasiswa di kampus yang sama dengan pak Rendi.
“oh..penulis
novel Dream Real, Dream Kill itu!” tambah seorang lagi yang baru saja tiba, dia
sepertinya anak tertua dari keluarga ini, kemudian menghampiri kami
memperkenalkan dirinya, dia anak tiri tertua ibuku bernama Rano dan dia sudah
bekerja di sebuah perusahaan yang sama dengan Ayahnya.
“kamu
kerja di mana?” tanyanya, suami ibuku itu cukup tertarik untuk mengetahui lebih
banyak tentang kami.
“dia
kerja kantor penerbitan, asisten chief editor “sahut Fatan, menggantikanku
menjawab pertanyaan itu.
“terus
kamu juga kerja?” tanya Rano kepada Fatan, bisa kuduga mereka tidak tahu
apa-apa tentangku, dan ibuku hanya duduk diam tersenyum bangga kepadaku dan
Fatan.
“iya,
seorang pelayan di restoran!” ujar Fatan sinis.
“umur
kalian berapa?” tanya suaminya lagi, aku mendesah tersenyum, berpikir
pertanyaan bodoh ini, apa ibuku itu sudah lupa dengan umur kami, hingga kami
harus menjawab pertanyaan konyol ini.
“mereka
masih sekolah, Hana duduk di kelas tiga dan Fatan setahun lebih muda darinya”
ujarnya, tak lama setelah kami diam. Aku mulai sedikit pengap berada di ruangan
ini.
“kalian
masih sekolah, dan anak perempuanmu ini seorang penulis dan editor, kalian
masih muda dan sudah bekerja, ibu kalian pasti bangga!” tutur suaminya itu.
“kami
hanya berdua, jadi mau tidak mau harus belajar untuk hidup” lanjut Fatan, dia
lebih banyak bicara di bandingkan aku yang hanya diam.
“kami
semua sudah membicarakan ini, dan ibu harap kalian berdua mau tinggal bersama
kami di sini” usul ibu menatap kami bergantian. Aku benar-benar berharap
seorang ibu akan memahami apa yang terjadi kepada anaknya, tetapi bagiku itu
tidak, aku benci melihat ibuku seolah tidak bersalah dengan kehidupanku yang
berlalu bersama Fatan.
“benar,
kami juga senang bisa dapat saudara yang cukup terkenal seperti Hana” ujar
Ahmad seorang penggemar novelku yang sejak tadi selama makan siang terus
bertanya seputar novel dan tulisan-tulisanku selanjutnya.
“maaf
kami tidak bisa tinggal bersama orang lain,” tutur Fatan, dia berusaha menahan
sikapnya.
“aku
ini ibumu, dan mereka semua akan menjadi keluargamu “ sahut ibuku.
“ini
keluarga ibu, bukan keluargaku!” ujarku, suasana yang tadi ramai akhirnya diam
ketika kata-kata ini keluar dari mulutku.
“kami
datang kesini hanya ingin meminta maaf dan pengertian ibu, bukan datang
mengemis keluarga ataupun tinggal di sini, aku dan Fatan sudah memiliki
kehidupan baru, jadi aku mohon ibu, kita jalani semua ini seperti biasanya, aku
dan hidupku dan ibu dengan mereka” ujarku memperhatikan mereka, lalu suami
ibuku menyuruh anak-anaknya meninggalkan kami bertiga untuk berbicara.
“ibu
tahu Nak, kalian pasti membenci Ibu dan sekarang lah waktu yang tepat untuk ibu
membayar semuanya.”
“aku
tidak menyalahkan ibu, kami juga sudah memaafkan jauh sebelum ibu meminta maaf,
jadi tidak ada yang perlu ibu sesalkan, aku tidak ingin menjadi anak yang
durhaka, ibu tetaplah seorang ibu bagi kami karena kami lahir dari rahimmu,
tetapi kalau ibu memintaku untuk tinggal dengan keluarga yang sangat asing
bagiku, aku tidak akan melakukan itu”.
“kalian
masih sekolah, jadi izinkan ibu untuk membiayai hidup kalian!”.
“kami
masih hidup sampai sekarang tanpa bantuan orang lain, jadi anda tidak perlu
repot-repot untuk membantu kami” sahut Fatan.
“itu
benar bu, lagi pula aku dan Fatan sudah merencanakan hidup kami, jadi aku dan
Fatan sudah bahagia dengan ini semua” jelasku, menatap ibuku yang meneteskan
air matanya.
“maafkan
ibu nak, ibu sangat menyesal meninggalkan kalian dan membiarkan hidup kalian
sengsara seperti ini, hampir setiap malam ibu memimpikan kalian, berusaha
mencari tahu keberadaanmu, dan Maya juga memutuskan kontak denganku, jadi aku
tidak bisa menemui kalian”.
“ibu
tidak usah menangis, aku tahu yang aku lakukan ini mungkin salah, tetapi dari
lubuk hati, aku sudah memaafkan ibu dan apa yang sudah terjadi sudah seperti
mimpi bagi kami.” Jelasku kembali, harus memperhatikan ibuku sendiri menangis
menyesali perbuatan masa lalunya yang menelantarkan kami.
“berhentilah
menangis ibu, dan anggap semua ini hanya mimpi seperti kami yang mengganggap
masa lalu itu hanya mimpi, dan aku senang ibu sehat-sehat saja dan bisa hidup
dengan baik” ujarku segera pergi setelah pamit kepada keluarga ibu. Aku terus
meminta maaf dalam hatiku, tidak semestinya aku seperti itu, tetapi tidak
mungkin juga aku hidup dengan seseorang yang tidak aku kenal, memanggilnya ibu
terus-menerus seolah hanya lakon meskipun dia adalah ibu kandung yang membuang
kami, duri yang tertusuk di hati kami selama ini, tumbuh dan berakar kuat
sehingga sulit bagiku untuk menolak keadaan ini. Keluar dari istana ini rasanya
sangat menyenangkan, perasaan yang mungkin sama di rasakan oleh seorang
penjahat yang di penjara cukup lama dan akhirnya bebas menghirup udara segar,
perasaan itu hampir sama yang aku rasakan.
Aku
begitu lega dengan perasaanku yang seakan membuang beban dari pundakku,
setidaknya inilah jalan yang paling baik untuk aku lakukan. Aku hanya butuh
waktu untuk menerima keadaan ini.
Hari
berlalu seiring waktu yang telah pergi, perlahan menghapus kesedihanku, kembali
ke kehidupanku yang sebelumnya membuatku kembali bersemangat. meskipun
terkadang dia datang menengok kami dan masih berusaha membujuk kami untuk
tinggal bersama, tetapi jawaban yang akan kuberikan akan selalu sama.
8. start
Hampir
sebulan aku dekat dengan pak Rendi, di saat seperti ini juga aku memang harus
mengakui kalau perasaanku padanya seiring tumbuh sejak dia menghabiskan waktu
untukku menghapus kesedihanku, menemaniku saat tak ada orang yang bisa aku
jadikan sandaran, meskipun aku berusaha tegar dan kuat, tetapi itu hanyalah
pikiranku, tubuhku dan hatiku tidak bisa menjadi apa yang ada di pikiranku. Dia
membuatku begitu nyaman berada di sisinya.
Hari
ini aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan pulang lebih cepat, selain
itu aku juga harus menemui pak Rendi, dia menunggu di tidak jauh dari tempatku
bekerja.
“Ayo,,!”
pak Rendi menarikku masuk ke dalam toko baju, walaupun aku tidak tahu
maksudnya, dia sibuk memilih beberapa gaun.
“untuk
apa?” tanyaku menghampirinya.
“untukmu!”
ujarnya memperlihatkanku dua buah gaun yang indah. “aku tidak suka melihat
wanitaku, memakai gaun yang pendek dan terbuka jadi aku memintamu memilih!”
ujarnya menunjukkan gaun hitam yang di hiasi sedikit renda putih di bagian
leher dan lengan, dan tanpa protes aku mengambilnya.
“aku
belum manjadi wanitamu, “ tambahku mengernyitkan dahiku, mengambil gaun itu.
“memang
kita mau kemana?” tanyaku dan dia hanya memintaku memakainya dengan cepat. Membutuhkan
waktu yang lama untuk menggunakan gaun itu, agar tidak lecet. Sebelum keluar
dari kamar ganti, aku menatap diriku di cermin, baru kali ini aku memakai
pakaian seperti ini, diriku terlihat begitu berbeda, terlihat lebih cantik
dengan gaun ini, aku terus tersenyum dan beberapa kali memutar badanku di
cermin. Wajahku yang terlihat begitu segar dengan make up ringan yang di
poleskan untukku.
“cepatlah
keluar !” teriaknya sudah sejak tadi menungguku keluar dari kamar ganti.
“wauw..!”
serunya terkejut saat melihat penampilanku, berdiri terpaku sesaat
memperhatikanku, pak Rendi juga sudah mengganti pakaian dengan jas hitam.
“emang
kita mau kemana?” tanyaku
“kamu
ikut saja!” ujarnya menyuruhku duduk, memasangkan sepatu wedge heel di kakiku.
“kamu
cantik…” sahut pak Rendi kemudian turun dari mobil setelah kami tiba di sebuah
hotel.
“kita
ngapain sih di sini?”
“ikut
aja, kamu akan tahu kalau udah masuk” ujarnya, meraih tanganku dan menaruhnya
di lengannya. Aku memperhatikan orang-orang yang berdatangan, berdandan lebih
cantik seperti sedang menghadiri sebuah pesta, aku sedikit gugup ketika sudah
tiba di lantai dua, begitu banyak orang-orang yang sedang menunggu giliran
untuk masuk ke dalam ruangan tempat pesta di adakan.
“kau
tidak mengucapkan selamat padaku!” ujarnya membuatku bingung lalu dia
menunjukkan karangan bunga besar yang berdiri di samping pintu masuk, sebuah
ucapan sambutan malam ramah tamah wisudawan dan tepat di samping juga ada
tulisan selamat yang membuatku terpaku, Rendi Ahmad wisudawan terbaik tahun
ini.
“selamat
yah !” sahutku tersenyum.
“kau
harus memberikanku hadiah!” ujarnya kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam
ruangan. Baru kali ini aku menghadiri sebuah acara besar dan yang membuatku
begitu kagum ketika sudah masuk dan melihat orang-orang yang begitu bahagia,
mereka semua terlihat begitu cantik dengan gaun terbaiknya, semua laki-laki
begitu gagah dengan penampilan mereka.
“dia
pacarmu?” sahut seseorang yang merupakan teman pak Rendi, pak Rendi hanya
tersenyum ketika pertanyaan itu terlontar dan aku memikirikan diriku yang
begitu gugup berada di keramaian seperti ini, dengan orang yang tidak aku kenal.
Melihatku gugup pak Rendi memperkenalkanku ke beberapa temannya, agar aku bisa
masuk dalam obrolan mereka, untung saja sebagian mereka sudah mengenalku sejak
seminar itu, sehingga rasa gugup yang tadi menyerangku perlahan hilang.
“aku
nggak nyangka loh, kalau kalian bisa pacaran padahal kemarin aku kira kamu udah
balikan sama Vega” sahut Roni “Vega kok belum datang yah!” lanjutnya.
“kita
kan nggak pacaran!” bisikku.
“sebentar
lagi kita juga bakalan pacaran kok!” menarik kursiku lebih dekat padanya.
Tidak
lama kemudian, Vega yang sejak tadi jadi buah bibir di lingkaran meja bundar
ini akhirnya datang juga, harus akui dia memang begitu cantik, bahkan aku
sendiri di buat kagum dengan penampilannya yang begitu cantik, dari semua
wanita yang berada di sini, mungkin hanya dia satu-satunya yang paling
bersinar.
“jangan
lihat dia !” ujarnya menyentuh kedua pipiku, mengarahkan pandangku ke
hadapannya.
“tapi
dia sangat cantik” ujarku
“tapi
aku hanya melihatmu” ujarnya tersenyum membelai pipiku, mengelap daguku yang
basah gara-gara meminum air hanya dengan satu kali teguk.
“acaranya
sebentar lagi mulai, setelah ini kita bisa pulang” ujarnya begitu lembut
padaku, aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa jika dia terus
memperlakukanku seperti ini aku akan benar-benar jatuh cinta padanya.
“Rendi…!”
sahut Vega begitu senang dan langsung duduk di samping pak Rendi, tetapi
wajahnya kembali berubah saat melihatku.
“kamu
kok di sini?” tanyanya.
“aku
datang bersamanya” sahut pak Rendi.
“kitakan
bisa datang bersama, kenapa harus dia!”.
“oh
iya Han, aku tinggal bentar yah, jangan kemana-mana!” ujarnya pergi bersama pak
Rendi, meskipun sudah menjadi mantan tetapi aku tidak begitu senang melihatnya,
apalagi saat Vega mengandeng tangan pak Rendi. Aku bahkan tidak berhak untuk
cemburu dengan mereka.
Selama
beberapa menit berlangsung, nama pak Rendi di sebut oleh pembawa acara untuk
naik ke panggung menerima penghargaan dan menyampaikan beberapa kalimat kepada
orang-orang yang berada di ruangan ini. Suara tepuk tangan serentak menyambut
ucapan terakhirnya dan ketika ia turun dari panggung semua teman-teman
menghampirinya memberikan selamat dan beberapa bunga, tak terkecuali Vega, ia
memeluk pak Rendi, melihat itu aku hanya mengalihkan pandanganku.
Saat
ini memang harus aku akui, itu membuatku tidak nyaman dan berpikir bahwa selama
ini pak Rendi mendekatiku hanya untuk membuat Vega cemburu agar dia kembali
padanya. Pikiranku benar-benar kacau, dan rasa menyesal harus berada di sini,
mengapa tadi aku tidak menolak ajakannya, semua ini tidak akan terjadi dan
mungkin aku bisa menikmati istirahat malamku. Sementara aku menunggu pak Rendi
selesai, satu persatu tamu mulai meninggalkan acara.
“Ren,
ada yang ingin aku bicarakan” ujarnya menarik pak Rendi jauh dari kerumunan
orang-orang ke tempat yang sepi, agar mereka bisa bicara dengan tenang.
“bisa
kita bicara besok aja ? aku meninggalkan Hana sendiri terlalu lama “. Tiba-tiba
Vega memeluknya.
“apa
yang terjadi?”
“aku
ingin kembali padamu Ren, kali ini aku benar-benar sudah mengerti perasaanku
selama kita berpisah beberapa bulan ini, aku sadar aku tidak bisa tanpamu”
ujarnya tetapi perlahan pak Rendi mendorong tubuh Vega.
“kenapa
tiba-tiba kamu seperti ini?”
“karena
aku sadar hanya kamu yang bisa membuatku nyaman Ren, lagi pula kita sudah
sepakat berpisah hanya untuk mengetahui perasaan kita masing-masing, dan inilah
perasaanku” jelasnya memegang erat tangan pak Rendi.
“maaf
Ve, aku tidak bisa!” sahutnya melepas tangannya dari Vega lalu pergi, tetapi
dia kembali menghalangi pak Rendi.
“apa
kau masih ingat,? kau pernah bilang padaku akan menungguku jika aku menyerah
dan ingin kembali ! kau akan selalu menunggu dengan perasaan yang sama !
tapi…?”.
“maaf
pernah mengatakan itu, tapi perasaanku sudah berubah Ve, !”
“karena
Hana ? kau salah Rendi ! saat ini pikiranmu hanya teralihkan kepada Hana, tidak
dengan hatimu. Ingat Ren, kebersamaan kita lalu selama ini selama lima tahun
pacaran, aku yakin hatimu tetap untukku” jelasnya dengan tatapan penuh harap
pak Rendi akan sadar.
“mungkin
kau benar, tetapi untuk saat ini aku nyaman bersamanya”
“aku
mohon Ren, jangan memberikan harapan lebih padanya, aku tahu kau masih
mencintaiku, dan kita pernah berjanji akan segera menikah setelah pendidikan
kita selesai”.
“iya
aku ingat janji itu, tapi untuk saat ini aku tidak bisa kembali padamu, ada
yang berbeda darinya, dia satu-satunya wanita yang bisa membuatku menangis,
kita memang pernah menjalin hubungan begitu lama, tetapi entah mengapa
perasaanku tumbuh begitu cepat kepadanya, mungkin ini terdengar bodoh bagimu “
jelas pak Rendi, ia mengingat kembali saat melihat diriku menangis malam itu
dalam pelukannya seorang wanita yang bisa membuat air matanya ikut berderai.
“Rendi…!”
panggilnya hanya bisa diam saat pak Rendi beranjak dari tempat itu.
“maaf
membuatmu menunggu lama?” sahut pak Rendi kembali menarikku keluar dengan
langkah terburu-buru.
“kakiku
sakit, “ ujarku berhenti, tanpa bertanya apa yang terjadi dengan sikap aneh pak
Rendi, aku sempat melihatnya dari kejauhan saat Vega menarik tangannya ke
belakang panggung dan tak lama dia keluar dengan ekspresi wajah yang berbeda.
pak
Rendi langsung memeriksa kakiku yang terluka karena gesekan di tepi sepatu yang
sedikit menyakitiku, di tambah kaki kiriku yang keseleo saat dia menarikku
turun dari tangga darurat, karena pak Rendi menghindari banyaknya orang yang
ada di lift dan eskalator.
“maafkan
aku !” ujarnya menyuruhku duduk di tangga, sembari memijat kakiku.
“kamu
nggak apa-apa?”tanyaku balik, tapi dia sepertinya tidak ingin cerita padaku.
“oh
iya, karena ini sudah sebulan dan malam ini kita terakhir bertemu, aku….!” pak
Rendi langsung memotong ucapanku
“aku
tidak bisa?” ujarnya langsung menyela dan menatapku dengan serius.
“tapi
kan!?”
“beberapa
kali harus aku bilang kalau aku menyukaimu!” bentaknya, suaranya seakan
memantul di dinding. Aku hanya bisa diam memikirkan kata yang tepat untuk
kuucapkan. Perlahan mendekat padanya.
“selama
ini aku memang nyaman bersama bapak, tapi apa harus mengucapkan kata cinta untuk
bisa bersama? Tidak bisakah semuanya tetap seperti ini? Berjalan seiring, dan
aku bisa terus berada di sisimu, aku hanya takut orang yang aku sayangi akan
pergi nantinya, atau….!?” Memegang pundak pak Rendi, kini dia menatapku, ia
mengangkat wajahku yang tertunduk, menunggu ucapakanku yang belum selesai.
“
atau malah aku yang akan meninggalkannya!” ucapku pelan, pak Rendi tersenyum,
ia mengerti semua apa yang aku katakan, meski begitu singkat, ia merangkulku
dengan hangat, tersenyum kagum padaku, gadis muda yang ia sayangi ini
menyakinkan dirinya, bahwa ia telah menemukan wanita yang sangat tepat, apa
yang dikatakannya memang benar, meski terkadang cinta tak harus di sebutkan,
meski beribu kali bibir mengucapkannya tetapi pembuktiannya yang membutuhkan
waktu yang cukup lama, proses yang panjang agar menghasilkan karya yang begitu
indah.
Begitupun
dengan diriku, aku menjalani seiring waktu yang memandangku, aku dan pak Rendi
memulainya dari awal, kami tidak ingin seperti pasangan yang lain yang
memulainya dengan hubungan special, lalu bertengkar dan memutuskan untuk pisah,
meski berpikir bodoh seperti ini, aku seperti ingin mengatur takdirku sendiri,
meski aku sendiri tahu bahwa hidup tidak selamanya harus selalu berada di
puncak, terkadang Yang Maha Pencipta menyayangi hambanya dengan memberikan
cobaan sebatas kemampuan manusia untuk menghadapinya.
9. ketika waktu tidak mengerti !
Terik
matahari yang begitu menyengat, september panas ini membuat suasana kelas
begitu pengap, meski kipas yang terus mengipasi ruangan yang berisi siswa tidak
membuat mereka nyaman, bahkan aku sendiri terus menatap jam dinding yang berada
tepat di belakangku, hanya beberapa menit bel akan segera berbunyi, dan sekejap
saja, kelas kosong begitu bel berbunyi, menghamburkan diri nongkrong di kantin,
bahkan sebagian lagi menghabiskan waktu
di taman sekolah sekedar bercanda, belajar bersama dan bersantai.
Aku
sendiri sejak tadi sudah berada di bawah pohon yang tidak jauh dari ruangan
kelas, rumput hijau yang hampir kering menjadi tikar untukku, sambil menungu
Gea dan Fatan, aku terus memperhatikan chat pak Rendi, yang bahkan belum di
bacanya sejak tadi malam. Sudah hampir siang, dia tidak memberikan kabar
padaku. Aku tahu dia pasti sangat sibuk setelah menjadi dosen di kampus
almamaternya sendiri, selain itu dia melanjutkan S2nya di kampus yang sama,
itulah yang menjadikannya begitu sibuk, tetapi di balik kesibukannya itu, ia
selalu menyempatkan waktunya menjemputku, mengunjungi meski hanya beberapa
menit. Beberapa bulan ini perasaanku perlahan tumbuh kepadanya, kami tidak
seperti pasangannya lainnya, yang banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan,
makan berdua atau apapun itu, dia sangat mengerti saat aku juga harus bekerja
dan begitu pula dengan dirinya.
Waktu
menunjukkan pukul tiga sore, aku langsung menuju ke café bertemu dengan kak
Dian. Ia memintaku untuk menyelesaikan naskah yang di berikannya padaku sebulan
lalu.
“thanks
yah Han…!” katanya setelah memeriksa file dan naskah yang aku berikan,
bersamaan dengan amplop yang berisi gajiku.
“kok
cepat banget, kan belum waktunya!” kataku.
“
aku lupa bilang padamu, selama seminggu Ini aku akan ke Jepang “ ujarnya.
“ahh…kak
Dian ingin menghadiri launching film pak Amir yah!” tebakku.
“
iya, karena sekaligus pemutaran perdana pertama di Jepang, mau tidak mau aku
harus menyelesaikan perubahan naskahnya” jelasnya singkat, lalu pamit pergi
dengan terburu-buru. Aku menarik nafas begitu dalam, selama seminggu ini aku
akan menghabiskan banyak waktu di rumah, apalagi hanya dua naskah baru yang di
titipkannya padaku. Tidak lama setelah itu, Gea menjemputku, malam ini dia akan
menginap setelah tahu, aku akan pulang lebih cepat.
Malam
ini, hanya mie instan yang mengisi makan malam di perut kami bertiga, tidak
berselang setelah itu, Efan dan Pak Rendi datang dengan dua kotak pizza.
“bosan
nih, gimana kalau kita liburan!” ujar Gea menatap satu persatu menunggu idenya
di respon.
“mau
liburan di mana?” ujarku, sedikit setuju dengan ide Gea.
“Fatan
lalu beranjak mengambil sesuatu dari kamar, memperlihatkan selebaran yang di
bawanya.
“itu
sih bukan liburan !” timpalku, setelah melihat event yang di tawarkan selebaran
itu, mendaki dan kemping itu adalah kegiatan yang tak pernah aku pikirkan
sebelumnya, aku bahkan tidak pernah tertarik dengan hal seperti itu. Tapi tidak
dengan mereka berempat, Gea begitu tertarik dan yang lainnya juga setuju, hanya
aku yang belum bersedia ikut.
Sementara
Gea, Efan dan Fatan asyik mengobrol membicarakan rencana mendaki mereka, aku
hanya diam melipat kedua tanganku, memperhatikan tv, Pak Rendi menghampiri
duduk di sampingku.
“serius
kamu nggak ikut?”tanyanya kembali, seraya sedikit memelangkan suaranya.
“nggak
!, kalian aja yang pergi” ujarku sedikit kesal dengan rencana mereka.
“yah
udah, kita berdua nggak usah pergi!”.
“aku
nggak apa-apa kok, kamu pergi saja”.
“emang
kenapa sih?” Tanya pak Rendi penasaran.
“aku
hanya tidak suka jauh dari rumah, berada di alam terbuka dan harus menginap di
tenda, aku benci ketika suara serangga terdengar di telingaku pada malam hari “
jelasku.
“ayolah
Hana, sekali ini saja, aku yakin ini akan menyenangkan dan tidak akan membuatmu
menyesal” tambah Gea mencoba terus membujukku.
“berkemah
jauh lebih menyenangkan, kau akan tahu setelah merasakannya, nggak asyik jika
hanya kami yang pergi, sedangkan kamu di rumah sendirian”. Tambah Efan
kemudian, dan kali ini Fatan.
“kami
di sana selama dua hari , terus kak Hana bisa nggak sendiri di rumah?” ujar
Fatan, membuatku kembali berfikir, apa yang dikatakannya memang benar, jika aku
tidak ikut, aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri, itu tidak pernah aku
alami selama ini, dan aku paling takut berada di rumah sendirian.
“baiklah…!!”
ujarku cemberut, dan mereka tersenyum puas saat aku setuju.
Keesokan
harinya setelah sepulang sekolah, Gea mengajakku untuk membeli barang-barang
yang di butuhkan selama berkemah, di tambah lagi minuman yang harus kami bawa
saat mendaki selama tiga jam lamanya agar bisa tiba di tempat berkemah,
memikirkannya saja membuatku sudah kerepotan lebih dulu. Setelah berbelanja,
Gea pulang lebih dulu sementara aku masih harus bertemu dengan seseorang dari
kantor penerbit, menyerahkan beberapa daftar buku dan novel yang akan segera
terbit tahun depan, tidak begitu lama, aku beranjak dari tempat duduk dan tanpa
sengaja bertemu dengan Vega, ia melempar senyuman termanisnya lalu
menghampiriku.
“Hei
Hana…!” sapanya. Menyalami tanganku
“kamu
ngapain di sini?” tanyanya, tangannya masih mengenggam kuat jari-jariku.
“masalah
pekerjaan!” ujarku singkat, perlahan melepas tangan Vega, meski sedikit memaksa. Tidak lama
kemudian, seorang laki-laki berjas hitam masuk menghampiri Vega, laki-laki itu
tidak lain adalah pak Rendi, dari penampilan mereka aku sudah bisa menebak,
semalam pak Rendi sudah mengatakan kepadaku bahwa dia akan menghadiri
pernikahan temannya, tetapi aku tidak tahu bahwa yang menenaminya adalah wanita
ini.
“Hana…”
panggilnya.
“kamu
ngapain di sini?” tanyanya, merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
“bertemu
dengan seorang laki-laki, teman kerja atau….?” Timpal Vega, aku sedikit kesal
seolah ingin memojokkanku.
“teman
kerja” tambahku, tiba-tiba Vega merangku lengan pak Rendi.
“ayo
Ren, kita akan terlambat jika terlalu lama di sini” menarik pak Rendi.
“sampai
ketemu di rumahmu yah, aku akan datang” ujarnya pergi tanpa berpamitan secara
baik padaku, dia seolah-olah pergi begitu saja tanpa menghiraukanku. Tentu saja
ada cemburu yang ingin segera aku singkirkan dari pikiranku, aku bisa mengerti
Vega masih menyukai pak Rendi dan itu wajar baginya masih berusaha menarik
perhatiannya di tambah membuatku ingin cemburu.
Waktu
menunjukkan pukul Sembilan malam, aku masih berbaring di sofa, sembari menatap
hpku, bahkan tanda-tanda pak Rendi membalas sms dan chatku saja tidak ada, ia
bahkan lupa janjinya akan datang. Mungkin dia terlalu asyik berpesta bersama
teman-temannya, atau Vega sengaja mengulur waktu dan menahannya begitu lama,
aku bahkan tidak ingin tahu, memikirkan mereka berdua saja sudah membuatku
ingin menonjok guling yang aku peluk dan begitu saja aku langsung tertidur.
Matahari
terbit begitu cepat, bahkan ayunan kakiku terasa tidak begitu semangat
melangkah masuk kelas, pikiranku terganggu sejak aku bangun pagi tadi, aku
menaruh tas di meja mengeluarkan kembali hp milikku,membuka chat pak Rendi yang
masuk begitu larut malam. Aku bahkan tidak percaya dengan kata-kata itu,
terlalu aneh bagi pak Rendi mengatakan hal seperti itu, isi pesan itu terus
menganggu pikiranku, yang mengatakan dia ingin kembali pada Vega, dia menyesal
terlambat menyadari perasaannya sendiri, dia begitu menyayanginya lebih dari
apapun, bahkan pembicaraannya di hotel kemarin malam, menyakinkan dirinya untuk
segera ingin menikahi gadis itu.
“Hotel,,,”
ujarku kesal, melempar hp itu masuk ke dalam tas.
“jadi
mereka bersenang-senang layaknya orang dewasa” ujarku.
Hari
ini terasa begitu berat bagiku, entah mengapa aku ingin segera menemui
laki-laki yang begitu cepat mengubah hatinya itu, aku bahkan sudah menyukainya
sejauh ini, tetapi dia memberikan harapan yang tidak pasti. Sampai malam ini
dia bahkan belum menghubungiku atau menemuiku.
Keesokan
harinya, tiba di mana kami sudah menyiapkan keperluan kemah, aku berharap bisa
bertemu pak Rendi hari ini, tetap itu hanya pikiran sepihakku, Efan hanya
sendiri.
“kak
Rendi nggak bisa ikut, aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak, tapi dia
memintaku untuk tetap memberitahumu” ujar Efan.
“pak
Rendi kenapa?” sahut Gea.
“semalam
Vega kecelakaan, karena keluarganya berada di luar negeri jadi tidak ada yang
menemaninya kecuali kak Rendi, katanya kalau sempat dia akan menyusul” jelas
Efan masuk ke mobil di susul Gea, aku dan Fatan di belakang.
“kamu
nggak apa-apa?” Tanya Fatan, melihatku gelisah menghela nafas berkali-kali
membuatnya tidak tenang untuk tahu apa yang menganggu pikiranku.
“entahlah
Fat, semuanya terasa aneh bagiku, kenapa tiba-tiba seperti ini, dia berubah
begitu cepat”.
“semuanya
akan baik-baik saja, aku yakin pak Rendi pasti punya alasan yang belum
dijelaskannya” ujar Fatan sedikit membuatku tenang, inilah yang aku takutkan,
menambah seorang laki-laki masuk ke dalam hati kadang bisa membuat kita tidak
tenang seperti ini, perasaan yang pertama kali aku rasakan ternyata seperti
ini.
Xxx
Sementara
itu di rumah sakit, saat Vega menyetir sendiri dan kecelakaan, tidak ada
satupun yang menemaninya, terkecuali Rendi, ia menemani Vega semalaman, meski
tidak cukup parah. Vega malam itu mengambil hp yang di saku Rendi saat ia
tertidur, dialah yang mengirim pesan itu kepada Hana. Dan Vega lupa menghapus
pesan yang baru saja dikirimnya kepada Hana. Pagi itu Rendi masih sempat
menghubungi Hana, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi, untuk itu dia
menghubungi Efan sampai orang tua Vega tiba, dia akan menemaninya dan akan
segera menyusul ke perkemahan.
Betapa
terkejutnya Rendi saat membuka pesannya, ia mendapat sebuah pesan yang membuat
dirinya langsung terperanjak dari tempat duduk, pesan yang sama sekali tidak
pernah ia kirim kepada Hana, malah ia sudah membaca pesan itu dan tidak
mendapat respon sedikitpun. Rendi mempercepat langkahnya kembali masuk ke
ruangan tempat Vega di rawat.
“mengapa
kamu mengirimkan pesan ini kepada Hana?” bentaknya, Vega begitu terkejut saat
melihat raut wajah Rendi, baru kali ini ia melihat wajah itu.
“maafkan
aku Ren, kau tahu aku sangat mencintaimu, aku bersabar beberapa bulan ini
berusaha lebih dekat denganmu lagi” meraih tangan Rendi, tetapi Rendi
melepaskannya.
“cinta
katamu, kau telah membuat Hana khawatir dengan kesalahpahaman yang kau buat “
ujarnya dengan wajah yang memerah, meski ia sedikit menahan kemarahannya,
karena menghargai Vega yang sedang terbaring sakit. Rendi beranjak keluar
menyusul Hana, ia sendiri tidak memedulikan keadaannya saat ini, ia berharap
masih bisa menyusulnya.
Xxx
Tiga
jam perjalanan membawa kami tiba di sebuah lokasi perkemahan, masih membutuhkan
waktu tiga jam lagi agar bisa berada di puncak pengunungan setinggi 1.65 Km,
lokasi ini cukup terkenal bagi orang yang memiliki hobi berpetualang. Setelah
mengganti sepatu aku dan Fatan segera menyusul, cukup ramai saat itu, hingga
aku sendiri tidak sadar, pak Rendi sudah tiba selisih setengah jam.
“Rendi…”
ujar Efan segera menghampiri kakaknya itu.
“kenapa
masih pakai jas sih” protes Efan menarik pak Rendi ke bawah, tidak begitu jauh,
sehingga aku dan yang lainnya menunggu Efan dan pak Rendi selesai. Tidak cukup
lama pak Rendi dengan wajah begitu lelah menghampiriku, sedangkan yang lainnya
kembali melanjutkan perjalannya naik.
“minum
ini!” ujarku menyodorkan minuman yang bisa sedikit mengembalikan tenaganya, dia
terlihat begitu kelelahan, seakan sudah berlari begitu jauh. Sudah hampir jauh
kami berjalan, terkadang ada beberapa meter jalan yang begitu terjal untuk
didaki, sejauh itu pula kami berdua masih diam, sampai orang-orang yang
berjalan dengan cukup jauh untuk tidak mendengar pembicaraan ini.
“apa
kak Vega baik-baik saja?” tanyaku lebih dulu memulai percakapan ini.
“dia
sudah membaik, dan ada yang ingin aku katakan “! Ujarnya langsung, sambil
menahan punggungku. Beberapa kali aku harus berhenti karena kakiku yang begitu
lelah.
“tentang
kak Vega?” ucapku.
“dan
tentang pesan itu, bukan aku mengirimnya, itu perbuatan Vega, dia sengaja untuk
membuatmu cemburu, aku minta maaf karena tidak menghubungimu dan malam itu aku
begitu panik sampai lupa memberi kabar padamu, dan maaf membuatmu menunggu”
jelasnya, menatapku cukup lama, aku berdiri kembali melanjutkan perjalanan.
Entah kenapa aku langsung tersenyum saat mendengar itu, serasa semuanya lega,
aku memang menganggap pesan itu sedikit aneh, dan benar dugaanku, wanita jahat
itu benar-benar membuatku hampir kehilangan pak Rendi.
“kenapa
tidak menjawabku Han, kamu marah?”. Susul pak Rendi, segera menghampiriku saat
melihatku memegangi kaki kiriku yang keram. Karena tidak ada jalan lain, dan
perjalanan juga hampir sampai di perkemahan, pak Rendi memutuskan untuk
mengendongku di punggungnya sedangkan Fatan membawakan tasku.
“maafkan
aku, kau pastin sudah lelah membawaku” ucapku tepat di samping kepalanya, kedua
tanganku melingkar di lehernya.
“tidak
apa-apa, sebentar lagi kita juga akan sampai, kau lihat jalan itu..!” tunjuk
pak Rendi.
“tempat
ini terkenal dengan pemandangan yang luar biasa, di sini di sediakan perkemahan
elit, tempat yang aku pesan dari brosur itu salah satunya, hanya ada lima
tempat seperti ini disini” jelasnya, semakin berjalan sudah terlihat lokasi
tempat berkemah, memang benar ada dua tenda yang berbentuk karavan cukup besar
berdiri din sana, kami tidak perlu repot-repot mendirikan tenda lagi, tempat
api unggun sudah di sediakan. Mereka bertiga baru saja tiba,
“wah…lihat
Hana, ini perkemahan yang paling menyenangkan, semuanya sudah ada di sini,
kecuali makanan, kita harus memasaknya sendiri.” Jelas Gea membuka tenda yang
akan aku tempati bersamanya. Pak Rendi menurunkanku dari punggungnya.
“terima
kasih yah!” ucapku tersenyum, berdiri dengan kaki yang kuat, seolah tidak
pernah terjadi apa-apa.
“aku
bohong soal kakiku yang kesakitan, ini hukuman bagimu karena membuatku
khawatir” jelasku melihat wajahnya yang lesu saat dia tahu aku menipunya,
tenaganya terkuras habis menggendongku sejauh ini. Bukannya marah tetapi dia
langsung memelukku. Dia tersenyum menutupi nafasnya yang lelah mengendongku.
“aku
bahkan bisa mengendongmu saat turun nanti, asalkan kamu tidak marah padaku,
membuatmu khawatir adalah hal yang paling melelahkan buatku” ujarnya mengenggam
erat jari-jariku.
Langit
sore kemerahan begitu cerah menyinari di balik awan yang terpancar indah, pemandangan
di bawah sana dari ketinggian seperti ini terlihat sangat kecil, beberapa menit
kemudian langit sudah gelap, bintang kecil perlahan berkedip seakan menyaksikan
orang-orang di bawah sana, suara hiruk pikuk terdengar jelas dari orang-orang
yang juga berada tidak jauh dari sekitar perkemahan kami.
Sementara
aku dan yang lainnya menyiapkan makanan, hanya pak Rendi yang masih berada di
tenda sejak sore tadi.
“Rendi
tertidur, dia begitu lelah karena sejak kemarin tidak pernah beristirahat, dia
seperti bayi yang tertidur nyenyak” ujar Efan memberikanku segelas air panas,
menyuruhku membawakannya ke dalam tenda pak Rendi.
“dia
memintaku membawakan segelas air, tapi sebaiknya kamu saja yah !” tambahnya.
Aku
membuka tenda perlahan, melangkah begitu pelan agar tidak membuat suara yang
bisa membangunkannya. Aku menaruh tepat di sampingnya, aku memperhatikan
wajahnya sebentar sebelum keluar. Dia tertidur begitu lelap kedua tangannya
menutupi sedikit wajahnya, aku kembali tersenyum, terasa hangat hanya bisa
melihatnya dari jarak dekat seperti ini. Tiba-tiba tangan pak Rendi bergerak
meraih tanganku, menarikku duduk di sampingnya.
“aku
kira kamu tidur” kataku.
“aku
baru saja bangun saat kamu masuk tadi, “ katanya duduk di sampingku mengenggam
tanganku.
“kamu
nggak lapar?” tanyaku mengajaknya keluar bersama yang lainnya.
“aku
masih lelah, nanti aja yah” ujarnya kembali berbaring, aku meninggalkanya
sendiri bergabung bersama yang lainnya.
Seperti
suanasa perkemahan lainnya, meski selimut membalut tebal tetap saja dingin
masih terasa sampai ke kulit, waktu malam seperti ini akan semakin dingin
sampai waktu matahari terbit. Untung saja api unggun sedikit menghangatkan,
menghabiskan waktu bercerita satu sama lain dan tak terasa waktu sudah larut,
Satu persatu sudah masuk ke tenda, begitu pula dengan pak Rendi. Baru kali ini
aku tidur di luar seperti ini, sehingga begitu sulit memejamkan mataku, Gea
sudah terlelap di sampingku dan aku masih membolak balikkan badan berusaha
untuk tertidur, tapi tetap saja tidak berhasil, aku mengambil selimut keluar
tenda, kembali menyalakan api lalu duduk memeluk lututku sendiri.
“kau
tidak tidur?” sahut Fatan, juga ikut duduk di sampingku, dia paling tidak suka
dengan cuaca dingin sehingga membuatnya sulit untuk tidur, aku merebahkan
kepalaku di bahu Fatan. Aku cukup merindukan bahunya.
“apa
yang kau pikirkan tentang masa depanmu?” tanyaku.
“kenapa
tiba-tiba bertanya seperti itu?” ujar Fatan
“sebentar
lagi kita akan pergi, setelah aku lulus dan kau juga akan melanjutkan
pendidikanmu di Australia, kita tidak akan ada di sini lagi!” ujarku, sedikit
merasa nyaman dengan hidup yang aku jalani, tetapi di lain sisi aku memiliki
impian yang sudah lama aku rencanakan bersama adikku Fatan. Berkat bantuan
seseorang yang juga tinggal di Australia aku sudah mendapatkan rumah dengan
lahan yang cukup luas di sana, uang yang aku kumpulkan bersama Fatan akhirnya
bisa sedikit demi sedikit membayarnya
“jadi
kau berpikir untuk tetap tinggal?” ujar Fatan.
“tentu
saja tidak, kesempatan yang luar biasa sedang menungguku disana, tidak mungkin
aku menyiakannya”.
“tapi
bagaimana dengan pak Rendi, apa kalian akan seperti ini terus? Dia sangat
menyayangimu melebihi aku, long distance
relationship tidak semua berhasil pada pasangan, aku juga tidak bisa
mempercayakanmu kepada orang lain kecuali pak Rendi, hanya dia yang bisa
menjagamu, aku sangat menyukainya, meski aku tidak begitu ingat dengan sosok
ayah, tapi aku bisa melihatnya dari pak Rendi” ujar Fatan.
“bagaimana
menurutmu, apa aku menikah muda saja “ tuturku.
“Yah,
menikah itu tidak semuda yang kau lihat di film-film, kau harus memikirkannya
matang-matang” jelasnya terus mengomel di sampingku, membuatku perlahan
mengantuk dan tertidur.
“apa
yang kalian bicarakan?” sahut pak Rendi menghampiri kami, tetapi aku sudah
tertidur saat itu.
“tadi
Hana nggak bisa tidur, jadi aku menemaninya di sini”.
“kau
juga pasti sudah mengantuk, masuklah, biar aku menemaninya di sini “ pak Rendi
dengan hati memegangiku kepalaku bertukar tempat dengan Fatan.
Matahari
akhirnya terbit, aku masih belum menyadari masih tidur di luar tenda. Suara Gea
yang membangunkanku saat itu, mendapati pak Rendi yang berada di sampingku. Aku
tentu saja terkejut.
“aku
mengambil foto kalian berdua” sahut Gea memperlihatkanku.
“selamat
pagi” sapa Efan sambil tersenyum padaku, aku berlari masuk ke tenda dengan
wajah memerah. Tidak lama kemudian setelah mengganti pakaian Gea memanggilku
keluar sarapan. Aku masih tidak percaya diriku masih hidup menginap di luar
rumah jauh dari tempat tinggal yang lebih nyaman, tubuhku agak sakit karena
harus tertidur tanpa merebahkan tubuhku.
“maaf
membuat kamu tidur di luar” bisikku.
“nggak
apa-apa, aku senang bisa menatapmu cukup lama, dan lihat ini…!” memperlihatkan
foto yang baru saja di ambil oleh Gea.
“ini
sangat bagus!” tambahnya menjauhkan tanganku dari hpnya saat aku ingin
menghapusnya.
“aku
iri dengan kalian berdua” sahut Gea, Efan dan Fatan hanya tersenyum melihat
kami berdua.
“aku
juga ingin punya pacar” sahut Gea.
“bukankah
kau sudah jadi pacarku!” canda Efan.
“nggak,
karena aku cantik, pasti mudah menemukannya, dan aku yakin salah satu dari
mereka akan jatuh cinta padaku” tunjuk Gea melihat kerumunan orang-orang yang
tidak jauh Dari tempat kami.
“bagaimana
kalau setelah ini kita jalan-jalan, aku dengar mereka akan melihat kawah
belerang, tempatnya juga tidak jauh kok,” tambah Gea.
Kami
hanya ikut dengan Gea, menempuh perjalanan yang cukup jauh tetapi itu tidak
terasa begitu kami di suguhkan keindahan alam yang luar biasa, pepohonan yang
tinggi serta rumput hijau yang beraroma wangi, membuat pikiranku begitu nyaman.
Sepanjang perjalanan begitu banyak yang pak Rendi ceritakan padaku, kami
berbagi banyak cerita.
“mau
kugendong!” ujar pak Rendi melihatku sedikit lelah sesekali harus berhenti
karena kakiku yang sakit.
“nggak
usah, kemarin kau sudah menggendongku dan aku juga bohong padamu” ujarku
menolak.
“ayo,
naiklah” tuturnya memaksa.
“nggak
ah, yang lainnya berjalan kaki masa aku harus di gendong, ayo kita lanjutkan”
tambahku, tetapi pak Rendi menghadangku dengan punggungnya, menarikku memegangi
kedua kakiku dengan erat agar tidak terjatuh.
“turunkan
aku!”
“jangan
cerewet, diam saja”.
Aku
benar-benar diam, tanpa mengatakan apa-apa pak Rendi terus berjalan tidak jauh
di belakang orang-orang perkemahan. Setibanya di sana kami harus menutup
hidung, karena kawah itu mengeluarkan banyak bau belerang yang cukup menyengat
hidung. Tetapi setibanya di sana kami tidak
bisa melihatnya lebih dari dekat, banyak yang sangat kecewa saat harus
kembali ke perkemahan, dari kejauhan beberapa tim SAR dan TNI sedang melakukan
pencarian, sehingga tempat itu tertutup.
“ada
apa?” tanyaku.
“sepertinya
adanya kecelakaan pesawat “ sahut Fatan ia terlihat kebingungan saat
memperhatikan seseorang yang berada tidak jauh dari kami, dia menunjuk
seseorang
“lihat
deh, bukankah dia Mukta?” tunjuk Fatan, aku berusaha mencari orang yang di
maksudnya.
“nggak
mungkin deh, kalau Mukta ke Indonesia masa nggak ngabarin kita !” ujarku
penasaran dengan sosok laki-laki tinggi berjanggut mengobrol dengan beberapa
temannya. Karena penasaranku, aku menghampirinya, memperhatikannya lebih dekat,
aku sangat yakin orang yang berada di hadapanku ini adalah Mukta. dia anak dari
teman ayahku, aku dan Fatan merupakan teman semenjak kecil, hingga akhirnya
saat SMA dia ikut ayahnya ke Australia dan merekalah yang akan mengurusi kami
saat ke Australia nanti, berkat Mukta aku bisa mendapatkan sebuah lahan kecil
dan rumah, tempat yang aku tinggali nanti.
“Mukta”
ujarku lebih dekat, dia tampak kebingungan saat aku menyapanya. Aku sangat
yakin, hampir setiap hari dia mengirimiku videonya hanya untuk menyapaku dan
Fatan, bahkan dia selalu menceritakan banyak hal padaku tentang kehidupannya,
tentu saja wajah itu sangat tidak asing, meski rambutnya yang sedikit berbeda.
“aku
Hana, masa sih nggak kenal !” kataku, Fatan juga sudah berada di sampingku.
Tapi Mukta masih terlihat kebingunan.
“maaf,
sepertinya kalian salah orang!” ujarnya beranjak pergi, tetapi dia kembali
berbalik melihat kami berdua.
“kalian
kenal dengan Mukta?” tanyanya, kali ini aku dan Fatan yang bingung dengan
pertanyaan pria yang begitu mirip dengan Mukta.
“kami
berdua temannya, serius kamu bukan Mukta?” tegasku kembali.
“maaf
sepertinya kami salah orang, kalian terlihat mirip” tambah Fatan menarikku
menjauh.
“aku
saudara kembarnya, Mukta itu adikku” sahutnya tiba-tiba menghentikan langkahku.
Aku tidak percaya apa yang baru saja di katakannya, aku sendiri tidak tahu
kalau Mukta punya saudara kembar.
“Mukta
punya kakak ? dia tidak pernah menceritakannya padaku!”. Kataku pada Fatan, memperhatikan pria yang
bernama Beno itu pergi terburu-buru saat
rombongannya memanggilnya. Dia berjanji akan datang ke tempat kami berkemah
sore ini.
“dia
siapa?” Tanya pak Rendi.
“dia
saudara dari temanku,” ucapku.
Sore
itu dia benar-benar datang ke lokasi kami, setelah memperkenalkan dirinya aku
mengobrol banyak mengenai apa yang terjadi pada mereka berdua.
“aku
baru mengetahuinya dua bulan lalu,saat Ibuku meninggal karena sakit, aku
mendapatkan foto di buku hariannya, serta segala kesedihan dan penyesalan Ibuku
kepada Ayah. Mulai saat itu juga aku mencari tahu keberadaan mereka berdua,
tetapi mereka benar-benar seperti hilang tanpa jejak” jelasnya begitu berharap
dan wajahnya terlihat senang dan lega saat dia tanpa sengaja bertemu dengan
orang yang tahu tentang Mukta.
“siapa
Mukta?” tanya pak Rendi pada Gea.
“dia
teman kami saat kecil dan sangat akrab dengan Hana, Mukta pindah saat kami
masuk SMA, dia mengikuti ayahnya yang di mutasi ke Australia dan juga asal
Bapak tahu !! Hana itu cinta pertama Mukta, dia sangat menyukai Hana sampai
saat ini, tetapi Hana tidak pernah tahu itu” jelas Gea.
“aku
akan menghubungimu nanti” pamitnya pergi.
“aku
lelah, aku ingin istirahat” tambah Gea masuk ke tenda, Efan dan Fatan juga
masuk mengganti pakaiannya., hanya aku dan pak Rendi, sudah hampir gelap aku
duduk di sampingnya. Dia memberikan selimut padaku.
“aku
merindukanmu” tuturnya .
“rindu?,
aku disini dan kamu masih merindukanku, aneh deh!” ujarku tersipu.
“entahlah,
aku sangat merasa nyaman denganmu saat ini”.
“bukankah
hubungan yang baru terjalin memang sangat manis, dan itulah yang aku sering
baca di banyak novel dan film”.
“mungkin
kau benar, tapi kali ini aku yakin, kau sudah menganggu pikiranku saat aku
menjadi mengajarimu, awalnya aku hanya kagum dengan hidup yang kau jalani, tapi
seiring waktu, perlahan kagum itu merubah hatiku”. Pak Rendi menatapku serius.
“kau
suka padaku, saat kamu sendiri masih punya hubungan dengan Vega !!” timpalku.
“Yah..!!”
mencubit kedua pipiku. “ada yang ingin aku katakan padamu” lanjutnya melepas
tangannya dari pipiku. Wajahnya berubah serius. “bagaimana kalau kita
menikah?”. Ucapnya menatapku serius, air yang kuminum tiba-tiba membuat
tenggoronku kering.
“menikah!!
Siapa yang ingin menikah?” sahut Efan dan Fatan, menguping setengah pembicaraan
kami. Wajahku langsung memerah dan berlari masuk ke dalam tenda.
10. pernyataan
“bagaimana
kalau kita menikah?”
Perkataan
itu terus membayangi kepalaku, terus berulang di telingaku, meski dua hari
berlalu aku dan Rendi sedikit canggung, aku juga berusaha menghindarinya sebisa
mungkin, terlihat Rendi juga agak canggung saat bertemu denganku, bahkan ketika
kami chat, ucapan itu seolah-olah tidak pernah terjadi.
xxx
“menikah?”
ujar Efan terkejut saat mendengar Rendi mengatakan hal itu kepadanya.
“bagaimana
bisa kamu mengatakan kata menikah padanya, Hana menikah di usia muda? aku tidak
bisa memikirkannya, dia takkan pernah memikirkan dirinya harus menikah di usia
muda” jelas Efan sedikit protes.
“oh
iya, Fatan pernah cerita padaku jika setelah Hana lulus, mereka akan berangkat
ke Australia dan memulai hidup baru di sana”.
“Hana
juga pernah cerita padaku, bukan karena ia ingin berada jauh dariku, tapi aku
hanya belum siap di saat hatinya masih ragu-ragu padaku, dia masih belum yakin
tentang keberadaanku yang begitu menyayanginya, dia masih takut mempercayai
orang lain masuk ke dalam hatinya” ujarnya.
xxx
Akhirnya
semua berjalan pada tempatnya, aku berhasil mempertemukan Beno dengan
keluarganya, beberapa hari kedepan Mukta dan Ayahnya akan kembali ke Indonesia
dan mengunjungiku dan Fatan, aku cukup senang akan bertemu dengan Mukta kembali
setelah tiga tahun berlalu.
“bagaimana
ujiannya?” Tanya pak Rendi saat menjemputku dari kerja.
“semuanya
berjalan lancar, aku bisa bernafas lega karena selama tiga hari, aku harus
fokus pada ujian akhir sekolahku” jelasku sedikit meregangkan otot-ototku.
“kita
mau kemana?” tanyaku melihat mobil Rendi berbelok menjauh dari arah menuju
rumahku.
“Vega
memintaku untuk menemuinya” jawabnya.
“kenapa
aku ikut?”
“aku
hanya ingin membawamu, aku juga tidak ingin membuatmu khawatir nantinya”
Kami
tiba di sebuah rumah mewah milik Vega, tidak lama menunggu, Vega akhirnya turun
berlari sambil menangis langsung memeluk Rendi tepat di hadapanku.
“Ren…apa
yang harus aku lakukan?” tangisnya, Rendi berusaha menenangkannya agar bisa
menceritakan apa yang terjadi, aku hanya diam mendengarkan mereka.
“aku
hamil Ren…!!”ucapnya kembali menangis, aku sendiri terkejut saat mendengar Vega
mengatakan itu, dan membuatku berpikir, Rendi adalah orang yang melakukan semua
ini.
“laki-laki
brengsek itu hilang entah kemana, dia membuatku seperti ini bahkan orang tuaku
sendiri belum mengetahui ini semua, Ren..!!” tutur Vega menggengam kuat lengan
Rendi, aku ingin sekali beranjak dari tempat ini, tetapi ini terlalu malam jika
aku harus pulang sendiri mencari kendaraan lain, di lain sisi aku juga tidak
ingin membiarkan Rendi bersama wanita ini.
“apa
dia baik-baik saja?” kataku, setelah membawa Vega kembali ke kamarnya dan
beberapa sahabat Vega datang karena di minta oleh Rendi sendiri untuk
menemaninya
“maaf
membuatmu menunggu lama”ujarnya, aku segera mengeluarkan sapu tangan dan parfum
dari tasku, membersihkan wajahnya dan menyemprotkan sedikit parfum di
pakainnya. Rendi hanya diam melihat tingkahku, ia hanya tersenyum mengelengkan
kepalanya, dia dengan cepat mengerti tingkahku.
“aku
senang kau cemburu,!”
“nggak
kok, aku tidak suka bau wanita itu ada di pakaianmu, aku tidak suka wanita lain
harus memelukmu, jadi aku membersihkannya”.
“itu
cemburu!” ucapnya mendekatnya wajahnya. “inilah mengapa, aku setiap hari
merindukanmu, kau begitu polos dan apa adanya, aku hanya akan melihatmu “
tuturnya mengantarku pulang. Setibanya di rumah Rendi masih bersikap kekanakan
padaku. Dia tidak mengizinkanku turun dari mobilnya.
“aku
masih ingin melihatmu sebentar” ujarnya meraih tanganku, mengaitkan
jariku-jarinya.
“ini
sudah malam, Gea dan Fatan pasti sudah sejak tadi menungguku”. Meski terus
memaksa aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya duduk diam.
“ini
sudah lima menit!” kataku.
“lima
menit lagi” katanya.
“apa
kita menikah saja?” tanyaku tiba-tiba membuat Rendi terkejut, bersamaan dengan
pintu mobil yang terbuka. Aku segera turun dari mobil tanpa membalikkan
tubuhku. Rendi masih diam terpaku melihatku masuk ke rumah. Aku tidak menyangka
akan mengatakan hal bodoh seperti itu, apa karena terbawa suasana, jadi hal itu
terlontar begitu saja dari mulutku.
“wajahmu
kenapa?” tegur Gea, melihatku terburu-buru masuk.
“kenapa
pak Rendi tidak masuk” tambah Fatan.
“ini
sudah larut malam,” ujarku masuk kekamar tanpa menjawab pertanyaan Gea.
Sepanjang
malam aku terus memikirkannya, mungkin karena aku dekat dengan seseorang yang
lebih dewasa 9 tahun lebih tua dariku dan aku juga tidak pernah pacaran dengan
seseorang, sehingga kata-kata menikah terucap begitu saja. Entah kenapa aku
benar-benar membayangkan pernikahan yang indah, aku ingin sekali menikah dengan
orang yang aku cintai, tapi tidak sekarang atau untuk beberapa tahun ke depan
sebelum aku meraih semua impianku.
Tapi jauh di lubuk hatiku, aku merasa
sedih ketika suatu saat nanti aku akan berpisah dengannya, apalagi saat ini
Ayah Mukta sudah mengurus keperluanku dan Fatan untuk segera berangkat lebih
cepat ke Australia, Fatan akan melanjutkan pendidikan sekolahnya di sana. Aku
belum siap pergi waktu dekat ini.
“selamat
pagi” sapa Gea sudah berdiri di hadapanku, tidak biasanya dia begitu rapi pagi
ini, wangi parfum tercium sampai ke kamarku.
“mau
kemana?” tanyaku penasaran.
“Yah
kau lupa, hari ini Mukta dan Ayahnya akan datang” ujarnya mengingatkanku.
“Astaga…!!
Aku benar-benar lupa kalau hari ini hari minggu, aku belum mengirimi Beno
alamatku, kita juga belum belanja apapun”. Ucapku terburu-buru menbangunkan
Fatan.
“maka
dari itu, aku sudah menghubungi pak Rendi untuk datang!” ucapnya, tidak lama
setelah itu, Rendi sudah datang bersama Efan, bahkan aku sendiri belum mandi
saat mereka datang.
“kau
dandan untuk siapa?” ujarku memperhatikan Gea sambil mengeluarkan belanjaan dan
memasukkannya ke kulkas.
“tentu
saja untuk Beno!” ujarnya singkat.
“dulu
Efan, sekarang Beno, kau terlalu banyak memainkan hati laki-laki” tuturku.
“aku
juga berharap kau tidak mempermainkan perasaanku!” sahut Rendi.
“kalian
berdua membuatku iri, kenapa kalian tidak menikah saja!” ujar Gea memandangi
kami berdua.
“aku
sudah melamarnya kemarin saat berkemah, tapi dia belum mengatakan apa-apa!”
tambah Rendi.
“benarkah?”
Gea terperangah “waowww…” tambahnya menyenggolku.
“aku
setuju jika kalian segera menikah!” tambah Efan menimpali.
“kalau
aku terserah kalian saja” kembali Fatan bergabung.
Tidak
lama kemudian, terdengar suara dari luar memanggilku, suaranya tidak asing.
Beno sejak tadi sudah menunggu Mukta dan Ayahnya, pemandangan yang sangat
mengharukan saat melihat mereka bertemu setelah sekian lama.
“mereka
benar-benar mirip!” ujarku memperhatikan dari jauh mereka mengobrol.
“Beno
terlihat tampan daripada Mukta” tambah Gea perhatian sejak tadi teralihkan
hanya kepada Beno.
“mereka
berdua sangat mirip, bagaimana kamu bisa membandingkannya” tuturku kembali ke
dapur.
“Hana…!”
panggilnya, Mukta menghampiriku
“kemana
pipimu? Kenapa wajahmu semakin kecil?” Tanyanya menyentuh pipiku, tiba-tiba
memeluk sambil mengangkat tubuhku.
“turunin
nggak, “ kataku memukul lengannya.
“kau
tidak ingat yah, orang yang pertama kali akan kutemui adalah kamu!”.
“iya,
tapi tidak dengan pelukan kekanakan seperti ini” kataku melepaskan pelukannya,
merasa tidak enak dengan Efan dan Rendi terlebih lagi wajah Rendi yang berubah
saat Mukta memelukku.
“mereka
siapa?” tanyanya melihat Efan dan Rendi.
“Efan
adalah temanku, sedangkan dia pernah mengajar di sekolah Hana” giliran Fatan
yang memperkenalkannya.
“dia
cukup muda untuk menjadi guru !” ujarnya.
“dia
itu lebih tua darimu, jadi kau harus menghormatinya” kataku, tiba-tiba Rendi
menarikku ke belakang.
“ada
apa?” tanyaku.
“tidak
apa-apa!” katanya menyemprotkan pengharum pakaian di pakaianku.
“aku
tidak suka bau laki-laki lain menempel di tubuhku, dan aku sangat benci milikku
di sentuh oleh orang lain, apalagi sampai memelukmu seperti tadi” jelasnya, aku
tersenyum menatap wajahnya, melihatnya sedekat ini membuat hatiku tidak karuan.
“tapi
pelukannya tidak sehangat saat kau memelukku, hatiku lebih nyaman berada di
dekatmu, jadi kau tidak usah khawatir” kataku sedikit menggodanya.
“wah…semakin
hari kamu semakin berani menunjukkan perasaanmu padaku, sepertinya aku berhasil
membuat hatimu berada di sini “ tuturnya mengenggam tanganku di pipinya.
“aku
balik dulu yah, aku harus menghadiri seminar dan mengantar Efan ke bandara”
tambahnya pamit, tanpa sengaja Mukta berpapasan dengan Rendi saat akan keluar.
“kelihatanya
kalian begitu dekat,!”.ujarnya padaku
“dia
laki-laki yang aku sukai!” singkatku.
“kamu
udah punya pacar, kok kamu nggak pernah cerita?”
“aku
juga mau cerita, tapi itu sedikit memalukan, kamu pasti akan mengejekku”
jelasku.
Wajah
Mukta berubah, dia seperti kena tamparan kuat mendengar saat mengetahui orang
yang selama ini dirindukannya, begitu diharapkannya dan selalu berada di dalam
hatinya selama lima tahun ini mencintai orang lain.
“seharian
ini kamu kok banyak diam, nggak biasanya deh?” sapaku membawakan beberapa
makanan ringan ke halaman belakang, Beno dan Ayahnya terlihat asyik mengobrol
dan hanya dia yang menjauh sibuk dengan hpnya.
“apa
yang kamu pikirkan?” tanyaku.
“nggak
penting kok. Oh iya Han, sore ini Ayah udah rencana untuk balik, karena
pekerjaannya. Aku akan tinggal bebebapa hari lagi mengurus administrasi
kepindahanmu, serta pasportmu dan Fatan, dan kau mengurusi surat pindah Fatan!”
jelasnya.
“ada
apa?” tegur Mukta melihatku melamunkan sesuatu.
“jangan
bilang kamu nggak mau pergi!” ujarnya.
“nggak
kok, hanya belum siap aja, masih banyak yang harus aku lakukan di sini!”.
“aku
ke Indonesia untuk bertemu dengan kakak kandungku Beno, dan menjemputmu. Aku
sudah capek mengurus dan membersihkan rumahmu di sana, jangan bilang kau akan
mengagalkannya.”.
“tenang
aja kok, aku juga harus cepat pindah sebelum pendaftran ulang di Canberra
berakhir, sangat sulit masuk ke universitas luar negeri saat ini, dan itu
satu-satunya kesempatanku dan Fatan” jelasku.
“tapi
bagaimana dengan dia? Rendi maksudku!”.
“aku
belum pernah membahasnya, tapi aku yakin dia akan mendukungku”. sambil
berpikir. “dia sudah melamarku untuk
menikah” lanjutku, kini wajah Mukta berubah.
“menikah??
Nggak, kamu nggak boleh nikah sebelum impianmu tercapai, kau ingatkan ! ibumu
juga menikah di usia muda, mengurusi rumah tangga dan kuliahnya, jadi kamu
nggak boleh ngikutin ibumu” jelasnya mengingatkanku masa lalu yang tidak ingin
aku ingat.
“aku
sudah bertemu ibuku !” tuturku pelan, memikirkan ucapan Mukta tersirat jelas di
pikiranku.
“kapan?”.
“beberapa
bulan ini dia sering mengunjungiku, dia hidup dengan baik bersama keluarga
barunya, dan…!!” suaraku sedikit serak, dengan air mata yang hampir berlinang.
“ dan aku tidak suka saat kau mengaitkan aku dengan ibu “ tuturku lagi beranjak
meninggalkannya masuk ke kamar.
“maaf
yah Han…aku nggak bermaksud membuatmu sedih” teriaknya dari luar kamar.
“nggak
apa-apa kok, aku mau istirahat dulu, kalau kau butuh sesuatu bilang aja sama
Fatan atau Gea!” ucapku.
Pukul
lima sore Ayah Mukta sudah harus berangkat ke bandara dan pesawat akan lepas
landas pukul tujuh malam, aku bersama yang lainnya mengantarkannya ke bandara
dan setelah itu Beno mengantarku balik, sedangkan Mukta sendiri ikut dengan
Beno.
xxx
“bagaimana
perasaanmu?” Tanya Beno sudah bisa menebak tatapan adik kembarnya itu kepada
Hana.
“apa
maksudmu?” ujarnya tidak mengerti.
“perasaanmu
pada Hana, itu terlihat jelas kok, kalau kamu sudah cukup lama menyukainya!”
jelas Beno, tetapi Mukta hanya diam dengan tatapan kosong keluar jendela.
“sebaiknya
kamu membuang perasaanmu itu secepat mungkin, sebelum itu menyakitkan hatimu,
terkadang manusia akan merubah jahat jika keinginannya tidak tercapai dan aku
tidak ingin itu terjadi padamu” tutur Beno meski baru dua hari bertemu dan
mengenal Mukta, ia bisa merasakan seakan sudah mengenal lama adiknya itu.
“kamu
benar, aku hanya merasa kesal pada diriku sendiri. Mengapa dari dulu aku tidak
pernah mengatakan peraasaanku padanya. Aku merasa takut dan egois. Aku takut
jika Hana akan menjauhiku dan egois karena belum bisa merelakannya menjadi
milik orang lain, sekarang aku benar-benar ingin menjadi jahat, aku mencoba
merubah hatinya sekali lagi, mungkin jika kita sering bersama semuanya akan
berubah pada tempat yang aku inginkan” katanya.
“umur
kalian masih begitu muda, perjalanan masih panjang untuk kalian, kita takkan
pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya” ujarnya menasehati Mukta.
Setelah
hari itu, Mukta semakin percaya diri, ia tidak akan menyiakan perasaannya lagi,
kesempatan untuk dekat dengannya sudah di depan mata. Ia pasti bisa merubah
perasaan Hana kepadanya.
xxx
10. jangan pernah bosan
Hari
ini Rendi memintaku untuk menemuinya, tidak biasanya dia ingin bertemu di luar,
kami biasanya hanya bertemu saat dia mengunjungiku di rumah atau menjemputku.
“kita
mau kemana?” tanyaku, menyuruhku masuk ke mobil.
“nanti
kau juga akan tahu!” ujarnya menyetir.
“iya
halo…” mengangkat telpon dari Mukta.
“Mukta
kenapa?” tanyanya.
“dia
mengajakku jalan-jalan hari ini, dan aku tidak bisa karena bersamamu. Aku akan
pergi bersamanya besok” jelasku.
“kalau
aku mengatakan kepadamu untuk tidak pergi?” ujarnya tiba-tiba.
“Mukta
temanku, dia sangat baik padaku, nggak mungkin aku menolak ajakannya!”.
“aku
tahu kalian berteman, tapi aku merasa tidak nyaman jika kau jalan dengan
laki-laki lain” katanya menghentikan mobilnya di tepi danau.
“tempat
ini ramai pada sore hari” singkatnya memarkir mobil tepat di bawah pohon
menghindari terik matahari. Walaupun sedikit panas, tetapi angin bertiup hangat
di tempat ini.
“kamu
sering ke sini?” tanyaku sekilas melihat ekspresi wajah Rendi berubah seakan
tempat ini mengingatkannya sesuatu.
“Vega
pernah mengajakku sekali ke tempat ini, dan di tempat ini juga dia menolak saat
aku melamarnya” ujarnya tiba-tiba. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia
membahas ini, dari wajahnya menyimpan banyak kekhawatiran yang sulit
diungkapkan.
“Fatan
sudah cerita padaku, bulan depan kamu sudah mempersiapkan keberangkatanmu ke
Australia!” katanya memulai pembicaraan yang memang dari dulu ingin aku
bicarakan kepadanya.
“iya,
aku berangkat lebih cepat, karena pendaftaran ulangnya harus aku lakukan
sebelum perkuliahan di mulai, aku tidak tahu sampai kapan, tapi bagaimana
dengan kita ?” tanyaku.
“ayo
kita menikah!” katanya sambil menatapku serius, tatapannya mengatakan kali ini
dia serius. “tidak usah menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kau
siap! Dan menyelesaikan impianmu !” lanjutnya menarik nafas lebih dalam. “aku
baru tahu, sekhawatir inikah rasanya saat aku berada jauh darimu ! hanya sesaat
kau mulai menyukaiku, kita bahkan belum memiliki banyak kenangan yang bisa kita
ceritakan nantinya “. Tuturnya tersenyum menyembunyikan wajahnya yang sedih.
“kamukan
bisa menghubungiku setiap saat, kita berada di era modern, jadi kamu nggak usah
khawatir, aku akan berusaha mengabarimu!”.
“aku
tidak mempermasalahkan itu, aku hanya khawatir jika suatu saat salah dari kita
akan berubah!”.
“aku
tidak bisa menjamin itu, tapi ketika kamu menitipkan kepercayaan ini, aku akan
berusaha untuk menjaganya” tuturku, Rendi kembali menatapku, membelai rambutku
yang tertiup angin. Ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta yang begitu
luar biasa menembus hatiku, ketika aku tidak pernah mengharapkannya, dia datang
seperti genangan air yang menyejukkan.
Seminggu
sebelum keberangkatanku, Beno dan Mukta lebih banyak menghabiskan waktu di
rumahku, begitu pula dengan Gea yang hampir setiap hari menginap sedangkan Efan
sudah harus pindah ke Surabaya melanjutkan kuliahnya. Pada akhirnya semua ini
akan terjadi, aku meninggalkan orang-orang yang aku cintai dan sayangi. Aku
baru saja merasakan kebersamaan bersama mereka dan begitu singkat untuk
menjadikannya kenangan.
“kamu
lagi mikir apa sih?” Tanya Rendi menjemputku di kantor, karena hari ini adalah
hari terakhir aku bekerja, kugunakan untuk berpamitan kepada kak Dian dan yang
lainnya.
“nggak
kok. Hmm gimana kalau hari ini kita jalan-jalan!” ajakku, Rendi tentu saja
tidak menolak, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengannya sebelum berpisah.
Membuat lebih banyak kenangan meski terbilang singkat.
“ini
untukmu!” ujarnya memberikan sesuatu yang terbungkus begitu rapi, ketika aku
membukanya, isinya boneka kecil berbentuk penguin. Tidak hanya itu Rendi
mengeluarkan buku harian kosong memberikannya padaku
“ini
USB, kamu akan tahu saat melihatnya nanti. Dan ini buku harian, aku ingin kau
mengisinya. Menceritakan pengalamanmu, apa yang kau lakukan, kapan kau merasa
sedih dan senang. Ketika tibanya nanti aku akan mengambilnya lagi” jelasnya,
tetapi tidak sampai di situ, Rendi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Kali ini kotak kecil berisi bros kecil yang mengkilat, berbentuk burung merak
dan di tengahnya tertulis inisial nama kami berdua.
“makasih
yah Ren, aku sendiri belum menyiapkan apa-apa untukmu, aku tidak tahu harus
memberikan apa, ini pertama kalinya untukku” ujarku bercampur haru.
“ada
hadiah yang ingin aku minta padamu?” tanyanya.
“apa,
katakan aja”.ujarku.
“aku
akan memintanya besok saat mengantarmu ke bandara” ujarnya membuatku penasaran.
“kalau
kamu mintanya besok, nggak mungkin aku bisa membelikannya untukmu”.
“ini
bukan sesuatu yang harus kau beli dan kau cari !” ucapnya tersenyum memelukku.
Hari
itu kami lebih banyak mengetahui perasaan masing-masing, mencintai laki-laki
yang seperti Rendi adalah anugrah yang sangat besar bagiku. Dari dia aku lebih
banyak belajar tentang artinya hidup.
Bunyi
peringatan pesawat memenuhi bandara, jam keberangkatan silih berganti,
orang-orang yang mondar-mandir dengan wajah senang. 15 menit sebelum
keberangkatan, Gea, Beno dan Rendi juga datang mengantarku, hari itu aku terus
berada di samping Rendi, terkadang Gea mengejek kami berdua karena Rendi terus
mengenggam tanganku. Beno dan Mukta mengobrol tidak jauh dari kami.
“katakan!!
Hadiah apa yang kau inginkan? Sebentar lagi aku harus pergi” ucapku
memperhatikan lekuk wajahnya.
“Ayo
Han, kita harus pergi, Fatan sudah menunggu” sahut Mukta sejak tadi tidak suka
dengan keberadaan Rendi.
“aku
ingin hadiahku..!” ujarnya tiba-tiba menarik lenganku lebih dekat padanya,
menyentuh kepalaku, beberapa saat Rendi mencium dahiku, cukup lama hingga kedua
mataku tertutup, merasakan perasaannya. Aku bisa mencium wangi parfum yang di
pakainya, seakan Rendi sengaja agar aku bisa mengingat wanginya.
“kabari
aku kalau kau sudah tiba !” ujarnya kembali melepasku. Entah kenapa perasaanku
saat itu tidak ingin melepaskan pelukannya, hatiku semakin berat untuk pergi,
seperti kehilangan seseorang yang baru saja menyentuh hatiku. Aku tidak pernah
mengatakan tentang perasaanku padanya, aku benar-benar ingin mengatakan aku
mencintainya, aku menyayanginya, aku ingin berterima kasih kepadanya karena
membuatku jatuh hati pada seseorang yang tepat. Hal yang paling aku sesali
adalah terlambat mengakui perasaanku.
11.
Seiring
waktu berlalu, seiring dengan perubahan keadaan, semuanya seakan baru terjadi
kemarin. Waktu kadang tidak akan pernah mengerti meski kita berusaha
mengejarnya dia akan tetap berputar mengikuti aturan yang sudah di bentangkan.
Jika kita tidak bisa menunggu dengan sabar, maka hasilnya akan membuat kita
menyesal. Seperti yang aku lakukan sekarang. Menghabiskan waktu hanya untuk
belajar dan bekerja di negeri orang.
Setahun
berlalu di samping kuliah dan bekerja sebagai pelayan restoran tempat ayah
Mukta bekerja, aku menyibukkan diriku di sela rehatku untuk mengisi blogku
dengan ceritaku. Mengisi banyak cerita di buku harian pemberian Rendi. Ketika
aku merindukannya, aku akan selalu membuka USB pemberiannya, yang berisi
videonya sendiri, memutarnya berulang kali sampai aku sudah menghafal semua
kata-katanya.
xxx
Empat
tahun berlalu, meskipun semuanya masih sama tetapi ada yang terlihat begitu
berbeda ketika kita bertemu untuk pertama kalinya. Seperti saat ini, mereka
masih sering bertemu untuk menyapa.
“hari
ini Hana mengirimi aku fotonya, dia cantik banget, nggak sabar untuk ketemu dia
!” ujar Gea memperlihatkan foto Hana ke lainnya.
“terus
kenapa dia nggak pernah ngirim foto ke Rendi” sahut Efan menunjuk Rendi, hanya
dia yang tersenyum saat melihat wajahnya sekilas tanpa mengatakan apapun.
“Hana
itu wanita yang sangat menarik, saat bertemu dengannya beberapa bulan yang
lalu, aku bahkan terkejut melihat penampilannya yang lebih dewasa dan cantik!”
sahut Beno yang juga ikut bergabung. Hari ini Mukta juga datang, ia baru
kembali beberapa hari yang lalu menghadiri kelulusan Beno kakaknya. Sedangkan
Hana dan Fatan masih harus tinggal.
Obrolan
hari ini serasa begitu singkat bagi mereka semua, di tambah kesibukan bekerja
tetapi tidak membuat mereka tidak bertemu sama sekali. Tetapi hari itu Mukta
ingin bicara dengan Rendi setelah yang lainnya pergi.
“kenapa
nggak nanya soal kabar Hana?” ujarnya setelah cukup lama berdiam. “aku setiap
hari bertemu dengannya, memperhatikan ia berubah perlahan!” lanjutnya sesekali
mengaduk minumannya sebelum di minum.
“karena
aku yakin dia akan baik-baik saja!” ujar Rendi.
“apa
kamu yakin soal bagaimana perasaanya saat ini padamu?” tanyanya.
“apapun
yang dilakukannya, aku masih ada untuknya!”
“dan
kau sendiri tahu, aku menyukainya untuk waktu yang cukup lama, bersamanya
selama empat tahun dan itu akan membuatnya berpaling padaku” jelasnya.
“memang
benar kamu bersamanya lebih lama dari aku, tetapi terlalu lamanya dirimu
membuatmu tidak percaya diri untuk mengatakan perasaanmu, kau tahu dulu aku
mengenalnya sebagai siswaku, perlahan aku kagum pada hidupnya, dia penulis yang
karyanya sangat kukagumi, tegas dan apa adanya” jelas Rendi membuat Mukta
sedikit iri dengan hal detail yang belum diketahuinya dari Hana.
“aku
iri denganmu, kau benar-benar mengenalinya dengan baik, bahkan aku sendiri
sudah berusaha untuk membuatnya jatuh hati padaku, tetapi saat aku menegaskan
perasaanku, dia hanya tersenyum mengatakan dengan lembut, bahwa aku hanyalah
seorang sahabat yang di sayanginya, ketika aku mencoba untuk marah justru itu
melemahkanku, karena aku benar-benar menyukainya aku tidak bisa membencinya,
menyukainya saja dan tetap seperti ini sudah membuatku jauh lebih baik”
tuturnya panjang lebar.
“aku
minta maaf padamu, jika kamu memaksaku untuk meninggalkannya, aku tidak akan
melakukannya, terkecuali dia sendiri yang mengatakan dan menyuruhku pergi”.
“aku
akan sangat egois jika kamu berpikir aku memintamu untuk melakukannya, justru
aku berterima kasih padamu karena telah mencintainya dengan setulus hati, aku
takkan khawatir dia jatuh di tangan laki-laki yang baik sepertimu!” ujarnya
berdiri, menyalami Rendi.
“Oh
iya, beberapa hari ini dia akan kembali, jadi kau harus memberikan kejutan
istimewa, kejutan yang telah kau janjikan untukknya!” lanjutnya lalu pergi
meninggalkan tempat itu.
Xxx
12.
finaly
Hari
ini akhirnya tiba, aku sangat senang bisa kembali lagi ke Indonesia bersama
Fatan, sejak tadi dia terlihat sibuk dengan hpnya.
“sebaiknya
kau segera menonaktifkan hpmu sebelum di tegur pramugari cantik itu” kataku.
Hanya
beberapa jam, kami sudah tiba di bandara, tak satupun yang menjemput
kedatanganku, karena aku tidak memberi mereka tentang kedatanganku, ini akan
menjadi sebuah kejutan untuk Gea dan yang lainnya, terutama Rendi.
Tidak
lama hpku bordering, aku mengangkatnya dan ternyata itu dari Gea, dia sudah
marah-marah dan mengomeliku karena tidak memberitahu kedatanganku.
“aku
kan udah bilang, jangan bilang ke Gea dulu!”kataku pada Fatan.
“aku
nggak kasih tahu kok, mungkin di ngepost di instagram dan melihat lokasimu!”
ujar Fatan menyuruh taksi untuk belok ke arah yang lain.
“kita
nggak balik ke rumah dulu!” kataku
“ini
juga perintah dari Gea, ia memintaku membawamu ke tempatnya!” ujar Fatan terus
memandangi hpnya.
Beberapa
menit berkendara, kami tiba di rumah Gea, dia sudah berdiri di depan pintu,
setelah aku turun dia berlari menyambutku dan melemparkan pelukannya.
“aku
benar-benar rindumu padamu!” ujarnya langsung menutup kedua mataku.
“Yah..!
kalian lagi rencanain apaan sih” ucapku terkejut, Gea mendorongku dengan pelan
menuntunku masuk ke dalam rumahnya.
“Jreng…selamat
datang kembali !” sambut beberapa orang, aku membuka mataku. Aku sangat bahagia
melihat orang-orang yang aku sayangi berada dalam satu ruangan seperti ini.
tapi suasana sedikit berbeda, bukan karena sambutannya yang kurang meriah,
tetapi sosok Rendi yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri tidak jauh dariku, di
tambah lagi sebuah karpet merah terbentang saat aku masuk. Rendi masih berdiri
tersenyum dengan seikat bunga di tangannya.
“kok
kalian aneh sih!” ujarku canggung, karena saat itu orang tua Rendi juga datang.
Perlahan
Rendi maju, dia mendekat padaku, bunga itu di berikannya padaku, dia menarik
nafas lebih dalam, entah apa yang ingin dikatakannya padaku.
“aku
senang kau sudah kembali dengan sehat dan secantik ini!” ujarnya meraih kedua
tanganku.
“kamu
apa-apaan sih, di depan banyak orang seperti ini, aku juga baru aja datang!”
tambahku.
“aku
akan lebih malu jika kamu menolakku di sini!.
“iya
tapikan…!” ucapku terhenti saat Rendi mengatakan seuatu yang membuatku
tercengang.
“ayo
kita menikah !” ujarnya menyematkan sebuah cincin di jariku, aku tidak bisa
bergerak saat itu. Semua perasaaan bercampur menjadi satu.
“maaf
membuatmu terkejut, tapi aku serius, aku bahkan takut kau menolakku di depan
mereka!” jelas Rendi menurunkan wajahnya.
“aku
benar-benar ingin kalian menikah segera, aku sangat senang jika kamu menjadi
menantu di keluarga kami!” sahut ibu Rendi mendekatiku, meraih tanganku dari
genggaman Rendi.
“bukannya
aku menolak Bu, tetapi aku hanya terkejut karena semuanya tiba-tiba seperti
ini” jelasku kembali menatap Rendi.
“jangan
terlalu lama deh, kalian nikah segera aja” ujar Gea mendorong tubuhku lebih
dekat dengan Rendi. Aku menatapnya.
“aku
tidak mungkin menolak, tetapi …?” belum sempat melanjutkan ucapanku, Rendi
memelukku.
“terima
kasih untuk kembali lagi, izinkan aku menjagamu, izinkan aku masuk ke
kehidupanmu mulai saat ini” ujarnya membuat perasaanku semakin besar.
Masuk
ke dalam kehidupan seseorang berarti harus berani untuk bertanggungjawab untuk
kehidupan orang lain. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa dan
seterusnya. Hanya perlu mengikuti arah dan berusaha memperbaiki arah menuju
jalan yang lebih baik. Ketika cinta menjadi jalan untuk bisa bahagia, maka
hargailah hubungan yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar