Minggu, 14 Januari 2018

DAN INI BERMULA



1.   Dan ini bermula…?
Kadang seorang penulis harus menghadapi masa-masa sulitnya sendiri, ketika dia tidak memiliki ide atau memiliki ide tapi tidak tahu harus memulai dari mana, apa sesuai abjad A-Z atau tulisan itu bisa saja terbalik menjadi Z-A, tapi untukku memiliki ide yang melimpah saat ini adalah masa kejayaanku, hanya berawal dari coretan di blog, di baca oleh ribuan orang, mendapatkan like yang memuaskan, komentar dan bahkan mendapatkan penggemar di dunia maya. dan saat itu juga aku aktif menulis cerpen dan novel di blog dan selama tiga tahun itu juga sebuah perusaahan penerbit tertarik dengan tulisanku dan ingin menerbitkannya. Tidak pernah aku bayangkan cerita yang berbentuk novel misteri itu begitu di minati oleh banyak orang, novel yang awalnya hanya di buat sebanyak 25 copi kini di tambah hingga ratusan copi. Itulah awal kesuksesanku di umur belasan ini. Ribuan tepuk tangan menyambut langkahku dan ucapan selamat menyapaku, kiriman bunga yang begitu indah.
Tapi…………………………………………………???
“oiiii……senyum-senyum sendiri?” pukulan kecil di bahu membuyarkan lamunanku.
“aku belum selesai, perutku masih kosong” aku menarik tangan Gea duduk di sampingku.
“Han, malam ini nginap di rumah kamu yah?” Gea melingkarkan tangannya padaku, dengan wajah manja, begitu manis, menurutku dia adalah sahabat dan satu-satunya siswa di sekolah ini yang paling cantik.
“ bagaimana kalau kita tinggal bersama, barang-barangmu, semuanya bawa saja kerumahku, nanti akan ku beritahu tante Maya kalau anaknya ini akan pindah bersamaku”
“hmmmm….benarkah? aku mau..” Gea berdiri menarik tanganku menuju kelas.
Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan bagi usia remaja sepertiku, sekarang aku duduk di kelas dua SMA, seperti siswa-siswa yang lainnya yang ingin belajar, menikmati kebersamaan bersama teman-teman, dan merasakan yang namanya jatuh cinta, tapi bagiku semua itu hanya khalayan, aku hanya memiliki beberapa teman yang sama dengan hobiku, gila belajar, jika yang lain sedang nongkrong di kantin, aku menghabiskan jam istirahatku di perpustakaan, jika itu di lapangan menonton dan menyoraki para pemain basket, aku juga ada di sana, tetapi dengan jarak 15 meter, aku duduk di bawa pohon mendengarkan musik dan mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya aku kerjakan di rumah, tidak seperti sebagian teman-temannya, sepulang sekolah mereka bisa tidur, jalan-jalan, bermain game, bercanda ria dengan kedua orang tuanya, itu tidak bagiku, waktu yang aku habiskan hanya bekerja. Aku cukup berbangga diri, meski kurang bergaul di sekolah setidaknya aku memiliki banyak teman di tempat kerjaku.
Bekerja di usia seperti ini adalah hal yang harus aku lakukan, karena aku adalah seorang anak yatim piatu, tidak satupun teman-temanku yang tahu, ayah yang menjagaku saat usiaku berumur 8 tahun meninggal karena gagal ginjal, sedangkan ibuku pergi meninggalkan aku di saat berumur enam tahun dan Fatan saat itu berumur lima tahun. Ibuku pergi karena ia tidak tahan dan menyesal menikah dengan ayahku, saat itu ibu masih cukup muda baru berumur 18 tahun saat menikah dan selama tiga tahun menikah, aku dan Fatan terlahir dan ibu yang kelelahan menjaga kami disela-sela kuliahnya, akhirnya tidak tahan dan pergi. Hanya Ayahku yang menjaga kami sampai berumur delapan tahun, di situlah aku dan Fatan menjadi yatim piatu, Ayah pergi meninggalkan warisan rumah kecil miliknya kepada kami berdua.
 aku dan adikku akhirnya tinggal bersama dengan keluarga Gea yang sangat baik kepada kami berdua, tante Maya menjual rumah kami, waktu itu aku belum mengerti apa-apa dan hanya ikut dengan tante Maya meskipun mereka bukan keluarga kandung, tetapi Tante Maya adalah teman ayah sejak kecil, Tante Maya juga hidup dengan penghasilan yang cukup karena Tante Maya bekerja sebagai pegawai negeri dan ia hidup berdua dengan Gea tanpa Ayah, dan itulah yang membuat kami begitu dekat. Di sekolah Tante Maya sebagai wali sahku dan siswa lainnya menganggap aku dan Gea saudara.
Aku begitu beruntung di usia 16 tahun aku mulai menulis dan novelku diterbitkan dan mendapatkan penghasilan yang lumayan yang kugunakan untuk menyewa rumah berukuran kecil cukup untuk aku dan Fatan adikku, awalnya tante Maya tidak ingin aku pindah dan tetap tinggal dengan mereka tetapi aku tetap bersikeras dan berbagai alasan untuk belajar hidup sendiri, dan saat itu juga tante Maya tidak bisa mencegahku dan mengusulkanku untuk tidak mencari tempat sewa, tetapi dia membawaku melihat rumah yang ternyata sudah menjadi milikku, tante Maya beberapa hari ini memang terlihat sibuk mencari sebuah rumah yang dibelinya dari hasil penjualaan rumah Ayah yang di simpannya untukku.
Saat usiaku 17 tahun aku bekerja sebagai copy editor di perusahaan penerbit, dan asisten senior editor yang membantu pekerjaan kak Dian, aku kenal dengan kak Dian saat dia yang pertama kali menawari novelku di terbitkan, karena sering bertemu dengan kak Dian aku banyak belajar darinya tentang menulis, karena usiaku yang masih sekolah akhirnya aku di ajak bekerja bersamanya saat pulang sekolah saja. Kak Dian seperti kakak bagiku, dia sangat baik, dan cantik. Selain  senior editor kak Dian juga seorang penulis naskah film, sudah banyak karya-karyanya mendapatkan penghargaan di ajang perfilman Indonesia. Itu membawa keberuntungan bagiku, karena aku bisa bertemu dengan aktor dan aktris tanpa harus mengantri, dan berdesakan. Jika ada pertemuan pembacaan script film aku pasti akan di ajak oleh kak Dian sebagai asistennya. Sangat menyenangkan bagiku saat melakukan ini semuanya.
Tapi di sekolah aku hanyalah seorang gadis pendiam, gila belajar dan suka menyendiri, yah hampir 90 % tidak ada yang mengenalku di sekolah ini, di kelasku sendiri hanya beberapa orang saja, tidak ada satupun yang tertarik dengan kehidupanku, maka dari itu aku sangat suka dengan sekolah ini, kecuali kamu adalah siswa yang berbeda, maksudku siswa yang sering terlihat di ruang BK, siswa yang cukup popular, cantik dan ganteng, dan siswa yang mendapatkan peringkat pertama di antara semua siswa di sekolah, sedangkan aku saja yang sudah bersahabat dengan buku, belum mampu menyamakan kepintaran si peringkat pertama dia adalah Zen, cowok Indonesia- Cina, ada Tatiana cewek popular yang orang tuanya adalah keluarga pejabat , dan Rian cowok yang bahkan sama sekali tidak pernah tertarik dengan pelajaran, kebiasaannya suka membuat masalah, bolos sekolah dan setahun harus mengulang karena ia pernah cuti sekolah, bagi Rian sekolah adalah taman bermain baginya, bahkan guru-guru sudah menyerah menghadapinya, karena Rian adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini, dia bisa bertindak seenaknya.
Ketika aku menceritakan semua itu, aku harap mereka semua tidak ada hubungannya denganku, yang aku lakukan hanya ingin belajar, agar bisa lulus dan melanjutkan kuliahku di luar negeri, itulah ada impian terbesarku. hari ini adalah hari yang paling aku tunggu, karena Fatan sudah akan kembali dari Korea Selatan, sekolah kami setiap tahun mengadakan pertukaran pelajar selama dua bulan, dan Fatan yang terpilih, mewakili sekolah kami karena kemampuannya yang di bidang sains, tidak bisa di pungkiri Fatan lebih pintar dariku, karena hanya ada kami berdua aku dan Fatan saling menyayangi, aku dan Fatan beda setahun dan dia duduk di kelas 1 SMA, dan kami selalu bersama. Selain pintar, Fatan cukup popular di sekolah, mungkin karena dia mirip dengan Ayah, jadi kegantengannya melekat pada Fatan.
Jam istirahat tiba, Fatan yang tidak sempat bertemu denganku saat tiba tadi malam, menghampiriku, membawakan vitamin yang sering kali membuatku lupa meminumnya.
“kamu kok gendutan sih?” Tanya Fatan menghampiriku.”selama aku nggak ada, kamu pasti makan saat mau tidur yah?”. Ujarnya memberikan vitaminnya dan memaksakan masuk ke mulutku. “Korea lagi musim dingin yah, wajahmu berubah seputih ini”. Menyentuh pipi Fatan adalah kebiasaan wajib yang aku lakukan.” Kalau aku punya uang banyak, aku akan membeli rumah di sana dan menetap” kataku begitu yakin, Fatan hanya mengelengkan kepala melihatku.
“gimana pekerjaan kakak? Apa sebaiknya kakak berhenti aja, lagi pula tabungan kakak pasti udah cukup kok, lagi pula kita berdua juga dapat beasiswa, kita juga udah hidup terpisah dari Tante Maya jadi kakak jaga kesehatan, liat deh muka kamu udah tua sebelum waktunya “ ucapnya sembari mengejekku, Fatan selalu mengatakan hal ini kepadaku untuk berhenti atau mencari pekerjaan lain, seperti Fatan ia juga bekerja di sebuah café sebagai pelayan.
“hidup ini mahal Fat, kamu liat deh mereka” kataku menunjuk siswa-siswa yang sedang bermain dan bercanda.” Hidup mereka nggak sama dengan kita, mereka punya orang tua yang membiayai sedangkan kita sejak kecil harus belajar untuk hidup, dan sudah cukup bagi kita membuat tante Maya kesusahan, sekarang ini Tante lagi sakit jadi nggak mungkin kita berdua bergantung dengan mereka” jelasku, Fatan cukup bisa mengerti dengan kata-kataku, setidaknya dia adalah keluarga satu-satunya yang aku miliki. Tiba-tiba dari belakang Gea mengagetkan kami berdua.
“kalian lagi ngomongin apa sih?” tanyanya duduk ditengah-tengah “kamu kapan baliknya?” lanjutnya menjitak kepala Fatan, cukup keras hingga membuat Fatan membalasnya dengan cubikan di lengannya. “ngomongin kamu….” Tambah Fatan. “oleh-oleh aku mana?”. “nggak ada oleh-oleh buat kamu”, ujarnya meninggalkan kami berdua
“Ge, Tante Maya udah sehat? Maafin aku yah! Akhir-akhir ini kak Dian ngasih Jobnya banyak banget, jadi nggak sempat nengokin mama kamu” ucapku.
“mama udah baik kok, dia juga ngerti, malah kemarin dia maksa nggak kasih tahu ke kamu, kalau di sakit”jelas Gea “sepulang sekolah kamu ngapain?”.
“hari ini nggak sibuk banget, Cuma mau ngantarin naskah ke kak Dian, hari ini sama besok aku di suruh libur, nemenin Fatan ke toko buku, terus besok aku mau ke taman hiburan sama Fatan!! Kamu ikut yah?” ajakku.
“Nggak bisa, besok mama mau ke Manado, dan aku harus nemenin mama kesana” ujarnya sedikit kecewa karena baru kali ini kami bertiga tidak bersama-sama.
“Nah, lihat deh Han, Guru Matematika baru di sekolah kita, masih muda, dan tampan” tunjuk Gea, sekilas aku melihatnya tapi itu tidak membuatku tertarik sama sekali, karena matematika adalah satu-satunya pelajaran yang paling kubenci. Membaca berulang kali bahkan sampai mataku seperti panda, rumus geometri, penalaran, himpunan, pencacahan dan bangun ruang, itu adalah kata-kata yang bisa membuat otakku mengalami penuruan drastis.
“Terus, Pak Kiwil yang biasa ngajar kita kemana?” tanyaku memperhatikan kerumunan siswa yang mencoba untuk melihat lebih dekat guru itu, harus aku dia memang guru tampan, dengan perawakan yang tegas, tubuh yang sempurna tidak heran, cewek-cewek di sekolah ini heboh membicarakannya. “kamu dengar nggak sih Ge, aku lagi nanya” ujarku menjewer kuping Gea.
“Pak Kiwil lagi keluar kota, nyelesain gelar Doktornya, untuk sementara dia yang akan ngajar kita, dan jadi wali kelas kita, hebat nggak tuh Han, sekali lempar dua burung yang kena” ucapnya ngawur.
“Nunjuk guru pengganti kok kayak dia, kamu dan siswa yang lain nggak konsen belajarnya” ucapku, kurang senang dengan kehadiran guru baru, Pak Kiwil saja sering membuatku harus mengulang beberapa kali dan kali ini, dunia seperti neraka bagiku.
“Mau gimana lagi, katanya dia keponakannya Pak Kiwil, mahasiswa semester tujuh dan memiliki banyak prestasi….” Potongnya setelah aku membereskan buku-bukuku meninggalkan Gea yang kesal kemudian, karena aku tidak mendengarkannya.
2. Matematika go to Hell
Hari minggu, inikah rasanya libur di hari minggu, rasanya letihku menghilang begitu saja, meski hanya taman hiburan yang tidak terlalu jauh dari rumah, aku tetap senang bisa merasakan liburan sehariku ini, setelah puas bermain-main dengan berbagai wahana, sambil berjalan mengandeng tangan Fatan, menikmati es kream di hari yang panas ini cukup pas bagi kami. Untung saja Gea tidak ada, jika dia ada pasti akan membuatku berkeliling tanpa lelah, dan dia akan melepaskan tanganku dari Fatan, kebiasaanku mengandeng tangan Fatan adalah hal yang tidak di sukai oleh Gea, menurutnya itu terlalu lucu jika seusia kami melakukannya sebagai saudara, bahkan ketika aku ketakutan saat tidur Fatan akan menemaniku, hampir setiap malam aku merasa ketakutan akan mimpiku.
“Fat, aku dengar dari Gea, kemarin kamu di tembak sama cewek yah?” tanyaku penasaran.
“iya…” singkatnya.
“kamu terima?” ucapku
“nggak lah, aku nggak mau pacaran dulu sebelum kakak juga punya pacar”ucapnya
“yah....nggak usah alasan pake aku deh, karena sibuk kerja !! rasain jatuh cinta itu sindromnya gimana?” ujarku sambil memikirkan sesuatu. “eitss mikirin pacaran di usia gini, belajar dulu” tegasku.
“Habis ini kita nonton yah, aku yang traktir ada film baru di bioskop, aku udah beli tiketnya” usul Fatan, meski awalnya aku tidak ingin, tetapi karena Fatan sudah terlanjur membeli tiketnya, mau tidak mau aku harus ikut masuk ke gedung bioskop. Begitu masuk ternyata film yang ingin di tonton Fatan adalah film misteri, aku juga tidak terlalu suka hal yang seperti ini, sepanjang film di putar aku hanya menutup mataku, tidak sabar menunggu filmnya selesai,
“Fatan, kamu kok nggak bilang kalau filmnya kayak gini ?” ucapku kesal setelah keluar dari bioskop.
“aku juga nggak tahu kalau filmnya bisa seseram ini,” bantahnya menahan sakit pukulanku.”Iya maaf, nanti malam aku temani kamu tidur…dasar penakut “ ujarnya sambil berjalan menuju ke tempat parkir. Menikmati udara malam sambil mengendarai motor adalah sesuatu yang sangat menyenangkan karena aku bisa teriak semauku.
Hari senin, adalah hari yang harus membuat semua siswa bangun lebih cepat, karena jika terlambat satu menit saja maka siswa yang melanggar untuk ikut ucapara bendera akan di hukum di barisan siswa pelanggar, dan untung saja aku belum pernah merasakan hal seperti itu.di tambah lagi hari ini , matematika di jam terakhir benar-benar membuatku ngantuk. Tetapi tidak dengan teman-temanku, mereka begitu semangat menyambut Guru penganti Pak Kiwil.
“selamat siang…” sapanya sambil masuk ke kelas. Seketika siswa-siswa yang tadinya berisik menjadi tenang sembari berbisik mengagumi. “kalian sudah pasti dengar, tentang saya yang sementara ini akan mengambil mata pelajaran Pak Kiwil, jadi perkenalkan kembali, saya Rendi, karena ini sekolah baiknya,! kalian semua panggi Pak yah,” ucapnya begitu jelas. “jadi di luar sekolah bisa manggil Kak Rendi ?” sahut Isha, salah satu cewek paling centil di kelas. Selama dua jam berhadapan dengan pelajaran ini, membuatku sedikit berusaha, meski hanya mengerti sedikit dan coretan-coretan yang tidak di jelas di buku catatanku, tetapi setidaknya aku sudah berusaha untuk mendengarkan dengan baik. Usai pelajaran selesai dan waktu pulang sekolah sambil menunggu Fatan keluar dari kelasnya, aku masih berdiam di kelas, melingkari pelajaran yang tidak aku mengerti, akan menjadi tugas Fatan untuk mengajariku pelajaran ini.
“kamu kok belum pulang?” ujar Pak Rendi sejak tadi masih di kelas, mencocokkan pelajaran akan di ajarkannya besok.
“lagi nunggu teman Pak” ujarku memasukkan semua buku kedalam tas, kemudian pergi, tidak lama setelah itu Fatan sudah keluar kelas. “kamu kok lama?” tanyaku. “tadi ulangan, oh iya kamu mau langsung pulang atau ke tempat kerja?”. “ke tempat kerja sih, hari ini aku di suruh Kak Dian temuin dia di kampus”. Lanjutku  mengeluarkan beberapa pakaian dalam tas.
“kok kampus?”.
“Kak Dian di undang untuk jadi pembicara di sana…kamu tunggu di sini bentar yah, aku ke wc dulu ganti pakaian” ucapku berlari kembali masuk ke sekolah.
Sebuah kebanggan bagiku bisa melangkahkan kaki ke kampus yang cukup terkenal hebat, UGM memiliki kampus yang sangat luas, dan itu membuatku harus bertanya ke sana kemari mencari aula seminar tempat kak Dian menunggu, begitu semangatnya bisa melihat mahasiswa yang mencari ilmu di sini, terkadang aku juga berkhayal untuk cepat-cepat lulus sekolah dan masuk kuliah merasakan seperti mereka. Karena sudah cukup terlambat, aku berlari menaiki tangga, dan tanpa sengaja menabrak seseorang, “Maaf…Maaf yah” kataku mengambil beberapa kertas yang terjatuh di lantai tangga, “aku lagi buru-buru, jadi nggak hati-hati, sekali lagi maaf” ucapku lagi memberikan kertas miliknya dan pergi, sementara itu Kak Dian sudah menunggu sejak tadi.
“kamu kenapa lama?? Laptopnya kamu bawa?” Tanya kak Dian tanpa menjawab pertanyaannya, aku sudah menyiapkan materi seminarnya dan dia tinggal menyajikannya di depan ribuan mahasiswa yang hadir hanya untuk mengikuti kuliah umum yang akan di bawakan oleh seorang penulis terkenal, berbakat dan cantik seperti kak Dian. Usai seminar sambil menunggu kak Dian memberikan tanda tangan kepada para mahasiswa, aku hanya duduk menyaksikan kerumunan mahasiswa yang berebut tanda tangan, membayangkan suatu saat aku juga akan menjadi seperti kak Dian suatu hari nanti.
“kamu ngapain di sini?” ucapnya membuyarkan lamunanku, memperhatikan seseorang tidak begitu aku kenal dan menyapaku tiba-tiba.” Ah…yang tadi nabrak di tangga”” ucapku meski tidak jelas melihat wajahnya saat itu, tetapi aku ingat dengan pakaian dan kacamata yang di pakainya, yang membuatku lebih terkejut lagi adalah ketika dia membuka kacamatanya.
“Pak Rendi…?” ujarku langsung berdiri. “Oh jadi Bapak kuliah di sini yah?” kataku meminta maaf atas kejadian tadi. “Ini lagi ikut….?” Belum sempat melanjutkan ucapakanku, Kak Dian sudah selesai dan menghampiriku. “Han, kita balik ke kantor dulu, setelah itu kamu ikut aku ke lokasi syuting” perintah Kak Dian. “aku pergi dulu yak Pak, sampai ketemu besok di sekolah!!” ujarku setelah pamit dengan Pak Rendi yang terlihat bingung.
“pacar kamu yah?” Tanya kak Dian.
“Nggak Kak, dia itu guru pengganti di sekolah aku” jawabku singkat.
“kamu udah buka email? Kemarin ada dua naskah novel yang di kirim, kamu bisa ngerjainnya dua bulan ini?”. Tanyanya, sambil menungguku berpikir. “kalau kamu banyak tugas sekolah, kamu kerjain satu dulu” lanjutnya.
“Bisa kok kak, “ kataku menerima dengan semangat pekerjaan yang diberikan kak Dian padaku, semakin banyak novel yang aku harus editing, semakin besar juga penghasilan yang akan aku terima.
“beneran nggak apa-apa? Tahu nggak, selama kamu ada, pekerjaan aku jadi ringan semuanya. Kamu masih muda dengan semangat tinggi loh Han “ pujinya, kata-kata itu seakan membuatku lebih semangat lagi.
Pukul sembilan malam, setelah menemani kak Dian, dan mampir ke kantor dengan wajah lelah dan mengantuk aku segera pulang di antar oleh mobil perusahaan. Meski belum terlalu larut bahkan ketika aku pulang lebih lama dari biasanya, Fatan dengan buku-bukunya sudah selalu menungguku. “kamu udah makan?” tanyaku meletakkan beberapa makanan yang aku beli saat perjalanan pulang. “udah” masih sibuk dengan coretannya. “mie nggak bikin kenyang tau, kita makan bareng yah” paksaku sambil menyuapinya.
Keesokannya di sekolah masih dengan suasana yang sama, meski dengan cerita yang berbeda, dan di tambah lagi hari ini ujian dadakan yang di berikan Pak Rendi, membuatku ingin mati rasa, selama ini Gea yang selalu membantuku mengerjakan soal-soalnya, tetapi hari ini karena soal yang diberikan berbeda dan secara acak membuat semua siswa mengeluh., selama satu jam lebih soal-soal ini terus mengejekku, sisa waktunya 30 menit lagi dan bahkan aku belum menjawab soal satupun, dengan terpaksa aku menjawab seadanya, aku tahu kali ini nilaiku pasti lebih buruk, saat seperti ini aku merindukan Pak Kiwil, ketika kami ulangan seperti ini, dia hanya duduk diam di kursinya sekali-kali mengejar tatapan para siswa yang curang dan aku pasti mendapatkan nilai standar.
“Gimana ulangannya, pasti hancur bangetkan?” ujar Gea menghampiri.
“hmm…kali ini parah banget Ge…!” ucapku, Gea hanya menepuk bahuku.
“bisa nggak sih matematika di hilangin aja dari dunia ini” tuturku menghentikan jari-jariku yang sedang dan menghilangkan fokusku memperhatikan kata perkata novel yang sedang ku editing.
“kali ini kamu ngerjain novelnya siapa sih”. Gea mengeser laptopku ke hadapannya.
“ini kan novel yang di tulis oleh Mbak Asma Tatia, penulis yang karya-karyanya banyak di filmkan itu” ujar Gea begitu senang, aku langsung menutup laptopku menjaga kerahasian karya seorang penulis sebelum di terbitkan adalah hal yang paling utama oleh seorang editor, setidaknya itu adalah hal paling aku ingat saat kak Dian menyuruhku menjadi asisten paruh waktunya. Proses editing yang sering di lakukan oleh editor adalah hal yang paling penting, jeli melihat kata perkata yang di tulis oleh penulis, dan ketika ada kata-kata yang kurang atau yang tidak pantas maka aku melaporkannya kepada kak Dian, setelah proses editing kak Dian selalu memeriksa pekerjaanku, dan namaku akan di tulis di bagian halaman sampul novel, aku tidak begitu ingat sudah berapa banyak namaku berada di buku-buku, yang aku ingat adalah kesenanganku saat mengerjakannya. Karena waktu yang aku punya hanya untuk ini, maka dari itu aku sudah jarang menulis, terakhir novel yang di terbitkan satu tahun yang lalu cukup membuatku mengenal dunia menulis, mengenal kak Dian dan bisa bekerja paruh waktu dengannya.
“Han..kamu di panggil Pak Rendi ke kantor, cepetan” teriak Gino
“pasti nilai kamu deh” tebak Gea, mungkin yang dikatakannya benar, sebelum masuk ke ruang guru, aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu, Pak Rendi sudah menungguku di mejanya yang penuh dengan hasil ulangan matematika, seperti yang aku pikirkan, kertasku berada di tempat yang istimewa, di tangan Pak Rendi dan angka dua terlihat begitu jelas di kertasku.
“aku dengar dari pak Kiwil, kamu satu-satunya siswa yang tidak begitu tertarik dengan Matematika” tutur Pak Rendi menyerahkan hasil ulanganku. “apa matematika sesulit itu?” tanyanya menatapku. Wajahnya begitu serius, dan dia sangat berbeda saat tanpa sengaja bertemu di kampusnya, terlihat alami layaknya seperti mahasiswa umumnya, menggunakan kacamata dengan rambut agak berantakan, menggunakan kaos yang dipadukan dengan kemeja mungkin karena di ingin terlihat seperti guru yang ingin di hormati makanya penampilan benar-benar berubah saat di sekolah.
“kenapa diam? Dari semua mata pelajaran nilai kamu baik-baik saja, “ ucapnya dan aku tidak tahu harus menjawab apa selain diam dan mendengarkan. “mulai besok kamu ikut kelas tambahan”. Ujarnya membuatku terkejut.
“kelas tambahan itu jadwalnya pulang sekolah kan pak?”.
“iya..kenapa?”.
“kalau pulang sekolah aku nggak bisa pak…!”.
“kenapa nggak bisa? siswa yang lain juga nggak protes, lagi pula ini hanya tiga jam, ini kesepakatan dari semua guru”. Tutur Pak Rendi. “kamu kembali ke kelas” menyuruhku pergi. Aku tidak harus berbuat apa, kelas tambahan ? kenapa juga ada kelas tambahan. Dengan langkah yang terus mengerutu aku masuk ke kelas.
“Terus gimana dong, kalau kamu bolos bisa-bisa kamu dapat teguran “ ujar Gea setelah mendengar keluh kesahku. Aku hanya bisa memegangi kepalaku, di saat seperti ini aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak mungkin aku berhenti kerja hanya mengikuti kelas tambahan itu, sedangkan aku bekerja dengan kak Dian enam jam sehari, belum lagi aku harus menyelesaikan naskah-naskah novel itu.
Pulang sekolah aku memutuskan untuk menunggu pak Rendi meminta sedikit keringanan padanya, dan tidak lama Pak Rendi melangkah menuju ke mobilnya, aku berlari menghampirinya dan Fatan menungguku tidak jauh.
“Pak...Pak…” panggilku sembari mengatur nafasku.
“Untuk kelas tambahannya, aku nggak bisa ikut pak!” tuturku membuat Pak Rendi menutup kembali mobilnya, menatapku dengan tatapan penuh tanya. Melihat ekspresinya yang tidak begitu senang. “ sejam aja pak, ah setengah jam maksudku” kataku terus menyakinkan.
“siapa dia?” tunjukknya melihat Fatan yang memperhatikan kami dari kejauhan
“ Dia Fatan Pak…!!”.
“kalian tinggal bersama?” tanyanya.
“Iya pak…kami tinggal bersama !! gimana pak? “ lanjutku menunggu pendapat yang aku tawarkan kepada Pak Rendi.
“Nggak…nilai kamu harus di perbaiki Hana, bukan hanya kamu kok, banyak siswa yang juga ikut kelas tambahan ini, pokoknya saya nggak terima alasan apapun dan juga…kamu itu masih sekolah Hana jangan menyiakan sekolahmu yang bisa merusak depanmu “ ujarnya menasehatiku sebelum pergi, tak ada yang bisa aku katakan lagi dan hanya bisa melihat Pak Rendi pergi.
“Tuhkan !! kamu sebaiknya berhenti kerja deh” ujar Fatan melihatku begitu kesal dan terus mengomel.
“Nggak mungkin, mending aku berhenti sekolah daripada ninggalin kerjaan ini”tuturku.
Sesampainya di kantor aku masih terus memikirkan kelas tambahan itu, membuat waktuku terbuang sia-sia, kerjaan yang seharusnya bisa kulakukan lebih banyak berkurang gara-gara tidak fokus mengerjakan editing.
“kamu sakit Han…?” tanya Bu Ratna dia adalah ketua chief editor.
“jangan-jangan Dian ngasih kamu kerjaan yang sulit yah, !” lanjut Bu Ratna menghampiriku.
“Nggak kok Bu…!!” bantahku, karena semua itu tidak ada hubungannya.
“kalau kamu sakit, kamu pulang aja Han…” sahut kak Dian yang tiba-tiba muncul membawakanku secangkir kopi.
“Nggak kok, sumpah..!! tapi benar nih aku bisa pulang lebih cepat, soalnya aku mau ketemu sama guru matematika aku” jelasku berdiri dan senang saat kak Dian memperbolehkan aku pulang lebih cepat.
Meski sudah malam dan waktu menunjukkan pukul tujuh tidak membuat tekadku untuk mencari alamat pak Rendi yang aku dapatkan dari usahaku menghubungi Pak Kiwil dan menanyakan alamat Pak Rendi dengan alasan aku ingin bertemu dengannya karena ingin belajar, hanya beberapa menit saja aku mendapatkan sms alamat Pak Rendi, dan beruntungnya taksi yang aku tumpangi sangat kenal dengan alamat itu, karena ia juga tinggal di daerah sana, hanya butuh waktu 20 menit aku sudah berdiri di hadapan rumah Pak Rendi. Rumah yang cukup mewah, tidak begitu besar maupun kecil, terlihat sederhana tetapi juga terlihat mewah, bukan waktunya untuk menilai rumah orang. Setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya dari kejauhan seseorang membuka pintu, menghampiriku yang berdiri di depan gerbang.
“cari siapa Nak” tanyanya, membukakan gerbang, bapak itu kelihatan sangat baik dan ramah, dia pasti ayahnya Pak Rendi. “siapa yang datang sih” teriak seseorang lagi, seorang wanita paruh baya dan saya bisa menebak mereka berdua pasti orang tuanya.
“Pak Rendinya ada Om!?” kataku berusaha sopan, dan mengikutinya masuk ke dalam.
“kamu bukan temannya Refan??”
“bukan Tante, aku siswanya Pak Rendi”jelasku singkat, mereka berdua saling bertatapan kemudian ibu itu memanggil Pak Rendi di kamarnya yang berada di lantai dua.
“kamu kelas berapa?”.tanyanya, setelah berkenalan dengan ayah Pak Rendi kami mengobrol sambil menunggu pak Rendi turun.
“kelas dua Om!” singkatku.
“adik Rendi…Refan juga kelas dua” ujarnya, aku hanya mengangguk mendengarkan Ayah Pak Rendi yang sangat baik, jadi aku tidak begitu canggung untuk berbicara kepadanya.
Tidak lama kemudian Pak Rendi turun, sepertinya dia baru saja mandi, rambutnya masih basah. Kedua orang tua Pak Rendi meninggalkan kami berdua di ruang tamu.
“sejak kapan, seorang siswa datang kerumah gurunya apalagi malam-malam begini” tegasnya
“saya mohon pak, beri keringanan waktu untuk ikut mengikuti les tambahan” kataku kembali memohon.
“kamu datang, Cuma mau bilang itu!!” ujar pak Rendi.
“kalau begitu begini saja pak, gimana kalau aku les di luar aja, jadi aku tidak usah ikut kelas tambahan ini…” kataku kembali masih berusaha sebisa mungkin memberikan solusi.
“alasannya apa coba?, kamu nggak mau ikut kelas ini karena bisa menganggu aktifitas kamu??”.ucapnya begitu mempertahankan ketegasannya.
“Iya Pak…” kataku sambil menunduk.
“orang tua kamu sibuk? Terus kamu bebas ngapain aja,!! Han..asal kamu tahu yah, kemarin di bioskop kamu jalan sama siswa kelas satu yang bernama Fatan, dan aku ngeliat kamu dan mendengarkan pembicaraan kalian, dan setiap pulang sekolah kalian berdua selalu sama-sama” tutur Pak Rendi, mendengarnya ucapannya membuatku sulit untuk menjelaskan, sekarang aku mengerti maksud pak Rendi, dia mengira aku sibuk dengan dunia remajaku, berpacaran dan bersenang-senang.
“kayaknya bapak salah paham deh, bukan alasan itu Pak tapi…..” ujarku berhenti setelah Pak Rendi menyuruhku pergi sehingga aku tidak bisa menjelaskan kesalahpahaman seperti yang dipikirkan Pak Rendi.
Setiba di rumah, aku langsung melempar tasku kemudian tubuhku di tempat tidur, Fatan yang begitu terkejut melihatku pertama kali kesal dan marah-marah setiba dirumah, dia menghampiriku.
“kamu kenapa sih? Tumben pulangnya secepat ini?? Jangan-jangan kamu udah berhenti kerja !!”. ujar Fatan.
“kamu tahu pak Rendi guru pengganti sekaligus menjadi wali sementara di kelasku, dia nyebelin banget tahu nggak, dia mengira aku dan kamu pacaran dan cewek nggak baik-baik…di bioskop kemarin..dia….ahhhhhh” teriakku menarik selimut menutupi seluruh badanku, Fatan membiarkanku sendiri dengan kekesalanku.
Menunggu hari esok, adalah waktu yang ingin aku percepat, besok aku harus menemui Pak Rendi dan menjelaskan semua yang tidak di ketahuinya. Seandainya saja dia bukan guru pengganti, mungkin saja aku sudah memarahinya habis-habisan.
Esoknya pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke sekolah, tidak sabar rasanya ingin menemuinya dan menjelaskan apa yang terjadi, tetapi hari ini dia tidak datang ke sekolah, aku lupa hari ini tidak ada pelajaran matematika, dan setelah memastikan jadwal kelas tambahan yang juga hari ini dia juga tidak datang, untuk itu aku memutuskan untuk mendatanginya langsung di kampus. Baru melangkah masuk saja, kakiku sudah gemetaran, karena tidak berpikir panjang sebelum bertindak, inilah kebodohanku karena tidak sabaran. Bagaimana aku bisa menemukan dia di kampus sebesar ini, sekolah sama dunia kampus itu beda jauh. Selama beberapa jam mencari ruang informasi, dan bertanya terus menerus aku belum bisa menemukan orang yang bernama Rendi. Aku begitu lelah hari ini, menghabiskan waktu untuk mencari Pak Rendi, berpikir untuk mendatangi rumahnya , mungkin tidak lagi.
Dan hari ini aku harus izin kerja dari Kak Dian hanya untuk mencarinya, tetapi tetap saja hasilnya nihil, aku melangkah dengan penuh kekecewaan, kakiku terasa berat dan sakit setelah berjalan ke sana kemari. Akhirnya kakiku berhenti mengayun, tercium bau makanan yang membuatku ingat, perutku belum pernah di berikan makanan seharian ini. Tanpa berpikir apa-apa aku masuk keruangan itu, dan ternyata di sini sungguh luar biasa, kampus sebesar ini dengan tempat makan seluas ini dan bisa memilih sesuai yang kita sukai, karena tidak ada yang mengenaliku di sini, aku bisa kemana saja mengelilingi kampus ini, kekesalanku sejenak hilang dengan mencium dan melepaskan rasa laparku dengan menikmati makananku dengan santai.
dari kejauhan, mataku yang sejak tadi menerawang akhrinya berhenti setelah melihat seseorang yang begitu mirip dengan Pak Rendi, aku memperhatikan terus menerus memastikan apakah dia benar orang yang aku cari, setelah yakin karena begitu senangnya, tanpa sadar aku naik kemeja makan sambil berteriak memanggilnya.
“dia siapa sih?” sahut seseorang yang lewat berhenti memperhatikanku.
“kamu gila yah!!” tambah seseorang lagi, aku langsung turun, setelah melihat orang-orang ini pandangannya teralihkan kepadaku, begitu Pak Rendi melihatku.
“Dia siapa sih Ren…??”. Tanya seseorang yang duduk dekat dengan Pak Rendi, yang kemudian menghampiriku.
“kamu ngapain sih di sini,? Ayo kita bicara di luar” ajak Pak Rendi kesal, aku hanya mengikuti langkahnya, menuju ke tempat parkir dan menyuruhku masuk ke mobil.
‘kamu itu punya malu nggak sih, teriak kayak tadi bikin malu, di lihat sama teman-teman aku”. Bentak Pak Rendi, melaju keluar kampus dan entah kemana dia akan membawaku pergi.
“aku mau jelasin sesuatu Pak, aku mau jelasin tentang kata-kata Bapak yang kemarin  malam itu.” ujarku, tetapi Pak Rendi hanya diam berusaha menahan kemarahannya. Beberapa menit menyuruhku untuk diam dan Pak Rendi menghentikan mobilnya di dekat taman.
“oke kamu jelasin apa?” Pak Rendi kemudian turun dari mobilnya, dan aku berlari mengikutinya mencari tempat duduk .
“kemarin itu di bioskop, Bapak salah paham” kataku sedikit bingung ingin menjelaskannya seperti apa.
“Salah paham?? Hana kalian itu masih SMA, mendengar kalian mengatakan kalau ingin tidur bersama, itu anehkan, Han, kamu ini siswa saya, meski hanya sementara tapi kamu jadi tanggung jawab saya setelah orang tua kamu “ jelasnya.
“aku nggak punya orang tua pak, aku yatim piatu sejak umur delapan tahun” ujarku menunduk, berdiri tepat di hadapannya, mendengar itu pak Rendi diam beberapa saat.
“maaf Han, saya…”. “Fatan itu adikku, keluarga satu-satunya yang kumiliki, kami memang begitu dekat karena sejak kecil kami tidak menerima kasih sayang orang tua, kami saling mengharapkan, tidak ingin berpisah dan saling bergantung, dan alasanku tidak ingin mengikuti kelas tambahan karena sepulang sekolah aku harus bekerja “. Jelasku pelan, terasa sesak di dada menceritakan kisahku kepada orang lain, bercampur sedih dan berubah menjadi air mata. Hari itu entah kenapa aku menceritakan semuanya, dan seperti ada beban yang berjatuhan di pundakku, semuanya terasa berbeda setelah membiarkan orang lain tahu tentang kehidupanku, sedikit lega dan terasa ringan.
“tapi kalau memang ini jalan satu-satunya, mau tidak mau aku harus berhenti sekolah atau pindah ke sekolah lain” ucapku menambahkan, kali ini ceritaku merubah wajah pak Rendi.
“Nanti aku bicarakan dengan kepala sekolah” ucapnya membuatku sedikit lega, setelah itu pak Rendi mengantarku kembali ke rumah, karena sudah hampir malam dan baru melihat hpku sejak tadi berbunyi, panggilan dari Fatan yang aku hiraukan dan dia sudah berdiri di depan pintu saat mendengar suara mobil berhenti. “kamu darimana sih? Menghilang begitu saja, hp nggak di jawab juga” ujar Fatan marah. “selamat malam Pak Rendi, aku adiknya Kak Hana, bukan pacarnya” ucapnya, pak Rendi menghampiri kami berdua dan meminta maaf kembali, dan pamit pulang.
“Bagaimana?” tanya Fatan penasaran.
“Pak Rendi akan bicara sama pak kepala sekolah dulu” kataku masuk ke rumah.
Esoknya di sekolah, aku sudah mendapat panggilan langsung dari kepala sekolah, untungnya pak Kepala Sekolah menerima alasanku untuk tidak ikut kelas tambahan mata pelajaran yang lain, karena nilaiku di setiap pelajaran cukup bagus, kecuali matematika, Pak Kepala Sekolah menyarankan Pak Rendi untuk mengajariku langsung di luar sekolah, jadi aku harus datang ke rumah pak Rendi setiap hari minggu selama lima minggu berturut-turut, belajar selama lima jam menghadapi makhluk asing yang bernama matematika.
“Ingat !! jam tujuh pagi, lewat dari itu, kamu pulang saja”. Tegas Pak Rendi masuk ke ruang guru dan aku kembali masuk ke kelas. Masalah terpecahkan dan aku seharusnya senang karena aku bisa kembali kerja tanpa harus ikut kelas tambahan, tetapi tetap saja aku harus jadwal yang sudah ditentukan, untuk datang langsung kerumahnya pada hari minggu, hari yang bisa aku habiskan bersantai dan jalan-jalan, dan sangat begitu pagi. Tidak ada jalan lain selain harus mengikuti jalan yang mudah padaku, hanya lima jam, sampai siang hari dan aku bisa pulang ke rumah mengerjakan proses editing naskah.
“gimana??” sahut Gea duduk di sampingku, aku menceritakan kembali apa yang baru saja aku dapatkan.
“bagus dong kalau gitu, kamu juga bisa datang bertemu langsung dengan Pak Rendi, tahu nggak semua cewek-cewek di sekolah ini, lagi heboh naksir sama Pak Rendi” ujar Gea.
“benarkan…?? Guru muda secakep itu datang ke sekolah, bisa-bisa merusak kosentrasi belajar siswa “ kataku menimpali.
“dia kan juga guru pengganti sementara di sini, nggak akan lama, lagipula dia juga sudah punya pacar!!”  timpal Gea sedikit kecewa. “Oh iya Han,,,besok sekolah kita mengadakan lomba menulis bebas, gimana kalau kamu aja yang ikut mewakili kelas kita”katanya menawariku ikut perlombaan.
“lombanya kan sampe sore, aku nggak bisa” tegasku.
“kalau nggak salah dengar, sekolah kita mengundang juri dari luar deh namanya Diana Febrianti, Kak Dian kan!!” Tegas Gea.
“Hummm…tetap saja aku harus ke kantor, banyak banget yang aku harus selesaikan”. Jelasku.
3. Mengerti !!!
Hari ini di sekolah seperti biasa saat jam istirahat, mungkin aku satu-satunya siswa yang selalu membawa serta laptop dan buku-buku, menuju ke perpustakaan. Hari ini agak sepi, hanya beberapa siswa yang terlihat di perpustakaan, datang untuk tidur atau untuk menyendiri. Semuanya sibuk mengikuti perlombaan sekolah jelang perayaan agustus. Aku tidak tertarik sama sekali, mungkin karena aku harus menyelesaikan naskah-naskah ini, jadi tidak ada waktu bagiku untuk mengikuti bahkan ikut bersorak jadi penonton, lagi-lagi aku membuang kesenangan yang semestinya tidak aku sia-siakan. Usai mengerjakan tugas-tugas sekolah, aku membuka laptopku dan jari-jariku siap meluncur, hanya tinggal beberapa halaman lagi agar aku bisa menyelesaikannya dan melanjutkannya dengan naskah yang kedua, naskah novel yang kedua ini bagiku cukup sulit, karena penulisnya adalah Ahmad William seorang penulis Inggris yang menulis ceritanya menggunakan Bahasa Indonesia. Sebuah tantangan bagiku agar namaku bisa di cetak bersama penulis terkenal.
Sementara jari-jari dan mataku sibuk membaca, tiba-tiba tanpa kusadari Pak Rendi berada di belakangku.
“cerita kamu bagus!!” sahutnya, melangkah meletakkan buku-buku dan duduk di hadapanku. “kamu di sini sementara teman-temanmu di luar bersenang-senang” ujarnya, membuka buku yang berhubungan dengan matematika.”nggak tertarik aja, terus Bapak kenapa di sini, bukannya di ruang guru, bukannya di sana Bapak juga bisa membaca ini” tunjukku pada tumpukan buku yang memusingkan itu.
“di sini lebih tenang…!!” ujarnya kembali melanjutkan bacaannya.
Selama dua jam di perpustakaan dan Pak Rendi masih asyik dengan bacaannya, karena berhubung waktunya jam pulang sekolah, aku membereskan barang-barangku dan keluar perpustakaan meluncur ke tempat parkir, Fatan sejak tadi menghubungiku untuk mengantarku ke tempat kerja sebelum ia kembali ke sekolah lagi.
“Han…!”panggil kak Dian yang baru-baru saja tiba, dia terlihat terburu menghampiriku, sudah hampir sore sepertinya ia baru kembali dari sekolahku. Ia meletakkan map di meja yang bertuliskan nama sekolahku, bisa ku tebak isinya pasti tulisan siswa yang mengikuti lomba hari ini.
“ada apa kak?” tanyaku penasaran.
“malam ini, saya harus berangkat ke Malaysia, pembacaan naskahnya di percepat dari dugaanku, besok pukul Sembilan aku sudah harus ada di sana” jelas kak Dian menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.”aku sudah membaca semua tulisan ini, dan menandainya, jadi kamu yang ambil alih, dan hari minggu jam empat sore kita bertemu di café biasa…oke!”tutur kak Dian menatapku sambil menyerahkan amplop yang berisi gajiku sebulan ini.
“gaji kamu beserta bonusnya…!!”. Lanjutnya, tanganku langsung mengambilnya bersamaan map yang di serahkannya kepadaku. Kak Dian langsung pergi setelah berterima kasih kepadaku, selain amplop di baliknya juga ada dua tiket konser musik, yang akan ku tonton bersama Fatan. Meskipun sedikit lelah, sudah menjadi hal biasa bagiku, demi mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk masa depanku dengan Fatan.
Hari mingguku yang biasanya aku awali dengan kegiatan masak, sekarang aku awali dengan bangun lebih cepat dan setelah shalat biasanya aku kembali tidur tapi tidak di pagi ini. Usai memasukkan semua buku, laptop dan map yang akan aku berikan kepada kak Dian sore ini, aku bergegas pergi belum sempat sarapan pagi hanya segelas susu yang diberikan Fatan kepadaku setelah itu dengan menggunakan sepeda motor aku di antar Fatan. Kurang lima menit aku sudah berdiri di depan pintu, dan sebelum menekan bel, seseorang sudah membukakan pintu.
“Hay…!” sapanya menyuruhku masuk. “aku Efan adiknya Rendi” tuturnya memperkenal dirinya. “kamu pasti belum sarapan, gimana kalau sarapan bareng!”ajaknya.
“aku udah sarapan kok!!”kataku berbohong, tidak lama menunggu Pak Rendi keluar dan menyuruhku mengikutinya ke halaman belakang rumahnya. Langkahku langsung terhenti, terperangah dengan halaman belakang rumah pak Rendi yang begitu indah, semua rumput hijau tumbuh subur dan bunga bermekaran dengan berbagai warna, kelinci-kelinci kecil yang berlari-lari dan kicauan burung di dalam sangkar dan dua ekor anjing berjenis Alaskan Malamute, anjing yang berasal dari Amerika dan yang satunya berjenis Shiba Inu, berasal dari jepang. Mereka begitu lucu, rasanya aku ingin berlari menghampiri anjing-anjing itu, tetapi pak Rendi menyuruhku segera duduk.
“kamu suka…??karena anak tante semuanya laki-laki, jadi kalau di rumah tante sibuk ngerjain ini” sahutnya, sambil membawakan beberapa kue dan minuman untukku lalu pergi. Baru sejam mendengarkan penjelasan pak Rendi, serasa sudah berjam-jam, aku masih pura-pura mengerti yang dijelaskannnya, setelah menjelaskan satu rumus maka dia akan langsung memberikanku soal untuk di jawab dan begitu seterusnya, karena cara mengajarnya juga sabar menghadapiku, akhirnya aku mulai mengerti dan soal terakhir yang diberikannya aku jawab dengan benar. Rasa bangga kepada diriku sendiri membuatku mulai bersemangat.
“kamu belajar sendiri yah, aku mau mandi dulu “ katanya pergi meninggalkan aku sendirian, dan aku meraih kue yang disediakan ibu Pak Rendi dan memakannya. Perutku sejak tadi sudah menahan rasa lapar dan haus. Tak lama adik pak Rendi menghampiriku, meski baru kenal aku dan Efan mulai akrab dengan obrolan kami, yang punya banyak kesamaan, selain umur kami sama dia juga kelas dua SMA sama denganku, sehingga kami bisa membicarakan banyak hal.
“kamu suka baca novel itu?” tanyaku menunjuk novel yang di bawa Efan, novel yang tidak asing bagiku, tentu saja novel ciptaanku sendiri, di minati banyak kalangan mahasiswa itu dua tahun lalu.
“Tentu saja !! aku hampir selesai membacanya, tahu nggak? Cerita bagus banget, tentang seorang gadis yang selalu bermimpi dan ketika dia terbangun mimpinya akan benar-benar terjadi…Fantasinya keren Han” jelasnya, membuatku tersenyum mendapatkan pujian dari pembacaku secara langsung. aku menaruh pulpenku, mengangkat badanku mendekat pada Efan.
“tahu nggak siapa penulisnya?” tanyaku berbisik, wajahnya langsung berubah menaruh kedua tangannya di dagunya.
“Hana N.S…”ujarnya terlihat bingung masih mencoba membaca raut wajahku. Dia melepaskan tangan dari dagunya meraih kembali novel membuka halaman terakhir.
“Nggak mungkin, kamu pasti bercanda deh!!” ucapnya lagi menutupnya meletakkan tepat di depanku. Aku belum mengatakan apa-apa, terlihat jelas dari wajah Efan yang tidak percaya padaku.
“kamu serius??” lanjutnya setelah melayangkan beberapa pertanyaan padaku. Memintaku untuk memperlihatkan tanda tanganku sendiri dan mencocokkannya di halaman terakhir novel.
“apa coba alasannya aku bohong?” kataku berhasil membuat Efan berdiri melototiku. Tiba-tiba pak Rendi datang.
“Fan, kamu jangan ganggu dia”tegurnya menghampiri kami dan duduk di samping Efan yang masih berdiri melototiku, mengambil novelnya dari tanganku memberikannya kepada pak Rendi.
“Kak…novel ini…dia penulisnya” ujarnya langsung menunjukku.
“jangan bercanda…” ucap pak Rendi juga tidak percaya dengan ucapan Efan.
“Yah Han…kak Rendi sangat suka dengan novel ini…”tambahnya lagi memperlihatkan tanda tanganku sama dengan ada yang di novel.
“bukankah hari kamu mau latihan basket!! Pergi sana!!”ujarnya mengusir Efan pergi, pak Rendi menatapku penasaran.
“kamu nggak bohongkan” katanya, aku hanya mengelengkan kepalaku.
“jadi waktu seminar yang lalu kamu beneran datang sama Dian Febrianti?” tanyanya.
“iya, sepulang sekolah aku harus bekerja sebagai asisten copy editor paruh waktu kak Dian selama lima jam sehari.” Jelasku.
“kamu editor ? tapi kan kamu masih SMA perusahaan penerbitan seperti itu nggak mungkin merekrut karyawan yang masih sekolah” ujarnya.
“aku nggak di gaji sama perusahaan, tetapi kak Dian, perusahaan yang menerbitkan novelku memberikan gaji saat novelku beredar di toko buku, tapi karena novel ini sudah dua tahun lamanya jadi aku tidak lagi mendapatkannya” jelasku membuat pak Rendi sedikit lupa untuk mengajariku hari ini, dan dia begitu tertarik dengan ceritaku.
“wah…ternyata kamu penulis novel ini, kamu ternyata punya bakat juga, dan itu mengapa kamu tidak suka dengan pelajaran ini!!” tutur pak Rendi memujiku. “ jadi selama ini, kamu selalu ikut dengan Dian Febrianti, kalau begitu kamu pasti sudah bertemu dengan banyak orang penting?” lanjutnya.
“tentu saja” ucapku menceritakan tanpa terlupa sedikitpun, selesai menceritakannya, pak Rendi menatapku lama, begitupun aku yang tidak bisa menghindari tatapannya, entah kenapa ada perasaan aneh yang mengalir masuk ke jantungku. Perasaan ini tiba-tiba saja datang, pak Rendi yang biasa kulihat layaknya seorang guru kini berubah menjadi pak Rendi yang wajahnya seolah bersinar, seorang laki-laki biasa yang membuatku kagum.
“jangan bengong, kembalilah belajar!!” tuturnya, membuatku kembali sadar dan salah tingkah, wajahku seolah terbakar gara-gara kepanasan, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh di otakku. Perutku sudah sejak tadi kelaparan, beberapa menit pelajaran ini akan berakhir, di tambah lagi aku sejak tadi menahan buang air kecil, dan meminta izin pak Rendi untuk menunjukkan kamar mandi di rumahnya.
Karena terlalu terburu-buru tanpa sengaja aku menjatuhkan barang-barangku, sehingga laptop dan map yang akan aku antarkan ke kak Dian berjatuhan di lantai. Melihat itu pak Rendi hanya geleng-gelang melihatku berlari ke kamar mandi, dan memungut barang-barangku. Beberapa menit wajahku yang terlihat pucat gara-gara sejak tadi menahan buang kecil kini kembali bersemangat.
“Jadi kamu juga yang menyeleksi tulisan ini?” ujarnya menunjuk map yang sudah keluar dari tasku. Aku hanya mengangguk membereskan barang-barangku dan memasukkannya ke tas.
“kau benar-benar membuatku takjub Han…” puji pak Rendi, sambil mengantarku ke depan pintu.
“Oh iya pak, pembicaraan kita tadi itu…!”.
“jangan di ceritakan di sekolah? Tentu saja nggak, memang saya ini tukang gosip”. Tegasnya. Memegang kepalaku.
“pulanglah…” ucapnya menyuruhku pulang, tetapi sebelum menemui kak Dian aku harus mengisi tenagaku dengan beberapa makanan, dan untuk itu aku ke café lebih cepat sambil menunggu pesanan makanan, aku mengeluarkan laptopku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda hari ini. Tempat ini sudah tidak asing bagiku, karena ketika aku bekerja di luar kantor, maka kak Dian pasti selalu menyarankan tempat ini padaku.
Kekuatanku serasa penuh hari ini, perut yang kenyang seakan mengisi penuh energiku, masih bergelut dengan si pilsuk, nama yang aku berikan kepada pada laptopku, sambil menunggu kedatangan kak Dian.
“Hana…” panggilnya, aku segera berpaling mencari arah suara itu, yang berasal dari meja di sebelahku. Aku langsung mengenalinya.
“pak sutradara…!” ujarku berdiri dan menghampirinya yang sedang duduk sendirian, aku segera memindahkan tas dan laptopku bergabung dengan pak Amir yang duduk sendirian. Pak Amir adalah seorang aktor tahun 80an, karena usianya yang sudah berumur 40 tahun, dia memutuskan untuk menjadi sutradara dan memiliki label perusahaan sendiri, aku cukup kenal dengannya, karena pak Amir adalah partner kerja kak Dian yang selalu menjadi penulis naskah filmnya.
“kamu ngapain di sini?”tanyanya.
“nungguin kak Dian, pak sutradara juga ada janji ketemu kak Dian?” tanyaku balik.
“iya…ada beberapa skrip yang harus dibicarakan !!” katanya memperlihatkanku naskah film yang akan di tayangkan tahun depan ini, setelah melihat sekilas isinya dan membaca nama-nama pemeran yang akan main di film ini, aku langsung terkejut senang saat melihat nama Azka Ahmad, seorang aktor berusia 29 tahun yang tinggal di Australia, setelah lima tahun hengkang dari dunia perfilman, kini ia kembali untuk film pertamanya, dan lawan mainnya seorang aktris yang berasal dari Jiran Malaysia.
“aku ingin sekali bertemu dengannya” kataku begitu senang, karena aku sudah menjadi penggemarnya saat aku masih smp.
“Hana…!!” sahut seseorang memegang pundakku, aku membalikkan tubuhku melihat seseorang yang sudah berdiri di sampingku. Dia adalah pak Rendi yang duduk di samping mejaku dan baru datang beberapa menit yang lalu, aku kembali bertemu dengannya di tempat yang tak terduga, belum sempat mengatakan apa-apa tidak lama kemudian kak Dian datang dengan beberapa kelompok editor, dan mengarahkan yang lain untuk mengikutinya menuju lantai dua café. aku tidak sempat menyapa pak Rendi dan pergi begitu saja.
“kamu kenal dia?” tanya Vega, seorang gadis duduk bersama pak Rendi.
“iya..! dia salah satu siswaku di sekolah” ujarnya kembali duduk setelah melihatku menghilang dari balik pintu.
“dia seorang siswa…?? Kenapa dia mengacuhkanmu?” tanya Vega “dia tidak terlihat seperti siswa, aku kira di bekerja dengan orang-orang tadi” ujarnya kembali menikmati makan siangnya, pak Rendi memang sedikit kecewa dengan sikapku yang pergi begitu saja, tetapi dia juga mencoba mengerti dengan apa yang aku lakukan tadi.
Sudah hampir malam, akhirnya rapat hari ini di bubarkan, setelah kak Dian dan yang lainnya pergi, aku masih berada di café menunggu waktu magrib, sambil menunggu Fatan yang akan datang menjemputku. Karena begitu lelah, rencana yang aku buat untuk nonton bersama Fatan di batalkan, dan langsung meluncur pulang, merebahkan tubuhku yang seharian ini bekerja dan berpikir. Di tambah lagi besok adalah hari senin, sepertinya tidak ada libur bagiku. Setelah shalat Isya aku langsung ketempat tidur dan beberapa menit saja, aku tertidur begitu lelapnya.
“dia bahkan belum mencuci kaki dan menyikat gigi, langsung molor aja…”ujar Fatan menyelimutiku, menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Pagi yang cerah, mataku tak sanggup aku buka karena silau matahari, aku menyembunyikan wajahku di balik topi, upacara hari ini berjalan begitu lama tidak seperti biasanya, karena upacara hari ini sekaligus pengumuman hasil perlombaan menulis kemarin, dan juga pengumunan tentang perlombaan sekolah selama seminggu ini yang akan di laksanakan dalam rangka menyambut 17 agustus, semua siswa terlihat senang, karena mereka beberapa hari ini akan di jauhkan dari namanya pelajaran. tentu saja itu juga berlaku untukku, karena aku harus bergelut dengan naskah-naskah yang aku kerjakan dan aku bisa menyelesaikan tepat pada waktunya, dan di sekolah adalah waktu yang sangat tepat dengan memanfaatkan keadaan yang kosong selama seminggu ini.
4. ketika semuanya di mulai
Rasanya aku tidak sanggup lagi berdiri, kaki-kakiku sejak tadi sudah tidak sabar untuk segera pergi, karena aku berada di barisan paling depan, dan teman-temanku yang lain menggunakan kesempatan berada di barisan akhir untuk berbisik dan mengobrol. Kepala sekolah masih berpidato, guru-guru yang berada di bagian belakang Kepala sekolah juga terlihat lelah berdiri, dan sekali-kali berbisik. Aku mengangkat kepalaku, memperhatikan pidato Kepala Sekolah , lalu mataku melihat satu persatu guru-guru, dan terakhir pandanganku berhenti ke pak Rendi. Tanpa aku tahu sejak tadi pak Rendi sudah memperhatikanku dari kejauhan, menyembunyikan senyumnya saat melihatku bertingkah bodoh dengan gerakan-gerakan kakiku saat upacara berlangsung.
Tiba-tiba perasaan aneh itu mengalir kembali, aku segera menjauhkan pandanganku menatap ke arah yang lain dan untung saja Kepala sekolah sudah mengakhiri pidatonya, aku segera berlari menuju kelas, meneguk botol minumanku melegakan tenggorokanku yang sejak tadi kehausan akibat cahaya matahari yang menyerap cairan dalam tubuhku. Tidak lama setelah itu pak Rendi masuk kelas dan mengarahkan siswa yang akan ikut pertandingan, mau tidak mau aku harus berpartisipasi meski hanya satu perlombaan saja. Perlombaan yang melibatkan banyak orang yaitu tarik tambang, tradisi tarik menarik itu selalu menjadi hal yang sangat penting dan tidak terlewatkan dalam sebuah perayaan kemerdekaan.
Tapi hari ini kelas kami begitu mudah dikalahkan karena lawan kami adalah siswa kelas tiga. Aku meninggalkan lapangan, menuju kelas mengganti pakaianku, karena waktu itu kelas kosong dan hanya mengganti celana olahragaku dengan rok, aku melihat sekelilingku sebelum menarik rokku dengan cepat dan menurunkan celanaku. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kelas membuatku terkejut dengan cekatan bersembunyi di balik kursi masih merapikan rokku.
“seharusnya kau mengganti pakaian di ruang ganti, bukan di kelas terbuka seperti ini !” ujar pak Rendi, aku kembali berdiri setelah memastikan rokku dan celanaku sudah tertukar.
“maaf pak…!!”tuturku.
“kamu juga harus minta maaf soal kemarin, di café kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa…!” ujarnya mengingatkan kejadian di café.
“maaf pak, kemarin itu….!!”.
“tidak apa-apa…aku tidak bisa memarahimu karena kau adalah penulis kesukaanku!” ucapnya sambil tersenyum padaku.”
“apa bapak mau keberi tanda tangan!!” ucapku sedikit bercanda.
“nanti akan kuminta, tapi tidak sekarang!” tuturnya.
“kalau nggak sekarang, kapan lagi pak! Gimana kalau suatu hari nanti aku terkenal dan tidak sempat bertemu dengan bapak…!” kataku.
“yah...!” memukul pelan kepalaku dengan penggaris.
“oh iya..! aku mau ke perpustakaan dulu!” ujarku pergi.
Hari ini terasa sangat berbeda bagiku, langkahku begitu semangat dan hatiku terasa senang, akhir-akhir ini, aku belum menyadari yang terjadi padaku. saat masuk ke perpustakaan seperti biasa sepi tak ada siapapun, aku mencari tempat duduk yang paling nyaman buatku untuk bekerja dengan Pilsuk dan beberapa lembar naskah yang akan ku sunting.
“kamu di sini!” sahut Fatan menghampiriku dengan beberapa buku yang di bawanya.
“kamu kok di sini, nggak ikut pertandingan!” ujarku.
“jadwalku besok, bukan hari ini, terus..! kamu sendiri..?” tanyanya tanpa menjawabnya, aku kembali meneruskan bacaanku, sesekali mengangguku agar aku kesal dan tidak berkosentrasi, tapi yang kamu lakukan memang selalu seperti ini saling menghibur satu sama lain.
Pulang sekolah hari ini aku harus sendiri menuju ke tempat kerja, karena Fatan juga harus datang lebih cepat ke tempat kerjanya, Gea juga sudah pulang dan aku masih menunggu di kelas mendahulukan siswa-siswa lain keluar kelas, menunggu sekolah sepi lalu mengganti pakaianku, dan sudah 15 menit aku berdiri menunggu ojek atau taksi, dari sekian banyak kendaraan yang lewat tak satupun kendaraan yang aku tunggu.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapanku, aku menunduk sambil menunggu pintu kacanya terbuka.
“Ayo naik !!” ujarnya membuka pintu mobil, lagi-lagi pak Rendi, aku langsung naik tanpa menolaknya, membutuhkan waktu jika aku harus menolak tumpangan gratis yang diberikan pak Rendi, lagipula aku sudah terlambat ke kantor.
“terima kasih pak!” ujarku turun dari mobil setelah tiba di tempat yang kutuju.
“kamu pulang jam berapa…??” tanyanya.
“biasanya sih jam 10 pak, emang kenapa?”.
“aku akan menjemputmu…!!” ujarnya pergi, aku berdiri terpaku melihat punggul mobilnya yang melesat jauh.
“menjemputku??” pikirku dalam hati, pak Rendi benar-benar aneh, tiba-tiba ingin menjemput siswanya, dan itu aku.
“mungkin aku salah dengar” gumanku.
Tujuh menit menuju jam 10, kata-kata pak Rendi masih terbayang samar di telingaku, aku terus berguman dalam hatiku, menyakinkan diriku untuk tidak menunggu pak Rendi, aku pasti salah dengar, kenapa juga hatiku seperti ini, sibuk dan berisik sendiri.
Sepanjang perjalanan, memeluk pinggang Fatan sambil menyandarkan kepalaku di punggungnya, aku terus diam, kepalaku masih berseteru dan berandai-andai, jika memang benar pak Rendi datang, apa coba alasannya dia ingin menjemputku, kalau dia tidak datang aku bersyukur, itu berarti tidak ada yang bisa membuatku pusing karena hanya ini.
Tiga hari berlalu, sementara yang lain sibuk ikut lomba dan bersenang-senang, aku sibuk dengan naskah-naskahku, dan lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Selama tiga hari ini juga aku tidak pernah bertemu dengan pak Rendi, dia pasti sibuk menjalani kembali kehidupannya sebagai mahasiswa, sebelum kembali ke sekolah menyibukkan diri menghadapi siswa-siswa. khususnya siswa cewek yang sering sekali mendatangi pak Rendi dengan alasan bertanya tentang matematika yang tidak di mengerti.
“hey…dari tadi aku manggil-mangil kamu “ ujar Gea mengagetkanku, beberapa menit pikiranku melayang sejenak.
“akhir-akhir kamu kok aneh sih…lebih banyak diamnya !” ujar Gea duduk di sampingku, membawakanku beberapa permen.
“Ge…aku mau cerita sesuatu sama kamu…” ujarku menceritakan semua yang aku alami dan perasaanku dan terutama pak Rendi kepada Gea. Setelah menceritakan semuanya, aku menatap wajah yang begitu serius mendengarkanku, sembari menunggu pendapatnya.
“kamu gila yah? “ ujarnya menepuk kedua pipiku. “aku belum yakin sih Han…jangan-jangan pak Rendi suka sama kamu ! tapi nggak mungkin deh, atau kamu jangan bereaksi apa-apa dulu, mungkin karena dia sudah tahu kamu seorang penulis dari novel yang di sukainya, jadi dia bertindak seperti itu” jelas Gea, aku mengangguk tanda mengerti dengan semua maksud dan ucapannya. Aku membenarkan kata-kata Gea, dan mulai hari ini akan aku singkirkan hal-hal aneh yang mengangguku.
Sudah hampir sore, aku masih berhadapan dengan naskah-naskah, yang lainnya juga begitu sibuk dengan kerjaannya, kak Dian yang berada di sampingku juga sibuk memeriksa naskah-naskah yang masuk di situs perusahaan penerbit.
“Hei Han…gimana pekerjaan kamu? Dian nggak ngasih kamu pekerjaan yang sulitkan!” ujar pak Bambang, dia adalah managing editor, wakil chief dari ketua tim editor.
“nggak kok pak” singkatku.
“besok kamu dapat pekerjaan tambahan loh…” ujarnya menunjukku. “kamu belum kasih tahu dia?” tanyanya kepada kak Dian  yang langsung menghentikan pekerjaannya.
“astaga, hampir aja lupa…! Tadi siang ada email dari Universitas Ganesha Malang, dia mengundangmu untuk mengikuti seminar bedah buku, dan salah satu buku yang mereka seminarkan adalah novelmu” jelasnya.
“kok tiba-tiba novelku bisa….”tuturku tak tahu harus mengatakan apa.
“Nggak lama kok Han…kamu Cuma perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar novelmu dari moderator dan dari peserta seminar” ujar kak Dian.
“aduh kak…!! Gimana aku bisa sebagai narasumber, apalagi di depan mahasiswa, aku nggak bisa kak !!” ujarku terus menolak, aku belum pernah berhadapan dengan banyak orang, membayangkan saja aku tidak bisa, apalagi ketika mereka tahu seorang penulisnya adalah seorang siswa SMA. Melihatku gugup kak Dian memegangi kedua pundakku, menatapku dengan keyakinan sambil tersenyum.
“kamu pasti bisa Han…kamu bisa menjadi sosok yang akan dikagumi semua orang, kamu bisa memotivasi orang lain yang suka menulis agar tidak menyerah jika ia ingin menjadi penulis sukses, kamu ingat Han…!! Saat kamu bilang ingin menjadi sepertiku ! ini kesempatanmu dan kesempatan hanya datang sekali” jelas kak Dian membuka pikiranku, anggota tim yang lain juga ikut memberikan semangat padaku, itu sedikit membuatku percaya diri.
Sesampainya di rumah, aku kembali menceritakannya kepada Fatan, dan ia juga ikut mendukungku dan ia berjanji akan izin kerja hanya untuk menemaniku besok. malam ini mataku sulit terpejam, memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, sejam lagi aku sudah harus berada di kampus, setelah meminta izin sekolah, aku berangkat bersama Fatan dan setibanya di kampus sambil berjalan menuju lokasi seminar, aku masih mengenggam kedua tanganku yang begitu dingin dan basah. Setibanya di aula aku di sambut beberapa mahasiswa yang menjadi penyelanggara seminar, lima menit sebelum acara di mulai, aku duduk sambil menenangkan diri dan meminum air putih untuk menghilangkan khawatir dan rasa gugupku.
“Hana kan…?” sapanya memperkenalkan dirinya sebagai MC acara, lalu beberapa orang datang kepadaku memperkenalkan dirinya, orang yang akan menjadi moderator dan Prof. Irwan yang akan bertindak sebagai pembicara yang akan memberikan pendapatnya mengenai novelku.
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan, sambutan MC yang mempersilakanku untuk naik, duduk di tengah bersama dua penulis lainnya yang juga menjadi tamu di seminar ini. Selama beberapa menit acara berlangung kini tiba giliranku untuk memegang microfon. Aku menarik nafas dalam-dalam, melihat orang-orang yang berada di bawah menungguku membicarakan novel dan kisahku kepada orang-orang yang hadir hari ini, dan untuk kedua kalinya aku kembali menarik nafas memulai ucapanku dengan salam dan perkenalan, awalnya tanganku bergetar dan suaraku menjadi serak tetapi beberapa menit melihat reaksi orang-orang yang memperhatikanku begitu antusias, apalagi setelah mereka tahu bahwa aku masih seorang siswa pelajar SMA, peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa itu langsung terperangah tidak percaya. Selama sejam berbicara dengan di depan orang banyak, ketakutanku yang sejak malam menghantuiku kini sirna, hilang dan seolah-olah aku berbicara dengan Gea atau Fatan, semua terasa nyaman bagiku. Selama dua jam seminar berlangsung semuanya berjalan dengan lancar, di akhir acara aku di kerumuni banyak mahasiswa yang ingin meminta tanda tangan dan foto bersamaku, ada beberapa orang yang mencubit pipiku dan menanyakan sekolahku.
“terima kasih kak…”ujarku menundukkan kepalaku kepada mereka, dan segera keluar dari aula bersama Fatan.
“kakak hebat…!”ujar Fatan memberikan dua jempol kepadaku, tiba-tiba dari belakang seseorang memanggilku, tidak lain dia adalah pak Rendi, aku bahkan lupa ternyata aku berada di kampusnya, dan dia pasti hadir dalam seminar tadi.
“aku pulang dulu yah kak…!!” ujar Fatan tiba-tiba.
“kok ninggalin aku…Fatan!!” teriakku, mengikutinya tetapi pak Rendi menarik tasku.

“sekarang kamu mau pergi begitu saja, di café kau mengacuhkanku, kemarin malam aku menyuruhmu untuk menunggu tetapi kenapa pergi? “ tatapnya, kini pak Rendi bersikap seolah aku bukan seorang siswanya, tetapi seorang teman baginya.
“ayo kita cari tempat untuk berbicara…”ajaknya menyuruhku mengikutinya ke mobil.
“tapi aku harus kembali ke sekolah pak..”tegasku.
“aku sudah ngasih tahu Fatan kok, dia yang akan mengizinkanmu di sekolah”.
“kalau gitu, aku harus ke kantor, soalnya kak Dian menyuruhku membantunya menyusun naskah” ujarku lagi.
“kamu liat jam nggak sih? Ini baru jam berapa?” ujarnya.
“Tapi kan bapak harus kuliah !!” ujarku kembali, kini raut wajah pak Rendi berubah kesal.
“hari ini aku nggak ada jadwal kuliah”.
“terus kita mau ke…ma…na!!” tanyaku terkejut saat pak Rendi menginjak rem mobilnya dan meminggirkannya secara mendadak, menatapku kesal.
“kamu bisa diam nggak…??” bentaknya, aku hanya menunduk mengikuti perintahnya. Entah beberapa menit berlalu, aku hanya melihat keluar jendela, mengetuk kaca dengan jari-jariku, rasa bosan dan pengap, sesekali mengangguk menikmati musik yang kudengar di eirphoneku, menyandarkan kepalaku di kursi mobil, menutup kedua mataku, dan tak lama aku tertidur.
Udara hari ini begitu panas, entah berapa lama aku tertidur, aku mulai sadar dan membuka mataku, apakah ini mimpi karena sekarang pak Rendi ada di hadapanku sambil menatapku begitu dekat, setelah sadar ini bukan mimpi, aku mendorong tubuhku menjauh, dan kepalaku terbentur di langit-langit mobil, sontak aku menjerit kesakitan sambil memegangi kepalaku, pak Rendi tertawa melihat tingkahku, lalu membuka pintu mobil menyuruhku keluar.
“kita mau kemana?” tanyaku masih memegangi kepalaku yang kesakitan.
“Gramedia…!” singkatnya, dan aku hanya mengikutinya.
“tadi bapak bilang kalau mau bicara denganku, kenapa kita ke gramedia!”.
“kita bicaranya di gramedia”.
Tanpa mengatakan apa-apa, berjalan memutari rak-rak buku hanya mengikutinya mencari buku-buku yang berhubungan dengan mata kuliahnya yaitu matematika. Meskipun aku tidak tahu apa yang di carinya, aku masih setia mengekor di belakangnya. kali ini hatiku kembali berisik, dan memperhatikanya lebih teliti, punggung pak Rendi yang terlihat begitu tinggi, rambutnya, caranya berjalan, keseriusannya mencari dan membuka buku yang di lihatnya, mata sayu di balik kacamatanya, wajahnya yang panjang, kulitnya yang putih, tangannya yang besar dan terlihat kuat, dan lehernya cukup tinggi. Aku bisa menebak kalau tinggi badannya sekitar 189. Aku baru menyadari bahwa pak Rendi benar-benar seperti yang dikatakan teman-temanku. Dia terlihat sempurna sebagai seorang laki-laki.
Dari kejauhan, beberapa siswa yang kebetulan satu kelas denganku, Rani, Livia dan Cesa menghampiriku dan menyapa pak Rendi, meski hanya menyapanya sebentar dan pak Rendi yang bersikap dingin, mereka bertiga akhirnya pergi.
“ngapain Hana sama pak Rendi!” bisiknya sambil sesekali melirikku dengan tatapan yang tidak suka. Setelah mendapatkan buku yang di carinya, kami kembali ke mobil mengajakku menemaninya makan siang sebelum mengantarku ke kantor.
5. Menghitung Kecepatan Detak Jantung
Masih begitu pagi, aku sudah harus bergegas ke rumah pak Rendi, sambil menunggunya turun dari kamarnya aku bermain dengan anjing-anjingnya.
“selamat pagi…” sapa Efan, dia terlihat baru saja bangun dari tidurnya, membawa mangkuk makanan anjingnya.
“kamu nggak kepagian datangnya…!” ujar Efan,
“kepagian sih, apa boleh buat ! “kataku.
“kamu udah sarapan belum?”.
“sarapan aja belum sempat…oh iya Fan,,,mama sama papa kamu mana?” tanyaku, belum melihat mereka.
“ah…mereka udah balik ke Australia…!”.
“jadi mereka nggak tinggal di sini!”.
“Nggak ! papa kerja di Australia…minggu lalu papa datang untuk menjenguk kami dan mama ikut dengan papa, soalnya kalau mama di sini, selalu sendiri di rumah” jelasnya.
“ayo kita sarapan bareng, kak Rendi juga sebentar lagi turun kok…!”.ajaknya, dengan senang hati aku mengikuti Efan.
“wah..kamu yang bikin ini semua…”tanyaku, nasi goreng dan roti bakar tersaji rapi di meja makan, baunya membuat perutku semakin lapar.
“tentu saja bukan…!! Semenjak nggak ada mama, kak Rendi yang selalu bangun pagi dan buat sarapan”jelasnya. Tidak lama pak Rendi juga turun.
Setelah menikmati sarapan enak buatan pak Rendi, kembali aku harus berhadapan dengan pelajaran ini, setelah menjelaskan beberapa rumus dan contoh, dia akan terus memberikanku soal sampai jawabanku benar.
“Han…kamu tahu nggak! Dulu waktu masih SMP, aku juga benci sama pelajaran ini, tetapi karena ada dia, aku bisa mempelajarinya dengan mudah” bisik Efan yang juga sejak tadi berada di sampingku membaca novelnya. Sedangkan pak Rendi sembari menungguku selesai menjawab soal, jari-jarinya terlihat sibuk membalas sms dari seseorang, ketika hpnya berdering ia lalu menjauh untuk mengangkatnya.
“kenapa harus sibuk belajar di hari minggu seperti ini!” kataku bisa mengeluh dengan bebas karena pak Rendi tidak ada.
“iya sih…pasti dia lagi bertengkar sama pacarnya” bisik Efan “ sepertinya mereka akan putus…”ujar Efan aku mulai tertarik mendengar cerita Efan.
“kak Rendi, orangnya loyalitas sama cewek, komitmen tinggi dan mereka sudah pacaran sejak masih kelas tiga SMA sampai sekarang “ jelasnya membuatku terpaku dengan ceritanya.
“wah pak Rendi keren…”pujiku, sesekali memperhatikan punggung pak Rendi dari kejauhan.
“tapi selama setahun ini, hubungan mereka mulai nggak membaik !”.
“emangnya kenapa? “.
“kak Vega selalu menghindar dan membuat alasan jika kak Rendi ingin bertemu, sampai kak Rendi mendengar dari temannya bahwa ia pernah melihat kak Vega jalan dengan laki-laki lain, mendengar cerita itu..! kak Rendi nggak percaya dan sampai saat ini ia belum menanyakan hal itu langsung kepadanya, dan juga kak Rendi berusaha mempertahankan hubungan mereka..!” jelasnya kembali melanjutkan bacaannya saat pak Rendi sudah datang.
“kamu belajar sama Efan yah, aku harus pergi””ujarnya pergi begitu saja.
“ Hari ini nggak usah belajar…!!gimana kalau kita main game” ajaknya segera menyalakan tv, kenapa tidak bersenang-senang hari ini, kesempatan yang bagus buatku tanpa harus di awasi langsung olehnya. Hari ini banyak sekali hal yang menyenangkan yang aku lakukan bersama Efan, bermain game, memandikan Gara dan Goro anjingnya, memberi makanan kelinci dan terakhir aku membantunya mencuci motornya. Karena sudah semakin siang aku memutuskan untuk pergi ke rumah Gea sekaligus mengunjunginya.
Hari berlalu begitu cepat dan hari ini akan menjadi hari terakhir perlombaan, dan beberapa hari ini juga aku sering sekali mendengar kabar dari Gea bahwa banyak siswa yang mulutnya begitu sibuk membicarakanku dengan pak Rendi, pantas saja beberapa hari ini sebagian dari banyaknya siswa perempuan di sekolah ini melempar tatapan permusuhan padaku, meski sedikit terganggu tapi aku mencoba untuk tidak begitu menghiraukannya, seperti saat ini saat aku berjalan menuju ke lapangan untuk menonton pertandingan Fatan dan tim basketnya akan bertanding di babak final melawan sekolah lain.
“Hanaaa….” Teriak seseorang langsung menghampiriku dengan senyuman cerianya.
“Efan..!!”ujarku terkejut melihatnya di sini.
“tim dari sekolahku yang akan melawan kalian…”ujarnya menjawab rasa penasaranku.
“pak Rendi tahu kamu di sini?”.
“iya…aku baru saja bertemu dengannya, hmm kamu akan nonton kan !! lihat saja aku akan mengalahkan mereka dan membuat semua gadis-gadis di sini menjerit” ujarnya menyombongkan diri dan pergi.
“kamu kok kenal sama dia?” tanya Gea baru saja menghampiriku saat Efan peri.
“dia adiknya pak Rendi” ujarku, Gea terkejut menatapku.
“serius Han…dia lebis manis dari pak Rendi” gumannya berlari ke lapangan seolah-olah ia membawa kabar gembira.
“dia cute banget…” ujar seseorang di sampingku.
“dia siapa sih? Liat deh cowok yang bernomor punggung enam itu, ya ampun”.
Entah berapa kali aku harus mendengar mereka terus memuji dan menyorakkan pemain idola mereka, terutama Efan dan benar saja semua gadis yang melihatnya bisa terpesona dengan Efan, memang buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya seperti Efan dan pak Rendi, tetapi aku tetap memberikan dukunganku kepada Fatan yang namanya masih terdengar begitu jelasnya dari sorakan penggemarnya. Beberapa menit pertandingan berlangsung dan aku bisa mengetahui hasilnya, kali ini tim Fatan kalah hanya selisih sedikit saja.
“tuhkan aku menang”ujarnya begitu senang, melihat Efan menghampiriku, cewek-cewek yang mengagumi Efan kembali berbisik sesuatu sambil melihatku sinis.
“sampai jumpa minggu depan, aku harus kembali ke sekolah”katanya pergi melambaikan tangannya padaku.
“kamu kok bisa kenal sama dia?” tanya Rani menghampiriku bersama teman-temannya, mereka dari kelas yang sama denganku dan mereka juga yang melihatku dengan pak Rendi, pasti ulah mereka menyebarkan gosip mengenaiku.
“Han…dia namanya siapa? Kamu punya nomornya nggak”tanya Livia.
“aku kenal dia karena dia adiknya pak Rendi, namanya Efan dan aku nggak tahu nomornya “ ujarku sedikit lega, karena kukira mereka ingin menerkamku karena dekat kenal dengan Efan.
“adiknya pak Rendi…oh iya Han…kemarin itu kamu jalan sama pak Rendi karena ka..liaa…n…!!” menatapku curiga.
“nggak lah, kalian juga tahu kalau nilai matematikaku buruk, dan aku tidak bisa ikut kelas tambahan dan aku belajar dari pak Rendi” jelasku, mereka hanya manggut-manggut mengerti.
“lain kali kalian jangan nyebarin gosip yang nggak benar, gimana kalau nanti pak Rendi berhenti lebih cepat karena gara-gara kalian, pihak sekolah akan menyangka yang tidak-tidak tentangnya”ujarku meninggalkan mereka.
Hari ini di kantor tim editor terlihat sibuk seperti biasanya, dan hanya aku yang duduk manis menyelesaikan naskahku yang sedang tahap finishing, dan mereka membiarkanku sendirian di ruangan ini sedangkan mereka sedang mengadakan rapat, karena aku bukan karyawan tetap dan hanya bekerja dengan kak Dian, aku tidak punya hak untuk ikut rapat resmi perusahaan.
Waktu malam tinggal beberapa menit lagi, adzhan magrib juga berkumandang, hari ini kak Dian menyuruhku pulang lebih cepat, aku menggunakan waktuku untuk berjalan kaki menikmati lampu-lampu kota di malam hari dengan tiupan angin yang begitu sejuk, jalanan yang masih basah akibat hujan yang turun hanya beberapa menit, langit terlihat cerah dengan bintang-bintangnya yang bersinar, bulan sabit bercahaya terang mendampingi bias cahaya sisa matahari  yang terbenam, aku melangkahkan kakiku sesekali memainkan genangan air yang ku injak. memperhatikan semua toko yang ku lalui, toko kue, baju, sepatu, tas, dan berhenti di toko bunga menikmati  sejenak warna-warnanya, merasakan harumnya dan menyaksikan senyuman manis si penjual bunga, setelah puas aku kembali melangkah menjelajahkan mataku dan terakhir berhenti di sebuah restoran Jepang, dari luar saja aku bisa melihat keramaian pengunjungnya, tapi bukan karena aku ingin masuk dan memesan tetapi aku datang karena menungu Fatan yang bekerja di tempat ini, sebentar lagi dia akan selesai dan aku hanya perlu menunggunya setengah jam lagi.
Waktu memang berputar tanpa kita sadari, dan hari ini juga adalah hari minggu terakhirku datang ke rumah pak Rendi, dan aku hanya mengerjakan soal-soal matematika 15 nomor ini, sedangkan pak Rendi baru saja kedatangan seorang tamu, dan hanya aku sendiri di meja ini tanpa seseorang yang bisa aku ajak mengobrol karena Efan juga sudah pergi sejak tadi pagi, tidak begitu sepi, aku masih bisa mendengar kicauan burung dan gemercik air, dan ditambah rasa penasaranku kepada siapa yang menjadi tamu pak Rendi, sehingga ia cukup lama meninggalkan siswanya belajar sendiri. Semakin langkahku mendekat semakin jelas pembicaraan mereka, aku mengintip di balik jendela mengetahui siapa suara perempuan yang diajaknya mengobrol. Dari apa yang aku lihat, pembicaraan mereka begitu serius dan bermaksud untuk kembali ke soal-soalku, aku tidak mau jadi penguping pembicaraan orang lain, tetapi langkahku terhenti saat kata-kata berpisah yang aku dengar dari perempuan itu, aku kembali membelakangi dinding.
“aku nggak bisa begini terus Ren…aku capek sama hubungan kita” ucapnya.
“aku tahu semua pasangan akan bosan suatu saat nanti, tapi aku mohon kamu jangan begini, kamu ingat nggak saat kita berdua berjanji, jika suatu saat nanti kita merasa bosan satu sama lain, kita akan mengingat saat-saat kita bertemu dan jatuh cinta…kamu hanya perlu melakukan itu Ve,!”.
“itu dulu Ren…sekarang aku perlu untuk mengetahui isi hatiku yang sebenarnya, bertemu dengan teman-teman baru dan melakukan banyak hal…dan sekarang aku sudah dekat dengan laki-laki lain, aku tidak mengkhianatimu Ren, dari dulu aku sudah mengatakan untuk putus, tapi kau sendiri tidak ingin membahasnya, jadi izinkan aku untuk memilih jalanku sendiri” jelasnya, aku terlihat bodoh harus berdiri di balik tembok mendengarkan pembicaraan orang lain tapi apa yang harus aku lakukan, keinginanku lebih besar sehingga melawan pikiranku sendiri.
“baiklah jika itu yang kamu mau, tapi jika suatu saat nanti kamu mulai menyadari dan merasa bosan dengan mereka, aku akan tetap di sini, menunggumu dengan perasaan yang sama, kembalilah jika kamu ingin kembali !!” ujarnya serak, suaranya seakan di paksa untuk berucap.
“kamu nguping yah…” bisik Efan yang tiba-tiba juga berada di sampingku, menarikku pergi kembali ke ruangan tempatku meninggalkan soal-soalku.
“kamu datang dari mana?” tanyaku penasaran dengan kemunculannya.
“dari pintu belakang, karena melihat mereka begitu serius jadi aku tidak bermaksud menganggunya, dan maka dari itu aku mencari jalan lain” jelasnya menyerahkan kembali kertas-kertasku.
“sekarang kamu harus pura-pura mengerjakan soal-soal ini, dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi, oke..! aku harus kembali ke kamar membersihkan badanku” ujarnya pergi, tidak lama pak Rendi datang dengan tatapan kosong dan wajahnya berusaha menahan kesedihannya.
“kau sudah selesai?” tanya datar.
“masih ada beberapa nomor yan kurang aku pahami” ujarku, pak Rendi mengambil kertas jawabanku memeriksanya, walau seperti memaksakan tubuhnya bergerak, dia masih saja bisa menjelaskan pelajaran ini kepadaku meski beberapa kali harus menarik nafas.
“oh iya pak, hari ini aku izin cepat pulang, soalnya kak Dian nyuruh aku mengantarkan naskah revisi ke lokasi syuting dan itu harus tepat waktu” tuturku.
“aku akan mengantarmu…”ucapnya berdiri.
“nggak usah pak, tempatnya juga nggak jauh!” ujarku memaksa. Tetapi pak Rendi langsung menarik lenganku, mendorongku masuk ke mobil.
Tidak lama kemudian aku sudah sudah sampai, dan pergi sendiri membawakan naskah revisi kak Dian kepada Sutradara, Karena lokasi syuting yang tidak memungkinkan orang lain masuk, maka dari itu pak Rendi hanya menungguku di luar dan tidak membutuhkan waktu yang lama, aku segera berlari menghampiri pak Rendi.
“bapak nggak sibukkan? Gimana kalau hari ini saya ajak bapak jalan-jalan, tapi di mana yah?” kataku sambil berpikir.
“terserah kamu aja” ujarnya setuju dengan ajakanku.
“di mana yah? Di pantai…??di museum..! hari minggu tutup, di taman hiburan…!? Di kebun binatang…nggak bisa juga soalnya banyak orang..?? kalau ada teman-temanku yang mengenali bapak dan aku gimana?”gumanku masih tak menemukan solusi yang tepat.
“nggak jadi deh, aku pulang aja” ujarku.
Saat perjalanan pulang tiba-tiba pak Rendi terus melajukan mobilnya, hingga tempatku terlewati
“kita mau kemana?”
“ke pantai…”singkatnya.
“tapi kan pak, di sana pasti ramai” ujarku, pak Rendi hanya diam, dan aku  hanya duduk tanpa mengatakan apa-apa.
Angin laut sudah terasa saat kami hampir tiba, aku bisa melihat dengan jelas lautan yang terbentang luas, kapal dan perahu nelayan yang sangat kecil dari jarak seperti ini tetapi tempat ini bukanlah tempat wisata, tetapi sebuah perkampungan kecil yang terletak di pinggir pantai, dan semuanya adalah nelayan, pak Rendi menghentikan mobilnya dan turun, aku bahkan tidak sempat menanyakan maksud dan tujuannya ke sini, hanya mengikutinya, dari apa yang aku lihat pak Rendi pasti sering datang kemari, karena saat ia datang anak-anak di sini berlarian memanggil dan menghampirinya, menyapa nelayan-nelayan yang baru saja tiba melawan ombak dengan tangkapan ikannya, aku bahkan tidak mengira ada tempat seperti ini, aku bisa melihat langsung ikan-ikan kecil di kotak pendingin, nelayan yang berteriak, seorang ibu yang mengendong bayinya sedang menunggu suaminya, dan anak-anak yang berlari membawa ember berlomba memunguti ikan-ikan yang tidak di sempat di selamatkan oleh nelayan, tetapi mereka membiarkan anak-anak itu mengambilnya, sepertinya mereka akan membawanya pulang atau menjualnya untuk mendapatkan uang.
Aku masih berdiri terpaku melihat pemandangan yang menurutku sangat luar biasa ini, di mana aku bisa melihat langsung kehidupan orang lain, yang bagiku cukup sulit, tetapi melihat senyuman mereka, pekerjaan ini tidak berarti apa-apa demi untuk hidup, selama sejam aku berjalan sendirian tanpa di temani pak Rendi, aku bahkan lupa ia pergi kemana bersama anak-anak yang tadi menyambutnya. Meski panas matahari yang menyengat tidak membuat kakiku berhenti menelesuri pasir-pasir ini, bahkan bau sedap tercium dari beberapa meter membuatku menghampiri sebuah warung kecil.
“selamat siang bu,” menghampiri seorang ibu yang sedang sibuk mengipasi bara apinya agar tidak padam, lalu menaruh beberapa ikan di atasnya, bau ikan bakar ini yang membuat perutku langsung lapar. Terlihat beberapa orang yang juga menikmati makanannya, setelah membiarkan aku memilih ikan yang aku sukai, ibu itu langsung memanggangnya di atas bara api, dan aku hanya perlu duduk menunggu pesananku, meski terlihat sederhana tempat ini cukup nyaman, aku bisa langsung duduk berhadapan dengan laut-laut ini. Dari kejauhan pak Rendi yang sejak tadi mencariku datang menghampiriku.
“ngapain kamu jalan sendiri…!!” tanyanya.
“soalnya tadi juga bapak sibuk dengan anak-anak yang tadi, lagipula aku Cuma jalan-jalan kok”.
“aku ngajarin mereka, setiap sore aku selalu menyempatkan waktuku untuk mereka” jelasnya.
Aku hanya mangut, sambil menikmati makanan dan ikan bakar yang sangat enak ini.
“makanannya enak banget pak” ujarku sambil duduk di samping perahu nelayan beralaskan pasir, di sini tempat yang bagus untuk bisa duduk sangat dekat dengan bibir pantai, meski matahari sangat terik, tetapi udara yang berhembus cukup sejuk.
“baru kali ini, aku ngeliat orang makan selahap tadi” tuturnya mengejek.
“soalnya serasa makan makanan rumah aja”. Ujarku.
“emang kamu nggak pernah makan di rumah?”.
“jarang sih, kecuali hari minggu aku dan Fatan ke pasar membeli sesuatu, dan hanya bermodalkan buku resep makanan, terkadang rasanya nggak enak tapi daripada membuang makanan, mau tidak mau aku dan Fatan harus memakannya, tante Maya juga sering sakit, dulu sesekali dia datang dan membawakan kami makanan” tuturku tersenyum. Meski beberapa kali aku mencoba untuk membuatnya tersenyum dan melupakan apa yang terjadi padanya, tetapi tetap saja wajahnya terlihat begitu sedih, untuk beberapa saat pak Rendi terdiam dan aku juga kehabisan kata-kata untuk menghiburnya.
“bapak kok sedih, emangnya ada sih?” tanyaku seolah-olah tidak mengetahui apa-apa.
“hari ini aku putus dengan seseorang yang aku sayangi..!” jawabnya jujur, aku tidak terkejut meski harus tetap pura-pura terkejut, ia lalu menunduk memainkan pasir-pasir di tangannya, lalu menceritakan semuanya padaku, seolah ingin menumpahkan kesedihannya, walau tidak menangis tetapi suaranya yang begitu berat menandakan kalau dia benar-benar menyukai wanita yang bernama Vega itu.
Aku beberapa kali pernah membaca sebuah novel dan dari semua novel percintaan, sekitar 60 % di mana seorang laki-laki hanya akan menangis pada wanita yang benar-benar dicintainya, dan beberapa buku yang membahas tentang sebuah hubungan juga mengatakan hal seperti itu, dari semua buku dan novel baik sinetron, film bahkan drama korea juga sering menayangkan adegan pria tampan dan berwibawa dan di puja-puja banyak wanita bahkan bisa terlihat menyedihkan ketika menemukan cintanya dan harus berpisah.
Tapi hari ini dia tidak terlihat seperti itu, mungkin karena ada aku di sampingnya, dia tidak ingin terlihat menyedihkan, dan mungkin saja dia akan mengeluarkan air matanya saat ia mandi. Itu salah satu hal bodoh yang terbayangkan di pikiranku saat ini.
“Hmm…maaf kalau nggak sopan! Tapi…??” Aku meraih tangan kanannya, mengerahkan kedua tanganku untuk mengenggamnya, pak Rendi mengarahkan pandangannya padaku menunggu apa yang ingin aku katakan.
“sewaktu kecil, jika setiap malam aku ketakutan , menangis mencari ibuku, maka Ayah akan mengenggam tanganku dan kesedihanku akan menghilang, ketika Ayah meninggal aku selalu merasa takut maka tante Maya akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Ayahku, ketika Fatan bangun setiap malam dan menangis mencari Ayah dan Ibu maka aku yang akan mengenggam tangannya dan memeluknya dia akan kembali tertidur dengan tenang, dan ketika aku dan Fatan mulai belajar hidup tanpa orang lain, bekerja sepulang sekolah dan hampir setiap malam ketika aku ketakutan, Fatan akan terjaga mengenggam tanganku sampai aku tertidur, jadi aku tidak tahu apakah ini berhasil padamu pak..!! “ ujarku menepuk pundaknya perlahan.
“apa yang kamu takutkan?” bisiknya.
“banyak sekali yang aku takutkan, jika suatu saat nanti aku berpisah dengan Fatan aku tidak sanggup memikirkan apa yang akan aku lakukan tanpanya, aku takut jika nanti tak ada yang mengenggamku, menjagaku memelukku saat aku bersedih, aku takut jika suatu saat  nanti dia sudah mencintai orang lain, apakah aku masih berada di sampingnya, hal yang paling mengerikan adalah hidup sendiri, cukup Ayahku dan ibuku yang pergi tanpa kembali..”jelasku menahan air mataku dengan tersenyum melepaskan genggamanku.
“pasti sulit untuk kalian berdua, dan bagaimana rencana masa depanmu nanti? Kalian berdua pasti memiliki rencana yang berbeda?”.
“ng…aku akan mengumpulkan uang yang banyak, menunggu Fatan lulus dan mendapatkan beasiswa kuliahnya di Australia dan membeli rumah kecil di sana, memulai hidup yang baru” jelasku.
“rencana yang bagus!” tutur pak Rendi kembali tersenyum.
Seharian itu kami menghabiskan waktu bercerita banyak hal, tertawa dan kami berdua sudah tidak merasa sungkan satu sama lain, bersenang-senang bersama ombak yang menari-nari, bermain dengan gulungan ombak yang berusaha mengejar langkah kami. Ketika itu juga pak Rendi terus memperhatikanku tanpa aku sadari, dia menghampiriku yang membelakanginya merasakan seseorang di belakangku aku langsung berbalik, sontak aku terkejut melihat pak Rendi yang begitu dekat, berusaha untuk mundur tetapi rasa terkejutku membuat tubuhku tidak tahu harus melakukan apa ketika itu juga pak Rendi menarik kedua lenganku, aku sedikit lega karena hampir saja aku tercebur di air dan harus pulang dengan pakaian basah, tapi satu lagi masalah saat pak Rendi menarikku lebih dekat, tangannya masih mengenggam lenganku jantungku berdetak tidak normal, hatiku berdebar aneh seakan baru saja sesuatu yang begitu nyaman masuk ke dalam lubuk hatiku.
“ayo kita pulang…”ujarnya tersenyum lucu melihatku dengan ekspresi bodoh, dia melepaskan tangannya dan pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam dan masih sedikit malu membekas di wajahku, rasanya ingin menghapus kejadian tadi, bahkan aku tidak berani melihat pak Rendi, sudah hampir malam dan aku tiba tepat di depan rumahku. Fatan dengan wajah kesal menghampiriku.
“kamu dari mana aja sih, nggak bilang-bilang dan aku di rumah seharian menunggumu “ ujarnya berteriak lalu masuk ke dalam rumah.
“masuklah…! Sepertinya dia marah” ujarnya pergi.
“kamu kok marah?”.
“jelaslah…!!soalnya kamu nggak bilang kalau pulangnya lama!” bentaknya.
“maaf…!soalnya pak Rendi menyuruhku menemaninya seharian ini”jelasku duduk di sampingnya menyandarkan kepalaku di bahunya, dengan begini aku tahu pasti Fatan tidak akan marah lagi.
“hari ini banyak hal aku pelajari…dan semuanya terasa menyenangkan”.
“sampai lupa denganku??”.
“jangan marah dong Fat…!”bujukku
“yah udah, kamu mandi dan shalat dulu, lalu kita pikirkan malam ini mau makan apa, aku lapar belum makan seharian ini “ jelasnya.
“oke…malam ini kita keluar makan” ujarku berdiri berlari ke kamar.
6. sedekat ini
Hari ini akan menjadi hari yang paling menyedihkan terkhusus siswa-siswa di kelasku, karena hari ini menjadi hari terakhir pak Rendi mengajar, dan mulai besok pak Kiwil akan mengambil alih kelas yang sudah ditinggalkannya beberapa bulan ini. Bagiku semua akan menjadi sedikit berbeda tetapi perlahan  keadaan akan kembali seperti biasanya, perasaanku yang sempat kacau perlahan akan hilang dan aku tidak bisa lagi bertemu dengan pak Rendi.
“muka kamu kok murung gitu, kamu juga sedih yah ?” ejek Gea.
“nggak kok!” ujarku.
“terus, mukamu kenapa bisa jadi sejelek ini” ujar Gea.
“udah deh Ge…hari ini lagi malas!” ujarku meninggalkan Gea yang menertawaiku.
Lets go to work. Teriakku bersemangat saat sudah berada di kantor, dan hari ini naskah yang aku kerjakan sudah selesai dan kak Dian juga sudah selesai merevisi kerjaanku, dan selanjutnya novel itu masuk tahap proses penerbitan dan aku bisa dengan tenang menunggu bayaran yang akan aku terima setelah ini. Hanya beberapa pekerjaan kecil yang diberikan kak Dian beberapa hari ini kepadaku, jadi aku tidak begitu mengejar waktu dan bisa pulang lebih awal.
“Hana….!!”panggil seseorang, aku berbalik dan pak Rendi sudah berdiri tidak jauh dariku.
“bapak ngapain di sini?”tanyaku.
“hanya kebetulan lewat saja “ujarnya.
“jadi bapak mau ke mana?”
“dan kamu mau kemana?” tuturnya mengembalikan pertanyaanku.
“ke tempat Fatan, kok bapak nanya balik sih” ujarku kesal.
“oke…ayo kita pergi!” ujarnya berjalan lebih dulu, dan aku segera menyusulnya.
“bapak nggak ada kerjaan yah?”.
“oh…” menunjuk tepat di hadapanku.
“sekarang aku bukan gurumu lagi dan kau bukan siswaku jadi, bisa kau hilangkan kata-kata itu, orang-orang akan menganggap kalau aku sangat tua berjalan denganmu” ujarnya melanjutkan langkahnya.
“Bapak secakep ini nggak mungkin di bilangin tua. Dan lagian aneh aja pak” ujarku.
“kedengarannya lebih aneh lagi tahu nggak,! Anggap aja kita teman, terserah panggil apa aja, kecuali yang satu itu “ ujarnya.
“umur bapak berapa? Aku dua bulan lalu udah 18 tahun !”.
“27 tahun !” singkatnya.
“Om…!!”ucapku membuat candaan agar dia sedikit kesal, tetapi dia menunjukkan jarinya mendorong kepalaku.
“Rendi !! ahhh…mulutku terasa aneh menyebutnya”.
Tiba-tiba pak Rendi berhenti, dari jarak yang tidak begitu jauh dia melihat seorang wanita yang di kenalnya, berjalan sambil bergandengan tangan dengan laki-laki lain, aku memperhatikan wajah pak Rendi yang langsung berubah, entah kenapa melihat keadaan ini juga membawaku ikut terbawa suasana, dan terbersik ide bodoh di kepalaku, aku membuka syal yang di leherku dan membentangkannya, kemudian menutup kepala dan wajah pak Rendi, waktunya sangat tepat, wanita itu sempat tersenyum dan untung saja ia tidak mengenalinya dan pak Rendi hanya diam saat aku menutupi kepalanya
“kamu Hana kan !!” sapanya tiba-tiba berbalik arah setelah mengenaliku.
“dia kenapa?” ujar laki-laki yang bersamanya menunjuk pak Rendi.
“dia malu, wajahnya sangat jelek “ ujarku berbohong, mendorong perlahan tubuh pak Rendi.
“Iya aku Hana...kok kenal?” tanyaku penasaran.
“aku melihatmu di seminar kampus, penulis novel Dream Real” jelasnya.
“benarkah…wah kamu hebat yah, kalau begitu ! bisa nggak aku minta tanda tangannya “ mengeluarkan kertas dan pulpen dan setelah itu mereka pergi. Aku menarik syalku dari pak Rendi, wajahnya tampannya terlihat begitu aneh, mendingan saat aku menutup wajahnya.
“ayo pak, kita ke toko bunga yang berada di ujung sana” ujarku menariknya, meski awalnya dia tidak semangat tetapi aku terus menceritakan hal lucu dan aneh padanya, dan akhirnya dia kembali tersenyum meski terlihat memaksa, setidaknya aku sudah berusaha menghiburnya.
“kenapa kamu tiba-tiba menutup wajahku ?” tanyanya.
“hhmmm…hanya iseng aja” ujarku gugup.
“jangan bohong ! kamu pasti kenal dengan Vega”. Katanya meraih hp dari kantongnya.
“berikan nomormu…!” katanya sambil mengetik digit yang kusebutkan.
Meski kadang aku merasa bingung tetapi aku selalu berusaha untuk berpikir apa adanya, apalagi di usiaku saat ini yang masih sekolah, sibuk mengumpulkan uang dan tidak terpikirkan untuk merasakan yang namanya jatuh cinta, aku tidak ingin mengalami hal-hal yang di alami orang-orang yang berpacaran, berjanji setia dan akhirnya saling mengkhianati. Bagiku dunia orang dewasa cukup sulit di pahami apalagi kalau mengenai sebuah hubungan. Aku juga tidak ingin seperti ibuku yang rela meninggalkan kami demi keegoisannya dan menyesal karena telah melewatkan masa mudanya menikah dan memiliki anak.
Waktu berlalu di awali hari yang baru seiring pergantian tahun, dan sekarang aku sudah berada di kelas tiga dan itu berarti masa smaku akan segera berakhir. Di saat seperti ini juga banyak hal yang terjadi padaku dan semakin hari aku dan pak Rendi semakin dekat, tetapi hanya sebatas teman, dan aku belum bisa menghilangkan kebiasaanku memanggilnya bapak.
Sudah dua hari semenjak libur sekolah dan aku hanya menghabiskan waktu di rumah dan setiap jam dua aku sudah harus di kantor editor tapi minggu pagi ini meski waktu baru menunjukkan pukul delapan tetapi matahari begitu cerah memancarkan sinarnya, pagi yang sibuk karena aku harus membersihkan seisi rumah, mencuci pakaian, membersihkan kaca jendela, mengepel lantai dan terakhir membersihkan halaman depan dan belakang, menyirami tanaman, itu semua kulakukan sendiri karena hari ini aku menyuruh Fatan membeli bahan makanan. Selesai mengerjakan semuanya sambil menunggu Fatan aku menyibukkan diriku di depan televisi, menghiraukan bau keringat yang melekat di tubuhku dan tak lama Fatan juga sudah datang, tetapi ia tidak sendiri.
“Selamat pagi Hana…!!” sapa Efan aku langsung berdiri melihat mereka, terkejut setelah melihat pak Rendi dan Efan yang datang bersama Fatan sambil membawa beberapa kantong belanja.
“kenapa kalian bisa ada di sini?” tanyaku heran.
“aku bertemu mereka di luar” jelas Fatan membawa semua belanjaannya masuk ke dapur dan aku juga baru tahu kalau selama ini Fatan dan Efan berteman.
“kita masak apa hari ini? Aku lapar” ujar Efan mengikuti Fatan masuk ke dapur.
“kamu bau tahu nggak…!” ujarnya menyuruhku bergegas mandi.
“kalian masak apa?” tanyaku menghampiri mereka bertiga di dapur, pak Rendi sendiri yang terlihat sibuk memasak, sedangkan Efan dan Fatan menunggu di meja makan hanya melihat seperti sebuah tayangan masak di televisi. Pak Rendi benar-benar seperti koki yang jago masak dia seperti memamerkan keahliannya memotong dan mencampur bahan makanan dengan bumbu-bumbu dan menghasilkan bau yang sedap, membuat perutku lapar.
“ karena mama nggak punya anak perempuan yang diajaknya masak, makanya mama sering memaksa kami berdua di dapur, dan hanya kak Rendi yang selalu membantu mama dan aku tidak suka di dapur, maka dari itu dia mewarisi mama” jelas Efan, sekali lagi aku dibuat kagum,  menurutku  pak Rendi adalah laki-laki yang sangat sempurna, sangat bodoh wanita itu yang menyia-nyiakan pak Rendi, setidaknya itulah yang sempat berguman di hatiku.
Selesai makan, Efan dan Fatan melanjutkan kegiatannya dengan bermain video game, sedangkan aku dan pak Rendi hanya mengobrol di halaman belakang, di sana terdapat pohon yang rindang dan di bawah pohon itu aku selalu bersantai dengan laptop dan buku-bukuku.
“bapak kok bisa datang nggak bilang-bilang dulu” ujarku baru sempat menanyakannya.
“aku juga nggak tahu kalau Efan kenal dengan Fatan, motornya rusak dan ia ingin meminjam mobil, nggak mungkin aku membiarkan menyetir sendiri. Katanya hari ini dia ada janji dengan temannya dan ternyata itu adikmu“ jelasnya.
“kenapa libur sekolah terasa begitu lama akhir-akhir ini” ujarku sambil merebahkan tubuhku di kursi, sedangkan pak Rendi serius membaca buku.
“”bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya.
“semuanya lancar, nggak terlalu sibuk soalnya kak Dian Cuma ngasih naskah pendek”.ujarku.
Efan dan Fatan lalu datang menghampiri kami, mereka pasti sudah merasa bosan bermain game berjam-jam.
“nggak seru nih, gimana kalau kita keluar jalan-jalan” usul Efan, tidak berpikir lama-lama aku langsung setuju dan pak Rendi hanya diam dan mengikuti kemauan kami.
“kalian mau kemana?” tanya pak Rendi hanya mengemudi, dan kami belum menentukan akan kemana. “asal jangan outdoor, hari ini cuacanya panas”. Ujar pak Rendi.
“kalau gitu, kita ke mall aja”tambah Efan, aku dan Fatan hanya mengangguk mengikuti kemana mereka pergi.
Setelah tiba di tempat tujuan, aku dan pak Rendi hanya berjalan berduaan sedangkan Efan dan Fatan, mereka berdua juga punya rencana sendiri untuk dilakukan dan akan bertemu di tempat parkir.
Sudah sejam aku dan pak Rendi hanya berkeliling, hanya sepatu yang aku beli sedangkan pak Rendi belum menemukan apa yang harus dibelinya. Dia kemudian mengajakku untuk beristirahat sebentar dan mencari tempat yang bagus untuk membeli es kream. Saat itu tanpa sengaja kami bertemu dengan Vega, mantan pak Rendi dan berpapasan saat di pintu masuk stand yang menyediakan berbagai macam es cream.
“Rendi…!” tegurnya
“Hei…” ujar pak Rendi tersenyum, meski ia tersenyum seperti itu terlihat sangat memaksakan, dan di tambah lagi mereka mengajak kami berdua duduk di satu meja. Awalnya aku ingin menolak dan segera pergi tetapi pak Rendi menerima ajakan Vega, dan dengan terpaksa aku harus menerima situasi yang tidak nyaman ini.
“kak Vega kok sendiri!” tanyaku memulai pembicaraan.
“aku baru sampai, dan berjanji bertemu dengan seseorang di sini” jelasnya, ia terlihat cantik saat tersenyum pikirku. Aku benar-benar merasa tidak nyaman mereka duduk di hadapan mereka berdua, dan harus mendengarkan obrolan kaku mereka.
“bagaimana kabarmu?” tanya Vega menatap Rendi.
“aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?”
“seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!” ujarnya datar.
“aku senang kamu baik-baik saja”. Ucap Vega tersenyum.
“bagaimana hubunganmu dengannya?” tanyanya, membuat raut wajah Vega berubah.
“Ren…kami hanya berteman ! jangan mulai deh” ujar Vega terlihat tidak begitu senang.
Rasanya berada di antara mereka membuat telingaku muak, serasa ingin mengilang saja dari tempat ini, untuk itu agar bisa membiarkan mereka berbicara dengan tenang aku berpikir untuk pergi saja.
“aku pergi sebentar yah…!” sahutku berdiri secara tiba-tiba membuat mereka terkejut karena telah menyela pembicaraannya. Tapi saat itu juga pak Rendi menarik lenganku dan mengenggamnya, aku sontak mengarahkan pandanganku pada pak Rendi. Entah mengapa saat itu aku merasakan perasaan kuat dalam hatiku.
“aku harus pergi...!!” ujarnya berdiri menarikku keluar menjauh dari tempat itu. meski sudah menjauh dari pandangan Vega, pak Rendi masih mengenggam tanganku cukup lama sampai kami tiba di mobilnya.
“bapak nggak apa-apa?” tanyaku sambil berusaha melepaskan tangan pak Rendi, tetapi bukan melepaskannya malah pak Rendi kembali menarikku, menatapku sejenak dan tanpa mengatakan apa-apa ia tiba-tiba memelukku, hanya sekitar sepuluh detik ia melepaskan pelukannya.
Aku diam terpaku, tidak percaya apa yang baru saja terjadi, rasanya berdebar-debar selama ini hanya Fatan yang mengenggam tanganku dan memelukku, tapi kali ini semuanya terasa beda dan sangat menyentuh. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain masih berdiri, untung saja Fatan dan Efan sudah kembali dan selama perjalanan hanya Efan dan Fatan yang terus mengobrol dan pak Rendi sesekali suaranya terdengar, dan aku bersandar di bahu Fatan berpura-pura kelelahan dan tertidur menghindari kecanggunganku pada pak Rendi.
Dari sekian malam, baru kali ini aku merasakan malam yang begitu panjang, pak Rendi terus saja berputar di pikiranku, hatiku pun sangat berisik. Berputar dan berguling ke sana kemari di tempat tidur, menghitung ratusan kali, tetapi mataku enggan terpejam. Malam semakin larut dan perlahan kelelahan menyelimutiku, membuatku tertidur juga.
Hari pertama sekolah di semester ini dan menjadi siswa senior, tapi di saat yang lain terlihat begitu senang hanya aku terlihat tidak semangat, kepalaku sedikit pusing dan gara-gara semalam tertidur hanya beberapa jam, kantung mataku terasa berat, terus menguap selama pelajaran berlangsung bahkan saat istirahat aku tidak keluar kelas sama sekali, hanya merebahkan kepalaku di meja, hpku dari tadi berdering mengabaikan line yang masuk, saat melihat layar hpku ternyata itu dari pak Rendi. Aku bahkan takut membuka dan membacanya.
“bodoh, bodoh !!”gumanku sendiri mematikan hpku dan memasukkannya ke dalam tas.
“kamu kenapa sih Hana? Akhir-akhir jadi aneh deh” tegur Gea menghampiriku.
“Gea...apa yang harus aku lakukan?” ujarku lesuh.
“emang kamu kenapa sih? Akh…jangan-jangan kamu di pecat yah?” ujar Gea mencoba menebak kegalauanku.
“bukan…ini tentang pak Rendi, kemarin dia menarikku tiba-tiba, mengenggam tanganku lalu memelukku, hatiku tiba-tiba berdebar-debar Ge…!”jelasku menatap wajah Gea serius, hanya dia tempatku mengeluarkan keluh kesahku, dan solusi serta nasehatnya selalu membantuku menyelesaikan masalahku. Dia benar-benar mewarisi sifat ibunya.
“kau masih ingatkan ! saat aku bilang jangan terlalu berharap! Kamu pasti sudah mulai menyukai pak Rendi karena kalian sering bersama jadi perasaan suka itu ada padamu, tapi kau juga tahu kalau saat ini pak Rendi lagi patah hati gara-gara di putuskan oleh wanita yang sangat di cintainya, dan itu secara otomatis pak Rendi membutuhkan seseorang untuk bersandar, menghilangkan rasa sedihnya dan…!!” tegas Gea menarik nafas sebelum melanjutkan ucapanya.
“secara kebetulan kamu ada di sana, jadi dia spontan memelukmu” ujarnya, mendengar penjelasan yang begitu panjang membuatku sadar, apa yang diucapkan Gea ada benarnya.
“jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
“hanya perlu menghindarinya saja, kalau kalian bertemu tanpa sengaja cobalah membuatnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi kalau pak Rendi…” ujarnya berpikir.
“kalau apa…?” tuturku menunggu apa yang akan dikatakan Gea.
“ada kemungkinan lain yang terpikirkan…!”
“apa itu?”.
“bagaimana kalau pak Rendi sedang menguji perasaannya !” ujar gea membuatku bingung dia lalu menarik kursinya lebih dekat padaku, berusaha menjelaskan kebingunganku.”mungkin saja dia juga suka sama kamu…!” tutur Gea, aku diam sejenak lalu tertawa memukul bahunya.
“eiss…nggak mungkin” sahutku.
“iya sih, nggak mungkin ! pak Rendi tampan, tinggi dan sempurna sedangkan kamu cewek jelek, gila kerja bahkan wajahmu mulai menua gara-gara sibuk mencari uang…!!” ujar Gea tertawa mengejekku lalu berlari keluar kelas menghindari pukulanku.
Selama beberapa hari ini aku benar-benar melakukan seperti yang di katakana Gea padaku, menghiraukan semua chat dan panggilan pak Rendi, dan jika ia datang menemuiku maka aku hanya perlu bersikap seperti biasanya.
Hari ini sepulang sekolah setelah ke kantor editor, kak Dian memintaku datang ke café menemui seseorang karena hari ini kak Dian tidak bisa menemuinya langsung, maka dari itu ia menyuruhku membawa beberapa contoh buku yang akan di perlihatkan kepada penulisnya, dan setelah setuju dengan edit sampul dan picture maka buku itu akan siap diedarkan di toko buku.
Setelah membuat janji sambil menunggu kedatangannya aku membuka laptopku mengetikkan beberapa kata dan kalimat merangkainya menjadi wacana, akhir-akhir ini untuk menambah kesibukanku aku mulai menulis lagi, itu semua karena komentar dari pembaca di blogku yang terus menunggu karya-karyaku selanjutnya. Beberapa bulan vakum dari dunia maya, membuat beranda di blogku penuh dengan komentar dan permintaan pembaca, hanya sebagian dari mereka yang sempat aku balas dan ucapan terima kasih selalu menjadi kata-kata terakhirku kepada mereka yang mencintai tulisanku.
“selamat sore…! Hana kan!!” sapanya memperkenalkan diri dan duduk, tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, aku sudah membereskan pekerjaan yang diberikan kak Dian padaku, dan tak lama kemudian, seseorang kembali menyapaku, dia menghampiriku setelah melihatku duduk sendiri.
“kak Vega…!!”ujarku.
“sudah dari tadi aku ingin menghampirimu, tapi tadi kamu terlihat sibuk jadi aku urungkan niatku “ jelasnya tersenyum sambil duduk dan memesan beberapa makanan.
“kamu udah makan?” tanyanya, aku hanya mengelengkan kepalaku.
“kak Vega ngapain di sini?” tanyaku terlihat bodoh harus bertanya.
“ya makanlah ! ngapain coba?” tuturnya. “hari ini aku juga ada janji dengan Rendi, kebetulan sekali kita bertemu di sini”.
“tapi aku harus balik ke kantor dulu”.
“kamu makan aja dulu “ pintanya sedikit memohon.
“aku bangga loh sama kamu, masih sekolah udah kerja, seorang penulis yang menginspirasi banyak orang” ujarnya sedikit pujian yang dia lontarkan membuatku sedikit salah tingkah.
“oh iya Han…! Ada yang ingin aku tanyakan?” ujarnya membuatku sedikit khawatir, dia tidak mungkin membahas masalah pak Rendi yang memegang tanganku.
“kamu dan pak Rendi kayaknya dekat banget yah?” ujarnya, tebakanku benar dia benar-benar menanyakannya.
“nggak kok kak…kemarin itu Cuma kebetulan aja ketemu sama pak Rendi” jelasku.
“terus kenapa dia memegang tanganmu?” tanyaku lagi, wanita ini benar-benar membuatku seperti terpojok.
“mungkin pak Rendi nggak sengaja aja !” tuturku lagi, kakiku seolah ingin pergi dari sini secepatnya. “maaf kak, aku harus kembali ke kantor” ujarku pergi terburu-buru saat itu juga pak Rendi masuk dan aku menabrak bahunya begitu keras dan hanya pergi begitu saja.
Wanita itu benar-benar aneh, meski wajahnya cantik dan terlihat baik, tetapi ada sesuatu yang membuatku takut kepada tatapannya yang seolah-olah menyuruhku untuk menjauh dari pak Rendi.
6. mengakui
Sejak hari itu aku mulai hati-hati dengan perasaanku, aku benar-benar tidak ingin terlibat dalam situasi yang sangat rumit. Sekarang aku memfokuskan diriku untuk melanjutkan tulisan-tulisan yang sempat tertunda. Malam ini aku pulang lebih cepat sehingga bisa meluangkan waktuku menyelesaikan tugas sekolah, bersantai di depan televisi bersama Fatan dan Gea, yang beberapa hari ini menghinap di rumahku, tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara seseorang mengetuk pintu beberapa kali.
“siapa sih malam-malam gini?” ujar Gea sambil melihatku.
“nggak tahu…!”ujarku menunggu Fatan.
“pak Rendi mencarimu…!” sahut Fatan.
“ngapain dia malam-malam kesini?” tanyaku berdiri menghampiri Fatan. “kenapa nggak di suruh masuk aja” ujarku.
“katanya mau bicara di luar aja!” ujar Fatan menutupi badanku kain.
“suruh masuk aja, nggak enak di liat tetangga tahu nggak !” seruku melangkah keluar dan langsung menyuruh pak Rendi masuk.
“Hei pak…” sapa Gea mempersilahkannya duduk bersama kami. Tapi pak Rendi sedikit tidak nyaman saat itu.
“ada yang ingin aku bicarakan, tidak di sini” bisiknya berdiri mengajakku ke teras belakang.
“bapak kok malam-malam datang kesini…”ujarku sedikit kesal.
“karena kamu nggak ada waktu di siang hari, susah di hubungi,  dan selalu mengabaikan semua pesanku” bentaknya terlihat jengkel.
“Yah..!!” seruku sedikit mengangkat wajahku. “kenapa bapak kesalnya sama aku? siapa juga yang nyuruh bapak telpon dan sms” bentakkku kembali, kali ini rasa hormatku padanya  mulai tiada.
“apa kamu bilang?” menatapku dengan kedua matanya yang tajam seolah ingin menelanku.
“bapak nggak mengajar lagi di sekolah, aku sudah memenuhi kewajibanku belajar selama lima minggu dan menuruti kemauan bapak, jadi nggak ada alasan lagi sering-sering bertemu, bapak kembali ke kehidupan bapak sebagai mahasiswa dan aku kembali ke duniaku yang penuh dengan tantangan dan tentu saja saya sangat berterima kasih karena bapak yang membuat saya sedikit bisa merasakan banyak pengalaman “ ujarku hanya dengan satu tarikan nafas, pak Rendi hanya diam setelah mendengarku
“kurasa aku mulai menyukaimu” tuturnya pelan.
“bapak suka sama aku?” tanyaku tertawa, menjatuhkan pantatku di kursi menatap tepat di matanya. “kenapa bapak bisa ngomong suka sama aku begitu mudah? Sedangkan bapak masih mencintai orang yang sudah meninggalkan bapak.“ tuturku.
“sulit membuatmu mengerti dengan kata-kata…” ujar pak Rendi.
“baiklah, dengan cara apa agar aku bisa mengerti?” tegasku.
“itu terserah padamu, bagaimana caramu memandangku dari segi yang kau sukai, kau tahu? Aku menyukaimu secara tiba-tiba tak ada rumus yang bisa menjelaskan kenapa aku bisa merasa nyaman denganmu, jadi jangan membuatku mundur sebelum aku benar-benar tahu perasaanku” ujar pak Rendi.
“baik, aku punya ide,! selama dua minggu ini kita habiskan waktu bersama dan  setelah dua minggu berlalu, kita tidak akan saling bertemu selama dua minggu juga, kita lihat bagaimana perasaan kita” tuturku, ide yang aku jelaskan begitu mudah di pahami pak Rendi tanpa perlu menjelaskan ulang.
“yah ! apa kamu bodoh? Bagaimana kita punya waktu bertemu kalau kamu juga kerja dan pulang malam hari, sedangkan waktumu hanya ada sabtu dan minggu” tuturnya. “sebulan? Kita coba selama sebulan, dan selama sebulan juga kita tidak akan bertemu. Bagaimana?” lanjutnya, biarpun aku berpikir tetapi dia sudah memutuskan lebih dulu.
“bisa kupastikan, perasaanku sampai hari itu tetap sama, dan jika itu terjadi jangan menemuiku lagi meski aku yang memintanya sekalipun” jelasku dengan keyakinan tinggi. Pak Rendi kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa.
“kalian berdua benar-benar aneh, sulit banget sih ! kenapa nggak langsung pacaran aja” celetukr Gea mengikuti ke kamar. Aku hanya ingin cepat tidur malam ini, mengapa juga ide itu tiba-tiba terlintas begitu saja, aku memasukkan diriku sendiri ke dalam masalah.
Mataku sama sekali enggan tertutup, bukan karena suara dengkur Gea yang sudah terlelap di sampingku, tetapi apa yang akan aku lakukan selama sebulan ini bersama pak Rendi, aku hanya khawatir jika aku akan benar-benar suka padanya. Aku beranjak dari tempat tidur membuka pintu perlahan dan masuk ke kamar Fatan yang juga tertidur lelap.
“Fat…!!” bisikku, ia terbangun ketika mendengarku.
“hmmm…ada apa?” ujarnya duduk, berusaha membuka matanya, dan menatapku.“kamu baik-baik aja.?”
“baringlah…!” bergeser ke samping dan menyuruhku berbaring di tempatnya.
“Seharusnya kamu senang karena ada yang menyukaimu, bukannya khawatir dan takut” ujarnya memegang tanganku dan kembali berbaring, meski tidak mengatakan apa-apa, Fatanlah yang akan menjadi orang pertama mengerti perasaan dan semua kekhawatiranku.
7. percobaan 1
Pagi ini sedikit membuatku bertanya-tanya, apakah yang terjadi selama ini hanya mimpi bagiku, seandainya waktu bisa ku ulang, aku tidak ingin bertemu dengannya, siapa saja, asalkan bukan pak Rendi. Tetapi meskipun itu bukan dia apakah ceritanya tetap akan sama.
Di sekolah, hari ini aku hanya diam, bengong selama pelajaran berlangsung tanpa ada sedikitpun semangat, jam istirahat, aku hanya duduk bermalasan di bangku taman sekolah mendengarkan musik sambil memperhatikan siswa lainnya. Tanpa kusadari Fatan sudah duduk di sampingku mematikan musik di hpku.
“pak Rendi orangnya baik kok !! kenapa nggak di jalanin aja dulu “ sahut Fatan, tapi aku masih diam menatapnya sejenak.
“kalau kamu khawatir denganku, khawatir jika suatu saat aku akan cemburu karena ada orang lain yang kamu sayang…! Aku percaya kok sama kak Hana, asalkan kita tetap bersama,,,itu akan baik-baik saja “ ujar Fatan, aku menatapnya lagi, kekhawatiran dan ketakutanku untuk membuka hatiku memang terletak di titik ini. Aku takut  jika suatu saat aku kehilangan Fatan, meskipun dia pria yang bagiku sudah cukup dewasa, keren dan popular dan dingin pada orang lain tetapi Fatan bagiku masih seorang adik yang membutuhkanku.
“jadi kamu nggak usah mikir macam-macam, kalau kamu bahagia, aku juga akan bahagia” ujar Fatan menepuk pundakku.
“kapan kalian mulai jalan?” lanjut Fatan tersenyum, mengalihkan kesedihanku.
“katanya, sepulang sekolah dia akan menjemputku untuk makan siang lalu mengantarku ke tempat kerja” ujarku.
“yah udah, kamu hati-hati, telpon aku aja kalau ada masalah” ujar Fatan beranjak pergi, dan tak lama aku menyusulnya setelah mendengar bel masuk kelas.
Baru kali ini aku merasa canggung, aku tidak pernah berpikir ini akan terjadi padaku, aku seperti seorang yang kehilangan kepercayaan diri, pak Rendi seolah-olah mengeluarkan semua pesonanya hanya untukku dan membuat hatiku Up Down, jungkir balik, tidak tenang dan bergejolak melawan diriku yang sebenarnya.
Seminggu hampir berlalu, dan siang ini dia menyuruhku datang ke cafe, ketika aku sudah masuk, lagi-lagi aku melihat wanita itu bersama pak Rendi, mereka pasti bertemu tanpa sengaja dan dengan senyum lebar aku menghampiri mereka.
“akhir-akhir ini kalian sering bertemu yah!?” sahutnya tersenyum, tetapi terlihat jelas di wajahnya ia tidak suka padaku.
“mungkin karena aku merasa nyaman dengannya” ujar pak Rendi, lagi-lagi dia membuat wajahku harus menyembunyikan cahaya merahnya, tetapi tidak dengan Vega, wajahnya berubah kesal melihat pak Rendi yang mencoba merayuku.
“terlibat cinta dengan siswa sendiri, apa itu nggak aneh Ren” ujar Vega menyeringai.
“nggak aneh sama sekali, lagi pula pak Rendi masih muda, mahasiswa, keren, cakep, perhatian dan…!!”
“hmm,,,jangan memujiku berlebihan, belum seminggu kau sudah jauh cinta padaku” ejek pak Rendi mengusap kepalaku sambil tersenyum.
“lagi pula aku dan pak Rendi nggak pacaran kok, jadi kak Vega jangan mikir aneh-aneh.” Ujarku. “ oh iya, aku ke toilet dulu”, ujarku terburu-buru.
“Ren, kamu Cuma mainin dia kan, nggak serius” tanya Vega.
“kamu janjian sama sih. Dari tadi kamu di sini, dia juga belum datang?” ujar Rendi mengalihkan pembicaraan.
“Nggak ketemu siapa-siapa kok, Cuma datang aja mau ketemu sama kamu, soalnya dulu kita selalu ketempat ini, jadi ku pikir kalau selesai kuliah pasti mampir disini”.
“di kampus, kita juga selalu ketemu, kenapa harus di sini.!” Ujar Rendi
“kamu banyak berubah Ren…!” ujar Vega menatap Rendi.
“berubah,,?? Kayaknya sama aja” tutur Rendi.
“apa karena aku?” ucap Vega. “jangan memaksakan diri, aku tahu hatimu masih untukku dan kau mencoba untuk mencari kebahagian lain bersama Hana, dia masih kecil Ren…!” ujarnya, tetapi aku datang di waktu yang sangat tepat, saat mendengar Vega menyebutku anak kecil.
“aku bukan anak kecil, umurku sudah 18 tahun” tambahku duduk menatapnya kesal.
“kalian mau ke mana setelah ini?” tanya Vega, dia terlihat ahli mengalihkan pembicaraan.
“kami akan ke taman hiburan” ujarku
“sepertinya menyenangkan, bagaimana kalau kita bertiga pergi bersama, nggak apa-apa kan?” tanya Vega.
“hmmm…!” pak Rendi menatapku, matanya mengisyaratkan meminta pendapatku.
“oke, aku juga sudah menghubungi Fatan, Gea dan Efan, jadi kita semua bisa pergi sama-sama” lanjutku.
Setibanya di Taman Hiburan, Fatan, Gea dan Efan tiba lebih dulu dan sudah membelikan kami tiket, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengantri, kami berenam sudah masuk di antara kerumunan pengunjung yang padat. Akhir pekan seperti ini memang selalu menjadi pilihan yang terbaik mengunjungi tempat ini, tempat yang sangat strategis di jantung kota dan memiliki area yang sangat luas, beberapa orang yang biasanya datang lebih banyak menghabiskan waktu di kolam renang apalagi di cuaca panas seperti ini.
Untung saja ideku untuk mengajak mereka bertiga tidaklah sia-sia, sudah sejam kami berjalan pak Rendi dan Vega menghilang entah kemana, aku berusaha untuk tidak peduli tetapi tetap saja wajahku tidak pandai berbohong, selama sejam itu pula Efan dan Gea memutuskan untuk naik Rolecoster, sedangkan aku dan Fatan hanya berdiri memperhatikan jeritan orang-orang yang menaiki wahana itu.
“pak Rendi mana?” tanya Fatan
“entahlah,,,! Dia lagi sama mantan pacarnya itu” ujarku sinis.
“kamu cemburu yah?” ejek Fatan.
“nggak lah..” ucapku singkat
Selama setengah jam menunggu Efan dan Gea akhirnya selesai, Gea terlihat begitu pucat saat ia turun sedangkan Efan memegangi sambil tertawa mengejeknya.
“kamu nggak apa-apa?” tanyaku menghampirinya.
“dia hanya ketakutan!” ujar Efan
“aku nggak mau naik itu lagi,” ujar Gea mengelengkan kepalanya, dia membuat kami semua tertawa waktu itu, tetapi meskipun begitu Gea dan Efan memiliki sifat yang sama, ceria, semangat dan bisa membuat orang lain tertawa. Saat kami memutuskan untuk pergi ke kolam renang, di saat itulah pak Rendi dan Vega menghampiri kami.
“kalian kemana aja sih?” tanya Efan
“ada urusan, nggak penting banget kok, oh iya kalian mau kemana?” tanya pak Rendi lalu mengikuti kami setelah tahu tempat yang akan kami datangi. Aku masih bersama Fatan memegang lengannya, tidak tahu mengapa hari ini aku satu-satunya yang terlihat bodoh yang harus berpura-pura senang.
“maaf…!” sahutnya tiba-tiba sudah berjalan di sampingku.
“kenapa harus minta maaf, emang kamu punya salah?” ujarku mempercepat langkahku.
“kamu marah yah?” tanyanya lagi.
“siapa juga sih yang marah, kenapa aku harus marah!” ujarku menjauh mengikuti Gea yang sudah masuk ke kamar ganti, hanya beberapa menit Gea sudah menceburkan dirinya ke kolam bersama Efan,  sedangkan Fatan tidak begitu suka dengan air, dan dia hanya melihat kami dari kejauhan. Aku hanya duduk di pinggir kolam merendam kakiku, tak lama Vega juga keluar, dia terlihat cantik dengan baju mininya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan kulit putih mulusnya, membuat mata laki-laki yang berada di di sini seolah-olah hanya melihatnya.
“apa yang kamu lihat?” tanya pak Rendi sudah berada di sampingku, dia terlihat keren dengan baju tanpa lengan yang di gunakannya memperlihatkan otot-ototnya.
“kamu nggak berenang?” tanyanya sambil menceburkan dirinya, dia benar-benar membuatku tidak bisa berpikir apa-apa ketika melihat pesonanya, kekesalanku yang tadi seperti menghilang tiba-tiba.
“nggak, aku Cuma mau duduk di sini aja” kataku. Tetapi dengan sekejap mata pak Rendi sudah menarikku ke air, dan segera mengangkat tubuhku setelah melihatku melambaikan tangan beberapa kali di air.
“dia nggak tahu berenang “ bentak Fatan menghampiriku memastikan keadaanku.
“aku nggak apa-apa kok” kataku masih berpegang di tepi kolam.
“lain kali jangan ceroboh..”ujar Fatan lagi, lalu pamit pulang lebih dulu.
“aku nggak tahu kalau kamu nggak bisa berenang” ujarnya menatapku, dia tersenyum dan tangannya menyentuh pipiku menghapus tetesan air yang membasahi wajahku, merapikan rambutku. Aku mendorongnya dan naik ke tepi kolam.
“aku akan mengajarimu…!” ujarnya kembali menghampiriku.
“aku nggak mau”.
“kamu malu !!”.
“nggak, siapa juga yang malu, aku nggak enak aja diliatin sama mereka” ujarku menunjuk Gea dan Efan dari kejauhan sesekali mengambil gambar.
“ayo..!” pak Rendi mengangkat kedua tangannya menatapku, membuat hatiku kembali kacau, jika aku menolaknya akan menjadi kekalahanku sendiri dan hanya beberapa menit aku segera naik dan mengajak Gea pulang.
“ kamu nggak apa-apa?” tanya pak Rendi melihat wajahku yang pucat.
“dia emang gitu kalau udah berenang, tapi dia baik-baik aja kok” jelas Gea.
“oh iya kalian berdua pulangnya di antar Efan yah” ujar pak Rendi menyuruhku masuk ke mobil sementara Gea dan Vega pulang bersama Efan yang juga membawa mobil.
“kenapa kita nggak pulang bareng-bareng aja sih” ujarku
“karena aku masih ingin bersamamu “ ujarnya terdengar egois bagiku.
“yah..aku masih punya tumpukan naskah yang harus aku kerjakan, hari ini aku mau pulang aja”.
“baik kita kerumahmu..!” ujarnya sambil memutar balik mobil kembali ke arah rumahku.
Setibanya di rumah, aku melihat dua mobil yang terparkir di depan rumah, mobil milik Efan dan yang satunya aku belum tahu, saat aku melangkah masuk tante Maya menyambutku.
“kalian curang yah, nggak ngajak-ngajak tante” ujar tante menyuruhku duduk di sampingnya, dan Gea memperkenalkan Rendi dan Efan. Tapi seseorang yang berada di samping tante Maya aku tidak tahu siapa dia, mungkin hanya teman kerjanya yang kebetulan bersamanya.
Tetapi entah mengapa dia sejak tadi memperhatikanku, seolah ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Gea dan tante Maya sejak tadi bertingkah aneh di hadapanku saling bertatapan
“Fatan mana?” tanyaku.
“Fatan di kamar” jawab Gea menarik Efan dan pak Rendi bersamaan menuju ke halaman belakang.
“kenapa?” tanya Efan.
“sebaiknya kita pulang aja” usul pak Rendi tetapi Gea mencegah.
“kalian di sini aja dulu, Hana pasti akan butuh bapak nantinya” ujar Gea.
Sementara itu di ruang tamu aku masih bingung dengan apa yang terjadi, tante Maya meraih tanganku dan membawaku ke kamar dan Fatan wajahnya terlihat begitu lesuh.
“ada apa sih tante, kok kalian berdua aneh banget, dan siapa wanita di luar itu.?” tanyaku berulang-ulang, tetapi di balik wajah tante Maya dan lidahnya yang terlihat sulit mengatakan sesuatu.
“ada yang ingin aku katakan kepada kalian !” ujar tante Maya dengan nada melemah, ia menarik nafas dalam-dalam.
“kalian berdua sudah seperti anakku sendiri, ketika ayah kalian memohon dan menyuruhku untuk menjaga kalian berdua, awalnya aku sempat berpikir, apakah aku bisa merawat kalian berdua, apakah aku bisa membuat kalian tumbuh dengan layak, apakah aku bisa menyayangi kalian, itulah kekhawatiranku tetapi seiring kalian tumbuh, aku cukup bangga dengan prestasi kalian berdua…!” tante berhenti sejenak menatap kami bergantian membelai kepala kami, air mataku di ujung kelopak, aku tidak tahu apa maksud tante Maya menceritakan ini semua.
“Hana menjadi seorang penulis muda yang karyanya menjadi best seller dan menghasilkan uang, dan Fatan meraih prestasi dan beasiswa yang menjaminnya kuliah di luar negeri dan pada akhirnya kalian memutuskan untuk hidup mandiri, tetapi bahkan kalian tidak pernah bertanya mengapa aku menjual rumah tempat tinggal kalian dulu!” seru tante Maya kembali melanjutkan ucapanya. “karena Ayah kalian menyuruhku menjualnya dan menggunakannya untuk menyekolahkan kalian, tetapi aku tetap menyimpannya untuk kalian berdua suatu saat nanti, dan saat kalian sepakat menyewa rumah, di situlah aku mulai berpikir aku akan membelikan kalian rumah dengan uang itu, dan alasan lainnya karena ayah kalian tidak ingin jika suatu saat ibu yang meninggalkan kalian akan kembali mencari kalian berdua” jelas tante Maya, penjelasanya membuat air mataku jatuh.
“jadi apa alasan tante menceritakan semua ini pada kami” ujar Fatan.
“karena tante juga seorang ibu, yang mengerti bagaimana perasaan seorang ibu jika memohon ingin bertemu dengan anaknya meski resikonya anak itu mungkin tidak ingin bertemu dan melihat ibunya lagi” ujar tante Maya.
“apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tante ngomongin ibu?” timpalku.
“kami tidak ingin dengar itu, kami bersyukur waktu itu masih kecil dan sewaktu dia pergi, kami bahkan sudah lupa bagaimana wajahnya” kini Fatan yang menimpali, meski kami belum tahu pasti mengapa tante baru membahas masalah ini.
“wanita yang ada di luar adalah ibu kalian” ujar tante Maya, kini jawaban terakhir itu seperti tamparan bagiku, kesedihanku berubah menjadi perasaan yang kesal dan marah, Fatan hanya menutup matanya dan masuk ke kamar mandi setelah mendengarnya.
“kamu gadis yang pintar dan hebat  Han, temuilah dia, aku tahu Fatan tidak akan menerima ini semuanya, tapi setidaknya kamu yang harus menjelaskannya padanya” ujar tante Maya keluar dari kamar membiarkan kami berdua.
“aku nggak bakalan ketemu sama dia” sahut Fatan menghampiriku, aku memeluknya, dia sejak tadi menahan tangisnya dan kini di pelukanku ia baru bisa menangis tanpa suara. Aku tahu bagaimana perasaannya, perasaan yang begitu kuat tertancap dalam hatinya ketika ia setiap malam mencari ibu dan menangis lagi ketika dia terbangun, itu saat yang begitu sulit bagiku, di usiaku aku harus belajar menjadi kakak yang tegas bagi Fatan, menjadi ibu dan ayah baginya.
“ayo kita temui dia…” ucapku pelan menarik tangan Fatan, dia mau menurutiku setelah apa yang aku katakan padanya, dia tidak perlu mengatakan apa-apa saat di depannya nanti, jangan menatapnya, hanya aku yang akan bicara padanya.
“Nak…!!” panggil wanita itu, aku kemudian duduk tepat di hadapannya mengenggam tangan Fatan yang gemetaran, meski aku juga merasakan tanganku keringat dingin, tetapi aku sudah menahannya sejak tadi.
‘aku senang kalian bisa tumbuh dengan baik” ujarnya sambil menahan air matanya
Aku mengangkat kepalaku, memperhatikan wajah itu, wajah ibu kandungku sendiri, tak ada satupun kenangan yang bisa mengingatkan aku padanya, hanya wajah Ayah saat ia terbungkus kain kafan yang begitu jelas di benakku. Wanita itu memang cukup cantik dan terlihat begitu muda, dengan make up ringan di wajahnya menutupi keriput di bagian matanya, dia terlihat baik-baik saja dan sehat, di pikiranku saat ini ia pasti sudah memiliki keluarga lain yang bisa membuatnya bahagia dan hidup dengan tenang, terlihat jelas dengan penampilannya yang cukup modis.
“apa kalian baik-baik saja?” tanyanya lagu meraih tanganku, dan dia mengenggam erat tanganku, terasa aneh dan tidak terasa apa-apa, semuannya begitu hampa bagiku, tetapi tetap saja ada sesuatu yang membuat pikiranku saat ini ingin berteriak. Seharusnya tangan seorang ibu begitu hangat dan nyaman, tetapi tak ada yang mengalahkan tangan Fatan, ini karena aku merasa seperti bermimpi, sosok seorang ibu yang seharusnya kami rindukan, entah mengapa berubah menjadi sesuatu yang sangat kami tidak sukai.
“kami baik-baik saja!” jawabku setelah lama diam memikirkan kata-kata yang untuk aku keluarkan.
“ini sudah hampir malam, kalian bisa pulang!” ujarku melepas tangan Fatan yang sejak tadi ingin meninggalkan tempat itu, tetapi aku terus mengenggam kuat tangannya untuk menahannya.
“aku minta maaf…!” ujarku berusaha sesopan mungkin kepadanya, tante Maya juga mengerti dengan keadaan kami dan memintanya untuk datang lain waktu, aku menghampiri Fatan ia terlihat begitu menderita menahan perasaan di hatinya yang bergejolak untuk berusaha menerima dan menolak.
“pak, mungkin aku nggak bisa nemenin Hana malam ini, aku minta tolong sama kalian berdua untuk nemenin mereka, Hana nggak punya siapa-siapa di sisinya kecuali Fatan, dan dia saat ini begitu syok melebihi Hana!” jelas Gea pamit pergi setelah tante Maya menyuruhnya ikut pulang.
Perasaan yang menyakitkan ini seperti menyedot seluruh energiku, tubuhku begitu mati rasa tidak mampu bergerak, dari tadi aku menahan perasaan bergejolak ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa, dan hanya berdiri melihat punggung Fatan kedua tanganku begitu dingin dan berkeringat, tetapi saat seperti ini aku tidak bisa mendekatinya, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya sedangkan aku sendiri dengan keadaan seperti ini, menangis dengan nafas yang begitu sesak, Ayah, hanya kata-kata itu yang bisa aku ucapkan, dalam hati aku berdoa agar Tuhan menurunkan Ayahku meski sebentar, aku ingin memeluknya tetapi jika tidak bisa aku hanya ingin melihatnya sejenak. Aku ingin melihat wajahnya yang tersenyum, andaikan itu bisa? Andaikan itu bisa menyembuhkan sakit yang tertahankan dalam dadaku.
Tiba-tiba tangan yang begitu hangat memegang pundakku, menarikku dalam pelukannya, sepertinya Tuhan benar-benar mengabulkan doaku, pelukan ini terasa begitu hangat, rasanya Ayah benar-benar turun dari langit dengan sosok yang begitu nyata. Aku menghempaskan semua kesedihanku dan tangisku di dadanya.
Aku sudah tidak ingat, kapan terakhir kalinya aku menangis seperti ini, mungkin saja sejak Ayah meninggal, itu kali terakhir aku menangis, dan berapa jam yang aku habiskan malam ini hanya untuk menangis dan itu semua membuatku begitu lelah dan tertidur.
Seperti pagi ini, yang begitu cerah, rasanya begitu berat menggerakkan badanku, aku menatap wajahku di cermin, kedua mataku bengkak gara-gara menangis semalam dan aku menutupinya dengan kacamata, rambutku terlihat begitu berantakan dan aku mengikat seadanya lalu keluar kamar. Aku tidak begitu terkejut saat melihat pak Rendi sudah berada di dapur menyiapkan sarapan. Aku tidak bisa memarahinya dengan keadaanku seperti ini, apalagi dia meminjam dada dan pelukannya yang sedikit bisa mengobati rasa rinduku kepada Ayah dan mengurangi kesedihanku.
“duduklah…!!” ujarnya menghampiriku, merapikan rambutku yang berantakan dan mengikatnya kembali
“Fatan sama Efan mana?”
“meraka masih tidur” ujarnya menungguku menghabiskan sarapan dan setelah Efan bangun mereka pamit pulang.
“kamu baik-baik aja kan?” tanyaku menghampiri Fatan sambil membawakannya makanan.
“aku baik-baik aja” ujarnya tersenyum menerima beberapa suap makanan dariku.
“semua akan baik-baik saja kok, jadi kita hadapi ini dan kejadian tadi malam itu sudah berakhir, kau tahukan, aku tidak suka harus melihatmu seperti tadi malam” tuturku sambil merapikan rambutnya.
“kakak sendiri bagaimana? Kau menangis semalaman, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya pak Rendi bisa membuatmu perlahan tenang” tutur Fatan.
“aku sudah memikirkannya semalaman, meski kita membencinya tetapi dia tetaplah seorang ibu yang sudah melahirkan kita dan pernah membesarkan kita walau hanya enam tahun”. Tuturku.
“jadi apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.
“kita temui dia lagi, dan dengar apa yang ingin dia katakan!”.
Setelah memikirkanya, aku dan Fatan sepakat untuk bertemu dengannya lagi dan kali ini aku meminta pak Rendi menemaniku, dan mengantarku ke alamat yang ditujukan tante Maya padaku, karena hari ini dia tidak bisa menemaniku.
Setelah mengecek ulang alamatnya akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang cukup mewah sambil berdiri menunggu seseorang membukakan pintu. Aku begitu gugup, tetapi pak Rendi terus menyakinkanku dan tetap kuat apapun yang terjadi, begitupun dengan Fatan ia banyak mendapatkan banyak kepercayaan diri dari pak Rendi. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak merasakan kesedihan saat bertemu dengannya, berusaha untuk bersikap biasa dan berbicara baik-baik, aku dan Fatan harus pandai-pandai menaklukan amarah itu dan menganggap masa lalu hanyalah sebuah mimpi yang menyakitkan.
Tidak lama kemudian, aku masuk dan meninggalkan pak Rendi sendirian di mobil, dia akan tetap menunggu kami. Aku berusaha untuk tenang saat kakiku melangkah masuk ke rumah itu, Fatan langsung mengenggam tanganku sambil mengikuti seorang pembantu yang menunjukkan jalan pada kami, saat melangkah pertama kali pemandangan yang cukup mewah menyambut kedua mataku, harum penyegar ruangan dan lantai yang mengkilap dengan peralatan rumah yang begitu mewah, sepertinya ibuku benar-benar beruntung dan bersyukur saat meninggalkan kami waktu itu, bisa aku bayangkan jika dia tetap bersama kami, mungkin saja kehidupan mewah ini tidak akan di dapatkannya. Aku berhenti sejenak memperhatikan sebuah foto yang tergantung di dinding, sebuah foto keluarga yang sedikit membuatku tersenyum pahit, dia memiliki suami yang terlihat baik, tetapi Ayahku lah yang paling hebat di dunia ini, tepat di sampingnya berdiri dua laki dan satu perempuan yang usianya masih masih sangat muda, pemandangan itu membuat Fatan membalikkan tubuhnya.
“ayo kita pergi saja” sahut Fatan, tetapi aku berusaha membuanya yakin dan bertahan sebentar saja.
“Hana,,Fatan,,ayo nak kemari” panggilnya menyuruh kami duduk di antara orang asing ini.
“Hana…!! “ sahut seorang laki-laki yang langsung menunjukku lalu menghampiriku, aku terkejut saat dia memperhatikanku memastikan sesuatu, aku bahkan belum mengenalnya dan dia langsung menyebut namaku. Di lihat dari umurnya bisa kupastikan kalau dua laki yang kulihat di foto tadi adalah anak tiri dari ibuku, sedangkan gadis kecil yang hanya diam duduk manis di samping ibunya itu pastilah saudara tiriku.
“kamu kenal dia?” sahut seorang laki-laki yang duduk di kursi kepala keluarga dan suami dari ibuku.
“iyah, dia pernah hadir di seminar kampus sebagai Narasumber” jelasnya lalu memperkenalkan diri, Ahmad ternyata mengenalku karena dia salah satu peserta seminar yang hadir sekaligus mahasiswa di kampus yang sama dengan pak Rendi.
“oh..penulis novel Dream Real, Dream Kill itu!” tambah seorang lagi yang baru saja tiba, dia sepertinya anak tertua dari keluarga ini, kemudian menghampiri kami memperkenalkan dirinya, dia anak tiri tertua ibuku bernama Rano dan dia sudah bekerja di sebuah perusahaan yang sama dengan Ayahnya.
“kamu kerja di mana?” tanyanya, suami ibuku itu cukup tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang kami.
“dia kerja kantor penerbitan, asisten chief editor “sahut Fatan, menggantikanku menjawab pertanyaan itu.
“terus kamu juga kerja?” tanya Rano kepada Fatan, bisa kuduga mereka tidak tahu apa-apa tentangku, dan ibuku hanya duduk diam tersenyum bangga kepadaku dan Fatan.
“iya, seorang pelayan di restoran!” ujar Fatan sinis.
“umur kalian berapa?” tanya suaminya lagi, aku mendesah tersenyum, berpikir pertanyaan bodoh ini, apa ibuku itu sudah lupa dengan umur kami, hingga kami harus menjawab pertanyaan konyol ini.
“mereka masih sekolah, Hana duduk di kelas tiga dan Fatan setahun lebih muda darinya” ujarnya, tak lama setelah kami diam. Aku mulai sedikit pengap berada di ruangan ini.
“kalian masih sekolah, dan anak perempuanmu ini seorang penulis dan editor, kalian masih muda dan sudah bekerja, ibu kalian pasti bangga!” tutur suaminya itu.
“kami hanya berdua, jadi mau tidak mau harus belajar untuk hidup” lanjut Fatan, dia lebih banyak bicara di bandingkan aku yang hanya diam.
“kami semua sudah membicarakan ini, dan ibu harap kalian berdua mau tinggal bersama kami di sini” usul ibu menatap kami bergantian. Aku benar-benar berharap seorang ibu akan memahami apa yang terjadi kepada anaknya, tetapi bagiku itu tidak, aku benci melihat ibuku seolah tidak bersalah dengan kehidupanku yang berlalu bersama Fatan.
“benar, kami juga senang bisa dapat saudara yang cukup terkenal seperti Hana” ujar Ahmad seorang penggemar novelku yang sejak tadi selama makan siang terus bertanya seputar novel dan tulisan-tulisanku selanjutnya.
“maaf kami tidak bisa tinggal bersama orang lain,” tutur Fatan, dia berusaha menahan sikapnya.
“aku ini ibumu, dan mereka semua akan menjadi keluargamu “ sahut ibuku.
“ini keluarga ibu, bukan keluargaku!” ujarku, suasana yang tadi ramai akhirnya diam ketika kata-kata ini keluar dari mulutku.
“kami datang kesini hanya ingin meminta maaf dan pengertian ibu, bukan datang mengemis keluarga ataupun tinggal di sini, aku dan Fatan sudah memiliki kehidupan baru, jadi aku mohon ibu, kita jalani semua ini seperti biasanya, aku dan hidupku dan ibu dengan mereka” ujarku memperhatikan mereka, lalu suami ibuku menyuruh anak-anaknya meninggalkan kami bertiga untuk berbicara.
“ibu tahu Nak, kalian pasti membenci Ibu dan sekarang lah waktu yang tepat untuk ibu membayar semuanya.”
“aku tidak menyalahkan ibu, kami juga sudah memaafkan jauh sebelum ibu meminta maaf, jadi tidak ada yang perlu ibu sesalkan, aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka, ibu tetaplah seorang ibu bagi kami karena kami lahir dari rahimmu, tetapi kalau ibu memintaku untuk tinggal dengan keluarga yang sangat asing bagiku, aku tidak akan melakukan itu”.
“kalian masih sekolah, jadi izinkan ibu untuk membiayai hidup kalian!”.
“kami masih hidup sampai sekarang tanpa bantuan orang lain, jadi anda tidak perlu repot-repot untuk membantu kami” sahut Fatan.
“itu benar bu, lagi pula aku dan Fatan sudah merencanakan hidup kami, jadi aku dan Fatan sudah bahagia dengan ini semua” jelasku, menatap ibuku yang meneteskan air matanya.
“maafkan ibu nak, ibu sangat menyesal meninggalkan kalian dan membiarkan hidup kalian sengsara seperti ini, hampir setiap malam ibu memimpikan kalian, berusaha mencari tahu keberadaanmu, dan Maya juga memutuskan kontak denganku, jadi aku tidak bisa menemui kalian”.
“ibu tidak usah menangis, aku tahu yang aku lakukan ini mungkin salah, tetapi dari lubuk hati, aku sudah memaafkan ibu dan apa yang sudah terjadi sudah seperti mimpi bagi kami.” Jelasku kembali, harus memperhatikan ibuku sendiri menangis menyesali perbuatan masa lalunya yang menelantarkan kami.
“berhentilah menangis ibu, dan anggap semua ini hanya mimpi seperti kami yang mengganggap masa lalu itu hanya mimpi, dan aku senang ibu sehat-sehat saja dan bisa hidup dengan baik” ujarku segera pergi setelah pamit kepada keluarga ibu. Aku terus meminta maaf dalam hatiku, tidak semestinya aku seperti itu, tetapi tidak mungkin juga aku hidup dengan seseorang yang tidak aku kenal, memanggilnya ibu terus-menerus seolah hanya lakon meskipun dia adalah ibu kandung yang membuang kami, duri yang tertusuk di hati kami selama ini, tumbuh dan berakar kuat sehingga sulit bagiku untuk menolak keadaan ini. Keluar dari istana ini rasanya sangat menyenangkan, perasaan yang mungkin sama di rasakan oleh seorang penjahat yang di penjara cukup lama dan akhirnya bebas menghirup udara segar, perasaan itu hampir sama yang aku rasakan.
Aku begitu lega dengan perasaanku yang seakan membuang beban dari pundakku, setidaknya inilah jalan yang paling baik untuk aku lakukan. Aku hanya butuh waktu untuk menerima keadaan ini.
Hari berlalu seiring waktu yang telah pergi, perlahan menghapus kesedihanku, kembali ke kehidupanku yang sebelumnya membuatku kembali bersemangat. meskipun terkadang dia datang menengok kami dan masih berusaha membujuk kami untuk tinggal bersama, tetapi jawaban yang akan kuberikan akan selalu sama.
8. start
Hampir sebulan aku dekat dengan pak Rendi, di saat seperti ini juga aku memang harus mengakui kalau perasaanku padanya seiring tumbuh sejak dia menghabiskan waktu untukku menghapus kesedihanku, menemaniku saat tak ada orang yang bisa aku jadikan sandaran, meskipun aku berusaha tegar dan kuat, tetapi itu hanyalah pikiranku, tubuhku dan hatiku tidak bisa menjadi apa yang ada di pikiranku. Dia membuatku begitu nyaman berada di sisinya.
Hari ini aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan pulang lebih cepat, selain itu aku juga harus menemui pak Rendi, dia menunggu di tidak jauh dari tempatku bekerja.
“Ayo,,!” pak Rendi menarikku masuk ke dalam toko baju, walaupun aku tidak tahu maksudnya, dia sibuk memilih beberapa gaun.
“untuk apa?” tanyaku menghampirinya.
“untukmu!” ujarnya memperlihatkanku dua buah gaun yang indah. “aku tidak suka melihat wanitaku, memakai gaun yang pendek dan terbuka jadi aku memintamu memilih!” ujarnya menunjukkan gaun hitam yang di hiasi sedikit renda putih di bagian leher dan lengan, dan tanpa protes aku mengambilnya.
“aku belum manjadi wanitamu, “ tambahku mengernyitkan dahiku, mengambil gaun itu.
“memang kita mau kemana?” tanyaku dan dia hanya memintaku memakainya dengan cepat. Membutuhkan waktu yang lama untuk menggunakan gaun itu, agar tidak lecet. Sebelum keluar dari kamar ganti, aku menatap diriku di cermin, baru kali ini aku memakai pakaian seperti ini, diriku terlihat begitu berbeda, terlihat lebih cantik dengan gaun ini, aku terus tersenyum dan beberapa kali memutar badanku di cermin. Wajahku yang terlihat begitu segar dengan make up ringan yang di poleskan untukku.
“cepatlah keluar !” teriaknya sudah sejak tadi menungguku keluar dari kamar ganti.
“wauw..!” serunya terkejut saat melihat penampilanku, berdiri terpaku sesaat memperhatikanku, pak Rendi juga sudah mengganti pakaian dengan jas hitam.
“emang kita mau kemana?” tanyaku
“kamu ikut saja!” ujarnya menyuruhku duduk, memasangkan sepatu wedge heel di kakiku.
“kamu cantik…” sahut pak Rendi kemudian turun dari mobil setelah kami tiba di sebuah hotel.
“kita ngapain sih di sini?”
“ikut aja, kamu akan tahu kalau udah masuk” ujarnya, meraih tanganku dan menaruhnya di lengannya. Aku memperhatikan orang-orang yang berdatangan, berdandan lebih cantik seperti sedang menghadiri sebuah pesta, aku sedikit gugup ketika sudah tiba di lantai dua, begitu banyak orang-orang yang sedang menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruangan tempat pesta di adakan.
“kau tidak mengucapkan selamat padaku!” ujarnya membuatku bingung lalu dia menunjukkan karangan bunga besar yang berdiri di samping pintu masuk, sebuah ucapan sambutan malam ramah tamah wisudawan dan tepat di samping juga ada tulisan selamat yang membuatku terpaku, Rendi Ahmad wisudawan terbaik tahun ini.
“selamat yah !” sahutku tersenyum.
“kau harus memberikanku hadiah!” ujarnya kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Baru kali ini aku menghadiri sebuah acara besar dan yang membuatku begitu kagum ketika sudah masuk dan melihat orang-orang yang begitu bahagia, mereka semua terlihat begitu cantik dengan gaun terbaiknya, semua laki-laki begitu gagah dengan penampilan mereka.
“dia pacarmu?” sahut seseorang yang merupakan teman pak Rendi, pak Rendi hanya tersenyum ketika pertanyaan itu terlontar dan aku memikirikan diriku yang begitu gugup berada di keramaian seperti ini, dengan orang yang tidak aku kenal. Melihatku gugup pak Rendi memperkenalkanku ke beberapa temannya, agar aku bisa masuk dalam obrolan mereka, untung saja sebagian mereka sudah mengenalku sejak seminar itu, sehingga rasa gugup yang tadi menyerangku perlahan hilang.
“aku nggak nyangka loh, kalau kalian bisa pacaran padahal kemarin aku kira kamu udah balikan sama Vega” sahut Roni “Vega kok belum datang yah!” lanjutnya.
“kita kan nggak pacaran!” bisikku.
“sebentar lagi kita juga bakalan pacaran kok!” menarik kursiku lebih dekat padanya.
Tidak lama kemudian, Vega yang sejak tadi jadi buah bibir di lingkaran meja bundar ini akhirnya datang juga, harus akui dia memang begitu cantik, bahkan aku sendiri di buat kagum dengan penampilannya yang begitu cantik, dari semua wanita yang berada di sini, mungkin hanya dia satu-satunya yang paling bersinar.
“jangan lihat dia !” ujarnya menyentuh kedua pipiku, mengarahkan pandangku ke hadapannya.
“tapi dia sangat cantik” ujarku
“tapi aku hanya melihatmu” ujarnya tersenyum membelai pipiku, mengelap daguku yang basah gara-gara meminum air hanya dengan satu kali teguk.
“acaranya sebentar lagi mulai, setelah ini kita bisa pulang” ujarnya begitu lembut padaku, aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa jika dia terus memperlakukanku seperti ini aku akan benar-benar jatuh cinta padanya.
“Rendi…!” sahut Vega begitu senang dan langsung duduk di samping pak Rendi, tetapi wajahnya kembali berubah saat melihatku.
“kamu kok di sini?” tanyanya.
“aku datang bersamanya” sahut pak Rendi.
“kitakan bisa datang bersama, kenapa harus dia!”.
“oh iya Han, aku tinggal bentar yah, jangan kemana-mana!” ujarnya pergi bersama pak Rendi, meskipun sudah menjadi mantan tetapi aku tidak begitu senang melihatnya, apalagi saat Vega mengandeng tangan pak Rendi. Aku bahkan tidak berhak untuk cemburu dengan mereka.
Selama beberapa menit berlangsung, nama pak Rendi di sebut oleh pembawa acara untuk naik ke panggung menerima penghargaan dan menyampaikan beberapa kalimat kepada orang-orang yang berada di ruangan ini. Suara tepuk tangan serentak menyambut ucapan terakhirnya dan ketika ia turun dari panggung semua teman-teman menghampirinya memberikan selamat dan beberapa bunga, tak terkecuali Vega, ia memeluk pak Rendi, melihat itu aku hanya mengalihkan pandanganku.
Saat ini memang harus aku akui, itu membuatku tidak nyaman dan berpikir bahwa selama ini pak Rendi mendekatiku hanya untuk membuat Vega cemburu agar dia kembali padanya. Pikiranku benar-benar kacau, dan rasa menyesal harus berada di sini, mengapa tadi aku tidak menolak ajakannya, semua ini tidak akan terjadi dan mungkin aku bisa menikmati istirahat malamku. Sementara aku menunggu pak Rendi selesai, satu persatu tamu mulai meninggalkan acara.
“Ren, ada yang ingin aku bicarakan” ujarnya menarik pak Rendi jauh dari kerumunan orang-orang ke tempat yang sepi, agar mereka bisa bicara dengan tenang.
“bisa kita bicara besok aja ? aku meninggalkan Hana sendiri terlalu lama “. Tiba-tiba Vega memeluknya.
“apa yang terjadi?”
“aku ingin kembali padamu Ren, kali ini aku benar-benar sudah mengerti perasaanku selama kita berpisah beberapa bulan ini, aku sadar aku tidak bisa tanpamu” ujarnya tetapi perlahan pak Rendi mendorong tubuh Vega.
“kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?”
“karena aku sadar hanya kamu yang bisa membuatku nyaman Ren, lagi pula kita sudah sepakat berpisah hanya untuk mengetahui perasaan kita masing-masing, dan inilah perasaanku” jelasnya memegang erat tangan pak Rendi.
“maaf Ve, aku tidak bisa!” sahutnya melepas tangannya dari Vega lalu pergi, tetapi dia kembali menghalangi pak Rendi.
“apa kau masih ingat,? kau pernah bilang padaku akan menungguku jika aku menyerah dan ingin kembali ! kau akan selalu menunggu dengan perasaan yang sama ! tapi…?”.
“maaf pernah mengatakan itu, tapi perasaanku sudah berubah Ve, !”
“karena Hana ? kau salah Rendi ! saat ini pikiranmu hanya teralihkan kepada Hana, tidak dengan hatimu. Ingat Ren, kebersamaan kita lalu selama ini selama lima tahun pacaran, aku yakin hatimu tetap untukku” jelasnya dengan tatapan penuh harap pak Rendi akan sadar.
“mungkin kau benar, tetapi untuk saat ini aku nyaman bersamanya”
“aku mohon Ren, jangan memberikan harapan lebih padanya, aku tahu kau masih mencintaiku, dan kita pernah berjanji akan segera menikah setelah pendidikan kita selesai”.
“iya aku ingat janji itu, tapi untuk saat ini aku tidak bisa kembali padamu, ada yang berbeda darinya, dia satu-satunya wanita yang bisa membuatku menangis, kita memang pernah menjalin hubungan begitu lama, tetapi entah mengapa perasaanku tumbuh begitu cepat kepadanya, mungkin ini terdengar bodoh bagimu “ jelas pak Rendi, ia mengingat kembali saat melihat diriku menangis malam itu dalam pelukannya seorang wanita yang bisa membuat air matanya ikut berderai.
“Rendi…!” panggilnya hanya bisa diam saat pak Rendi beranjak dari tempat itu.
“maaf membuatmu menunggu lama?” sahut pak Rendi kembali menarikku keluar dengan langkah terburu-buru.
“kakiku sakit, “ ujarku berhenti, tanpa bertanya apa yang terjadi dengan sikap aneh pak Rendi, aku sempat melihatnya dari kejauhan saat Vega menarik tangannya ke belakang panggung dan tak lama dia keluar dengan ekspresi wajah yang berbeda.
pak Rendi langsung memeriksa kakiku yang terluka karena gesekan di tepi sepatu yang sedikit menyakitiku, di tambah kaki kiriku yang keseleo saat dia menarikku turun dari tangga darurat, karena pak Rendi menghindari banyaknya orang yang ada di lift dan eskalator.
“maafkan aku !” ujarnya menyuruhku duduk di tangga, sembari memijat kakiku.
“kamu nggak apa-apa?”tanyaku balik, tapi dia sepertinya tidak ingin cerita padaku.
“oh iya, karena ini sudah sebulan dan malam ini kita terakhir bertemu, aku….!” pak Rendi langsung memotong ucapanku
“aku tidak bisa?” ujarnya langsung menyela dan menatapku dengan serius.
“tapi kan!?”
“beberapa kali harus aku bilang kalau aku menyukaimu!” bentaknya, suaranya seakan memantul di dinding. Aku hanya bisa diam memikirkan kata yang tepat untuk kuucapkan. Perlahan mendekat padanya.
“selama ini aku memang nyaman bersama bapak, tapi apa harus mengucapkan kata cinta untuk bisa bersama? Tidak bisakah semuanya tetap seperti ini? Berjalan seiring, dan aku bisa terus berada di sisimu, aku hanya takut orang yang aku sayangi akan pergi nantinya, atau….!?” Memegang pundak pak Rendi, kini dia menatapku, ia mengangkat wajahku yang tertunduk, menunggu ucapakanku yang belum selesai.
“ atau malah aku yang akan meninggalkannya!” ucapku pelan, pak Rendi tersenyum, ia mengerti semua apa yang aku katakan, meski begitu singkat, ia merangkulku dengan hangat, tersenyum kagum padaku, gadis muda yang ia sayangi ini menyakinkan dirinya, bahwa ia telah menemukan wanita yang sangat tepat, apa yang dikatakannya memang benar, meski terkadang cinta tak harus di sebutkan, meski beribu kali bibir mengucapkannya tetapi pembuktiannya yang membutuhkan waktu yang cukup lama, proses yang panjang agar menghasilkan karya yang begitu indah.
Begitupun dengan diriku, aku menjalani seiring waktu yang memandangku, aku dan pak Rendi memulainya dari awal, kami tidak ingin seperti pasangan yang lain yang memulainya dengan hubungan special, lalu bertengkar dan memutuskan untuk pisah, meski berpikir bodoh seperti ini, aku seperti ingin mengatur takdirku sendiri, meski aku sendiri tahu bahwa hidup tidak selamanya harus selalu berada di puncak, terkadang Yang Maha Pencipta menyayangi hambanya dengan memberikan cobaan sebatas kemampuan manusia untuk menghadapinya.
9. ketika waktu tidak mengerti !
Terik matahari yang begitu menyengat, september panas ini membuat suasana kelas begitu pengap, meski kipas yang terus mengipasi ruangan yang berisi siswa tidak membuat mereka nyaman, bahkan aku sendiri terus menatap jam dinding yang berada tepat di belakangku, hanya beberapa menit bel akan segera berbunyi, dan sekejap saja, kelas kosong begitu bel berbunyi, menghamburkan diri nongkrong di kantin, bahkan sebagian lagi menghabiskan waktu  di taman sekolah sekedar bercanda, belajar bersama dan bersantai.
Aku sendiri sejak tadi sudah berada di bawah pohon yang tidak jauh dari ruangan kelas, rumput hijau yang hampir kering menjadi tikar untukku, sambil menungu Gea dan Fatan, aku terus memperhatikan chat pak Rendi, yang bahkan belum di bacanya sejak tadi malam. Sudah hampir siang, dia tidak memberikan kabar padaku. Aku tahu dia pasti sangat sibuk setelah menjadi dosen di kampus almamaternya sendiri, selain itu dia melanjutkan S2nya di kampus yang sama, itulah yang menjadikannya begitu sibuk, tetapi di balik kesibukannya itu, ia selalu menyempatkan waktunya menjemputku, mengunjungi meski hanya beberapa menit. Beberapa bulan ini perasaanku perlahan tumbuh kepadanya, kami tidak seperti pasangannya lainnya, yang banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan, makan berdua atau apapun itu, dia sangat mengerti saat aku juga harus bekerja dan begitu pula dengan dirinya.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, aku langsung menuju ke café bertemu dengan kak Dian. Ia memintaku untuk menyelesaikan naskah yang di berikannya padaku sebulan lalu.
“thanks yah Han…!” katanya setelah memeriksa file dan naskah yang aku berikan, bersamaan dengan amplop yang berisi gajiku.
“kok cepat banget, kan belum waktunya!” kataku.
“ aku lupa bilang padamu, selama seminggu Ini aku akan ke Jepang “ ujarnya.
“ahh…kak Dian ingin menghadiri launching film pak Amir yah!” tebakku.
“ iya, karena sekaligus pemutaran perdana pertama di Jepang, mau tidak mau aku harus menyelesaikan perubahan naskahnya” jelasnya singkat, lalu pamit pergi dengan terburu-buru. Aku menarik nafas begitu dalam, selama seminggu ini aku akan menghabiskan banyak waktu di rumah, apalagi hanya dua naskah baru yang di titipkannya padaku. Tidak lama setelah itu, Gea menjemputku, malam ini dia akan menginap setelah tahu, aku akan pulang lebih cepat.
Malam ini, hanya mie instan yang mengisi makan malam di perut kami bertiga, tidak berselang setelah itu, Efan dan Pak Rendi datang dengan dua kotak pizza.
“bosan nih, gimana kalau kita liburan!” ujar Gea menatap satu persatu menunggu idenya di respon.
“mau liburan di mana?” ujarku, sedikit setuju dengan ide Gea.
“Fatan lalu beranjak mengambil sesuatu dari kamar, memperlihatkan selebaran yang di bawanya.
“itu sih bukan liburan !” timpalku, setelah melihat event yang di tawarkan selebaran itu, mendaki dan kemping itu adalah kegiatan yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, aku bahkan tidak pernah tertarik dengan hal seperti itu. Tapi tidak dengan mereka berempat, Gea begitu tertarik dan yang lainnya juga setuju, hanya aku yang belum bersedia ikut.
Sementara Gea, Efan dan Fatan asyik mengobrol membicarakan rencana mendaki mereka, aku hanya diam melipat kedua tanganku, memperhatikan tv, Pak Rendi menghampiri duduk di sampingku.
“serius kamu nggak ikut?”tanyanya kembali, seraya sedikit memelangkan suaranya.
“nggak !, kalian aja yang pergi” ujarku sedikit kesal dengan rencana mereka.
“yah udah, kita berdua nggak usah pergi!”.
“aku nggak apa-apa kok, kamu pergi saja”.
“emang kenapa sih?” Tanya pak Rendi penasaran.
“aku hanya tidak suka jauh dari rumah, berada di alam terbuka dan harus menginap di tenda, aku benci ketika suara serangga terdengar di telingaku pada malam hari “ jelasku.
“ayolah Hana, sekali ini saja, aku yakin ini akan menyenangkan dan tidak akan membuatmu menyesal” tambah Gea mencoba terus membujukku.
“berkemah jauh lebih menyenangkan, kau akan tahu setelah merasakannya, nggak asyik jika hanya kami yang pergi, sedangkan kamu di rumah sendirian”. Tambah Efan kemudian, dan kali ini Fatan.
“kami di sana selama dua hari , terus kak Hana bisa nggak sendiri di rumah?” ujar Fatan, membuatku kembali berfikir, apa yang dikatakannya memang benar, jika aku tidak ikut, aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri, itu tidak pernah aku alami selama ini, dan aku paling takut berada di rumah sendirian.
“baiklah…!!” ujarku cemberut, dan mereka tersenyum puas saat aku setuju.
Keesokan harinya setelah sepulang sekolah, Gea mengajakku untuk membeli barang-barang yang di butuhkan selama berkemah, di tambah lagi minuman yang harus kami bawa saat mendaki selama tiga jam lamanya agar bisa tiba di tempat berkemah, memikirkannya saja membuatku sudah kerepotan lebih dulu. Setelah berbelanja, Gea pulang lebih dulu sementara aku masih harus bertemu dengan seseorang dari kantor penerbit, menyerahkan beberapa daftar buku dan novel yang akan segera terbit tahun depan, tidak begitu lama, aku beranjak dari tempat duduk dan tanpa sengaja bertemu dengan Vega, ia melempar senyuman termanisnya lalu menghampiriku.
“Hei Hana…!” sapanya. Menyalami tanganku
“kamu ngapain di sini?” tanyanya, tangannya masih mengenggam kuat jari-jariku.
“masalah pekerjaan!” ujarku singkat, perlahan melepas tangan  Vega, meski sedikit memaksa. Tidak lama kemudian, seorang laki-laki berjas hitam masuk menghampiri Vega, laki-laki itu tidak lain adalah pak Rendi, dari penampilan mereka aku sudah bisa menebak, semalam pak Rendi sudah mengatakan kepadaku bahwa dia akan menghadiri pernikahan temannya, tetapi aku tidak tahu bahwa yang menenaminya adalah wanita ini.
“Hana…” panggilnya.
“kamu ngapain di sini?” tanyanya, merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
“bertemu dengan seorang laki-laki, teman kerja atau….?” Timpal Vega, aku sedikit kesal seolah ingin memojokkanku.
“teman kerja” tambahku, tiba-tiba Vega merangku lengan pak Rendi.
“ayo Ren, kita akan terlambat jika terlalu lama di sini” menarik pak Rendi.
“sampai ketemu di rumahmu yah, aku akan datang” ujarnya pergi tanpa berpamitan secara baik padaku, dia seolah-olah pergi begitu saja tanpa menghiraukanku. Tentu saja ada cemburu yang ingin segera aku singkirkan dari pikiranku, aku bisa mengerti Vega masih menyukai pak Rendi dan itu wajar baginya masih berusaha menarik perhatiannya di tambah membuatku ingin cemburu.
Waktu menunjukkan pukul Sembilan malam, aku masih berbaring di sofa, sembari menatap hpku, bahkan tanda-tanda pak Rendi membalas sms dan chatku saja tidak ada, ia bahkan lupa janjinya akan datang. Mungkin dia terlalu asyik berpesta bersama teman-temannya, atau Vega sengaja mengulur waktu dan menahannya begitu lama, aku bahkan tidak ingin tahu, memikirkan mereka berdua saja sudah membuatku ingin menonjok guling yang aku peluk dan begitu saja aku langsung tertidur.
Matahari terbit begitu cepat, bahkan ayunan kakiku terasa tidak begitu semangat melangkah masuk kelas, pikiranku terganggu sejak aku bangun pagi tadi, aku menaruh tas di meja mengeluarkan kembali hp milikku,membuka chat pak Rendi yang masuk begitu larut malam. Aku bahkan tidak percaya dengan kata-kata itu, terlalu aneh bagi pak Rendi mengatakan hal seperti itu, isi pesan itu terus menganggu pikiranku, yang mengatakan dia ingin kembali pada Vega, dia menyesal terlambat menyadari perasaannya sendiri, dia begitu menyayanginya lebih dari apapun, bahkan pembicaraannya di hotel kemarin malam, menyakinkan dirinya untuk segera ingin menikahi gadis itu.
“Hotel,,,” ujarku kesal, melempar hp itu masuk ke dalam tas.
“jadi mereka bersenang-senang layaknya orang dewasa” ujarku.
Hari ini terasa begitu berat bagiku, entah mengapa aku ingin segera menemui laki-laki yang begitu cepat mengubah hatinya itu, aku bahkan sudah menyukainya sejauh ini, tetapi dia memberikan harapan yang tidak pasti. Sampai malam ini dia bahkan belum menghubungiku atau menemuiku.
Keesokan harinya, tiba di mana kami sudah menyiapkan keperluan kemah, aku berharap bisa bertemu pak Rendi hari ini, tetap itu hanya pikiran sepihakku, Efan hanya sendiri.
“kak Rendi nggak bisa ikut, aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak, tapi dia memintaku untuk tetap memberitahumu” ujar Efan.
“pak Rendi kenapa?” sahut Gea.
“semalam Vega kecelakaan, karena keluarganya berada di luar negeri jadi tidak ada yang menemaninya kecuali kak Rendi, katanya kalau sempat dia akan menyusul” jelas Efan masuk ke mobil di susul Gea, aku dan Fatan di belakang.
“kamu nggak apa-apa?” Tanya Fatan, melihatku gelisah menghela nafas berkali-kali membuatnya tidak tenang untuk tahu apa yang menganggu pikiranku.
“entahlah Fat, semuanya terasa aneh bagiku, kenapa tiba-tiba seperti ini, dia berubah begitu cepat”.
“semuanya akan baik-baik saja, aku yakin pak Rendi pasti punya alasan yang belum dijelaskannya” ujar Fatan sedikit membuatku tenang, inilah yang aku takutkan, menambah seorang laki-laki masuk ke dalam hati kadang bisa membuat kita tidak tenang seperti ini, perasaan yang pertama kali aku rasakan ternyata seperti ini.
Xxx
Sementara itu di rumah sakit, saat Vega menyetir sendiri dan kecelakaan, tidak ada satupun yang menemaninya, terkecuali Rendi, ia menemani Vega semalaman, meski tidak cukup parah. Vega malam itu mengambil hp yang di saku Rendi saat ia tertidur, dialah yang mengirim pesan itu kepada Hana. Dan Vega lupa menghapus pesan yang baru saja dikirimnya kepada Hana. Pagi itu Rendi masih sempat menghubungi Hana, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi, untuk itu dia menghubungi Efan sampai orang tua Vega tiba, dia akan menemaninya dan akan segera menyusul ke perkemahan.
Betapa terkejutnya Rendi saat membuka pesannya, ia mendapat sebuah pesan yang membuat dirinya langsung terperanjak dari tempat duduk, pesan yang sama sekali tidak pernah ia kirim kepada Hana, malah ia sudah membaca pesan itu dan tidak mendapat respon sedikitpun. Rendi mempercepat langkahnya kembali masuk ke ruangan tempat Vega di rawat.
“mengapa kamu mengirimkan pesan ini kepada Hana?” bentaknya, Vega begitu terkejut saat melihat raut wajah Rendi, baru kali ini ia melihat wajah itu.
“maafkan aku Ren, kau tahu aku sangat mencintaimu, aku bersabar beberapa bulan ini berusaha lebih dekat denganmu lagi” meraih tangan Rendi, tetapi Rendi melepaskannya.
“cinta katamu, kau telah membuat Hana khawatir dengan kesalahpahaman yang kau buat “ ujarnya dengan wajah yang memerah, meski ia sedikit menahan kemarahannya, karena menghargai Vega yang sedang terbaring sakit. Rendi beranjak keluar menyusul Hana, ia sendiri tidak memedulikan keadaannya saat ini, ia berharap masih bisa menyusulnya.
Xxx
Tiga jam perjalanan membawa kami tiba di sebuah lokasi perkemahan, masih membutuhkan waktu tiga jam lagi agar bisa berada di puncak pengunungan setinggi 1.65 Km, lokasi ini cukup terkenal bagi orang yang memiliki hobi berpetualang. Setelah mengganti sepatu aku dan Fatan segera menyusul, cukup ramai saat itu, hingga aku sendiri tidak sadar, pak Rendi sudah tiba selisih setengah jam.
“Rendi…” ujar Efan segera menghampiri kakaknya itu.
“kenapa masih pakai jas sih” protes Efan menarik pak Rendi ke bawah, tidak begitu jauh, sehingga aku dan yang lainnya menunggu Efan dan pak Rendi selesai. Tidak cukup lama pak Rendi dengan wajah begitu lelah menghampiriku, sedangkan yang lainnya kembali melanjutkan perjalannya naik.
“minum ini!” ujarku menyodorkan minuman yang bisa sedikit mengembalikan tenaganya, dia terlihat begitu kelelahan, seakan sudah berlari begitu jauh. Sudah hampir jauh kami berjalan, terkadang ada beberapa meter jalan yang begitu terjal untuk didaki, sejauh itu pula kami berdua masih diam, sampai orang-orang yang berjalan dengan cukup jauh untuk tidak mendengar pembicaraan ini.
“apa kak Vega baik-baik saja?” tanyaku lebih dulu memulai percakapan ini.
“dia sudah membaik, dan ada yang ingin aku katakan “! Ujarnya langsung, sambil menahan punggungku. Beberapa kali aku harus berhenti karena kakiku yang begitu lelah.
“tentang kak Vega?” ucapku.
“dan tentang pesan itu, bukan aku mengirimnya, itu perbuatan Vega, dia sengaja untuk membuatmu cemburu, aku minta maaf karena tidak menghubungimu dan malam itu aku begitu panik sampai lupa memberi kabar padamu, dan maaf membuatmu menunggu” jelasnya, menatapku cukup lama, aku berdiri kembali melanjutkan perjalanan. Entah kenapa aku langsung tersenyum saat mendengar itu, serasa semuanya lega, aku memang menganggap pesan itu sedikit aneh, dan benar dugaanku, wanita jahat itu benar-benar membuatku hampir kehilangan pak Rendi.
“kenapa tidak menjawabku Han, kamu marah?”. Susul pak Rendi, segera menghampiriku saat melihatku memegangi kaki kiriku yang keram. Karena tidak ada jalan lain, dan perjalanan juga hampir sampai di perkemahan, pak Rendi memutuskan untuk mengendongku di punggungnya sedangkan Fatan membawakan tasku.
“maafkan aku, kau pastin sudah lelah membawaku” ucapku tepat di samping kepalanya, kedua tanganku melingkar di lehernya.
“tidak apa-apa, sebentar lagi kita juga akan sampai, kau lihat jalan itu..!” tunjuk pak Rendi.
“tempat ini terkenal dengan pemandangan yang luar biasa, di sini di sediakan perkemahan elit, tempat yang aku pesan dari brosur itu salah satunya, hanya ada lima tempat seperti ini disini” jelasnya, semakin berjalan sudah terlihat lokasi tempat berkemah, memang benar ada dua tenda yang berbentuk karavan cukup besar berdiri din sana, kami tidak perlu repot-repot mendirikan tenda lagi, tempat api unggun sudah di sediakan. Mereka bertiga baru saja tiba,
“wah…lihat Hana, ini perkemahan yang paling menyenangkan, semuanya sudah ada di sini, kecuali makanan, kita harus memasaknya sendiri.” Jelas Gea membuka tenda yang akan aku tempati bersamanya. Pak Rendi menurunkanku dari punggungnya.
“terima kasih yah!” ucapku tersenyum, berdiri dengan kaki yang kuat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“aku bohong soal kakiku yang kesakitan, ini hukuman bagimu karena membuatku khawatir” jelasku melihat wajahnya yang lesu saat dia tahu aku menipunya, tenaganya terkuras habis menggendongku sejauh ini. Bukannya marah tetapi dia langsung memelukku. Dia tersenyum menutupi nafasnya yang lelah mengendongku.
“aku bahkan bisa mengendongmu saat turun nanti, asalkan kamu tidak marah padaku, membuatmu khawatir adalah hal yang paling melelahkan buatku” ujarnya mengenggam erat jari-jariku.
Langit sore kemerahan begitu cerah menyinari di balik awan yang terpancar indah, pemandangan di bawah sana dari ketinggian seperti ini terlihat sangat kecil, beberapa menit kemudian langit sudah gelap, bintang kecil perlahan berkedip seakan menyaksikan orang-orang di bawah sana, suara hiruk pikuk terdengar jelas dari orang-orang yang juga berada tidak jauh dari sekitar perkemahan kami.
Sementara aku dan yang lainnya menyiapkan makanan, hanya pak Rendi yang masih berada di tenda sejak sore tadi.
“Rendi tertidur, dia begitu lelah karena sejak kemarin tidak pernah beristirahat, dia seperti bayi yang tertidur nyenyak” ujar Efan memberikanku segelas air panas, menyuruhku membawakannya ke dalam tenda pak Rendi.
“dia memintaku membawakan segelas air, tapi sebaiknya kamu saja yah !” tambahnya.
Aku membuka tenda perlahan, melangkah begitu pelan agar tidak membuat suara yang bisa membangunkannya. Aku menaruh tepat di sampingnya, aku memperhatikan wajahnya sebentar sebelum keluar. Dia tertidur begitu lelap kedua tangannya menutupi sedikit wajahnya, aku kembali tersenyum, terasa hangat hanya bisa melihatnya dari jarak dekat seperti ini. Tiba-tiba tangan pak Rendi bergerak meraih tanganku, menarikku duduk di sampingnya.
“aku kira kamu tidur” kataku.
“aku baru saja bangun saat kamu masuk tadi, “ katanya duduk di sampingku mengenggam tanganku.
“kamu nggak lapar?” tanyaku mengajaknya keluar bersama yang lainnya.
“aku masih lelah, nanti aja yah” ujarnya kembali berbaring, aku meninggalkanya sendiri bergabung bersama yang lainnya.
Seperti suanasa perkemahan lainnya, meski selimut membalut tebal tetap saja dingin masih terasa sampai ke kulit, waktu malam seperti ini akan semakin dingin sampai waktu matahari terbit. Untung saja api unggun sedikit menghangatkan, menghabiskan waktu bercerita satu sama lain dan tak terasa waktu sudah larut, Satu persatu sudah masuk ke tenda, begitu pula dengan pak Rendi. Baru kali ini aku tidur di luar seperti ini, sehingga begitu sulit memejamkan mataku, Gea sudah terlelap di sampingku dan aku masih membolak balikkan badan berusaha untuk tertidur, tapi tetap saja tidak berhasil, aku mengambil selimut keluar tenda, kembali menyalakan api lalu duduk memeluk lututku sendiri.
“kau tidak tidur?” sahut Fatan, juga ikut duduk di sampingku, dia paling tidak suka dengan cuaca dingin sehingga membuatnya sulit untuk tidur, aku merebahkan kepalaku di bahu Fatan. Aku cukup merindukan bahunya.
“apa yang kau pikirkan tentang masa depanmu?” tanyaku.
“kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” ujar Fatan
“sebentar lagi kita akan pergi, setelah aku lulus dan kau juga akan melanjutkan pendidikanmu di Australia, kita tidak akan ada di sini lagi!” ujarku, sedikit merasa nyaman dengan hidup yang aku jalani, tetapi di lain sisi aku memiliki impian yang sudah lama aku rencanakan bersama adikku Fatan. Berkat bantuan seseorang yang juga tinggal di Australia aku sudah mendapatkan rumah dengan lahan yang cukup luas di sana, uang yang aku kumpulkan bersama Fatan akhirnya bisa sedikit demi sedikit membayarnya
“jadi kau berpikir untuk tetap tinggal?” ujar Fatan.
“tentu saja tidak, kesempatan yang luar biasa sedang menungguku disana, tidak mungkin aku menyiakannya”.
“tapi bagaimana dengan pak Rendi, apa kalian akan seperti ini terus? Dia sangat menyayangimu melebihi aku, long distance relationship tidak semua berhasil pada pasangan, aku juga tidak bisa mempercayakanmu kepada orang lain kecuali pak Rendi, hanya dia yang bisa menjagamu, aku sangat menyukainya, meski aku tidak begitu ingat dengan sosok ayah, tapi aku bisa melihatnya dari pak Rendi” ujar Fatan.
“bagaimana menurutmu, apa aku menikah muda saja “ tuturku.
“Yah, menikah itu tidak semuda yang kau lihat di film-film, kau harus memikirkannya matang-matang” jelasnya terus mengomel di sampingku, membuatku perlahan mengantuk dan tertidur.
“apa yang kalian bicarakan?” sahut pak Rendi menghampiri kami, tetapi aku sudah tertidur saat itu.
“tadi Hana nggak bisa tidur, jadi aku menemaninya di sini”.
“kau juga pasti sudah mengantuk, masuklah, biar aku menemaninya di sini “ pak Rendi dengan hati memegangiku kepalaku bertukar tempat dengan Fatan.
Matahari akhirnya terbit, aku masih belum menyadari masih tidur di luar tenda. Suara Gea yang membangunkanku saat itu, mendapati pak Rendi yang berada di sampingku. Aku tentu saja terkejut.
“aku mengambil foto kalian berdua” sahut Gea memperlihatkanku.
“selamat pagi” sapa Efan sambil tersenyum padaku, aku berlari masuk ke tenda dengan wajah memerah. Tidak lama kemudian setelah mengganti pakaian Gea memanggilku keluar sarapan. Aku masih tidak percaya diriku masih hidup menginap di luar rumah jauh dari tempat tinggal yang lebih nyaman, tubuhku agak sakit karena harus tertidur tanpa merebahkan tubuhku.
“maaf membuat kamu tidur di luar” bisikku.
“nggak apa-apa, aku senang bisa menatapmu cukup lama, dan lihat ini…!” memperlihatkan foto yang baru saja di ambil oleh Gea.
“ini sangat bagus!” tambahnya menjauhkan tanganku dari hpnya saat aku ingin menghapusnya.
“aku iri dengan kalian berdua” sahut Gea, Efan dan Fatan hanya tersenyum melihat kami berdua.
“aku juga ingin punya pacar” sahut Gea.
“bukankah kau sudah jadi pacarku!” canda Efan.
“nggak, karena aku cantik, pasti mudah menemukannya, dan aku yakin salah satu dari mereka akan jatuh cinta padaku” tunjuk Gea melihat kerumunan orang-orang yang tidak jauh Dari tempat kami.
“bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan, aku dengar mereka akan melihat kawah belerang, tempatnya juga tidak jauh kok,” tambah Gea.
Kami hanya ikut dengan Gea, menempuh perjalanan yang cukup jauh tetapi itu tidak terasa begitu kami di suguhkan keindahan alam yang luar biasa, pepohonan yang tinggi serta rumput hijau yang beraroma wangi, membuat pikiranku begitu nyaman. Sepanjang perjalanan begitu banyak yang pak Rendi ceritakan padaku, kami berbagi banyak cerita.
“mau kugendong!” ujar pak Rendi melihatku sedikit lelah sesekali harus berhenti karena kakiku yang sakit.
“nggak usah, kemarin kau sudah menggendongku dan aku juga bohong padamu” ujarku menolak.
“ayo, naiklah” tuturnya memaksa.
“nggak ah, yang lainnya berjalan kaki masa aku harus di gendong, ayo kita lanjutkan” tambahku, tetapi pak Rendi menghadangku dengan punggungnya, menarikku memegangi kedua kakiku dengan erat agar tidak terjatuh.
“turunkan aku!”
“jangan cerewet, diam saja”.
Aku benar-benar diam, tanpa mengatakan apa-apa pak Rendi terus berjalan tidak jauh di belakang orang-orang perkemahan. Setibanya di sana kami harus menutup hidung, karena kawah itu mengeluarkan banyak bau belerang yang cukup menyengat hidung. Tetapi setibanya di sana kami tidak  bisa melihatnya lebih dari dekat, banyak yang sangat kecewa saat harus kembali ke perkemahan, dari kejauhan beberapa tim SAR dan TNI sedang melakukan pencarian, sehingga tempat itu tertutup.
“ada apa?” tanyaku.
“sepertinya adanya kecelakaan pesawat “ sahut Fatan ia terlihat kebingungan saat memperhatikan seseorang yang berada tidak jauh dari kami, dia menunjuk seseorang
“lihat deh, bukankah dia Mukta?” tunjuk Fatan, aku berusaha mencari orang yang di maksudnya.
“nggak mungkin deh, kalau Mukta ke Indonesia masa nggak ngabarin kita !” ujarku penasaran dengan sosok laki-laki tinggi berjanggut mengobrol dengan beberapa temannya. Karena penasaranku, aku menghampirinya, memperhatikannya lebih dekat, aku sangat yakin orang yang berada di hadapanku ini adalah Mukta. dia anak dari teman ayahku, aku dan Fatan merupakan teman semenjak kecil, hingga akhirnya saat SMA dia ikut ayahnya ke Australia dan merekalah yang akan mengurusi kami saat ke Australia nanti, berkat Mukta aku bisa mendapatkan sebuah lahan kecil dan rumah, tempat yang aku tinggali nanti.
“Mukta” ujarku lebih dekat, dia tampak kebingungan saat aku menyapanya. Aku sangat yakin, hampir setiap hari dia mengirimiku videonya hanya untuk menyapaku dan Fatan, bahkan dia selalu menceritakan banyak hal padaku tentang kehidupannya, tentu saja wajah itu sangat tidak asing, meski rambutnya yang sedikit berbeda.
“aku Hana, masa sih nggak kenal !” kataku, Fatan juga sudah berada di sampingku. Tapi Mukta masih terlihat kebingunan.
“maaf, sepertinya kalian salah orang!” ujarnya beranjak pergi, tetapi dia kembali berbalik melihat kami berdua.
“kalian kenal dengan Mukta?” tanyanya, kali ini aku dan Fatan yang bingung dengan pertanyaan pria yang begitu mirip dengan Mukta.
“kami berdua temannya, serius kamu bukan Mukta?” tegasku kembali.
“maaf sepertinya kami salah orang, kalian terlihat mirip” tambah Fatan menarikku menjauh.
“aku saudara kembarnya, Mukta itu adikku” sahutnya tiba-tiba menghentikan langkahku. Aku tidak percaya apa yang baru saja di katakannya, aku sendiri tidak tahu kalau Mukta punya saudara kembar.
“Mukta punya kakak ? dia tidak pernah menceritakannya padaku!”.  Kataku pada Fatan, memperhatikan pria yang bernama Beno  itu pergi terburu-buru saat rombongannya memanggilnya. Dia berjanji akan datang ke tempat kami berkemah sore ini.
“dia siapa?” Tanya pak Rendi.
“dia saudara dari temanku,” ucapku.
Sore itu dia benar-benar datang ke lokasi kami, setelah memperkenalkan dirinya aku mengobrol banyak mengenai apa yang terjadi pada mereka berdua.
“aku baru mengetahuinya dua bulan lalu,saat Ibuku meninggal karena sakit, aku mendapatkan foto di buku hariannya, serta segala kesedihan dan penyesalan Ibuku kepada Ayah. Mulai saat itu juga aku mencari tahu keberadaan mereka berdua, tetapi mereka benar-benar seperti hilang tanpa jejak” jelasnya begitu berharap dan wajahnya terlihat senang dan lega saat dia tanpa sengaja bertemu dengan orang yang tahu tentang Mukta.
“siapa Mukta?” tanya pak Rendi pada Gea.
“dia teman kami saat kecil dan sangat akrab dengan Hana, Mukta pindah saat kami masuk SMA, dia mengikuti ayahnya yang di mutasi ke Australia dan juga asal Bapak tahu !! Hana itu cinta pertama Mukta, dia sangat menyukai Hana sampai saat ini, tetapi Hana tidak pernah tahu itu” jelas Gea.
“aku akan menghubungimu nanti” pamitnya pergi.
“aku lelah, aku ingin istirahat” tambah Gea masuk ke tenda, Efan dan Fatan juga masuk mengganti pakaiannya., hanya aku dan pak Rendi, sudah hampir gelap aku duduk di sampingnya. Dia memberikan selimut padaku.
“aku merindukanmu” tuturnya .
“rindu?, aku disini dan kamu masih merindukanku, aneh deh!” ujarku tersipu.
“entahlah, aku sangat merasa nyaman denganmu saat ini”.
“bukankah hubungan yang baru terjalin memang sangat manis, dan itulah yang aku sering baca di banyak novel dan film”.
“mungkin kau benar, tapi kali ini aku yakin, kau sudah menganggu pikiranku saat aku menjadi mengajarimu, awalnya aku hanya kagum dengan hidup yang kau jalani, tapi seiring waktu, perlahan kagum itu merubah hatiku”. Pak Rendi menatapku serius.
“kau suka padaku, saat kamu sendiri masih punya hubungan dengan Vega !!” timpalku.
“Yah..!!” mencubit kedua pipiku. “ada yang ingin aku katakan padamu” lanjutnya melepas tangannya dari pipiku. Wajahnya berubah serius. “bagaimana kalau kita menikah?”. Ucapnya menatapku serius, air yang kuminum tiba-tiba membuat tenggoronku kering.
“menikah!! Siapa yang ingin menikah?” sahut Efan dan Fatan, menguping setengah pembicaraan kami. Wajahku langsung memerah dan berlari masuk ke dalam tenda.
10. pernyataan
“bagaimana kalau kita menikah?”
Perkataan itu terus membayangi kepalaku, terus berulang di telingaku, meski dua hari berlalu aku dan Rendi sedikit canggung, aku juga berusaha menghindarinya sebisa mungkin, terlihat Rendi juga agak canggung saat bertemu denganku, bahkan ketika kami chat, ucapan itu seolah-olah tidak pernah terjadi.
xxx
“menikah?” ujar Efan terkejut saat mendengar Rendi mengatakan hal itu kepadanya.
“bagaimana bisa kamu mengatakan kata menikah padanya, Hana menikah di usia muda? aku tidak bisa memikirkannya, dia takkan pernah memikirkan dirinya harus menikah di usia muda” jelas Efan sedikit protes.
“oh iya, Fatan pernah cerita padaku jika setelah Hana lulus, mereka akan berangkat ke Australia dan memulai hidup baru di sana”.
“Hana juga pernah cerita padaku, bukan karena ia ingin berada jauh dariku, tapi aku hanya belum siap di saat hatinya masih ragu-ragu padaku, dia masih belum yakin tentang keberadaanku yang begitu menyayanginya, dia masih takut mempercayai orang lain masuk ke dalam hatinya” ujarnya.
xxx
Akhirnya semua berjalan pada tempatnya, aku berhasil mempertemukan Beno dengan keluarganya, beberapa hari kedepan Mukta dan Ayahnya akan kembali ke Indonesia dan mengunjungiku dan Fatan, aku cukup senang akan bertemu dengan Mukta kembali setelah tiga tahun berlalu.
“bagaimana ujiannya?” Tanya pak Rendi saat menjemputku dari kerja.
“semuanya berjalan lancar, aku bisa bernafas lega karena selama tiga hari, aku harus fokus pada ujian akhir sekolahku” jelasku sedikit meregangkan otot-ototku.
“kita mau kemana?” tanyaku melihat mobil Rendi berbelok menjauh dari arah menuju rumahku.
“Vega memintaku untuk menemuinya” jawabnya.
“kenapa aku ikut?”
“aku hanya ingin membawamu, aku juga tidak ingin membuatmu khawatir nantinya”
Kami tiba di sebuah rumah mewah milik Vega, tidak lama menunggu, Vega akhirnya turun berlari sambil menangis langsung memeluk Rendi tepat di hadapanku.
“Ren…apa yang harus aku lakukan?” tangisnya, Rendi berusaha menenangkannya agar bisa menceritakan apa yang terjadi, aku hanya diam mendengarkan mereka.
“aku hamil Ren…!!”ucapnya kembali menangis, aku sendiri terkejut saat mendengar Vega mengatakan itu, dan membuatku berpikir, Rendi adalah orang yang melakukan semua ini.
“laki-laki brengsek itu hilang entah kemana, dia membuatku seperti ini bahkan orang tuaku sendiri belum mengetahui ini semua, Ren..!!” tutur Vega menggengam kuat lengan Rendi, aku ingin sekali beranjak dari tempat ini, tetapi ini terlalu malam jika aku harus pulang sendiri mencari kendaraan lain, di lain sisi aku juga tidak ingin membiarkan Rendi bersama wanita ini.
“apa dia baik-baik saja?” kataku, setelah membawa Vega kembali ke kamarnya dan beberapa sahabat Vega datang karena di minta oleh Rendi sendiri untuk menemaninya
“maaf membuatmu menunggu lama”ujarnya, aku segera mengeluarkan sapu tangan dan parfum dari tasku, membersihkan wajahnya dan menyemprotkan sedikit parfum di pakainnya. Rendi hanya diam melihat tingkahku, ia hanya tersenyum mengelengkan kepalanya, dia dengan cepat mengerti tingkahku.
“aku senang kau cemburu,!”
“nggak kok, aku tidak suka bau wanita itu ada di pakaianmu, aku tidak suka wanita lain harus memelukmu, jadi aku membersihkannya”.
“itu cemburu!” ucapnya mendekatnya wajahnya. “inilah mengapa, aku setiap hari merindukanmu, kau begitu polos dan apa adanya, aku hanya akan melihatmu “ tuturnya mengantarku pulang. Setibanya di rumah Rendi masih bersikap kekanakan padaku. Dia tidak mengizinkanku turun dari mobilnya.
“aku masih ingin melihatmu sebentar” ujarnya meraih tanganku, mengaitkan jariku-jarinya.
“ini sudah malam, Gea dan Fatan pasti sudah sejak tadi menungguku”. Meski terus memaksa aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya duduk diam.
“ini sudah lima menit!” kataku.
“lima menit lagi” katanya.
“apa kita menikah saja?” tanyaku tiba-tiba membuat Rendi terkejut, bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka. Aku segera turun dari mobil tanpa membalikkan tubuhku. Rendi masih diam terpaku melihatku masuk ke rumah. Aku tidak menyangka akan mengatakan hal bodoh seperti itu, apa karena terbawa suasana, jadi hal itu terlontar begitu saja dari mulutku.
“wajahmu kenapa?” tegur Gea, melihatku terburu-buru masuk.
“kenapa pak Rendi tidak masuk” tambah Fatan.
“ini sudah larut malam,” ujarku masuk kekamar tanpa menjawab pertanyaan Gea.
Sepanjang malam aku terus memikirkannya, mungkin karena aku dekat dengan seseorang yang lebih dewasa 9 tahun lebih tua dariku dan aku juga tidak pernah pacaran dengan seseorang, sehingga kata-kata menikah terucap begitu saja. Entah kenapa aku benar-benar membayangkan pernikahan yang indah, aku ingin sekali menikah dengan orang yang aku cintai, tapi tidak sekarang atau untuk beberapa tahun ke depan sebelum aku meraih semua impianku.
Tapi jauh di lubuk hatiku, aku merasa sedih ketika suatu saat nanti aku akan berpisah dengannya, apalagi saat ini Ayah Mukta sudah mengurus keperluanku dan Fatan untuk segera berangkat lebih cepat ke Australia, Fatan akan melanjutkan pendidikan sekolahnya di sana. Aku belum siap pergi waktu dekat ini.
“selamat pagi” sapa Gea sudah berdiri di hadapanku, tidak biasanya dia begitu rapi pagi ini, wangi parfum tercium sampai ke kamarku.
“mau kemana?” tanyaku penasaran.
“Yah kau lupa, hari ini Mukta dan Ayahnya akan datang” ujarnya mengingatkanku.
“Astaga…!! Aku benar-benar lupa kalau hari ini hari minggu, aku belum mengirimi Beno alamatku, kita juga belum belanja apapun”. Ucapku terburu-buru menbangunkan Fatan.
“maka dari itu, aku sudah menghubungi pak Rendi untuk datang!” ucapnya, tidak lama setelah itu, Rendi sudah datang bersama Efan, bahkan aku sendiri belum mandi saat mereka datang.
“kau dandan untuk siapa?” ujarku memperhatikan Gea sambil mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke kulkas.
“tentu saja untuk Beno!” ujarnya singkat.
“dulu Efan, sekarang Beno, kau terlalu banyak memainkan hati laki-laki” tuturku.
“aku juga berharap kau tidak mempermainkan perasaanku!” sahut Rendi.
“kalian berdua membuatku iri, kenapa kalian tidak menikah saja!” ujar Gea memandangi kami berdua.
“aku sudah melamarnya kemarin saat berkemah, tapi dia belum mengatakan apa-apa!” tambah Rendi.
“benarkah?” Gea terperangah “waowww…” tambahnya menyenggolku.
“aku setuju jika kalian segera menikah!” tambah Efan menimpali.
“kalau aku terserah kalian saja” kembali Fatan bergabung.
Tidak lama kemudian, terdengar suara dari luar memanggilku, suaranya tidak asing. Beno sejak tadi sudah menunggu Mukta dan Ayahnya, pemandangan yang sangat mengharukan saat melihat mereka bertemu setelah sekian lama.
“mereka benar-benar mirip!” ujarku memperhatikan dari jauh mereka mengobrol.
“Beno terlihat tampan daripada Mukta” tambah Gea perhatian sejak tadi teralihkan hanya kepada Beno.
“mereka berdua sangat mirip, bagaimana kamu bisa membandingkannya” tuturku kembali ke dapur.
“Hana…!” panggilnya, Mukta menghampiriku
“kemana pipimu? Kenapa wajahmu semakin kecil?” Tanyanya menyentuh pipiku, tiba-tiba memeluk sambil mengangkat tubuhku.
“turunin nggak, “ kataku memukul lengannya.
“kau tidak ingat yah, orang yang pertama kali akan kutemui adalah kamu!”.
“iya, tapi tidak dengan pelukan kekanakan seperti ini” kataku melepaskan pelukannya, merasa tidak enak dengan Efan dan Rendi terlebih lagi wajah Rendi yang berubah saat Mukta memelukku.
“mereka siapa?” tanyanya melihat Efan dan Rendi.
“Efan adalah temanku, sedangkan dia pernah mengajar di sekolah Hana” giliran Fatan yang memperkenalkannya.
“dia cukup muda untuk menjadi guru !” ujarnya.
“dia itu lebih tua darimu, jadi kau harus menghormatinya” kataku, tiba-tiba Rendi menarikku ke belakang.
“ada apa?” tanyaku.
“tidak apa-apa!” katanya menyemprotkan pengharum pakaian di pakaianku.
“aku tidak suka bau laki-laki lain menempel di tubuhku, dan aku sangat benci milikku di sentuh oleh orang lain, apalagi sampai memelukmu seperti tadi” jelasnya, aku tersenyum menatap wajahnya, melihatnya sedekat ini membuat hatiku tidak karuan.
“tapi pelukannya tidak sehangat saat kau memelukku, hatiku lebih nyaman berada di dekatmu, jadi kau tidak usah khawatir” kataku sedikit menggodanya.
“wah…semakin hari kamu semakin berani menunjukkan perasaanmu padaku, sepertinya aku berhasil membuat hatimu berada di sini “ tuturnya mengenggam tanganku di pipinya.
“aku balik dulu yah, aku harus menghadiri seminar dan mengantar Efan ke bandara” tambahnya pamit, tanpa sengaja Mukta berpapasan dengan Rendi saat akan keluar.
“kelihatanya kalian begitu dekat,!”.ujarnya padaku
“dia laki-laki yang aku sukai!” singkatku.
“kamu udah punya pacar, kok kamu nggak pernah cerita?”
“aku juga mau cerita, tapi itu sedikit memalukan, kamu pasti akan mengejekku” jelasku.
Wajah Mukta berubah, dia seperti kena tamparan kuat mendengar saat mengetahui orang yang selama ini dirindukannya, begitu diharapkannya dan selalu berada di dalam hatinya selama lima tahun ini mencintai orang lain.
“seharian ini kamu kok banyak diam, nggak biasanya deh?” sapaku membawakan beberapa makanan ringan ke halaman belakang, Beno dan Ayahnya terlihat asyik mengobrol dan hanya dia yang menjauh sibuk dengan hpnya.
“apa yang kamu pikirkan?” tanyaku.
“nggak penting kok. Oh iya Han, sore ini Ayah udah rencana untuk balik, karena pekerjaannya. Aku akan tinggal bebebapa hari lagi mengurus administrasi kepindahanmu, serta pasportmu dan Fatan, dan kau mengurusi surat pindah Fatan!” jelasnya.
“ada apa?” tegur Mukta melihatku melamunkan sesuatu.
“jangan bilang kamu nggak mau pergi!” ujarnya.
“nggak kok, hanya belum siap aja, masih banyak yang harus aku lakukan di sini!”.
“aku ke Indonesia untuk bertemu dengan kakak kandungku Beno, dan menjemputmu. Aku sudah capek mengurus dan membersihkan rumahmu di sana, jangan bilang kau akan mengagalkannya.”.
“tenang aja kok, aku juga harus cepat pindah sebelum pendaftran ulang di Canberra berakhir, sangat sulit masuk ke universitas luar negeri saat ini, dan itu satu-satunya kesempatanku dan Fatan” jelasku.
“tapi bagaimana dengan dia? Rendi maksudku!”.
“aku belum pernah membahasnya, tapi aku yakin dia akan mendukungku”. sambil berpikir.  “dia sudah melamarku untuk menikah” lanjutku, kini wajah Mukta berubah.
“menikah?? Nggak, kamu nggak boleh nikah sebelum impianmu tercapai, kau ingatkan ! ibumu juga menikah di usia muda, mengurusi rumah tangga dan kuliahnya, jadi kamu nggak boleh ngikutin ibumu” jelasnya mengingatkanku masa lalu yang tidak ingin aku ingat.
“aku sudah bertemu ibuku !” tuturku pelan, memikirkan ucapan Mukta tersirat jelas di pikiranku.
“kapan?”.
“beberapa bulan ini dia sering mengunjungiku, dia hidup dengan baik bersama keluarga barunya, dan…!!” suaraku sedikit serak, dengan air mata yang hampir berlinang. “ dan aku tidak suka saat kau mengaitkan aku dengan ibu “ tuturku lagi beranjak meninggalkannya masuk ke kamar.
“maaf yah Han…aku nggak bermaksud membuatmu sedih” teriaknya dari luar kamar.
“nggak apa-apa kok, aku mau istirahat dulu, kalau kau butuh sesuatu bilang aja sama Fatan atau Gea!” ucapku.
Pukul lima sore Ayah Mukta sudah harus berangkat ke bandara dan pesawat akan lepas landas pukul tujuh malam, aku bersama yang lainnya mengantarkannya ke bandara dan setelah itu Beno mengantarku balik, sedangkan Mukta sendiri ikut dengan Beno.
xxx
“bagaimana perasaanmu?” Tanya Beno sudah bisa menebak tatapan adik kembarnya itu kepada Hana.
“apa maksudmu?” ujarnya tidak mengerti.
“perasaanmu pada Hana, itu terlihat jelas kok, kalau kamu sudah cukup lama menyukainya!” jelas Beno, tetapi Mukta hanya diam dengan tatapan kosong keluar jendela.
“sebaiknya kamu membuang perasaanmu itu secepat mungkin, sebelum itu menyakitkan hatimu, terkadang manusia akan merubah jahat jika keinginannya tidak tercapai dan aku tidak ingin itu terjadi padamu” tutur Beno meski baru dua hari bertemu dan mengenal Mukta, ia bisa merasakan seakan sudah mengenal lama adiknya itu.
“kamu benar, aku hanya merasa kesal pada diriku sendiri. Mengapa dari dulu aku tidak pernah mengatakan peraasaanku padanya. Aku merasa takut dan egois. Aku takut jika Hana akan menjauhiku dan egois karena belum bisa merelakannya menjadi milik orang lain, sekarang aku benar-benar ingin menjadi jahat, aku mencoba merubah hatinya sekali lagi, mungkin jika kita sering bersama semuanya akan berubah pada tempat yang aku inginkan” katanya.
“umur kalian masih begitu muda, perjalanan masih panjang untuk kalian, kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya” ujarnya menasehati Mukta.
Setelah hari itu, Mukta semakin percaya diri, ia tidak akan menyiakan perasaannya lagi, kesempatan untuk dekat dengannya sudah di depan mata. Ia pasti bisa merubah perasaan Hana kepadanya.

xxx
10. jangan pernah bosan
Hari ini Rendi memintaku untuk menemuinya, tidak biasanya dia ingin bertemu di luar, kami biasanya hanya bertemu saat dia mengunjungiku di rumah atau menjemputku.
“kita mau kemana?” tanyaku, menyuruhku masuk ke mobil.
“nanti kau juga akan tahu!” ujarnya menyetir.
“iya halo…” mengangkat telpon dari Mukta.
“Mukta kenapa?” tanyanya.
“dia mengajakku jalan-jalan hari ini, dan aku tidak bisa karena bersamamu. Aku akan pergi bersamanya besok” jelasku.
“kalau aku mengatakan kepadamu untuk tidak pergi?” ujarnya tiba-tiba.
“Mukta temanku, dia sangat baik padaku, nggak mungkin aku menolak ajakannya!”.
“aku tahu kalian berteman, tapi aku merasa tidak nyaman jika kau jalan dengan laki-laki lain” katanya menghentikan mobilnya di tepi danau.
“tempat ini ramai pada sore hari” singkatnya memarkir mobil tepat di bawah pohon menghindari terik matahari. Walaupun sedikit panas, tetapi angin bertiup hangat di tempat ini.
“kamu sering ke sini?” tanyaku sekilas melihat ekspresi wajah Rendi berubah seakan tempat ini mengingatkannya sesuatu.
“Vega pernah mengajakku sekali ke tempat ini, dan di tempat ini juga dia menolak saat aku melamarnya” ujarnya tiba-tiba. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia membahas ini, dari wajahnya menyimpan banyak kekhawatiran yang sulit diungkapkan.
“Fatan sudah cerita padaku, bulan depan kamu sudah mempersiapkan keberangkatanmu ke Australia!” katanya memulai pembicaraan yang memang dari dulu ingin aku bicarakan kepadanya.
“iya, aku berangkat lebih cepat, karena pendaftaran ulangnya harus aku lakukan sebelum perkuliahan di mulai, aku tidak tahu sampai kapan, tapi bagaimana dengan kita ?” tanyaku.
“ayo kita menikah!” katanya sambil menatapku serius, tatapannya mengatakan kali ini dia serius. “tidak usah menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kau siap! Dan menyelesaikan impianmu !” lanjutnya menarik nafas lebih dalam. “aku baru tahu, sekhawatir inikah rasanya saat aku berada jauh darimu ! hanya sesaat kau mulai menyukaiku, kita bahkan belum memiliki banyak kenangan yang bisa kita ceritakan nantinya “. Tuturnya tersenyum menyembunyikan wajahnya yang sedih.
“kamukan bisa menghubungiku setiap saat, kita berada di era modern, jadi kamu nggak usah khawatir, aku akan berusaha mengabarimu!”.
“aku tidak mempermasalahkan itu, aku hanya khawatir jika suatu saat salah dari kita akan berubah!”.
“aku tidak bisa menjamin itu, tapi ketika kamu menitipkan kepercayaan ini, aku akan berusaha untuk menjaganya” tuturku, Rendi kembali menatapku, membelai rambutku yang tertiup angin. Ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta yang begitu luar biasa menembus hatiku, ketika aku tidak pernah mengharapkannya, dia datang seperti genangan air yang menyejukkan.
Seminggu sebelum keberangkatanku, Beno dan Mukta lebih banyak menghabiskan waktu di rumahku, begitu pula dengan Gea yang hampir setiap hari menginap sedangkan Efan sudah harus pindah ke Surabaya melanjutkan kuliahnya. Pada akhirnya semua ini akan terjadi, aku meninggalkan orang-orang yang aku cintai dan sayangi. Aku baru saja merasakan kebersamaan bersama mereka dan begitu singkat untuk menjadikannya kenangan.
“kamu lagi mikir apa sih?” Tanya Rendi menjemputku di kantor, karena hari ini adalah hari terakhir aku bekerja, kugunakan untuk berpamitan kepada kak Dian dan yang lainnya.
“nggak kok. Hmm gimana kalau hari ini kita jalan-jalan!” ajakku, Rendi tentu saja tidak menolak, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengannya sebelum berpisah. Membuat lebih banyak kenangan meski terbilang singkat.
“ini untukmu!” ujarnya memberikan sesuatu yang terbungkus begitu rapi, ketika aku membukanya, isinya boneka kecil berbentuk penguin. Tidak hanya itu Rendi mengeluarkan buku harian kosong memberikannya padaku
“ini USB, kamu akan tahu saat melihatnya nanti. Dan ini buku harian, aku ingin kau mengisinya. Menceritakan pengalamanmu, apa yang kau lakukan, kapan kau merasa sedih dan senang. Ketika tibanya nanti aku akan mengambilnya lagi” jelasnya, tetapi tidak sampai di situ, Rendi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kali ini kotak kecil berisi bros kecil yang mengkilat, berbentuk burung merak dan di tengahnya tertulis inisial nama kami berdua.
“makasih yah Ren, aku sendiri belum menyiapkan apa-apa untukmu, aku tidak tahu harus memberikan apa, ini pertama kalinya untukku” ujarku bercampur haru.
“ada hadiah yang ingin aku minta padamu?” tanyanya.
“apa, katakan aja”.ujarku.
“aku akan memintanya besok saat mengantarmu ke bandara” ujarnya membuatku penasaran.
“kalau kamu mintanya besok, nggak mungkin aku bisa membelikannya untukmu”.
“ini bukan sesuatu yang harus kau beli dan kau cari !” ucapnya tersenyum memelukku.
Hari itu kami lebih banyak mengetahui perasaan masing-masing, mencintai laki-laki yang seperti Rendi adalah anugrah yang sangat besar bagiku. Dari dia aku lebih banyak belajar tentang artinya hidup.
Bunyi peringatan pesawat memenuhi bandara, jam keberangkatan silih berganti, orang-orang yang mondar-mandir dengan wajah senang. 15 menit sebelum keberangkatan, Gea, Beno dan Rendi juga datang mengantarku, hari itu aku terus berada di samping Rendi, terkadang Gea mengejek kami berdua karena Rendi terus mengenggam tanganku. Beno dan Mukta mengobrol tidak jauh dari kami.
“katakan!! Hadiah apa yang kau inginkan? Sebentar lagi aku harus pergi” ucapku memperhatikan lekuk wajahnya.
“Ayo Han, kita harus pergi, Fatan sudah menunggu” sahut Mukta sejak tadi tidak suka dengan keberadaan Rendi.
“aku ingin hadiahku..!” ujarnya tiba-tiba menarik lenganku lebih dekat padanya, menyentuh kepalaku, beberapa saat Rendi mencium dahiku, cukup lama hingga kedua mataku tertutup, merasakan perasaannya. Aku bisa mencium wangi parfum yang di pakainya, seakan Rendi sengaja agar aku bisa mengingat wanginya.
“kabari aku kalau kau sudah tiba !” ujarnya kembali melepasku. Entah kenapa perasaanku saat itu tidak ingin melepaskan pelukannya, hatiku semakin berat untuk pergi, seperti kehilangan seseorang yang baru saja menyentuh hatiku. Aku tidak pernah mengatakan tentang perasaanku padanya, aku benar-benar ingin mengatakan aku mencintainya, aku menyayanginya, aku ingin berterima kasih kepadanya karena membuatku jatuh hati pada seseorang yang tepat. Hal yang paling aku sesali adalah terlambat mengakui perasaanku.
11.
Seiring waktu berlalu, seiring dengan perubahan keadaan, semuanya seakan baru terjadi kemarin. Waktu kadang tidak akan pernah mengerti meski kita berusaha mengejarnya dia akan tetap berputar mengikuti aturan yang sudah di bentangkan. Jika kita tidak bisa menunggu dengan sabar, maka hasilnya akan membuat kita menyesal. Seperti yang aku lakukan sekarang. Menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan bekerja di negeri orang.   
Setahun berlalu di samping kuliah dan bekerja sebagai pelayan restoran tempat ayah Mukta bekerja, aku menyibukkan diriku di sela rehatku untuk mengisi blogku dengan ceritaku. Mengisi banyak cerita di buku harian pemberian Rendi. Ketika aku merindukannya, aku akan selalu membuka USB pemberiannya, yang berisi videonya sendiri, memutarnya berulang kali sampai aku sudah menghafal semua kata-katanya.
xxx
Empat tahun berlalu, meskipun semuanya masih sama tetapi ada yang terlihat begitu berbeda ketika kita bertemu untuk pertama kalinya. Seperti saat ini, mereka masih sering bertemu untuk menyapa.
“hari ini Hana mengirimi aku fotonya, dia cantik banget, nggak sabar untuk ketemu dia !” ujar Gea memperlihatkan foto Hana ke lainnya.
“terus kenapa dia nggak pernah ngirim foto ke Rendi” sahut Efan menunjuk Rendi, hanya dia yang tersenyum saat melihat wajahnya sekilas tanpa mengatakan apapun.
“Hana itu wanita yang sangat menarik, saat bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu, aku bahkan terkejut melihat penampilannya yang lebih dewasa dan cantik!” sahut Beno yang juga ikut bergabung. Hari ini Mukta juga datang, ia baru kembali beberapa hari yang lalu menghadiri kelulusan Beno kakaknya. Sedangkan Hana dan Fatan masih harus tinggal.
Obrolan hari ini serasa begitu singkat bagi mereka semua, di tambah kesibukan bekerja tetapi tidak membuat mereka tidak bertemu sama sekali. Tetapi hari itu Mukta ingin bicara dengan Rendi setelah yang lainnya pergi.
“kenapa nggak nanya soal kabar Hana?” ujarnya setelah cukup lama berdiam. “aku setiap hari bertemu dengannya, memperhatikan ia berubah perlahan!” lanjutnya sesekali mengaduk minumannya sebelum di minum.
“karena aku yakin dia akan baik-baik saja!” ujar Rendi.
“apa kamu yakin soal bagaimana perasaanya saat ini padamu?” tanyanya.
“apapun yang dilakukannya, aku masih ada untuknya!”
“dan kau sendiri tahu, aku menyukainya untuk waktu yang cukup lama, bersamanya selama empat tahun dan itu akan membuatnya berpaling padaku” jelasnya.
“memang benar kamu bersamanya lebih lama dari aku, tetapi terlalu lamanya dirimu membuatmu tidak percaya diri untuk mengatakan perasaanmu, kau tahu dulu aku mengenalnya sebagai siswaku, perlahan aku kagum pada hidupnya, dia penulis yang karyanya sangat kukagumi, tegas dan apa adanya” jelas Rendi membuat Mukta sedikit iri dengan hal detail yang belum diketahuinya dari Hana.
“aku iri denganmu, kau benar-benar mengenalinya dengan baik, bahkan aku sendiri sudah berusaha untuk membuatnya jatuh hati padaku, tetapi saat aku menegaskan perasaanku, dia hanya tersenyum mengatakan dengan lembut, bahwa aku hanyalah seorang sahabat yang di sayanginya, ketika aku mencoba untuk marah justru itu melemahkanku, karena aku benar-benar menyukainya aku tidak bisa membencinya, menyukainya saja dan tetap seperti ini sudah membuatku jauh lebih baik” tuturnya panjang lebar.
“aku minta maaf padamu, jika kamu memaksaku untuk meninggalkannya, aku tidak akan melakukannya, terkecuali dia sendiri yang mengatakan dan menyuruhku pergi”.
“aku akan sangat egois jika kamu berpikir aku memintamu untuk melakukannya, justru aku berterima kasih padamu karena telah mencintainya dengan setulus hati, aku takkan khawatir dia jatuh di tangan laki-laki yang baik sepertimu!” ujarnya berdiri, menyalami Rendi.
“Oh iya, beberapa hari ini dia akan kembali, jadi kau harus memberikan kejutan istimewa, kejutan yang telah kau janjikan untukknya!” lanjutnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Xxx


12. finaly
Hari ini akhirnya tiba, aku sangat senang bisa kembali lagi ke Indonesia bersama Fatan, sejak tadi dia terlihat sibuk dengan hpnya.
“sebaiknya kau segera menonaktifkan hpmu sebelum di tegur pramugari cantik itu” kataku.
Hanya beberapa jam, kami sudah tiba di bandara, tak satupun yang menjemput kedatanganku, karena aku tidak memberi mereka tentang kedatanganku, ini akan menjadi sebuah kejutan untuk Gea dan yang lainnya, terutama Rendi.
Tidak lama hpku bordering, aku mengangkatnya dan ternyata itu dari Gea, dia sudah marah-marah dan mengomeliku karena tidak memberitahu kedatanganku.
“aku kan udah bilang, jangan bilang ke Gea dulu!”kataku pada Fatan.
“aku nggak kasih tahu kok, mungkin di ngepost di instagram dan melihat lokasimu!” ujar Fatan menyuruh taksi untuk belok ke arah yang lain.
“kita nggak balik ke rumah dulu!” kataku
“ini juga perintah dari Gea, ia memintaku membawamu ke tempatnya!” ujar Fatan terus memandangi hpnya.
Beberapa menit berkendara, kami tiba di rumah Gea, dia sudah berdiri di depan pintu, setelah aku turun dia berlari menyambutku dan melemparkan pelukannya.
“aku benar-benar rindumu padamu!” ujarnya langsung menutup kedua mataku.
“Yah..! kalian lagi rencanain apaan sih” ucapku terkejut, Gea mendorongku dengan pelan menuntunku masuk ke dalam rumahnya.
“Jreng…selamat datang kembali !” sambut beberapa orang, aku membuka mataku. Aku sangat bahagia melihat orang-orang yang aku sayangi berada dalam satu ruangan seperti ini. tapi suasana sedikit berbeda, bukan karena sambutannya yang kurang meriah, tetapi sosok Rendi yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri tidak jauh dariku, di tambah lagi sebuah karpet merah terbentang saat aku masuk. Rendi masih berdiri tersenyum dengan seikat bunga di tangannya.
“kok kalian aneh sih!” ujarku canggung, karena saat itu orang tua Rendi juga datang.
Perlahan Rendi maju, dia mendekat padaku, bunga itu di berikannya padaku, dia menarik nafas lebih dalam, entah apa yang ingin dikatakannya padaku.
“aku senang kau sudah kembali dengan sehat dan secantik ini!” ujarnya meraih kedua tanganku.
“kamu apa-apaan sih, di depan banyak orang seperti ini, aku juga baru aja datang!” tambahku.
“aku akan lebih malu jika kamu menolakku di sini!.
“iya tapikan…!” ucapku terhenti saat Rendi mengatakan seuatu yang membuatku tercengang.
“ayo kita menikah !” ujarnya menyematkan sebuah cincin di jariku, aku tidak bisa bergerak saat itu. Semua perasaaan bercampur menjadi satu.
“maaf membuatmu terkejut, tapi aku serius, aku bahkan takut kau menolakku di depan mereka!” jelas Rendi menurunkan wajahnya.
“aku benar-benar ingin kalian menikah segera, aku sangat senang jika kamu menjadi menantu di keluarga kami!” sahut ibu Rendi mendekatiku, meraih tanganku dari genggaman Rendi.
“bukannya aku menolak Bu, tetapi aku hanya terkejut karena semuanya tiba-tiba seperti ini” jelasku kembali menatap Rendi.
“jangan terlalu lama deh, kalian nikah segera aja” ujar Gea mendorong tubuhku lebih dekat dengan Rendi. Aku menatapnya.
“aku tidak mungkin menolak, tetapi …?” belum sempat melanjutkan ucapanku, Rendi memelukku.
“terima kasih untuk kembali lagi, izinkan aku menjagamu, izinkan aku masuk ke kehidupanmu mulai saat ini” ujarnya membuat perasaanku semakin besar.
Masuk ke dalam kehidupan seseorang berarti harus berani untuk bertanggungjawab untuk kehidupan orang lain. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya. Hanya perlu mengikuti arah dan berusaha memperbaiki arah menuju jalan yang lebih baik. Ketika cinta menjadi jalan untuk bisa bahagia, maka hargailah hubungan yang baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar